Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
KELUARGA MALIK HANDOKO


__ADS_3

Kania masuk kedalam Kamar pribadi Bara. Dia pergo ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya seeta menfbil air wudhu, karena belum sempat menunaikan solat duhur. Setelah menunaikan solat, Kania naik ke tempat tidur untuk merwbahkan badannya. namun dia tak bisa tidur, akhirnya dia mulai mengambil ponselnya dan melihat grup chat para sahabatnya yang kini sedang bekerja. iseng dia menyapa para sahabatnya.


Kania :"Hey...lagi ngapain kalian...? Lagi


Kerja...?


Sonya.: Ya elah nyonya Bos...udah tahu


Tanya....😚


Karin. : Hey nyonya tumben elo nongol..


Lagi dimana...?


Ratih. : Ya ampun princes...gue kangen


ama elo....😘😘


Kania. : He he he...gue ada di kantor


Misua.....😂


Sonya. : Ya ampun...kenapa nggak


Kemari....? Elo lupa ame kita ya


😫😫


Kania. ; Hey....siapa bilang...gue nggak


Kesini karena misua gue lagi


nggak enak badan, jadi sory


Nggak mampir ke tempat


Kalian...🙏🙏🙏


Karin. : Nggak apa- apa princes... So


jangan kau buat sedih princes


dong....


Sonya. : Maaf say... gue nggak tahu,


soalnya Kami rindu kumpul


bersama dengan elo...


Ratih. : Iya princess kami rindu kamu


Kania. : Gue juga... Thank you atas


rindu kalian, kapan - kapan gue


Kemari.


Sonya. : Beneran bu Bos...? jangan


bohong..


Kania. ; Iya...aku janji , Nggak percaya


lo.....,😓


Sonya. : Habis kami susah ketemu ama


elo...awas aku tunggu beneran


ya....😘😘😘


Kania. :Jangan khawatir..😍😘


Karin. :😍😍😍


Ratih. :😍😍😘😘


"Sayang...lagi ngapain....?" terdengar suara bariton milik Bara di sebelah Kania.


"Papa...ini lagi membalas WA teman- teman..." jawab Kania sambil menatap sang suami yang sudah berdiri di sebelah ranjang tempat dia berbaring.


Kania akan bangun , tetapi Bara segera menahannya.


"Nggak usah bangun... Bukankah tadi kau dari belanja...? kau pasti capek, sekarang istirahatlah.." kata Bara .


"Iya Pa... Mama memang merasa lelah, Entahlah beberapa hari ini Mama selalu merasakan cepat lelah, walau hanya bekerja sebentar..." kata Kania.

__ADS_1


"Mungkin Mama terlalu keras dalam bekerja, jadi mulai sekarang Mama harus mengurangi pekerjaan Mama..." kata Bara.


"Mungkin juga Pa...." jawab Kania.


"Sekarang tidurlah, Papa mau meeting dulu, nanti kalau Papa sudah selesai Papa bangunkan...." kata Bara sambil mencium lembut dahi Kania.


"Iya Pa..." jawab Kania sambil tersenyum.


"Kalau begitu Papa pergi dulu ya..." Barapun mencium bibir Kania sekilas sebelum meninggalkan Kania.


Kania hanya tersenyum mengiringi sang suami yang mulai berjalan keluar ruangan. Setelah itu dia mengambil selimut dan menutup tubuhnya hingga leher. Entahlah akhir- akhir ini Kania merasa badannya agak kedinginan ketika berada di dalam ruangan yang ber AC. Namun jika tak di hidupkan AC nya dia akan kegerahan dan tak bisa tidur.


Tak berapa lama terlihat Kania sudah tertidur lelap seperti bayi yang tak mempunyai dosa dan beban kehidupan.


Sedang di tempat lain seorang wanita sedang duduk di balkon kamar pribadinya di sebuah rumah besar milik tuan Malik Handoko seorang pedagang perhiasan yang cukup terkenal di kota C. Dia memiliki toko perhiasan di beberapa kota di Negara I ini. Di kota J dia juga memiliki toko perhiasan yang besar pula.


Wanita itu terlihat termenung cukup lama.


"Siapa wanita itu....? apa mungkin dia kekasih Bara...? Tapi yang aku dengar dan aku lihat, dia masih dingin seperti dahulu..." kata wanita itu berkata sendiri. Dia Emilda Feby Handoko putri pertama tuan Malik Handoko, wanita mantan istri Bara yang telah berselingkuh ketika masih hamil putra pertamanya dia dengan Bara Aris dirgantara. Di hari kedua dia kembali ke kota J ini, dia sempat bertemu Bara di sebuah hotel ketika Bara sedang bertemu dengan dua orang laki- laki sepertinya pengusaha asing.


