Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
PENYESALAN SETYO HADI


__ADS_3

Setyo Hadi segera berjalan masuk kedalam rumah. Dia bingung kemana harus melihat dan mengetahui keberadaan Kania. Kalau kekamarnya di mana letak kamar Kania karena kamar di dalam mension ini banyak sekali. Ketika dia sedang berjalan tiba- tiba seorang gadis menabrak dirinya. Gadis yang teramat cantik dan anggun.


"Ma..maaf paman..nggak sengaja..." kata gadis itu sambil tersenyum manis.


Belum sempat dia menjawab terdengar suara gadis lain memanggil


"Ya ampun Bos.... Bos Nia cepet banget sich jalannya.. Arum lagi nunggu Keti yang ada di kamar mandi..." seru Salah satu dari dua gadis yang baru datang.


"Ee..ada Paman...maaf Arum kira Bos Nia sendirian..." kata Arum saat melihat pada Setyo Hadi .


"Nia...? Namamu Kania...?" tanya Setyo Hadi dengan wajah berbinar.


"Benar Paman...namaku Kania putri bik Monah dan Paman Asep.." kata Kania dengan sopan. Setyo Hadi terkejut ketika mendengar perkataan Kania. Sebenarnya sejak pertama kali mereka bertemu Kania sudah merasakan Perasaan yang aneh di dalam hatinya. Dan juga ketika melihat wajah Paman yang ada di depannya dia merasa sangat femiliar sekali dengan wajah itu.


"Maaf paman Nia permisi dulu..." kata Kania sambil berlalu meninggalkan Setyo Hadi yang masih tertegun melihat dirinya Dia menatap kepergian Kania bersama dua orang gadis itu. Saat dia termenung tiba- tiba bik Monah melintas di dekatnya.


"Tuan Setyo..." sapa Bik Monah kaget. Ada ketakutan di dalam ucapan bik Monah.


"Bik Monah....apa kabar bik...?" tanya Setyo Hadi datar. setelah tersadar dari pesona putrinya.


"Baik tuan....?" jawab Bik Monah masih terlihat takut.


"Apa dia tadi Kania putriku Bik...?" tanya Setyo Hadi dengan wajah sedih.


"Iya tuan....maafkan kami yang telah membawa dia pergi dari rumah tuan, Saat itu Nona Kania ingin pergi sendiri karena sudah tidak kuat atas penyiksaan yang selalu tuan dan nyonya lakukan . Karena takut Nona pergi tanoa pamit Akhirnya kami memutuskan pergi bersamanya. Maafkan kami tuan..." kata bik Monah lagi.


"Semua bukan salah kalian, akulah yang bersalah karena mendengarkan perkataan perempuan sialan itu.." Kata Setyo Hadi marah.


"Apakah dia tidak mengenali tuan...?" tanya bik Monah.


"Sepertinya tidak bik...trimakasih kalian telah merawat putriku dengan baik bik.. semoga dia mau memaafkan Papa yang bodoh seperti diriku ini..." kata Setyo Hadi dengan penuh penyesalan. Terlihat air mata berderai jatuh di pipinya.


Tanpa mereka sadari ada tiga pasang mata mendengar percakapan mereka .


Kania, Arum dan Keti mereka yang tadinya ingin kembali kedalam kamar melihat bik Monah sedang bercakap dengan paman yang tadi sempat bertabrakan dengannya. Kania yang ada di balik dinding di sebelah tempat Setyo dan bik Monah berbicara , tertegun mendengar pembicaraan mereka berdua. Dia terlihat kaget mendengar kalau pria itu adalah tuan Setyo Hadi Papa nya. Dia diam dan menahan tangis , namun tak terasa air mata yang dia tahan berderai di pipinya. Keti dan Arum juga ikut menangis ketika melihat Bos sekaligus sahabat mereka menangis. Mereka berdua segera memeluk Kania.


"Bos sabar ya.... Ada Kami di sini..." hibur Arum pada Kania.


"Iya Bos... Sepertinya tuan Setyo menyesal berat Bos..." kata Keti perlahan.


