
Saat setelah makan siang Kania segera mempersiapkan diri untuk menghadapi Deby yang pasti akan membuat masalah buat Dia. Setelah membetulkan riasan dan kostum yang dia pakai Kania segera berjalan kearah tempat syuting. Sespainya di lokasi syuting dia melihat Deby sudah berada di sana.
Kania segera menemui Seto Aji yang sedang melihat persiapan Syuting.
Ketika melihat kedatangan Kania dia segera menyapa.
"Kau sudah siap Nia...?" tanya Dia .
"Sudah kak..." jawab Kania sambil berjalan kearah Seto Aji.
"Ya sudah kita mulai dengan naskah lembar halaman ke 82 Putri Fang Yun di tengah pasar..." seru Sutradara.
Di sana Putri Fang Yun sedang berada di tengah pasar sedang membeli makanan tak lama Deby yang berperan sebagai wanita Kaya tapi berwatak jahat datang menghajar seorang pedagang , karena kasihan Putri Fang Yun menolong Pedagang itu. Hingga dia dikeroyok oleh anak buah wanita jahat itu.
Syuting pun segera di mulai , ketika sampai pada adegan Deby yang mulai menghajar Pedagang itu. Kania pun mulai membela sang pedagang.
"Maaf Nona... Apa pantas seorang Nona Kaya menghajar pedagang yang saya kira dia tak terlalu bersalah. Bukankah Nona sendiri yang salah telah menjatuhkan barang itu sendiri, mengapa anda meminta ganti pada dia..?" kata Putri Fang Yun dengan datar.
"Be***ah siapa kau... Berani sekali kau ikut campur urusanku ha..." tiba- tiba dia melayangkan cambuknya dengan keras dan itu seperti di sengaja mengenai punggung Kania.
"Aauu..." Kania meringis kesakitan. Dia merasakan panas di punggungnya.
'Kenapa dia benar- benar memukulku.."
(seru kaget Kania dalam hati)
"Ya ampun...sepertinya Nona Deby memukul Nona Kania dengan sesungguhnya...." teriak Arum yang sedang menonton .
"Cuut..." seru Seto Aji. Karena dia juga melihat kesengajaan Deby memukul Kania.
"Nona Deby...apa yang kamu lakukan..?" teriak Seto Aji kaget.
"Apa maksud tuan Seto....?" tanya Deby tak merasa bersalah.
"Kau dengan sengaja mencambuk Nona Kania...?" tanya Seto Aji dengan nada marah.
"Maaf saya nggak sengaja, mungkin Karena saya terlalu semangat hingga cambuk itu mengenai Nona Kania..." serunya enteng.
"Itu perbuatan yang salah Nona Deby , jangan masalah pribadi kamu campur adukkan dengan pekerjaan..." kata Seto Aji tajam.
"Bukankah itu resiko seorang pemeran.." jawab Deby acuh.
"Sutradara tidak masalah kita lanjut lagi syutingnya..." kata Kania menengahi.
"Apa tidak bermasalah buatmu...?" tanya Seto Aji khawatir.
"Tidak masalah...mari kita lanjutkan..." jawab Kania.
"Baiklah, dan anda Nona Deby tolong hati- hati lagi, jangan sampai anda mendapat masalah atau saya bisa membatalkan kontrak kita karena kelakuan anda...." kata Seto Aji dengan menekan perkataannya. Karena dia tahu perbuatan Deby yang memang dia sengaja. Syuting pun di lanjutkan kembali. Untunglah dengan susah payah Kania bisa menyelesaikan adegan yang harus dia lakukan , sebab dia melakukan adegan perkelahian itu dengan menahan sakit yang ia derita di punggungnya karena cambukan Deby tadi . Setelah adegan Putri Fang Yun bisa merobohkan para pengawal wanita jahat itu, syuting pun berakhir. Terlihat senyuman penuh kepuasan terlihat di wajah licik Deby. Namun dia masih mendengar kata- kata yang di lontarka. oleh para pemain lain.
"Ih..katanya artis senior, kok perbuatannya kayak gitu ya... Aku yakin tadi dia memang sengaja mencambuk Nona Kania... Untung aja Nona Kania orangnya baik , kuat dan sabar kalau orang lain pasti dia sudah mendapatkan masalah..." kata salah satu artis yang melihat Kejadian itu.
