Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
KESEMBUHAN JOHAN.


__ADS_3

Satu minggu suda Kania sadar dari tidur panjangnya, Kini dia sudah terlihat sehat kembali. Hari ini dia akan kembali pulang kerumah. Sudah sejak kemaren dia meminta pada sang suami agar kembali pulang kerumah Karena dia sudah merindukan si kecil yang belum pernah dia lihat. Sedang Johan setelah di katakan kalau dia keracunan oleh Kania, keesokan harinya sang kakek membawa dia periksa kedokter spesialis di rumah sakit Darma Kartika. Setelah di periksa ternyata memang ada racun di tubuh Johan, dan kenyataannya racun yang mengendap di tubuh Johan sudah lama berada di sana. Tuan Malik sangat syok mendengar penjelasan dokter. Jadi semenjak itu Johan di rawat di rumah sakit. Saat mendengar itu Bara jadi heran , dari mana sang istri tahu kalau Johan sakit terkena racun, karena saat itu keadaan tubuhnya terlihat sehat- sehat saja. Kania masih ingat tiga hari yang lalu ketika tuan Malik dan nyonya Lidya pulang dari menengok Kania untuk mengabarkan kalau Johan di rawat di rumah sakit itu pula karena perkataan Kania yang terbukti benar , Bara segera bertanya.


"Ma...emang dari mana Mama tahu kalau Johan sakit terkena racun ...?emang Mama pernah mendalami ilmu pengobatan ...?dan di mana itu...?" tanya Bara beruntun.


"Papa ...orang kalau tanya tu , satu - satu Pa...bukannya beruntun seperti itu...lalu yang mana harus Kania jawab duluan....?" kata Kania menggoda.


"Maaf...habis Papa penasaran, kok Mama bisa tahu kalau Johan terkena racun...?" kata Bara sambil mencubit kedua pipi Kania.


"Isst si Papa... Nanti pipi Mama tembem lo...." sungut Kania. Bara yang melihat sang istri cemberut tertawa keras.


Melihat sang suami tertawa, Kania semakin cemberut.


"Ma...kenapa semakin lama Mama semakin menggemaskan sich...dan lihatlah Mama sekarang. setelah mempunyai anak bukannya terlihat tua, malah kini seperti remaja belasan tahun..." kata Bara sambil menatap sang istri yang semakin menggemaskan di matanya.


"Ck...sejak kapan Papa sudah pandai menggombal...." kata Kania kesal, namun tak urung wajahnya memerah karena malu.


"Sayang...kalau kau seperti ini , papa pingin memakanmu...." kata Bara sambil memeluk erat sang istri.


"Papa.....kau ini...dasar mesum..." kata Kania sambil mencubit perut sispex sang suami .


"Mesum sama istri sendiri nggak ada yang ngelarang Ma..katanya malah di anjurkan lo..." kara Bara menggoda. Kania hanya bisa tersenyum malu mendapat tatapan menggoda dari Bara.


"Nach..sekarang jawab pertanyaan Papa tadi Ma .." kata Bara ingat pertanyaannya.


"Baiklah... Sebenarnya Mama juga nggak tahu, tapi entahlah ketika melihat Wajah Johan Mama melihat cahaya hitam tiba - tiba keluar dari tubuh Johan, dan secara naluri Mama pingin melihat denyut nadi Johan. Dan saat melihat denyut nadinya. Entah dari mana perasaan mengetahui ada racun di tubuh Johan tiba - tiba ada di fikiran Mama, Mama juga nggak pernah belajar tentang pengobatan...." kata Kania menjelaskan.


Bara yang mendengar perkataan Kania jadi tertegun dan melongo . tak lama dia berucap.


"Jangan bilang Mama juga bisa menyembuhkan si Johan...? Dan Mama juga tahu siapa yang telah meracuni Johan....?" kata Bara menatap lekat wajah sang istri.


"He he he iya Pa...nanti akan Mama coba, kalau soal siapa yang meracuni Johan, Mama nggak bisa katakan itu, nanti akan menjadi fitnah...Kok Papa bisa tahu kalau Mama bisa mengobati Johan...?" tanya Kania heran.


"Aku suamimu, dan Papa juga tahu melihat raut wajah Mama yang terlihat tenang, pasti Mama sudah mendapatkan cara mengobati Johan...?" kata Bara kembali mencubit pipi Kania kembali .


