Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
TES DNA.


__ADS_3

Pagi itu di sebuah rumah milik keluarga Setyo Hadi terlihat sepasang orang tua sedang membujuk putri tunggalnya.


"Pa...Deby nggak bisa datang Pa... Hari ini jadwal Deby sangat padat mana mungkin Deby bisa ikut Papa kerumah Kakek...?" tolak Deby. Dia tak ingin pergi kerumah orang tua itu, karena dia sangat membenci pada pria tua itu yang sangat mengacuhkannya. Tidak sedikitpun Deby berusaha untuk mendapatkan perhatian dari pria tua itu, namun semua usahanya selalu menemui kegagalan, dan itu membuat Deby bosan apalagi kata sang papa keluarga paman Rehan juga datang serta keluarga Bibi Garnis , Deby tidak menyukai mereka karena mereka juga tidak pernah perduli dan tidak menyukai dirinya . Walau dia sebenarnya sangat bangga mempunyai saudara seperti paman Rehan yang seorang jendral. Dia sebenarnya sering membanggakan itu pada teman- tamannya tapi saat bertemu dengan putri sang paman , gadis itu cuek pada Deby seolah tak mengenalnya hingga dia di katakan gadis pembual oleh rekan- rekannya.


"Nggak bisa Deb... Apa kau ingin kita di coret dari daftar keluarga..." kata sang Mama.


"Kok sampai segitunya Ma..." kata Deby heran.


"Karna itu kau harus pulang nanti jam sembilan lalu segera ikut kami pergi kerumah Kakek Herlambang..."kata sang mama.


"Baiklah Ma, akan ku usahakan nanti Deby pulang...." kata Deby lemah. Dia segera berangkat ke tempat syuting. Sebenarnya hari ini dia tidak ada acara syuting dia hanya ingin memastikan apakah Kania si brengsek itu sudah datang. Karena kemaren memang dia tidak ada acara syuting jadi dia tidak ada di lokasi syuting. Ketika sudah sampai tempat lokasi syuting Deby segera berjalan kearah tempat para artis sedang merias diri. Ketika sampai di sana dia tidak melihat kehadiran Kania.


'Ra mana si artis belagu itu...?" tanya Deby pada Almera.


"Maksud kamu siapa Deb...?lagian ngapain kamu kesini...? Bukankah kamu sekarang nggak ada jadwal...?" kata si Almera.


"Itu si Kania, apa dia nggak datang...?" tanya Deby lagi.


"Oo dia...dia nggak ada jadwal hari ini, mungkin besok Deb, emang ada apa...?" tanya Almira lagi.


"Nggak Ada...cuma pingin ketemu aja.?"


Jawab Deby cuek.


"Waah tumben kamu cari dia.. Kangen ya sama dia...?" goda Almera.


"Cih....siapa juga yang kangen sama dia...adanya pingin m***ah aku kalau lihat dia..." jawab Deby sombong.


"Trus ngapain juga kamu nyari dia...?" tanya Almira heran.


"Cuma pingin tahu keadaan dia setelah gue cambuk dua hari lalu itu..." jawab Deby tenang.


"Ih sadis banget kamu Deb... Urusan pribadi kamu bawa ke tempat syuting, lagian setahuku dia nggak pernah tu membuat masalah sama kamu, kok kamu benci amat sama dia...awas kamu nanti kena karma dia lo..." kata Almera mengingatkan.


"Eee ..kamu nyumpain aku ya..ngebelain dia lagi..?" tanya Deby sewot.


"Bukan ngebela...tapi mengingatkan pada kamu jangan keterlaluan dalam bertindak...?" jawab Almera lagi.


"Cih...ngedengerin kamu ngomong aku ingin mu***h tahu...." kata Deby sambil berjalan keluar ruangan. Karena hari sudah hampir pukul sembilan akhirnya Deby kembali pulang kerumah tuan Setyo Hadi . saat dia sampai di rumah tuan Setyo Hadi terlihat papa dan mamanya sudah menunggu. Setelah kedatangan Deby mereka segera pergi kerumah Kakek Herlambang.


