Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
KEMARAHAN SETYO HADI.


__ADS_3

Keesokan harinya Kania berangkat ke Apartemen miliknya setelah menitipkan Kinan yang masih tidur di kamarnya Pada bik Siti ,Namun sebelum berangkat dia masih menyempatkan diri berpamitan pada Bara yang masih berada di kamarnya.


Tok


Tok


"Siapa ...?" tanya suara bariton dari dalam.


"Aku Pa...." jawab Kania dengan hati deg- degan karena dia tak pernah mengetuk pintu kamar Bara. Terdengar langkah kaki mendekati pintu. Perlahan pintu kamar terkuak.


"Bunda..?.tumben ,ada apa...? Masuk yuk...?" ajak Bara sambil tersenyum lembut .


"Nggak usah Pa di sini aja, Bunda cuma mau pamit mau berangkat sekarang...?" jawab Kania menolak halus.


"Udah masuk dulu ayo....?" kata Bara sambil menarik pelan tangan Kania.


"Perlahan Kania masuk kedalam kamar yang terlihat sangat mewah itu . baru pertama ini Kania melihat kamar Bara.


Kamar yang bernuansa putih dan abu- abu itu memiliki ranjang berwarna kuning emas yang sangat lebar dengan seprei berwarna putih , dengan Sofa tunggal di kaki ranjang serta meja kecil di sudut ruangan , di pojok ruangan dekat pintu menuju balkon ada almari kaca yang tertutup. Kania tak sempat melihat seluruh kamar Bara karena merasa malu.


"Maaf Pa...Nia terburu - buru, boleh Nia keluar...?" kata Kania sambil membalikkan badannya.


"Tunggu sebentar Bun... Kau mau ketempat Mama kan....? Papa ikut.." kata Bara sambil memeluk pinggang Kania.


"Baiklah Bunda tunggu..." jawab Kania.


"Boleh Papa minta tolong...?" kata Bara perlahan.


"Boleh...apa..?" tanya Kania sambil memandang Bara.


"Bisa ambilkan dasi Papa ...?" kata Bara lagi.


"Baik, dimana ....?" tanya Kania.


"Masuk kedalam pintu itu, di situ tempat baju Papa .." jawab Bara sambil menunjuk pintu dekat Almari kaca yang di lihat Kania tadi. Kania segera melepas pelukan Bara dan berjalan kearah pintu yang di tunjuk Bara. Perlahan Kania membuka pintu itu , betapa kagumnya Kania ketika melihat isi ruangan di balik pintu tadi.


"Waah...ini mach butik...ya ampuun dasar horang kaya... Sultan mach banyak uang..." gumam Kania berdecak kagum. Baju putih tergantung dengan rapi, begitupun dengan jas mewah yang berderet dengan rapi pula. Di sudut kiri sepertinya tumpukan celana Panjang yang tersusun rapi , sedang kaos dan ****** ***** terlihat tersusun rapi di pojok sebelahnya serta bermacam model jam tangan berderet rapi dengan segala merk yang harganya tak main- main , juga deretan sepatu dan ikat pinggang yang tertata dengan rapinya.


"Bun...sudah ketemu...?" terdengar suara Bara menyadarkan Kania dari ketertegunannya.


"Iya Pa....sebentar.." jawab Kania sambil buru - buru berjalan kearah deretan dasi yang tergantung dengan rapi. Dia segera mengambil dasi warna hitam sesuai dengan baju Bara. Setelah itu Kania keluar dari dalam ruangan.


"Sini aku pasangkan..." kata Kania sambil mendekati Bara yang sedang menyisir rambutnya. Bara segera berbalik menghadap Kania. Perlahan Kania mengalungkan dasi di baju putih Bara. Saat Kania sedang membetulkan dasi tiba- tiba


Cup...


Bara mengecup dahi Kania yang ada di depannya.


"Papa... diamlah dulu...." kata Kania yang merasa terganggu.


"Aku gemes melihat wajahmu Bun..." jawab Bara.


"Iya...tapi Bunda belum selesai dengan dasi nya Papa..." jawab Kania sambil cemberut. Dan...


Bibir Bara telah mendarat lembut di bibir Kania, Bara sudah tak tahan melihat bibir Kania yang cemberut. Setelah agak lama Bara melepas ciumannya.


"Ck ..Papa..kapan akan selesai Bunda memang dasi..." kata Kania sambil menatap pria yang menatap pula wajahnya dengan wajah tanpa dosa.


"Jangan cemberut lagi...atau kita tak akan pergi...?" kata Bara pelan.


"Iya, iya..Hmm..." jawa Kania sambil memamerkan senyumannya. Dia kembali meneruskan memakaikan dasi di leher Bara.


"Beres sudah..." kata Kania sambil merapikan dasi dan baju Bara. Namun Bara masih memeluk pinggangnya.


"Papa... Nanti Bunda kesiangan lo...?" kata Kania sambil melepas tangan Bara.


"Cium dulu baru Papa lepas..." pinta Bara.


'Ya ampun...bayi besarku..." teriak Kania di dalam hati.


"Baiklah tapi setelah itu kita berangkat.." kata Kania.


"Hmm..." angguk Bara.


Kaniapun mencium kedua pipi Bara dan bibirnya sekilas.