"Ck... Papa...nanti kalau pipi Mama melar gimana...?" sungut Kania .


"Biar aja...biar nggak ada yang melihat wajah Mama dengan sinar kekaguman, biar wajah Mama hanya terlihat untuk Papa...." kata Bara sambil memeluk erat tubuh sang istri.


"Yee...enak di Papa nggal enak di Mama dong..." jawab Kania.


"Kok Bisa....?" tanya Bara heran.


"Habis Papa akan terlihat keren dan tampan, sedang Mama terlibat pipi melar dan jelek, dan para fans Papa akan semakin ingin merebut Papa dari Mama, dan Mama hanya bisa melihat dengan marah...." sungut Kania.


Mendengar omongan Kania Bara tertawa kembali.


"Jadi ceritanya Mama cemburu...?" goda Bara.


"Papa...mana ada wanita yang nggak cemburu melihat fans Papa yang seperti melihat sepotong daging jika melihat Papa..." kata Kania Kesal.


Bara kembali tertawa mendengar kegusaran Kania. Dia segera memeluk sang istri dan mencium bibirnya dengan gemas. Setelah puas baru dia lepaskan.


"Kau fikir Papa juga nggak cemburu melihat mata para pria ketika melihat Mama...bukan cuma para pria yang baru melihat Mama, sahabat- sahabat Papa pun Papa tahu kalau mereka iri pada Papa..." kata Bara sambil menatap sang istri dengan sayang.


"Lo emang kenapa dengan mereka....?" tanya Kania heran .


"Mama...mereka iri karena Papa lebih dulu memikat hati gadis pujaan mereka.. Papa lebih cepat dari pada mereka untuk mendapatkan sang primadona..." kata Bara sambil mencium kembali bibir sang istri.


"Isst.. Papa berlebihan dech..." jawab Kania saat Bara melepas ciumannya.


Tak urung wajah cantiknya bersemu merah karena mendengar ucapan sang suami.


"Pa...nanti sebelum pulang kita mampir dulu keruangan si Johan ya...mama akan coba membantu mengeluarkan racun dari tubuh si Johan...?" kata Kania mengalihkan bahan pembicaraan mereka.


"Bole... Tapi kenapa Mama nggak langsung aja menybuhkan Johan, kenapa harus di rawat di sini dulu...?" tanya Bara heran.


"Mama nggak ingin mereka tahu kemampuan Mama..." jawab Kania tenang.


Bara hanya tersenyum bangga mendengar perkataan sang istri. Dia sangat beruntung memiliki istri yang sangat baik dan rendah hati .


"Bagaiman kalau kita kesana sekarang... Kamar inap Johan tidak terlalu jauh dari sini..." kata Bara lagi .


"Benarkah...? Kalau begitu ayo....?" kata Kania semangat .tapi sebelum Kania keluar dia mengambil botol air mineral yang masih utuh dia membuka tutupnya dan memasukkan bandul kalung yang sudah dia lepas dari lehernya . entah mengapa saat memasukkan bandul itu Kania merasa seperti paranormal saja. Hingga tanpa sengaja bibirnya terlihat tersenyum, dan itu sempat di lihat Bara.


"Kenapa Mama tersenyum...?" tanya Bara. Kania pun menatap sang suami dengan wajah yang masih tersenyum.


"Mama merasa seperti paranormal aja Pa..." kata Kania .


"Emang istri Papa Paranormal..." goda Bara .


"Ck ..Papa ... Suka banget ngeledek Mama...." kata Kania kesal .


"Hey..siapa bilang Papa ngeledek Mama...nggak sayang..Papa nggak ngeledek Mama kok..." jawab Bara sambil mengusap kepala Kania penuh kasih.


"Ya sudah yuk ke kamar Johan..." kata Kania sambil menutup tutup botol yang ada di tangannya. Merekapun berjalan keluar kamar inap Kania. Karena Kania sudah sehat,dia berjalan sendiri smbil memegang lengan Bara. Mereka berjalan menuju lift. Kamar yang memang khusus keluarga Dirgantara sang pemilik rumah sakit ada di lantai tiga. Sedang lantai dua tempat ruang kamar inap VViV. Tak berapa lama mereka telah sampai di kamar inap Johan yang ada di lantai dua. Sesampainya di depan pintu kamar inap Johan , Bara mengetuk pintu perlahan.