"Dan anak laki- laki itu, Kinan.... Kinan.. pasti dia putraku bersama Bara dulu, tapi kulihat dia dekat sekali dengan wanita yang bernama Kania itu...aky jadi penasaran, siapa wanita yang bernama Kania itu, dan aku dengar Kunan memanggik Kania dengan sebutan Mama...? apa dia istri Bara...? aah... tak mungki , Bara terlalu sulit di taklukkan, aku yakin dia bukan siapa- siapa Bara Aris Dirgantara, aku yakin itu karena aku yang cantik sepeeti ini saja Bara tak bergeming, apalagi wanita sederhana seperti dia...tapi..apakah aku mampuh mendapatkan Kinan dan Bara kembali...?" dia berbicara sendiri sambil menatap kearah kejauhan.


"Aah...aku harus yakin bisa memuliki Bara kembali, aku akan memanfaatkan putraku untuk mendekati Bara..." ucapnya kembali, terlihat senyum tipis di wajahnya. Setelah beberapa lama dia duduk dan berkata sendiri di balkon rumah mewah orang tuanya, diapun beranjak turun kebawah.


Sesampainya di bawah dia melihat Papa dan Mamanya sedang makan bersama dengan kedua adiknya yaitu Mirza dan Ayu serta putra keduanya Johan , seorang anak laki- laki yang berumur sekitar 4 tahun dan berwajah tamoan dan berhidung mancung sepwrti orang luar. putra hasil perkawinannya dengan Robet . Mereka berlima sedang makan di ruang makan dengan tenang.


Ketika melihat kedatangan Emilda , Mirza berucap.


"Kak Ayo makan...." kata adik keduanya itu. Tanpa berbicara dan menjawab perkataan sang adik, Emilda duduk di kursi meja makan dekat dengan putranya. dengan tenang dia mengambil makanan di atas meja.


"Dari mana saja kamu...?" kata sang Papa datar.


"Melihat anakku....?" jawab Emilda dengan cuek.


"Jangan berani kau mengusik kehidupan anak itu...." kata tuan Malik dingin.


"Tapi dia putraku Pa...!" seru Emilda marah.


"Putramu...? Ha...di mana kau saat putramu membutuhkan air susumu...? Bukankah kau tidak menginginkannya. kau lebih suka berjumpa- hura daripada merawat anakmu...?


Dimana kamu berada saat dia sakit dan kelaparan...? Kenapa baru sekarang kau mengingat dan memikirkannya...?" kata sang Papa dengan marah.


"Tapi dia anakku Pa...dia cucu papa juga...aku berhak bertemu dengannya!" seru Emilda dengan nada marah.


Braakk....


"Bagaimanapun dia tetap putraku Pa..." seru Emilda tak mau kalah.


"Cukup...! kau berusaha menunjukkan kepedulianmu dengan putra Bara, jangan bersandiwara Emil... Aku tahu bukan putramu yang ingin kau dapatkan tapi Bara...kau ingin mendapatkan Bara kembali, tapi mustahil kau akan mendapatkan dia, jangan bermimpi nak... Kau dulu sudah di abaikan oleh dia, kenapa sekarang kau mengharapkan dia, andai kau tidak melukai dia , andai kau bersabar, mungkin sekarang kau akan mendapat cintanya..." kata tuan Malik dengan wajah kecewa.


"Tapi Pa..."


"Cukup...!aku bilang cukup Mil... Kau jangan mengusik putramu yang tenang bersama Papanya, lebih baik sekarang kau urusi putramu ini , kau mengharapkan putra yang sudah hidup tenang bersama Papanya, sedang putramu di sini kau telantarkan...jangan membuat perbuatan yang akan membuat kau menyesal kembali..." seru tuan Malik dengan Marah.


"Ma...tolong aku Ma....aku ingin Bara kembali lagi padaku Ma.." kata Emilda pada sang Mama.


"Mama nggak bisa menolongmu lagi Mil... Sudah cukup Mama menolong membuatmu menjadi istri Bara, tetapi kau telah menyia- nyiakan kesempatan itu..." kata sang Mama.


"Apa maksud Mama....?" tanya tuan Malik dengan penuh tanya.


"Maafkan Mama Pa... Mama telah menyembunyikan ini begitu lama dari Papa..." kata istrinya dengan wajah sedih.


"Maksud Mama...?" kata tuan Malik heran.