"Kenapa baru sekarang penyesalan itu datang...?" seru Kania di sela tangisannya. Kania segera mengajak kedua pengawalnya keluar dari sana. Tak berapa lama setelah kepergian Kania Setyo Hadi lewat menuju kembali keruang keluarga.


Sementara itu di ruang keluarga terlihat Sindu mendapat telfon. Setelah melihat siapa yang menelfon dia segera pamit untuk menerima panggilan itu.


"Halo Asalamualaikum..." Sindu memberi salam.


"Walaikum salam...gimana om apa sudah ada hasilnya.." tanya orang yang ada di seberang.


"Sudah Bara... Dan kami sudah mengatakan pada keluarga Herlambang tak terkecuali kak Setyo Hadi...." jawab Sindu pada si penelfon yang ternyata Bara.


"Bara...trimakasih atas pertolonganmu pada Kami, semua petunjuk yang kau berikan pada petugas kami sangat membantu terbongkarnya masalah ini.." Kata Sindu pada Bara .


"Sama- sama Om... Itu sudah kewajiban Bara untuk menolong gadis yang Bara cintai. Bara ingin melihat kebahagiaan di hidup Kania Om..." kata Bara datar.


"Beruntung Kania memilikimu Bara..." kata Sindu dengan wajah senang.


"Bukan Kania yang beruntung Om , tapi Bara yang beruntung memiliki Kania.. Om belum tahu siapa Kania, Om akan bangga memiliki keponakan seperti dia Om.." kata Bara bangga .


"Iya Om tahu...kalian adalah manusia- manusia yang membanggakan keluarga.." kata Sindu dengan senang.


"Trimakasih Om...oh ya Om.. apa sudah diketahui di mana keberadaan Tante Sinta ...?" tanya Bara lagi.


"Belum Bara... Karena itulah kak Setyo Hadi kami minta untuk bersabar diri agar tidak membuat masalah dengan mereka...?" kata Sindu lagi.


"Kalau begitu Bara akan membantu mencarinya juga Om..." kata Bara. Ternyata keberhasilan anak buah Sindu juga ada campur tangan tuan Bara sang calon suami Kania.


"Trimakasih Bara... Kalau begitu Om akhiri pembicaraan kita dulu ya... " kata Sindu.


"Baiklah Om trimakasih Asalamualaikum....."


"Walaikum salam ..." Sindu menutup telfonnya dan kembali masuk kedalam rumah . ketika sampai di dalam rumah dia melihat Setyo Hadi sedang menangis di dalam pelukan sang Papa.


"Pa...Setyo salah Pa... Setyo telah menelantarkan putri kandung Setyo bertahun- tahun, Setyo menyesal Pa... Apa yang harus Setyo lakukan agar putri Setyo memaafkan Setyo Pa..?" kata Setyo Hadi di sela tangisannya.


"Mintalah maaf padanya, tunjukkan penyesalanmu pada dia Yo... Aku yakin suatu saat Kania akan mau memaafkan kamu nak..." kata sang Papa, bagaimanapun marahnya tuan Herlambang pada Setyo Hadi, namun dia tetap putranya yang butuh dukungan darinya.


"Pa...boleh Setyo malam ini tidur disini ..? Setyo ingin dekat dengan putri Setyo Pa...?" kata Setyo Hadi dengan wajah sedih.


"Bagaimana kalau istrimu mencarimu..?" tanya sang Papa.

__ADS_1


"Dia bukan istriku Pa...?" seru Setyo marah.


"Yo...kau masih mau mengikuti saran kami kan...?" kata Rehan marah.


"Iya, iya akan aku lakukan sebisaku, tapi tolong carikan di mana istriku Sinta berada ...?" kata Setyo hadi dengan wajah terluka.


"Bersabarlah kak... Kami akan berusaha secepatnya menemukan kak Sinta... Semua ini juga ada campur tangan calon menantumu hingga aku mudah membongkar rahasia si Pingki..." jawab Sindu.


"Calon menantuku....? Siapa dia..?" tanya Setyo Hadi heran.


"Dia Bara Aris Dirgantara putra pertama Mahesa Dirgantara..." kata Sindu yang membuat Setyo Hadi kaget.