Sampai di kediaman kakek Herlambang ternyata keluarga tuan Rehan dan nyonya Garnis sudah pada datang. Karena terlihat rumah yang biasanya sepi kini terlihat banyak orang. Setyo hadi segera membawa anak dan istrinya masuk kedalam rumah. Terlihat kakak dan adiknya beserta semua keluarga besar Herlambang sedang duduk di ruang tamu. Tinggal kakek Herlambang yang belum datang.


Setyo Hadi dan keluarga kecilnya menyapa mereka, setelah itu dia duduk bergabung bersama mereka. Terlihat wajah kaku Deby di antara mereka. Rona wajah kesal dan cuek dia tunjukkan. Tak berapa lama kakek Wira keluar dari dalam kamar besarnya.


"Kalian sudah pada datang...?" sapa Kakek Herlambang.


"Iya Pa..." jawab para anak dan menantu.


"Iya Kek ..." jawab para cucu. Kakek wira segera duduk di sofa tunggal bergabung bersama mereka.


"Kita tunggu seseorang sebentar..." kata Kakek Herlambang dengan nada datar. Merekapun berbincang menunggu kedatangan seseorang yang di katakan kakek. Hampir 15 menit kemudian seorang pria paruh baya datang bersama seorang wanita yang memakai pakaian seorang suster.


"Selamat siang tuan Herlambang..." sapa orang itu.


"Selamat siang Dokter Burhan... Apa sudah kau siapkan semua...?" tanya sang kakek. Dokter Burhan adalah Dokter keluarga yang sangat di percaya oleh kakek Herlambang.


"Sudah...tinggal mengambil simpel darah mereka..." jawab Dokter Burhan ramah.


"Lakukanlah...." kata Kakek Herlambang.


"Ketiganya kau ambil juga Dokter..." kata tuan Sindu datar.


"Baik Sindu..." jawab Dokter Burhan yang sudah tahu maksud Sindu. tadi pagi Sindu datang kerumahnya mengatakan kalau keluarga Herlambang akan melakukan tes DNA pada putri Setyo Hadi. Pertama mendengar maksud itu Burhan terkejut. Tapi setelah di ceritakan masalahnya dia segera paham.


"Lo kenapa harus kami bertiga...? Bukankah aku saja sudah cukup...?" protes Setyo Hadi pada Sindu Adik iparnya itu.


"Nggak masalahkan kak, kalau kalian semua tes darah bersama, kami juga seperti itu kemaren ...?" jawab Sindu datar. Ketika mendengar perkataan Sindu terlihat Sinta berwajah pucat.


"Untuk apa dek saya harus tes juga...? Bukankah cukup kakakmu aja yang harus di tes...?" kata Sinta dengan wajah marah.


"Nggak masalah kan mbak jika kalian sekeluarga melakukan. itu...?" jawab Sindu dengan mimik serius.


"Apakah kalian meragukan kami bertiga...?" tanya Sinta yang terlihat marah.


"Apakah kami kemarin melakukan tes DNA , juga meragukan kami sendiri...?" jawab Sindu tegas.


"Sudah cukup...! Dokter, segera kau ambil Simple darah mereka..." seru Kakek Herlambang . Dokter Burhan pun segera mengambil darah , Setyo Hadi, Sinta Yunita dan Deby. Setelah itu Dokter Burhan undur diri dengan mendapatkan pengawalan dari anak buah Sindu Suami nyonya Garnis.


"Ya udah Pa.. karena sudah selesai Kami mau pamit dulu, karena kami masih ada kepentingan ..." pamit Setyo Hadi pada sang Papa.


"Silahkan nanti saat laporan itu sudah datang aku akan memberi kabar...." kata Kakek Herlambang tenang.


"Baik Pa... kak Rehan mbak Fara dan kau Nis , Sindu aku pulang dulu..." kata Setyo Hadi sambil beranjak dari tempat duduknya dan diikuti istri dan putrinya.


"Asalamualaikum...." pamit mereka.


"walaikum salam.."jawab mereka semua.


