Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
Menyelamatkan Nyonya Sinta.


__ADS_3

.Keesokan harinya Kania terbangun dari tidurnya karena mendengar suara adzan subuh berkumandang. Dia melihat jagoan kecilnya masih lelap tidur. Semalam Kinan terjaga dari tidurnya. Tapi saat dia melihat Kania berada di sampingnya dia segera tidur kembali. Perlahan Kania bangun dari tidurnya. Setelah membetulkan selimut di badan Kinan , Kania segera pergi kekamar mandi. Setelah menyelesaikan ritual mandi dan mengerjakan solat subuh dia segera berbenah diri karena akan segera pergi.


"Bunda...." terdengar suara bocah kecil menyebut namanya dengan nada serak kas anak bangun tidur.


"Sayang...sudah bangun...?" kata Kania sambil berjalan kearah Kinan yang sudah bangun dan duduk dipembaringan.


"Bunda mau kemana....?" tanya Kinan melihat Kania sudah terlihat rapi.


"Sayang...Bunda mau berangkat syuting dulu ya....?" kata Kania lembut.


"Bunda mau pergi lagi...?" tanya Kinan , kini terlihat wajahnya yang sedih, ada air mata yang mulai jatuh.


"Sayang...denger Bunda...Bunda akan pergi tapi nanti Bunda balik lagi kesini... Jadi Kinan nggak boleh nangis ya..." bujuk Kania .


"Bunda...Kinan nggak mau Bunda pergi hik., hik.. hik..." Kinan mulai menangis.


"Cup.. Cup .. jangan nangis sayang... Bunda janji nanti akan cepat pulang kok.. ." kata Kania membujuk Kinan sambil membawa Kinan didalam gendongannya.


"Kinan nggak mau Bunda pergi... Kinan mau Bunda di sini hik.. hik..." Kinan menangis tak mau berhenti. Kania pun bingung bagaimana dia membujuk Kinan yang sedang menangis ini...


Perlahan Kania melepas pelukannya dan menatap wajah anak kecil itu. Terlihat wajah yang masih meneteskan air mata.


"Sayang...denger Bunda...nanti Bunda akan tidur lagi disini , Bunda akan menemani Kinan tidur, tapi Bunda sekarang akan pergi kerja dulu...." bujuk Kania lagi. Perlahan tangis Kinan berhenti.


"Tapi Bunda janji nggak akan pergi ninggalin Kinan lagi..." jawab Kinan yang masih mengeluarkan air matanya.


"Bunda janji, tapi sekarang Bunda boleh pergi kan...?" jawab Kania sambil mencium lembut Pipi Kinan.


"Iya ...tapi nggak boleh lama- lama..." kata Kinan lagi.


"Baiklah , Bunda akan cepat pulang setelah syuting nanti..sekarang Kinan senyum dulu dong...." jawab Kania.


Dengan wajah yang masih berurai air mata Kinan terlihat tersenyum pada Kania.


"Nach...gitu dong...ini baru putra Bunda.." kata Kania sambil tersenyum menatap Kinan.


Setelah bisa membujuk Kinan , Kania segera membawa Kinan keluar dari kamarnya. Ketika mereka sampai di tangga, mereka bertemu dengan Bara yang masih memakai celana pendek dan atasan kaos yang berwarna hijau.


"Pagi Bunda..." sapa Bara sambil mendekat dan mencium Kania. Dia mengambil Kinan dari gendongan Kania dan mencium pipinya.


"Papa nggak kerja..?" tanya Kania.


"Nggak Bun... papa pingin libur sehari.." jawab Bara.


"Baguslah jadi Kinan ada temenya.." kata Kania.


"Lo kok Putra Papa sepertinya baru menangis...?" tanya Bara yang melihat mata Kinan sembab.


"Iya Pa... tapi sekarang udah enggak kok, iya kan Sayang....?" kata Kania sambil membelai kepala Kinan . Kinan hanya me ganggukkan kepalanya.


"Ada apa...? kenapa putra Papa menangis...?" tanya Bara sambil berjalan menuruni tangga bersama Kania yang berada di sebelahnya.


"Kinan nggak mau Bunda pergi lagi... Kinan mau Bunda di sini aja..." jawab Kinan.


"Trus gimana kata Bunda...?" tanya Bara antusias.


"Kata Bunda, Bunda akan disini terus.." jawab Kinan sambil menatap sang Bunda yang berjalan di sebelah sang Papa.


" Benarkah....?" tanya Bara .


Kinan menjawab dengan anggukan kepala lagi.