"Mungkin dia iri karena kepandaian Nona Kania dan dia tidak bisa menjadi pemeran wanita utama...dasar nenek sihir..." seru seorang kru film.
Deby yang mendengar perkataan orang yang melihat peristiwa tadi menjadi marah dan semakin benci pada Kania.
"Dasar Wanita Ja***g bisa- bisanya dia masih di bela oleh banyak orang..." geram Deby marah. Dia mendapat cibiran dan tatapan sinis dari banyak orang. Deby hanya cuek saja , dia berjalan bersama asisten dan menejernya pergi meninggalkan lokasi syuting dengan wajah gembira.
"ha ha ha...aku merasa puas hari ini, semoga dia tidak bisa lagi meneruskan peran yang harus dia lakukan, dan peran itu bisa jatuh ketanganku .." seru Deby dalam hati .
Sedang Kania setelah selesai syuting dia segera di hampiri oleh pengawal dan Asisten pribadinya tak lupa pula si Farel yang menatapnya penuh kecemasan.
"Kinkin..Kau tak apa- apa....? tanya dia dengan wajah cemas.
"Nggak apa- apa..jangan khawatir gue masih kuat kok...' jawab Kania sambil tersenyum.
"Tuan biar Kami melihat luka Nona Kania dulu..." kata Arum dengan wajah sedih mencegah Farel masuk kedalam ruang ganti Kania .
"Baiklah gue pergi dulu, kalau membutuhkan sesuatu panggil gue..." kata Farel sambil melangkah keluar ruang ganti Kania. Setelah melihat Farel keluar Arum, Keti dan Amanda segera membuka baju atas Kania mereka segera memeriksa luka yang di derita Kania. Mereka sangat kaget ketika terlihat garis melintang berwarna merah membiru dan sedikit mengeluarkan darah sedang ujungnya terlihat luka agak lebar. hingga di baju Kania terdapat darah yang membasahi baju kostum Putri Fang Yun.
"Ya Tuhan.... Kenapa separah ini...?" seru Arum . mereka bertiga kaget melihat luka di punggung Kania.
"Si***n benar- benar jahat wanita itu..." seru Amanda Marah. Begitu juga Keti dan Arum. Mereka mengepalkan tangan mereka dengan marah.
"Sudah jangan marah... Kita pasti bisa membalas perbuatannya nanti..." jawab Kania dengan tenang. Namun dia agak meringis ketika Arum mengoleskan salep pada kulit yang terluka.
"Aauu..." seru Kania .
"Tahan sebentar Princess..." kata Arum sambil meniup luka Kania. Setelah itu Kania mengganti baju dengan di bantu kedua pengawalnya. Setelah itu mereka berpamitan pada Seto Aji.
"Kak gue pulang dulu ya..." kata Kania dengan wajah agak pucat.
"Kau tidak apa- apa...?" tanya Seto Aji dengan cemas.
__ADS_1
"Nggak Apa - apa Kak..." jawab Kania.
"Ya udah pulanglah, kalau besok kau nggak enak badan kau bisa istirahat dulu di rumah...?" kata Seto Aji.
"Baik kak...ya udah Kania pulang Dulu, Asalamualaikum...."
"Hati- hati di jalan, walaikum salam..." jawab Seto Aji sambil memandang kepergian Kania. sesampainya di tempat Parkir mereka bertemu dengan Farel. saat melihat wajah pucat Kania dia ingin mengantarnya pulang, tapi Kania menolak karena sudah ada Arum , Keti dan Amanda. akhirnya dengan terpaksa Farel membiarkan mereka membawa Kania pulang, walau dalam hatinya khawatir. Kania pun segera meninggalkan tempat syuting bersama para pengawal dan asisten pribadinya. Setelah mengantarkan Amanda pulang, Kania dan pengawalnya segera pulang ke apartemen.
"Rum, Keti, jangan bilang sama Bos besar ya... " kata Kania ketika mereka sudah berada di parkiran Apartemen.
"Tapi Bos..." kata Arum.