Setelah kepergian Setyo Hadi dan keluarganya Rehan mendekati Sindu yang sedang menatap kepergian mobil keluarga Setyo Hadi yang mulai keluar halaman mension Kakek Herlambang.

__ADS_1


"Sin...Kenapa kau menyuruh Om Burhan untuk mengambil simple darah Sinta juga ..?" tanya Rehan dengan heran.


"Nanti kak Aku jelaskan kalau kecurigaanku terbukti, jadi tolong kau pendam keingin tahuanmu dulu..." kata Sindu dengan wajah serius.


"Pa..apa tugas yang papa berikan sama siAndy tugas ini Pa....?" tanya Viktor pada Sindu.


"Iya Vik..." jawab sang Papa.


"Sin...kau mencurigai Sinta...?" tanya Rehan lagi.


"Kakak Iparku yang guanteng...tunggu sampai hasil tes DNA itu keluar ya... semua akan aku jelaskan, tapi sebelum hasil tes itu keluar aku nggak bisa ngomong apapun Okey...?" kata Papa Viktor sambil tersenyum, dia tahu kakak iparnya sangat penasaran akan kebenaran tentang keponakan mereka itu.


"Kapan hasil tes DNA itu keluar..." tanya Rehan lagi.


"sebenarnya dua minggu lagi kak, tapi aku berusaha meminta mereka mengerjakannya secepatnya. mungkin empat atau lima hari lagi katanya bisa kita lihat hasilnya..." jawab sang adik ipar.


"Kalau gitu bersamaan dengan datangnya keluarga Dirgantara kesini dong...?" kata Fara istri Rehan menyela pembicaraan mereka.


"Kalau empat hari sudah datang , ya sebelum keluarga Dirgantara itu datang kita sudah tahu siapa mereka kak..?" jawab Sendu dengan serius.


Setelah itu mereka membahas tentang kedatangan keluarga Dirgantara yang akan melamar sekaligus pertunangan Bara dan Kania. Mereka meminta acaranya sederhana saja , karena semua itu permintaan Kania dan Bara.


"Aku heran dech sama saudara kita satu ini , bukannya bangga punya calon suami yang kaya dan berpengaruh, eh ini malah di sembunyikan dari kalayak ramai..." kata Viktor heran.


"Pa ini kemauan si Kania atau Bara sich...?" tanya Hardika.


"Kalau kata si Mahesa ,ini kemauan Kania.. malah yang terburu- buru menikah katanya si Bara..?" jawab Rehan atas pertanyaan Hardika putranya.


"Pa ...emang Kak Kania nggak suka sama kak Bara...?" tanya Kristal dengan wajah penuh tanya.


"Sepertinya mereka sama- sama suka... tapi kayaknya si Bara yang jatuh hati duluan sama Kania..." jawab Rehan.


"Sudahlah, kita jangan mempersoalkan masalah itu, yang penting Kania Bahagia dan kita harus mempersiapkan semua itu sesuai permintaan mereka.." kata Rehan kembali. Merekapun kembali mendiskusikan tentang pengambilan keluarga Dirgantara.


Sedang di rumah Bara terlihat kania yang sedang berada di dapur bersama koki dan para pembantu. dia sedang kembali merecoki chef yang sedang memasak.


"chef..buat kue lumpia yuk....?" kata Kania. sambil melihat isi Kolkas.


"lumpia ...?" tanya chef Gio sambil menatap Kania.


"Iya lumpia , ini ada wortel, ada tauge,ada daging ayam dan itu minta dikit udang yang mau dimasak olehmu..." seru Kania.


"Baiklah , biar nanti aku akan membuatnya untuk mu..." kata Chef Gio.


"Yee..kenapa mesti nanti...kita buat sekarang bersama- sama..." jawab Kania.


"tenang Chef tuan Bara pulangnya nanti siang kan, maka itu cepat kita buat sekarang agar nanti kalau beliau sudah datang kita sudah selesai..."kata Kania sambil mengambil wortel lalu mengupasnya. akhirnya chef Gio mengikuti permintaan Kania. mereka mulai membuat lumpia di bantu oleh para pembantu agar cepat selesai . tak terasa hari semakin siang , Kania yang sedang menggulung lumpia tidak tahu kalau Bara sudah datang.