"Waah... Kinan , kalau gitu Kinan patut mendapatkan hadiah dong, karena bisa membuat Bunda mau balik kemari lagi.." kata Bara senang.


"Papa...." seru Kania sambil mencubit Bara pelan di pinggang nya. Bara hanya tertawa mendapat cubitan dari Kania.


"Oh ya Bun...kok Bunda sudah rapi...?" tanya Bara .


"Bunda ada syuting pagi ini Pa...Bunda harus nyampai di lokasi syuting pagi sekali..." jawab Kania.


"Lo Bunda nggak makan dulu...?" tanya Bara.


"Nggak usah dech Pa... Bunda buru- buru..." jawab Kania.


"Ya udah bawa bekal aja, biar bik Siti yang buatin , nanti Bunda makan di dalam mobil..." kata Bara lagi.


"Iya Pa... Ya udah Bunda mau bilang dulu sama bik Siti sekalian mau lihat Arum dan Keti..." kata Kania .


"Bunda cari Arum dan Keti aja, biar Papa yang ngomong sama bik Siti..."kata Bara lagi.


"Trimakasih Pa... sekalian Bunda berangkat, biar nanti Arum yang mengambil bekalnya, sayang...Bunda berangkat dulu ya...? Jangan rewel nanti Bunda segera pulang setelah syuting..." kata Kania sambil mencium lembut kedua pipi Kinan.


"Bunda cepet pulang..." kata Kinan.


"Iya sayang... Pa Bunda berangkat... Asalamualaikum...." pamit Kania sambil mencium pipi dan sekilas mencium bibir Bara . Bara tertegun sejenak karena Kania belum pernah berinisiatif mencium Bara lebih dahulu. Kania pergi sambil tertawa melihat kekagetan di wajah Bara.


"Dasar gadis nakal..." gumam Bara setelah sadar dari keterkejutannya. Sedangkan Kania kini sudah masuk kedalam mobil merahnya bersama Keti , sedang Arum pergi kedapur mengambil bekal yang sudah di buat kan bik Siti setelah mendengar perintah dari Bara.


"Rum...ini untuk kalian berdua dan yang ini ( sambil menunjuk kotak yang keci) punya Non Kania. Ini susu coklat punya Nona dan ini kopi buat kalian berdua..." kata bik Siti menjelaskan sambil memberikan keranjang makanan yang berisi dua kotak makanan dan dua botol minuman.


"Baik Bik...trimakasih..." kata Arum sambil mengambi keranjang makanan dari Arum pun segera keluar dari dapur menuju garasi. Tak berapa lama terlihat mobil Kania pergi meninggalkan rumah mewah Bara.


Di dalam perjalanan Kania mengambil kotak makanan khusus untuknya ternyata di dalam kotak itu berisi roti yang sudah diisi dengan telor mata sapi dan mentimun .

__ADS_1


"Rum, Keti kalian nggak sarapan dulu..?" tanya Kania.


"Kagak Bos...ntar aje masih kepagian... atau elo Ket mau sarapan dulu, gue ambilin...?" kata Arum.


"Nggak usah masih pagi, ntar aje kita makan sama- sama..." jawab Keti.


"Bos ini kekantor kak Rika ape langsung ke lokasi Bos....?" tanya Keti.


"Langsung ke lokasi Ket... tadi kak Rika udah ngeWA gue, mereka katanya nunggu kita di lokasi..." jawab Kania.


Keti pun segera membawa mobilnya kearah puncak. Karena mereka akan syuting di puncak. Ketika sampai di lokasi ternyata banyak artis yang sudah pada datang. Memang hari ini pengambilan adegan di mulai pagi hari.


Sementara itu seorang pria sedang turun dari pesawat di bandara kota L di ujung pulau K yang luas ,dia berjalan dengan cepat. Dia segera keluar dari Bandara. Ketika sampai di luar ada sebuah mobil yang sudah menunggu kedatangannya.


"Do...gimana apa dia masih bersama pria itu...?" tanya dia pada si sopir.


"Pria itu sudah meninggal Bos, kini dia hidup bersama putra pria itu..." kata Bardo nama sopir tadi. Dia Imron suruhan Pingki untuk menculik Sinta dan membawanya ke pulau K di desa L yang sangat terpencil itu hampur duapuluh tiga tahun lalu.


"Lalu gimana kehidupannya selama ini..? Apa dia tetap di rumah pria itu..?" tanya Imron lagi.


"Masih Bos , dia hidup bersama putra Pria itu yang masih sekolah di sebuah SMP. ..." jawab Bardo.