"Pokoknya jangan ngomong dulu, biar gue sendiri yang bilang padanya..." jawab Kania.
"Baiklah Kalau itu maunya Princess.." jawab Arum pelan. Mereka segera keluar dari dalam mobil.
"Nggak usah nganter gue, biar gue sendiri yang keatas. Kalian istirahatlah.." kata Kania pada para pengawalnya.
"Bos biar kami mengantar elo sampai atas, gue masih nggak tega membiarkan elo sendirian, gue rasa luka itu masih sakit kan...?" tanya Arum dengan wajah sedih.
"Ya iyalah Non...gue nggak akan nutupin kalau ini emang benar sakit..." jawab Kania.
"Nach tu kan...kalau gitu biarkan kami bersama elo malam ini, kami nggak bisa meninggalkan elo sendirian dalam keadaan sakit princess..." kata Arum.
"Iya Bos...biarkan kami malam ini bersama elo...?" kata Keti juga.
"Baiklah, baiklah kalau itu membuat kalian berdua tenang..." jawab Kania .
"Trimakasih Bos...." jawab mereka berdua. Merekapun segera pergi kedalam Apartemen. Ketika mereka sampai di loby,mereka bertiga tertegun Karena mereka melihat Bara sudah berada di sana sedang menatap Kania dengan tajam.
"Bos sudah lama...?" sapa Kania.
"Hmm... Arum,Keti kalian kembali ke apartemen kalian, biar Bos Kalian bersamaku...." kata Bara datar.
"Baik Bos...." jawab mereka serempak.
Mau tak mau Kania berjalan kedalam lift bersama Bara. Saat masuk kedalam Lift Bara Menempatkan Kania di depannya. Setelah sampai di pintu Apartemen Kania Bara segera membuka pintu apartemen yang memakai angka. Ketika mereka sudah sampai di dalam Bara berkata.
"Sayang masih sakit lukanya...?" tanya Bara dengan nada cemas.
"Luka...? Luka apa pa...?" tanya Kania berpura- pura tak tahu apa yang di maksud Bara.
"Nggak usah menyembunyikan lukamu.." kata Bara datar.
"Papa sudah tahu...?" tanya Kania.
"Boleh aku melihatnya...atau kita kedokter...." tanya Bara memandang Kania yang terlihat wajahnya semakin memucat.
"Tapi pa..." kata Kania tak enak
"Bun...kita hampir menikah. Papa nggak bisa tenang kalau nggak lihat luka Bunda..." kata Bara .
Kania ragu memperlihatkan lukanya.
"Please...Papa mohon..." kata Bara dengan wajah cemas.
"Baiklah, tapi Papa lihat kebelakang dulu , Kania mau membuka baju atasan.." kata Kania pasrah.
Setelah membuka baju atasan dan menutup bagian depan dengan selimut Kania menyuruh Bara membalikkan badan.
"Sudah Pa...Papa boleh lihat..." kata Kania.
Bara segera membalikkan Banar. Saat melihat luka memanjang dan berdarah bekas cambukan yang ada di punggung Kania , terlihat muka merah Bara karena marah.
"Si***n berani sekali dia memukulmu sampai seperti ini.... Dasar wanita tak tahu diri, dia kira siapa dia... Bun kau harus di periksa Dokter atau kita pergi kerumah sakit ...." kata Bara yang semakin cemas melihat wajah Kania yang semakin memucat.
"Tapi Pa..." tolak Kania.
"Bun... Sekali ini tolong jangan membantah ...." kata Bara memohon.
"Baiklah...mama nurut apa kata Papa, tapi jangan pergi kerumah sakit..." pinta Kania. Dan diapun nggak bisa menyangkal mungkin nanti malam dia tidak bisa tidur terlentang.
Bara segera menelfon Dokter pribadinya. Tak berapa lama seorang dokter keluarga Dirgantara datang ke apartemen Kania. Ketika melihat luka di punggung Kania dia bertanya.
"Bara ini kenapa kok sampai luka begini..?" tanya Dokter Yusuf heran.
"Kecelakaan waktu syuting Om..." jawab Bara datar.
"Dia siapa Bara....?" tanya Dokter Yusuf yang sudah menjadi Dokter keluarga sejak dulu.