"Saat sebelum Bara menikahi Emilda , apakah Papa masih ingat, bukankah dia berada dalam hotel bersama Emilda...?" kata nyonya Malik dengan wajah sedih.


"Iya benar, bukankah saat itu Bara tidak mau pada Emilda....? dia sempat menolak perjodohan itu...?Lalu kenapa tiba- tiba mereka berada dalam satu kamar di hotel...?" kata tuan malik


"Ma .... Cukup Ma...jangan Mama teruskan lagi..Milda mohon Ma...." seru Emilda panik.


"Teruskan Ma..." kata tuan Malik tegas, Dia mulai curiga mendengar cerita itu . Terlihat nyonya Malik menghela nafas, dia tak menghiraukan permintaan Emilda.


"Sekali lagi Mama minta maaf, Saat itu Emilda menjebak Bara Pa.., dia dengan sengaja menaruh obat perangsang di minuman Bara, saat kami mengajak dia makan malam....?" kata nyonya Malik menjelaskan dengan wajah sedih.


Braaak.....


"Apaa...." tuan Malik menggebrak meja makan kembali hingga beberapa makanan tumpah.


"Jadi dia menjebak Bara...? Dan kau... Kau malah mendukungnya....?" teriak tuan Malik dengan kemarahan yang meluap. dia menatap wajah sang istri dengan wajah yang memerah.


"Karena dia menangis meminta aku menolongnya Pa.... " kata nyonya Malik menjelaskan dengan nada kecewa dan takut .


"Apakah kau juga akan membantunya jika dia memintamu untuk membunuh orang....?" seru tuan Malik kecewa pada sang istri.


"Maafkan Mama Pa..." kata nyonya Malik sedih.


"Ya Tuhaann....dosa apa yang pernah hamba perbuat ya Allah..Dan kau...( di menunjuk Emilda dengan marah) jangan kau bilang kalau kau pada saat itu juga bukan gadis lagi..." kata tuan Malik dengan sinis dan kecewa. Emilda hanya diam dan menunduk. dia tak bisa menyangkal omongan sang Papa.

__ADS_1


"Ya Tuhaaan......betapa malunya aku pada Mahesa dan Bara... Pasti pada saat itu Bara sudah mengetahui soal ini... Karena itu dia tidak pernah memperdulikanmu...." kata tuan Malik dengan wajah sedih dan kecewa.


Dia teduduk kembali di kursinya, terlihat wajah tuanya yang sedih dan kecewa. ada kesedihan terlihat di wajahnya.Tak lama terlihat dia menatap Emilda dengan wajah penuh luka.


"Aku tidak ingin mendengar kau membuat ulah untuk mengganggu Bara ataupun anak yang pernah kau lahirkan itu, jika aku mendengar kau membuat ulah yang membuatku malu kembali, jangan salahkan aku kalau aku membuatmu keluar dari daftar keluarga Handoko, ingat itu Mil..." kata tuan Malik dengan nada dingin.


Emilda pun tak bisa berbicara lagi, dia terdiam meneruskan makannya, walau di dalam hati dia berkata tak akan menyerah untuk mengejar Bara kembali.


Sedang di kantor Dirgantara terlihat Bara yang baru selesai meeting dengan perusahaan luar Negri. Kini terlihat wajahnya yang segar sedang berjalan tergesa- gesa menuju ruang kantornya.


Ketika sampai di dalam ruangannya Bara segera berjalan kearah kamar pribadinya. Ketika pintu di buka Kania yang sedang tidur terjaga.


Sebenarnya pintu tak terlalu berbunyi , namun karena kewaspadaan Kania yang terlatih membuat dia terjaga.


"Papa..."ucap Kania yang melihat Bara mendekat.


"Maaf Mama terbangun karena Papa..?" kata Bara .


"Nggak masalah Pa.... Kania sudah lama tidurnya kok..." jawab Kania. Dia segera bangun dari tidurnya.


"Sayang...kau tidurlah kalau masih lelah..." kata Bara.


"Nggak usah Pa... Mama lapar, apa Papa sudah makan siang...?" tanya Kania.


"Lo jadi Mama tadi belum makan siang ..?" tanya Bara kaget.


"Belum...makanya sekarang Mama lapar.." kata Kania dengan manja.


"Kau ini....kenapa baru ngomong sekarang...?" seru Bara panik, dia segera menelfon sekretaris nya untuk membelikan makanan buat sang istri.


"Pa...temanin Kania makan...?" kata Kania manja. Kaniapun kaget sendiri.. kenapa dia sekarang ingin bermanja pada sang suami.