Kalau begitu kita langsung kesana ..." perintah Imron. Tak lama terlihat mobil yang di tumpangi Imron melaju meninggalkan Bandara. Mereka menpuh beberapa jam . terlihat mobil itu keluar masuk desa- desa serta hutan. Hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah rumah sederhana di sebuah desa terpencil. Imron membutuhkan waktu hampir 7 jam dari Bandara sampai di desa itu. Setelah sampai di depan rumah tersebut, Imron dan Bardo turun dari kendaraannya dan berjalan kearah rumah sederhana itu. Mereka mengetuk pintu, tak lama seorang anak remaja membukakan pintu.


"Mencari siapa tuan...?" tanya anak itu.


"Ibumu ada...?" tanya Bardo.


"Ada tuan..(anak laki- laki itu berlari kearah kebun yang ada di sebelah rumah mereka).ibuuu.... Ada orang mencari ibuu..." teriak anak itu.


"Iya tunggu sebentar...?" terdengar suara wanita berteriak dari arah kebun. Tak lama datang seorang wanita yang memakai baju lusuh dengan bawahan kain banjang yang di pakai alakadarnya. terlihat wajah wanita itu agak tua, lesuh dan kurus , walau seperti itu raut kecantikan wajahnya masih terlihat jelas. Dia mendekat kearah mereka bertiga.


"Ada apa Bim ...?" tanya Dia pada anak laki- laki itu.


"Mereka mencari ibu...?" jawab si anak yang ternyata bernama Bimo.


"Selamat padi nyonya Sinta....?" sapa Imron dengan wajah dingin.


"Kaauuu....mau apa kau kemari...?" seru wanita itu marah. Dia mengenali orang yang telah menculiknya hampir 23 tahun lalu itu.


"Untuk membunuhmu...." kata Imron dingin.


"Apa..." seru wanita itu kaget. Begitupun dengan anak laki- laki itu dia kaget mendengar perkataan Imron. Tiba- tiba terlihat Imron mengeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya. Namun sebelum dia menusukkan pisau itu pada wanita yang di panggil nyonya Sinta tiba- tiba Imron terkapar dengan luka di Kalinya.


Door.....


"Aauuu...." teriak Imron sebelum dia jatuh terkapar. Tak berapa lama empat orang pria berbadan besar berlari menangkap Bardo dan Imron. Ternyata mereka adalah intel kepolisian yang mengikuti Imron sejak dia keluar dari rumahnya dikota J. Semenjak pertemuan Imron dengan Pingki beberapa hari yang lalu, kepolisian kota J yaitu anak buah dari tuan Sindu Wicakso telah menguntit Imron untuk mengetahui keberadaan nyonya Sinta. Dan kini penyelidikannya tidak sia- sia. Mereka bisa menemukan. nyonya Sinta yang ingin Imron bunuh.


"Si..siapa kalian...?" seru Imron takut.


"Ma.. maaf tuan, siapa tuan..tuan ini..?" tanya nyonya Sinta ketakutan.


'Maaf nyonya...kami dari kepolisian kota J dan kota L , kami sedang menguntit kedua orang ini agar tahu keberadaan nyonya...." jawab salah satu dari mereka.


"Kota J..?.mencari keberadaan saya...? Kenapa..?" tanya Nyonya Sinta tak mengerti.


"Nyonya akan mengetahui semuanya saat nyonya berada di kantor kami...?" jawab orang itu.


"Oh ya nyonya, perkenalkan nama saya Andi, saya anak buah dari tuan Sindu Wicakso..." kata Pria tadi memperkenalkan diri.


"Terimakasih tuan...tuan telah menyelamatkan hidup saya..." kata nyonya Sinta dengan wajah sedih.


"Nyonya tolong nyonya bersiap- siap ikut kami..." kata Andi dengan hormat.


"Bersiap- siap...? Mau kemana...?" tanya nyonya Sinta tak mengerti.


"Kami akan membawa nyonya kekota J,." jawab Andi.


"Baiklah kami akan bersikap- siapa.." jawab nyonya sinta. dia segera mengajak putranya untuk masuk kedalam rumah, tapi dia juga mempersiapkan mereka untuk masuk ke dalam rumahnya untuk menunggu dia bersiap- siap.


tak berapa lama terlihat nyonya Sinta dan sang anak(Bimo) sudah memakai baju rapi , mereka juga membawa tas pakaian .