"Calon istri Bara Om...."jawab Bara datar
"Dia harus istirahat dulu selama dua atau tiga hari Bara... Agar lukanya cepat membaik..." kata Dokter Yusuf setelah menyuntik Kania.
__ADS_1
"Baik Om...tolong beri obat yang bagus agar tidak membekas lukanya..." kata Bara datar.
"Iya...Om tahu itu..." kata Dokter Yusuf. Dia memberikan resep obat yang harus Bara beli. Setelah itu Dokter Yusuf pamit pulang. Setelah kepergian Dokter Yusuf Bara segera menelfon Arum dan Keti untuk membeli obat di apotik ,setelah itu dia mendekati Kania yang sedang tidur tengkurap karena ketika dia mencoba tidur terlentang dia merasakan sakit di punggungnya.
'ist seberapa parah sich luka di punggung gue..dasar Deby kurang a**r dia kira gue kuda kalik, mecambukku hingga sesakit ini....dasar wanita Si***n, ( umpat Kania )
"Sayang...kita kembali kerumah dulu, kau harus istirahat selama tiga hari. Lebih baik dirumah, di sana kau banyak yang merawat... atau kita kerumah sakit..? kata Bara dengan wajah sedih.
"Baiklah kita kerumah Papa, ...?" jawab Kania tak tahan melihat wajah Bara yang terlihat sedih dan khawatir dia juga tak mau di bawa kerumah sakit.
"Papa keluar dulu...Bunda mau ganti Baju ...?" kata Kania lagi.
"Baik, jangan lama- lama.....?" kata Bara sambil berjalan keluar dari kamar Kania. Setelah melihat Bara keluar dari kamarnya, Kania segera berdiri dari tempat tidur. Dengan menahan sakit dia segera memakai baju atasan.
"Dasar wanita jahat, sebenci itukan dia terhadapku...kenapa suami istri Setyo Hadi dulu bisa bertemu dengannya sich..
seru Kania mengumpat dalam hati. Setelah selesai berpakaian Kania segera membereskan barang yang akan dia bawa.
Sedang di ruangan tamu terlihat Bara sedang menelfon seseorang. terlihat Wajahnya yang memerah karena marah. cukup lama dia berbincang di telfon. Sedang Kania yang berada di dalam kamar telah selesai memasukkan beberapa barang kedalam tas kecilnya , kalau soal pakaian dirumah Bara sudah ada . tiba- tiba terdengar ketukan di pintu.
"Bunda sudah....?" tanya Bara dari luar Kamar.
" Sudah, masuk aja Pa...?" jawab Kania.
Bara segera membuka pintu kamar Kania. dilihatnya sang gadis sedang memasukkan barang- barangnya kedalam tas .
"Sayang...bukankah di rumah pakaianmu banyak...?" kata Bara.
"Ini hanya Naskah dan beberapa barang yang di butuhkan Bunda kok Pa..." jawab Kania.
"Sudah selesai....?" tanya Dia lagi.
"sudah Pa...?" jawab Kania .
"Ayo kita pergi..." ajak Bara , dia membawa tas kecil Kania . ketika sampai di loby apartemen mereka bertemu dengan Arum dan Keti yang sudah menunggu kedatangannya dengan obat di tangan Arum. ketika melihat kedatangan Kania dan Bara Keti segera mengambil tas dari tangan Bara. Bara segera memapah Kania menuju mobil sport miliknya. Tak berapa lama terlihat dua mobil mewah itu meninggalkan parkiran Apartemen Kania.
"Pa... apa yang akan papa lakukan pada Deby....?" tanya Kania pada Bara karena dia tahu pasti Bara akan melakukan sesuatu pada Deby.
" Jangan khawatir Bun... Papa nggak akan sampai membunuhnya. tapi maaf Papa nggak bisa tinggal diam pada orang yang telah menyakitimu. Papa nggak sanggup melihat kamu terluka lagi seperti ini. sudah dua kali kejadian yang membuat kamu tersakiti..." jawab Bara dengan nada dingin.