"Bunda...." terdengar suara bariton mengagetkan mereka.


"Papa..." seru Kania kaget. dia segera berdiri dari duduknya.


"Siapa yang nyuru kamu turun dari tempat tidur..?." tanya Bara dengan nada datar.


"maaf.. tadi Kania Bosan di kamar , jadi Nia turun kesini..." kara Kania sok imut.


"Ya Tuhan...semoga dia bisa gue rayu dengan wajah imutku, he he..sebenarnya gue pingin muntah melihat wajah imut gue ini... sumpah kalau nggak karena takut , ogah gue bergaya kayak gadis manja gini...(teriak Kania dalamhati )


Bara yang melihat wajah kania yang ketakutan dan memperhatikan wajah manja yang nggak pernah dia lakukan pingin rasanya dia mencium bibir sok imut itu. namun dia bertahan dengan wajah dinginnya.


"Kalau begitu kita naik keatas..." ajak Bara.


'Cihui....dia nggak marah lagi. (teriak Kania kegirangan)


"Tunggu dulu Pa..." kata Kania sambil akan kembali kedapur.


"Bunda..." teriak Bara membuat mereka yang ada di sana kaget.


"Iya, iya..." seru Kania dan berlari menghampiri Bara yang telah berdiri dengan wajah dinginnya.


"Ayo...." ajak Kania sambil memeluk pinggang Bara .


"Dasar gadis bandel dan nakal..." kata Bara sambil mengacak rambut Kania.


"Tapi kesayangan Papa kan...?" kata Kania menggoda.


"Kau menggodaku...?" tanya Bara gemas.


"Nggak...mana berani Kania menggoda tuan Bara..." kata Kania semakin menggoda.


"Kau ingin Papa menghukummu...?" tanya Bara sambil memeluk pinggang Kania.


"Yee ...ya enggak lah...ayo masuk Kania belum solat.." kata Kania mengalihkan masalah. Bisa gawat kalau di teruskan .. pikir Kania.


"Kenapa tidak di lakukan sejak tadi...?" tanya Bara sambil menatap wajah Kania.


"He he he maaf..." jawab Kania sambil cengengesan.


"Dasar... ayo kekamar..." ajak Bara. mereka segera berjalan naik tangga menuju kekamar mereka.

__ADS_1


"Kepalaku tadi turun...?" tanya Bara.


"Kania tadi bosan Pa... jadi iseng Kania melihat Chef Gio lagi masak dengan para pembantu, dan tiba- tuba Kania pingin buat lumpia.." kata Kania sambil melangkah naik tangga bersama Bara.


"lumpia...? makanan apa lumpia itu...?" tanya Bara heran.


"Papa belum tahu kue lumpia...?" tanya Kania heran.


"Belum...." jawab Bara .


"Ck...dasar orang kaya...iya juga sich..mana tahu Papa soal jajanan pasar kayak lumpia itu..." kata Kania.


"Kau mengolok Papa...?" tanya Bara kesal


"Yee...buktinya Papa nggak tahu kan...?" goda Kania.


"Iya sich..." jawab Bara.


"Nanti papa juga tahu..tadi Kania membuat banyak kok..." jawab Kania.


"Nach uda nyampai, sana Papa ganti baju dan solat , Kania juga mau solat dulu lalu kita makan bersama sekalian nunggu Kinan..." kata Kania.


merekapun berpisah di depan kamar Kania.


Di rumah tuan Setyo Hadi


.


Terlihat tiga orang manusia sedang duduk dengan muka kesal dan marah. Mereka Setyo Hadi , Sinta Yunita dan Deby Resti Herlambang. mereka baru datang dari rumah kakek Herlambang.


"Pa..jadi tadi kita kerumah Kakek untuk diambil simpel darah kita buat apa....?" tanya Deby dengan wajah marah.