__ADS_1


Tak berapa lama pintu terbuka. Terlihat nyonya Lidya berdiri di depan pintu.


"Nia....kau kemari nak..." seru nyonya Lidya gembira. Dia memeluk Kania dengan wajah senang.


"Selamat siang tante....?" kata Kania sambil membalas pelukan nyonya Lidya.


"Siang sayang..ayo masuk, ayo nak Bara...."kata nyonya Lidya sambil menerima uluran tangan Bara .


"Apa kabar Ma..." kata Bara .


"Baik nak.. Ayo masuk..." kata nyonya Lidya . mereka masuk ke kamar beriringan. Ketika sampai di dalam Kania melihat Johan yang sedang berbaring dengan tangan di infus.


"Mama...." seru Johan gembira ketika melihat wajah Kania.


"Selamat siang sayang..." sapa Kania.


"Siang Ma..." jawab Johan dengan wajah gembira.Kania mencium lembut kening Johan. Terlihat wajah Johan gembira mendapat perlakuan Kania.


"Apa kabar Johan....?" sapa Bara.


'Baik Om...." jawab Johan.


"Tan..Johan baik- baik aja kan ...?" tanya Kania.


"Kemarin tiba- tiba johan pingsan nak... Karena itu Johan harus di rawat lebih lama..." jawab nyonya Lidya.


Kania menatap Johan dengan wajah sedih. Dia tahu racun itu mulai menyerang tubuh kecil itu.


Perlahan Kania mendekati Johan.


"Sayang... kau mau minum air dari Mama...?" kata Kania pada Johan.


"Iya Ma...kebetulan Johan haus..." jawab Johan. Kania segera mengambil gelas yang berada di atas nakas dan menuangkan air mineral yang dia bawa.


Dengan sigap Johan meminum air yang ada di gelas yang di berikan oleh Kania. Johan meminum air hingga air di gelas habis.


"Kau akan cepat sembuh sayang.... Apa boleh mama melihat perut Johan....?" kata Kania lembut.


"Boleh Ma...." jawab Johan malu- malu. Perlahan Kania membuka perut Johan dengan perlahan pula tanpa setahu nyonya Lidya Kania mengusapkan batu permata di kalungnya keperut Johan. Saat Kania melihat sepintas batu permata itu berubah agak kehitaman , tak lama batu itu kembali merah. Kania segera menutup kembali perut Johan. Bara yang berbincang dengan nenek Johan untuk mengalihkan perhatiannya segera menyudahi pembicaraannya ketika melihat Kania sudah memakai kembali kalungnya .


"Ma...tolong berikan air ini pada Johan jika dia haus..." kata Kania .


"Ma...biar Johan yang megang sendiri botol itu Ma..." seru Johan saat Kania mau memberikan botol pada nyonya Lidya. Akhirnya Kania memberikan botol itu pada Johan. Johan menerima botol itu seperti mendapatkan barang yang sangat berharga.


"Itu air apa nak....?" tanya nyonya Lidya heran.


"Sayang....di taruh di atas meja aja ya.." kata nyonya Lidya.


"Nggak nek...nanti di minum orang... Ini kan minuman buat Johan dari mama Kania...." kata Johan posesif.


Kania hanya tersenyum haru melihat Johan yang terlihat sangat suka dengan air yang dia berikan. Kania bisa melihat kalau Johan merindukan kasih sayang seorang Mama.


"Ya sudah...tapi ingat sayang...kalau kau haus kau minum saja air itu ya.." kata Kania.


"Baik Ma...trimakasih Ma..." kata Johan dengan wajah gembira . Kania dan Bara berbincang sebentar. Lalu mereka berpamitan karena Kania akan segera kembali kerumahnya.


"Sayang..Mama pulang dulu ya... Besok kalau kau sembuh pasti kau boleh pulang, dan kau boleh bermain kerumah mama..." kata Kania pada Johan.


"Benar Ma, Johan boleh main kerumah Mama....?" tanya Johan .


"Coba kau tanya sendiri pada Om Bara.." kata Kania.


"Om..Johan bileh nggak main kerumah Mama Kania...?"


Tanya Johan pada Bara.


"Boleh...kalau kau sudah sembuh datanglah kerumah Mama Kania..." kata Bara menjawab pertanyaan Johan.