"Bunda tahu.. asal jangan sampai kau bunuh wanita itu, Kania tak ingin Papa menanggung dosa telah membunuh dia Pa..." kata Kania sambil memandang Bara yang terlihat sangat marah.
"Iya sayang.,..Papa tahu itu, aku tak akan dengan mudah membunuh dia. Papa pingin dia merasakan penderitaan Bunda selama ini..." jawab Bara sambil mengusap pipi Kania sayang. Kania hanya membalas dengan senyuman manis.
Ketika mereka sampai di rumah Bara, terlihat Dika dan Anton sudah menunggu kedatangan Bara dan Kania. Setelah memasukkan mobil langsung ke garasi Bara segera memapah Kania yang terlihat masih berwajah pucat. walau dia sudah berusaha menahan sakit di punggungnya tapi wajah Kania tak bisa berbohong. Setelah sampai di dalam rumah Kania ,Bara, Dika ,Anton dan kedua pengawal Kania duduk di ruang tamu. Bara mendudukkan Kania di sebelahnya.
"Arum...tolong Kau ceritakan kronologi kejadiannya..." perintah Bara pada sang pengawal. akhirnya Arum menjelaskan semua kejadian yang di alami Kania. Dia juga mengatakan kalau Deby seperti sengaja mencambuk Kania. Setelah mendengar cerita dari Arum terlihat ketiga petinggi perusahaan Dirgantara Group itu menahan Amarah. apalagi tuan Bara yang terhormat. terlihat wajahnya yang kembali merah padam.
"Si***n apa sebenarnya kemauan wanita licik itu..." seru Dika marah.
"Mungkin dia marah karena Kania memerankan Putri Fang Yun..." kata Anton menebak.
"Tebakanmu mungkin benar Ton, kemungkinan besar dia marah karena dia merasa Kania telah merebut peran putri Fang Yun dari tangannya. dia berkeyakinan kalau dialah yang pasti di pilih oleh Seto Aji untuk memerankan Putri Fang Yun. tapi kenyataannya malah Kania yang bukan artis terkenal menjadi pemeran utamanya.." kata Dika menyetujui dugaan Anton.
"Bisa juga sich...tapi haruskah dia melukai pemain lain karena dia kecewa..?" kata Bara marah.
"Itulah sifat licik dia Bos..." jawab Anton.
"Kita harus membalasnya Kak...sudah dua kali dia menyakiti kakak ipar...." kata Dika geram.
"Benar itu Bos..." kata Anton menyetujui.
"Kita lihat Apa yang akan aku lakukan pada gadis si***n itu,.. kalian jangan pulang dulu setelah makan malam nanti, ada yang akan aku bicarakan pada kalian berdua..." perintah Bara pada adik dan Asisten pribadinya.
"Pa...Nia keatas dulu ya...punggung Bunda sakit, Bunda mau istirahat dulu.." kata Kania sambil berdiri.
"Biar Papa yang mengantarkan .." kata Bara ikut berdiri juga.
"Kalian nggak usah pulang, kalau mau tidur , tidur di kamar tamu..." titah Bara pada Dika dan Anton sebelum melangkah membawa Kania ke kamarnya.
"Bunda...." teriak Kinan dari arah pintu belakang.
"Stt sayang...jangan mendekat dulu Pada Bunda..." kata Bara pada Kinan yang sudah ingin lari dalam pelukan Kania.
"Emang Bunda kenapa Pa...?" tanya pria kecil itu .
"Bunda sakit sayang... Kinan main sama bang Mamat dulu ya...?" kata Bara membujuk.
"Kinan mau dekat Bunda..." pinta Kinan dengan wajah sedih.
"Baiklah Kinan boleh ikut ke kamar bunda tapi nggak boleh dekat Bunda ya..." kata Bara.
"Baik..." jawab Kinan dengan wajah berseri. mereka bertiga akhirnya pergi kekamar Kania. sesampainya di kamar , Kania terpaksa tidur tengkurap karena masih merasakan punggungnya yang masih perih dan sakit.
__ADS_1
Hay sobat segini dulu cerita dari author, besok kita jumpa lagi lanjutan cerita Kania dan Bara . tapu tunggu.... jangan lupa like dan komennya selalu author tunggu.
Bersambung.