"Apaa...Bara Aris Dirgantara..? Bukankah dia CEO dari Dirgantara Group..?" tanya Setyo tak percaya.


"Benar...dia calon suami dari putri yang kau buang Kania .." sarkas Rehan pada Setyo Hadi.


"Kak...semua itu karena wanita busuk itu kak..." kata Setyo dengan wajah sedih.


"Tapi itu juga kebodohanmu yang mudah di hasut olehnya... Mana bisa kau mau mengorbankan putri kandungmu sendiri dengan seorang putri angkat...di mana otakmu Yo...?" seru Rehan marah.


"Iya, iya aku salah kak... Aku memang manusia terbodoh di dunia...!" jerit Setyo Hadi dengan frustasi.


"Sudahlah...kalian jangan bertengkar lagi, Yo..kau boleh tidur disini tapi cari alasan pada wanita itu agar dia tak mencarimu , aku tak ingin mereka datang ketempatku ini.., aku tak ingin acara lamaran Kania berantakan..." kata Kakek Herlambang.


"Trimakasih Pa.. Kalau begitu aku akan menelfon dia dulu..." kata Setyo Hadi dengan wajah sedikit bahagia.


"Ingat Kak...jangan kau perlihatkan kebencianmu pada mereka.." kata Sindu mengingatkan.


"Iya aku tahu Sin..." kata Setyo sambil berjalan keluar rumah.


Dia segera menelfon ke Sinta. tak berapa lama terdengar dia mengangkat telfon .


"Halo ...ada apa Pa..." terdengar sapaan Sinta.


'Ya Tuhan...kenapa aku lupa.. Bukankah setiap menerima telfon Sinta tak pernah lupa mengucap salam terlebih dahulu...?'kata Setyo dalam hati.


"Dua atau tiga hari ini aku nggak pulang...sekarang aku masih ada di luar kota, ada pekerjaan yang mesti aku selesaikan..." kata Setyo datar.


"Kok mendadak Pa...?" tanya Sinta .


"Persoalannya mendesak, aku nggak sempat pamit..." lanjut Setyo Hadi.


"Ya udah aku tutup dulu Asalamualaikum..." kata Setyo mengakhiri pembicaraan. Dia segera menutup sambungan telfon tanpa menunggu jawaban dari Sinta.


"Kania... Dia Papa kandungmu Setyo Hadi, kau masih ingat dia kan..?" tanya Kakek dengan nada lembut .


"Maaf... Kania sudah lupa ..." jawab Kania dingin sambil menatap Kakek Herlambang.


"Nia ...lihatlah wajah Papa nak....?" kata Setyo Hadi dengan sedih.


"Maaf ..saya tidak mengenal anda.." jawab Kania dingin.


"Nak...maafkan Papa nak...?" kata Setyo Hadi pelan.


"Maaf Kek, Paman , Bibi sepertinya Kania makan sama paman Asep dan bik Monah saja permisi...." kata Kania sambil berdiri .


"Nia mau kemana....?" tanya Setyo sambil memegang lengan sang putri.


"Maaf tuan...tolong lepaskan tangan tuan...." kata Kania dingin.


"Tapi Nak...." kata - kata Setyo terhenti ketika mendengar kalimat dingin dari Kania.


"Maaf...lepaskan tangan Saya, saya tidak mengenal anda tuan..." seru Kania sambil menghempaskan tangan Setyo dari lengannya. Dia lalu menatap sang Kakek dengan sopan,


"Maafkan Kania Kek... Kania masih belum bisa menghilangkan luka Kania...Kania permisi dulu.." Kaniapu. berlalu meninggal kan meja makan. Kakek Herlambang hanya bisa menghembuskan nafasnya.


"Yo...bersabarlah...." kata Kakek sambil memandang Setyo Hadi yang terlihat sangat sedih. ada setitik air mata yang jatuh di pipinya.


"Jangan khawatir Pa ... aku akan berusaha mendapatkan maaf dari putri kandungku itu Pa..." kata Setyo Hadi dengan sangat yakin.