"Apakah kita bisa berangkat sekarang Bu...?" tanya Andi sopan ketika melihat nyonya sinta terlihat sudah rapi. kini wajah nyonya Sinta terlihat cantik walau agak kusam dan tubuhnya kurus.


"Bisa, mari....takut nanti kemalaman di jalan ..."jawab nyonya Sinta. merekapun segera keluar dari rumah itu.ketika sampai diluar rumah terlihat sebuah mobil sudah menunggu.


"Nyonya...silahkan andai naik mobil itu bersama putra anda..." kata Andi lagi.


"Baik tuan..." nyonya Sinta akhirnya masuk bersama putranya. tak berapa lama mobil itupun berjalan meninggalkan rumah sederhana yang selama ini nyonya sinta tinggali. saat sampai di kota L hari telah larut malam, akhirnya nyonya Sinta di inapkan di hotel dekat kantor polisi. keesokan harinya Andi dan kedua anak buahnya serta nyonya Sinta dan putranya kembali kekota J. Sesampainya di kota J. tuan Sindu Wicakso sudah menunggu mereka di Bandara. Andi telah mengabarkan keberhasilan mereka menemukan nyonya Sinta kemaren . saat nyonya Sinta keluar dari Bandarra bersama anak buahnya mereka melihat tuan Sindu Wicakso sudah menunggu di dekat mobilnya. Dia tersenyum lebar ketika melihat nyonya Sinta yang berjalan mendekat.


"Selamat datang di kota J kakak ipar..." sambut Sindu pada nyonya Sinta. dia melihat nyonya Sinta menangis.


"Kenapa Kak...?" tanya Sindu kaget ketika melihat nyonya Sinta menangis.


"Nggak ada apa- apa tuan..." jawabnya sambil mengusap air matanya. dia hanya tidak menyangka akan bisa kembali kekota ini. tiba- tiba ada kerinduan terhadap putri kecilnya yang sudah dia tinggalkan.


"Mari kak, kita pulang kerumah Papa Herlambang...." kata Sindu lagi.


"Tidak...tidak mungkin aku kembali pada orang yang telah membuang diriku bertahun- tahun..." jawab nyonya Sinta.


"Kak Ipar ikutlah kami dulu, kau akan mengetahui permasalahannya..." bujuk Sindu .


"Tunggu..Siapa anda sebenarnya... perasaan saya belum pernah bertemu dengan ada tuan...?" tanya Sinta sambil menatap Sindu dengan was- was.

__ADS_1


"Aku Sindu suami Garnis adik Setyo Hadi suamimu..." jawab Sindu sabar.


"Oo...jadi kau suami Garnis...? kenapa aku harus kerumah tuan Herlambang,..? bukankah mereka tak menginginkan diriku..?" kata Sinta Sinis.


"Ikutlah kak...kami akan menceritakan semuanya kepada kakak, dan apakah kau tak merindukan putri cantikmu..? "tanya Sindu mengingatkan.


"Apakah putriku mau menerimaku...?" tanya Sinta ragu.


"Karena itulah kak.. ikutlah kami kau akan bertemu dengannya..." bujuk Sindu.


"Baiklah..." Sintapun mau masuk kedalam mobil Sindu, mereka segera berangkat menuju rumah Kakek Herlambang.


Memerlukan waktu hampir dua jam mereka akhirnya sampai di Mension milik kakek Herlanbang. ketika sampai di sana ternyata keluarga Jendral Rehan dan keluarganya juga telah datang. begitupun dengan nyonya Garnis dan putrannya.


Ketika Sinta keluar dari dalam mobil Sindu , dia melihat keluarga Kakek Herlambang menyambut kedatangannya.


"Selamat datang kak Sinta..." sapa Garnis sambil memeluk dan mencium Sinta.


Trimakasih Nis..." jawab Sinta sambil berurai air mata.


"Selamat datang kembali dek...kau terlihat sangat kurus.. " sapa nyonya Fara juga memeluk dan mencium Sinta dengan lembut.


"Trimakasih Kak...kehidupan ku bertahun- tahun sengsara dan menderita kak.." jawab nyonya Sinta.


"Maaf aku membuka luka hatimu...?" kata nyonya Fara meminta maaf.


"Nggak masalah kak..." jawab nyonya Sinta sambil tersenyum sedih.


Dia juga menyalami tuan Rehan dan ketiga keponakannya. terakhir dia melangkah masuk mendekati Kakek Herlambang dan bersimpuh


"Pa...maafkan Sinta jika Sinta punya salah sama Papa , .." Kata nyonya Sinta meminta maaf.