"Benar Om...?" tanya Johan tak yakin.


"Iya..." jawab Bara sambil tersenyum. Johan berseru gembira . Nyonya Lidya kagum ketika melihat senyum Bara. Selama menjadi menantunya, Bara tak pernah memperlihatkan senyumannya.


"Nia...kau telah merubah manusia dingin ini menjadi manusia yang penuh senyuman..." batin nyonya Lidya.


Dia menatap kedua suami istri yang ada di depannya dengan wajah kagum, yang satu terlihat sangat cantik dan lembut dan yang lain terlibat gagah dan sangat tampan.


"Jelas saja Emilda kembali tergila- gila pada Bara, melihat wajahnya yang begitu tampan tentu saja membuat orang cemburu dan iri pada Kania. Namun Bara memang lebih pantas dengan wanita ini dari pada Emilda. Emilda kalah jauh dengan wanita ini...dia lembut, sopan , baik hati dan sangat cantik.... "kata nyonya Lidya dalam hatinya. Akhirnya Bara dan Kania keluar dari ruangan Johan. Sesampainya di kamar Kania, terlihat nyonya Rani dan tuan Mahesa sudah menunggu.


"Dari mana kalian...?" tanya nyonya Rani ketika melihat Bara dan Kania masuk kedalam kamarnya.


"Menengok Johan Ma..." jawab Bara


"Johan siapa...?" tanya sang Papa.


"Johan cucunya papa Malik , putranya si Emilda dari suami keduanya Pa.." kata Bara menjelaskan .

__ADS_1


"Lo sakit apa dia....?" tanya Nyonya Rani.


"Keracunan Ma...." jawab Bara kembali .


"Lo kok bisa...?" tanya nyonya Rani heran.


"Ceritanya panjang Ma... Nanti saja kalau sampai dirumah biar menantu tersayang Mama yang cerita..." jawab Bara sambil menatap sang istri sambil mengedipkan mata ketika melihat wajah sang istri terkejut mendengar omongannya.


"Kalau begitu kita kesana dulu Pa..


Nggak enak sama mbak Lidya.." kata nyonya Rani pada sang suami .


"Baiklah... dan kalian bersiaplah untuk pulang, setelah dari ruangan Johan kita segera pulang...." kata tuan Mahesa pada anak dan menantunya.


"Siap Bos...." jawab Bara konyol.


Tuan Mahesa sedikit terkejut melihat tingkah Bara. karena Bara tak pernah bertingkah seperti itu selama ini , Diapun segera melangkah keluar dari kamar Kania bersama sang istri.


Tak lama setelah dari ruangan Johan , Bara dan Kania serta kedua orang tua Bara segera keluar dari ruang inap Kania untuk segera kembali kerumah kediaman Bara.


Satu jam setelah kepergian Kania dan keluarga dari rumah sakit, tuan Malik datang kerumah sakit untuk melihat kesehatan sang cucu. Ketika sampai di sana dia melihat sang cucu sedang tidur dengan sebotol air mineral dalam pelukan tangan kirinya. Sedang sang istri duduk sambil memegang ponsel.


"Assalamualaikum...." ucap salam tuan Malik.


"Waalaikum salam Pa..." jawab sang istri.


"Lo..itu kenapa botol mineral ada dalam pelukan Johan Ma...?" tanya tuan Malik tak mengerti.


"Oo..itu air mineral pemberian Kania Pa..., lalu Johan memintanya agar tidak ada yang meminum air pemberian Kania.." jawab nyonya Lidya .


"Ya ampun sayang.... Sepertinya kau sangat menyukai Kania nak...?" kata tuan Malik menatap sang cucu . Dia mengusap lembut kepala Johan.


"Siapa yang nggak jatuh cinta dengan Kania Pa... Dia wanita yang sangat baik.. Dia sudah tahu Johan adalah anak wanita yang mencelakainya, dia masih terlihat sayang dan peduli pada Johan Pa... Dia dengan lembut menyapa Johan tadi..." adu nyonya Lidya.


"Kania memang wanita yang sangat baik Ma... Andai Emilda memiliki separuh saja kebaikan Kania, betapa bahagianya kita Ma..." kata tuan Malik perlahan.