"Untuk tes DNA...." jawab Setyo dengan nada masih kesal.


"Tes DNA...? kenapa mesti tes DNA pa...?" tanya Deby heran.


"Papa juga nggak tahu...tapi papa harus ngelakuin itu.. kalau tidak hotel Tiga Berlian akan di ambil oleh Kakek..." kata tuan Setyo Hadi.


"Kenapa kakek baru sekarang melakukannya....?" tanya Deby curiga.


"Entahlah...kata paman dan bibimu mereka juga melakukannya.." jawab Setyo hadi.


"Oh ya Ma... dimana kau taruh kalung keluarga peninggalan Mama...?" tanya Setyo Hadi pada sang istri Sinta Yunita.


"Lo bukankah kalung itu sudah lama hilang Pa...?" jawab Sinta.


"Apaa...gimana kalung itu bisa hilang Ma.. bukankah aku sudah bilang kalau kau harus menyimpan kalung itu dengan benar...?" seru Setyo dengan marah.


"Kalung itu sudah lama hilang ketika aku memakaikannya pada Deby ketika Deby masih kecil dulu..." seru Sinta mengingatkan.


"Ya ampun Ma.... kenapa Mama harus menghilangkan kalung itu..." kata Setyo dengan wajah sedih.


"Emang apa gunanya kalung itu Pa...?" tanta Deby.


"Itu adalah kalung yang mempunyai bandul yang merupakan lambang keturunan Herlambang. Kalung itu harus di miliki oleh wanita keturunan dari keluarga Herlambang. jika yang terlahir pria maka kalung itu akan di berikan pada sang istri dan nantinya akan di berikan pada putri mereka. tapi jika yang terlahir wanita dialah yang akan memakai kalung itu, kalung itu adalah simbul keluarga Herlambang, tanpa kalung itu warisan yang ada pada kita akan di ambil kembali jika kita tidak bisa menunjukkan itu pada Kakekmu.." kata Setyo Hadi cemas.


"Mengapa Papa tidak menceritakan itu pada Mama..." seru Sinta dengan wajah cemas. Dia tak ingin di salahkan.


"Bukankah Papa sudah mengatakan itu pada Mama sejak pertama kali Papa memberikan kalung itu pada Mama.." seru Setyo dengan marah.


"A..aaku lu...lupa..." kata Sinta dengan gagap. Setyo menatap sang istri tak percaya.


"Mama lupa...? masalah sebesar itu Mama lupa...?" tanya Setyo heran. bagaimana bisa Sinta yang sejak remaja orang yang sering mengingatkan dirinya tentang semua masalah yang penting yang selalu Setyo lupa, tapi kini dengan barang yang sangat penting seperti itu dia malah lupa.


"Namanya juga lupa Pa..tidak semua orang akan selalu mengingat barang yang tidak penting seperti itu Pa..." jawab Sinta dengan wajah pucatnya. walau dalam hati dia meruntuki kebodohannya.


"Barang nggak penting Ma...? ya ampun Ma... gimana kalau semua harta kita kembali di ambil oleh Papa...?" tanya Setyo dengan kemarahan yang hampir tak bisa dia tahan.


"Ya gimana lagi kalau barang itu sudah hilang bertahun- tahun yang lalu...apa aku harus merobohkan rumah ini untuk mencari kalung itu...?" kata Sinta dengan wajah tak bersalah.


Prang....


tiba- tiba sebuah fas bunga menghantam dinding.


"Ma....! ini masalah yang pelik, kenapa


Mama seolah tak begitu perduli..." seru Setyo dengan marah.


"Lalu aku harus apa Pa..." teriak Sinta


"Dasar wanita egois...." seru Setyo Hadi sambil menyambar kunci mobilnya.


"Mau kemana Pa..." teriak Sinta ketika melihat sang suami pergi keluar membawa mobilnya.


Sedang Deby hanya melingo ketika melihat kedua orang tuanya bertengkar.


Cukup dulu ceritanya ya...author sambung besok lagi. jangan lupa like dan Komennya ...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2