"Bangunlah nak...ini semua bukan Salah kalian berdua, semua ini kesalahan dari wanita iblis itu..." kata kakek Herlambang dengan marah.


"Wanita iblis...?" tanya nyonya Sinta tak mengerti.


"Dia wanita iblis yang menyengsarakan dirimu dan putrimu..." jawab kakek Herlambang lagi.


"Maksud Papa...?" tanya nyonya Sinta semakin tak mengerti.


"Duduklah dek... kami akan menceritakan semuanya pada mu...." kata nyonya Fara lembut. dia menuntun nyonya Sinta untuk duduk di sofa ruang tamu bersama mereka.


"Ceritanya panjang Kak..kau mau mendengarkan...?" tanya Sindu yang Kini sudah duduk juga, dia yang akan menjelaskan semua ceritanya.


"Ceritakan lah aku akan mandengarkan.." jawab nyonya Sinta. Akhirnya Sindu menceritakan semua kejadian yang menimpa Dia dan sang putri Kania hingga mereka dipertemukan kembali dengan Kania yang sudah besar dan mandiri.


Sinta menangis terseduh- seduh saat mendengar semua kejadian yang di alami Kania kecil , karena keadaannya yang memang agak lemah membuat dia jatuh pingsan mendengar kejadian yang menimpa Kania kecil. tentu saja semua itu membuat keluarga Herlambang kaget. mereka segera memanggil dokter pribadi. Setelah di periksa ternyata nyonya Sinta hanya mengalami syok berat. dia buruh istirahat yang Banyak.


tak berapa lama nyonya Sinta siuman.


"Dek...kau sudah sadar..." sapa nyonya Fara.


"Aku kenapa kak...?" tanya nyonya Sinta.


"Kau tadi pingsan dek..." jawab nyonya Sinta.


"Maaf kak...aku merepotkan kalian..."kata nyonya Sinta.


"Nggak masalah dek...asal kau kembali sehat , kami bahagia..." kata nyonya Fara lagi.


"Benar Kak , asal kau sehat kami bahagia..." timbal nyonya Garnis.


"Oh ya kak siapa pria kecil ini..?" .tanya Garnis sambil menunjuk Bimo.


"Dia putra orang yang menolongku dan menampung diriku di rumahnya, dia kini sudah tidak mempunyai keluarga lagi, setelah kedua orang tuanya menunggal , dia kini tinggal sebatangkara. Dia juga yang membantu dan menemaniku selama ini..." kata nyonya Sinta sambil menatap Bimo dengan. sayang.


"Waah...dia tampan kak...trimakasih nak kau telah membantu kami menjaga keluarga kami..." kata Garnis sambil membelai kepala Bimo.


"Nggak jadi masalah nyonya... itu memang sudah tugas saya..." jawabnya dengan sopan.


"Oh ya Nis...apakah aku bisa bertemu dengan putriku...?" tanya nyonya Sinta lagi.


"Tentu Kak...kau akan bertemu dengan Kania dan kak Setyo besok , mungkin mereka datang Siang atau sore hari..." jawab nyonya Garnis.


"Kalau bik Monah dan Mang Asep apa mereka masih bersama Kania .?" tanya Sinta dengan wajah senang.


"Tidak...Nia sekarang tinggal di apartemen, dan dia sebentar lagi akan menikah kak...?" jawab Garnis dengan gembira.


"Menikah...? putriku akan menikah...?" kapan..? dengan siapa...?" tanya Sinta beruntun.


"Kak kalau tanya satu- satu dong.." jawab Garnis sambil tertawa.


"Maaf karena aku sangat gembira Nis.." jawab Sinta malu.


"Nggak masalah kak... Kania sekarang sudah menjadi seorang artis ,karena itu dia sekarang tinggal di sebuah apartemen mewah kak, dan dia sebentar lagi akan menikah dengan seorang Pria yang tampan dan kaya, menantumu seorang CEO dari sebuah perusahaan nomer satu di negara ini kak..." jawab Garnis.


"Dia juga yang sudah membantu suamiku membongkar masalah yang terjadi pada dirimu kak .." kata nyonya Garnis menjelaskan.


"Ya ampuun...betapa beruntungnya putriku Nis..." seru nyonya Sinta gembira.


"Kau juga beruntung punya putri seperti Nia kak... kau belum tahu siapa dia, lain kali akan aku ceritakan tentang gadismu itu..." lanjut nyonya Garnis.


Maaf gue lanjut besok lagi ya..jangan lupa like dan komennya autor tunggu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2