"Itu memang harus kau lakukan Yo... apakah masih kau ingat tamparan yang sering kau berikan pada Kania kecil dulu... ?" kata Rehan dengan nada marah.


"Iya kak... aku ingat semuanya.." jawab Setyo dengan wajah sedih.


"Jadi sangatlah pantas kalau Kania melakukan itu padamu...?" kata Rehan lagi.


"Karena itu aku akan berusaha mendapatkan maaf darinya..." Kata Setyo dengan perasaan yakin.


"Kau pasti akan mendapatkannya kak..." kata Garnis meyakinkan.

__ADS_1


"Amiin..." semua meng amiinkan.


"Ya sudah Kita makan dulu, biar Monah nanti membawakan makanan buat Kania di kamarnya..." kata kakek Bara.


mereka segera menyantap makanan yang sudah terhidang di atas meja.


Sedang di kamar Kania terlihat gadis itu sedang menangis di temani kedua pengawalnya. mereka yangcsedang berjalan menujun kamar Kania terkejut ketika melihat Kania sedang berlari kedalam kamarnya. mereka segera mengejarnya. sampai di depan kamar Kania, mereka segera mengetuk pintu.


"Masuk..." kata Kania dari dalam kamar. Saat mereka masuk, mereka melihat Kania sedang menangis.


"Bos...." seru Arum dan Keti bersamaan . Mereka segera mendekati Kania yang sedang tidur tengkurap sambil menangis.


Semenjak mereka mengenal Kania , mereka tidak pernah melihat kesedihan Kania seperti itu .


"Bos.. ada apa ...? boleh Kami meringankan bebanmu Bos...?" kata Keti .


"Iya Bos... berceritalah pada Kami agar kesedihan Princess sedikit berkurang,.." Kata Arum . Terlihat tangis Kania agak meredah.


"Apakah gue salah, apakah gue dosa jika gue nggak mau sama Papa gue...?" kata Kania sambil bangun dari tidurnya. Dia menatap kedua pengawalnya yang juga sedang menatap padanya.


"Bos...boleh nggak Arum berkata jujur...?" tanya Arum sambil mandang Kania.


"Iya...berkatalah...." jawab Kania yang masih mengeluarkan air mata.


"Tapi sebelumnya Arum minta maaf ya Bos, ..sebenarnya sich kita dosa Bos, kalau kita sampai nggak mau mengakui mereka ... bagaimanapun mereka adalah orang tua kita, yang telah membuat kita lahir kedunia ini...tanpa mereka kita nggak akan pernah ada di dunia ini ..?" jawab Arum.


"Tapi mereka membuang gue Rum..?" tanya Kania.


"Apapun itu Bos...?" jawab Arum lagi.


"Lalu apa yang harus gue lakuin Rum... gue masih sakit hati ketika mereka menganggap gue nggak pernah ada di kehidupan orang tua gue, walau gue baru tahu kalau dia sebenarnya bukan nyokap gue, tapi bokap gue.. dia dengan jahatnya memukul dan menelantarkan gue sejak gue masih orok,untung aja ada paman Asep dan bibik Monah yang dengan sayangnya mereka ngerawat gue bagai anak mereka sendiri, apa salah gue jika gue masih ada rasa sakit untuk mereka Rum...?" kata Kania melontarkan rasa sakit di dalam dadanya.


"Gimana princes kalau kita solat malam aja, kita pasrahkan semua sama Tuhan,...?" kata Keti menghibur.


" Benar juga apa kata elo Ket, akan gue lakuin nanti, trimakasih kalian telah membuat gue lebih tenang..." kata Kania sambil memeluk mereka berdua.


"Itulah guna seorang sahabat Bos, gue sudah menganggap princes sebagai saudara gue sendiri..." kata Arum lagi.


"Benar Bos...gue juga sudah menganggap elo bagai adik gue sendiri..." kata Keti menimpali.


"Trimakasih telah hadir di hidup gue.."kata Kania sambil melepas pelukannya dan tersenyum manis.


"Sama- sama Bos..." jawab mereka hampir bersamaan. merekapun tertawa bersama. Tanpa mereka sadari di depan pintu kamar Kania Setyo Hadi mendengarkan pembicaraan mereka bertiga. tak terasa di kedua pipinya mengalir air mata kesedihan.