"Benar kara Papa.... Andai Emilda sebaik Kania... Betapa bangganya kita Pa...semoga kedua anak kita akan mencontoh tingkah laku Kania Pa..." kata nyonya Lidya berharap


"Amiiin...." jawab sang suami.


Percakapan mereka terhenti ketika seorang dokter dan perawat masuk kedalam untuk memeriksa Johan .


"Selamat siang tuan dan nyonya Malik.. kami akan memeriksa cucu anda dulu.." sapa Dokter yang baru datang itu.


"Selamat siang dokter , Silahkan dok..." kata tuan Malik ramah .


Dokter itupun segera memeriksa Johan. Dokter itu juga yang kemaren memeriksa Johan saat Johan pingsan. Dan dia juga yang tahu racun yang menyerang johan., saat dia memeriksa Johan kembali, dia geleng- geleng kepala seperti orang yang tak yakin .


"Ada apa dokter...?" tanya tuan Malik cemas. Dokter itu kembali memeriksa Johan tanpa menghiraukan pertanyaan tuan Malik. Setelah lama dia menatap tuan Malik.


"Ada apa dokter...?" tanya tuan Malik semakin cemas.


"Begini tuan Malik...( dokter itu diam sebentar) saat kemarin saya memeriksa Johan cucu tuan, racun di tubuhnya telah menyerang lambung dan hatinya, tapi aneh... Saat saya memeriksanya sekarang...racun itu telah habis,dan bersih dari lambung dan hati Johan..." kata dokter itu dengan tak yakin.


"Benarkah....?" seru tuan Malik gembira.


'Benar tuan...entah kejadian apa yang terjadi pada cucu tuan Malik. Hingga lambung dan hati yang terkena racun telah sembuh sekarang. Sebenarnya saya takut racun itu akan menyerang jantung Johan..." kata dokter menjelaskan .


"Tapi lebih baik kita periksa di leb nanti malam saja, jadi kita bisa tahu kepastiannya..." lanjut dokter itu dengan wajah agak bingung.


"Baiklah kalau begitu dokter. Nanti malam kita periksa di leb saja..." kata tuam Malik.


"Baiklah kalau begitu saya akan keluar dulu, masih banyak pasien yang akan saya lihat, jangan lupa nanti malam saya tunggu di ruangan leb.." kata sang dokter.


"Baik dokter..." jawab tuan Malik dengan wajah gembira. Tak lama dokter itupun keluar dari ruang inap Johan.


Setelah kepergian dokter tuan Malik menatap sang istri.


"Ma...apa tidak ada kejadian saat Papa belum datang...?" tanya tuan Malik pada sang istri.


"Nggak ada sich Pa... Tadi nggak ada orang datang, cuma ada Kania dam Bara serta dik Rani dan suaminya....tapi tinggu Pa.. Kalau Rani dan Mahesa hanya menyapa sebentar aku dan Johan, tapi kalau Kania dan Bara.. Saat Mama tadi sedang berbincang- bincang dengan Bara, Kania ada bersama Johan dan saat dia mau pulang dia meminta Mama untuk memberi minum air itu pada Johan kalau Johan haus...." kata nyonya Lidya dengan wajah mengingat- ingat.


"Ya Tuhan...anak itu..., ternyata dia yang menyelamatkan cucu kita Ma... Dia menyelamatkan Johan lagi... Aku yakin dia yang menolong Johan mengeluarkan racun dari tubuh Johan Ma..." seru tuan Malik gembira .


"Tapi gimana caranya Pa...?" tanya nyonya Lidya heran.


"Entahlah Ma...tapi Papa yakin dia yang menyembuhkan Johan..." kata tuan Malik dengan wajah gembira.


"Pa...dia memang gadis yang baik hati , mama iri pada kedua orang tuanya Pa... kenapa bukan kita yang memiliki putri seperti dia..." kata nyonya Lidya.


"Mama nggak boleh ngomong kayak gitu, beruntunglah kita bertemu dan mengenal wanita seperti dia Ma..." kata tuan Malik.


"Benar Pa...kita harus bersyukur pada Tuhan, karena melalui Kania, cucu kita terselamatkan dari maut..." jawab nyonya Lidya.


"Dan tanpa kita sadari kedua cucu Kita mencintai Dia..." kata tuan Malik dengan wajah bahagia.

__ADS_1


jangan lupa like, vote, dan komenya ya...


Bersambung.


__ADS_2