"Hey...tumben istri Papa manja...?" goda Bara dengan gembira. Dia gembira karena Kania selama ini jarang terlihat manja padanya.


"Nggak boleh...?" tanya Kania dengan cemberut. Bara langsung memeluk Kania.


"Sangat boleh....malah Papa suka..." kata Bara sambil mencium sang istri. Setelah itu mereka berdua keluar dari kamar pribadi Bara.


tak berapa lama terdengar ketukan di daun pintu, terlihat sekertaris Bara membawa dua orang yang sedang membawa beberapa kotak makanan . Sedang Kania ketika mendengar suara ketukan di pintu segera memasang masker di wajahnya.


"Taruh di atas meja..." perintah Bara.


Dua Karyawan itu dan sang sekertaris segera menaruh beberapa kotak makanan di atas meja di depan Kania. sedekali mereka melirik pada Kania. Kania hanya cuek aja.


"untung gue lagi main Hp ( batin Kania yang merasa kedua karyawan itu sesekali melirik padanya) .


Setelah kedua karyawan itu bersama sang sekertaris keluar , Kania segera membuka kotak makanan . terlihat beberapa makanan kesukaan Kania.


Setelah menatanya dengan rapi, Kania segera memanggil Bara.


"Pa...ayo makan dulu..." serunya.


"Iya sayang...." kata Bara dengan lembut, Dia segera berdiri dari singgasananya dan berjalan kearah Kania , dia duduk di sebelah Kania yang sudah mulai makan.


"pelan- pelan sayang..." kata Bara sambil mengusap butiran nasi yang ada di pipi Kania.


"Maaf...Kania lapar banget Pa...." Kata Kania . Bara hanya tertawa melihat tingkah Kania yang tak biasa itu.


Setelah selesai makan Kania segera membersihkan kembali ruangan Bara yang memang selalu rapi itu. Kania kembali duduk di sofa, sedang Bara kembali kemeja kerjanya. Kania dengan setia menunggui sang suami yang bekerja menyelesaikan memeriksa semua laporan serta berkas yang ada di atas meja kerjanya. Sedang Kania asyik bermain ponselnya untuk membuang kejenuhannya.


Sesekali Bara menatap sang istri yang duduk di sofa. Entah mengapa melihat sang istri berada di depannya Bara merasa tenang, dia bisa mengerjakan. Segala pekerjaan dengan baik, tidak seperti ketika dia tidak bisa melihat Kania di sekitarnya, dia akan sedih, malas dam ingin selalu marah- marah.Entah ada apa dengannya. Akhir- akhir ini dia merasa terlalu mencintai sang istri. Tak ingin sedetikpun dia berjauhan dengannya.


Ketika dia melihat sang istri tiduran Bara segera membawa leptopnya mendekati Kania. Dia lalu duduk di dekat sang istri yang berbaring sambil menaruh kepalanya di atas pegangan Kursi sofa. Setelah menaruh leptop di meja , dia mengangkat kepala sang istri dan duduk disebelahnya. Lalu dia menaruh kepala sang istri di pangkuannya.


"Kau lelah....?" Kata Bara sambil Mengusap kepala Kania.


"Kok Papa pinda kesini...?" tanya Kania .


"Kulihat kau kelelahan , jadi Papa pindah kesini..." jawab Bara .


"Entah kenapa akhir - akhir ini Kania merasa cepat lelah Pa... dan kalau banyak diam pasti maunya pingin tidur aja..." kata Kania sambil tersenyum pada Bara yang sedang memandang wajahnya.


"Kalau begitu lebih baik Mama sekarang tidur aja..." jawab Bara.


Bara segera mengambil ponsel yang ada ditanyakan Kania dan menaruhnya di atas meja.


"Nggak apa- apa Mama tidur....?" tanya Kania.


"Tidurlah sayang.... " kata Bara sambil mengusap kembut kepala Kania.


Kaniapun segera memejamkan matanya tidur di atas pangkuan Bara. Kania merasa damai dan tenang saat tidur di dekat sang suami. Sedang Bara mengusap lembut kepala sang istri penuh sayang. Setelah melihat Kania tidur , Bara kembali mengerjakan pekerjaannya.


Kania menemani Bara di kantor hingga jam 9 Malam baru mereka pulang kerumah. Namun Bara menfajak dulu sang istri untyk makan malam di luar, dia membawa Kania pergi kesebuah restoran yang Mahal untuk makan malam berdua. Setelah makan malam di restoran mahal dan mewah selesai, barulah Bara mengajak sang istri pulang kerumah.


Udahan dulu ya...lanjut pada episode yang akan datang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2