'Sayang...maafkan Papa, Papa memang manusia terbodoh di dunia ini, mengapa papa harus mendengar dan menuruti omongan perempuan iblis itu, kasihan kau nak , sejak terlahir kedunia ini sampai sekarang aku belum pernah membawamu dalam pelukan Papa, dasar manusia tak berguna...sebenarnya kemana isi otakku ini hingga terperdaya oleh perempuan itu... ya Tuhan...begitu menderitanya gadis kecilku ini. dasar manusia bodoh...bodoh...bodoh...( teriak Setyo Hadi dalam hatinya, dia menyesali semua perbuatannya selama ini.


"Tuan.." seru bik Monah perlahan.


"Sstt ... jangan keras- keras bik... jangan sampai mereka tahu keberadaanku..." Bisik Setyo Hadi ketika melihat bik Monah yang sedang membawa talam berisi makana kedalam kamar Kania akan menyapa dirinya. bik Monah hanya bisa menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Masuklah, putriku pasti sudah kelaparan .." kata Setyo Hadi memerintah bik Monah.


"Baik tuan..." jawab Bik Monah sambil tersenyum. Bik Monah segera membuka pintu kamar Kania ketika melihat Setyo Hadi sudah melangkah pergi meninggalkannya.


"Apakah putriku tidak lapar...?" tanya bik Monah sambil menaruh makanan di atas meja.


"Bik Monah...ngapain makanan kok di bawa kemari...? nanti Kania bisa ngambil sendiri kan...?" kata Kania pada wanita yang sangat dia sayangi itu.


"Apakah kau tak tahu. Kakekmu sangat mengawatirkanmu...?" kata bik Monah .


"Beneran bik....?" tanya Kania .


"hmm..." jawab Bik Monah sambil menganggukkan kepala.


"Maafkan Kania Bik...Kania sudah membuat Kakek sedih..." kata Kania menyesal.


"mintalah maaf pada Kakek nanti...sekarang makanlah bersama Arum dan Keti..." kata Bik Monah sambil tersenyum.


"Baik Bik...trimakasih ya bik.. bik Monah emang yang paling TOP markotop..." kata Kania sambil memeluk sayang Bik Monah.


"idih..emang dasar gadis nakal... " kata bik Monah sambil mengusap punggung Kania yang sedang memeluk dirinya.


"Ayo makan dulu... nanti sakit perut lo.." ajak Bik Monah sambil menuntun Kania untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. akhirnya Keti Arum dan Kania makan bersama. sedang bik Monah segera keluar dari kamar itu . setelah selesai makan Kania meminta kedua pengawalnya untuk segera keluar karena dia merasakan ngantuk yang teramat sangat. mungkin karena terlalu banyak menangis hingga kantuk menyerangnya. Setelah kedua pengawalnya keluar terlihat Kania sudah tepar di atas tempat tidur yang empuk itu. tak berapa lama Kania tertidur terlihat Setyo Hadi masuk kedalam kamar Kania. Perlahan dia mendekati putrinya yang sedang tidur.


dia duduk di kursi dekat pembaringan.


"Sayang...kau terlihat sangat cantik... benar Kata Papa , kau mirip sekali dengan Mama... ya Tuhan...di mana otakku selama ini hingga aku membuang gadis cantikku hingga menderita sendiri. Maafkan Papa sayang... semoga kita bisa berkumpul dengan Mamamu lagi..." gumam Setyo Hadi sambil membelai lembut wajah dan rambut Kania dengan sayang.


"Papa akan terus memintamu untuk bisa memaafkan papa sayang... apapun akan papa lakukan untuk menebus kesalahan Papa. dia mencium lembut pipi dan dahi Kania sebelum dia beranjak meninggalkan kamar Kania. perlahan dia menutup pintu kamar seolah takut kalau sampai penghuni kamar mendengar dan terusik tidurnya.

__ADS_1


"Udahan dulu ya.... tak lupa selalu author ingatkan jangan lupa like dan Komennya selalu author tunggu.


Bersambung.


__ADS_2