"Sudah ...? ayo..." ajak Kania.


"Trimakasih sayang..." Bara pun mencium dahi Kania sebelum melepas pelukannya.


Tak lama mereka berdua keluar dari kamar Bara. ketika mereka melewati tangga lantai dua, merek bertemu dengan bik Siti.


"Bik..Kinan belum bangun...?" tanya Kania.


"Belum Non...." jawab Bik Siti.


"Kalau dia bangun mencari saya, bilang saya sudah pergi bik.." kata Kania.


"Baik Non..." jawab Bik Siti. Kania pun segera melanjutkan langkahnya menyusul Bara. ketika sampai di lantai bawah Bara berkata.


"Bun...kita makan dulu..."


"Tapi Pa...Bunda masih harus ke apartemen , soalnya Arum dan Keti kan ada di sana..." kata Kania. Tadi malam setelah datang dari mengantarkan nyonya Sinta di apartemennya dia menyuruh Keti dan Arum pergi menemani sang Bunda. mereka membawa motor milik Kania yang memang di bawa oleh Kania.


"Baiklah Papa minum kopi dulu lalu pergi...." kata Bara mengalah. merekapun segera berjalan kearah ruang makan. setelah sampai di sana Bara segera meminum Kopinya sedang Kania meminum susu coklat kesukaannya. sambil minum dia mengoleskan beberapa roti dengan selai lalu menaruhnya kedalam kotak bekal yang dia ambil dari dapur.


"untuk apa Bun...?" tanya Bara.


"Sarapan di mobil..." jawab Kania tenang.

__ADS_1


Mendengar jawaban Kania, Bara hanya menggelengkan kepala. setelah selesai mereka segera keluar rumah.


Ketika sampai di garasi Bara berucap.


"Bun..Bunda naik mobil Papa biar Mamat yang membawa mobil Bunda..' kata Bara Kaniapun tanpa membantah segera masuk ke mobil yang akan di bawa Bara. sedang Bara menyuruh bang Mamat untuk membawa mobil Kania. setelah itu Barapun segera masuk kedalam mobilnya.tak berapa lama terlihat mobil Bara dan mobil Kania meninggalkan rumah mewah Bara. ketika di tengah perjalanan Kania menyuapi Bara dengan roti yang dia bawa tadi. melihat perbuatan Kania Bara menjadi senang. tak terasa mobilpun telah sampai di Apartemen Kania. sebelum turun Kania memberikan Botol minuman teh hangat pada Bara.


"Minum teh ini dulu Pa..." kata Kania.


"Kapan Bunda membawa teh ini...?" tanya Bara heran. karena tadi Bara tidak melihat Kania membuat minuman teh.


"Tadi pagi Kania meminta tolong pada bik Siti..." jawab Kania.


Bara menerima botol minuman itu dan meminum isinya.


"Bun...tehnya kau beri jeruk ya..." tanya Bara.


"Iya biar terasa segar..." jawab Kania.


"Ya udah ayo kita masuk..." ajak Kania sambil membuka pintu setelah menerima botol minuman dari Bara dan memasukkan kembali botol minuman kedalam tas kecil bersama tempat roti yang mereka makan tadi. mereka berdua segera masuk kedalam Apartemen . sesampainya di apartemen mereka segera naik lift menuju Apartemen Kania. sesampainya di sana mereka menjumpai Arum dan Keti yang sudah berkumpul bersama Sinta .


"Nia kau sudah datang nak..lo dengan nak Bara to..." kata Sinta sambil memeluk Kania. setelah itu menyalami Bara yang sudah mengulurkan tangan untuk mencium tangan Sinta.


"Iya Ma... tadi Papanya Kinan pingin menjenguk Mama..." jawab Kania.


"Oh ya Ma, Bimo mana...?" tanya Kania.


"Dia ada di dalam...Bim...Bimo....!' teriak nyonya Sinta.


"Ya Bu...." seru Bumo dari dalam Kamar. tak lama muncuk pria remaja itu denga wajah ceriah. Ketika melihat keberadaan Kania dan Bara , Bimo tersenyum.


"Selamat pagi kak Kania, tuan Bara..." kata Bimo menyapa, dia lalu mencium tangan Kania dan Bara bergantian.


"Hey kenapa kau memanggilku tuan... panggi aku kakak seperti yang kau lakukan pada kak Nia mu..." protes Bara. Bimo tersenyum malu.


" Bimo kau sekarang sudah kelas berapa..?" tanya Kania.


"Kelas tiga SMP kak....?" jawab Bimo pelan.


"Apa kau siap masuk SMP di kota ini...?" tanya Kania.


"Siap ataupun tidak dia harus tetap melanjutkan sekolah Bun..." kata Bara.


"Biar nanti si Anton yang akan mencarikan sekolahan buat Bimo..." lanjut Bara.


"Benar apa kata kakak mu Bara Bim, kau harus tetap melanjutkan sekolahmu..." kata Sinta menyela.


"Baik ibu , kakak, Bimo akan melakukan yang terbaik buat Kalian, Bimo tak ingin kalian semua kecewa dan malu memiliki Bimo..." jawab Bimo dengan yakin.


"Nach itu baru adik kak Nia... kau harus semangat belajar apalagi sebentar lagi kau akan menghadapi ujian dek..." kata Kania.


"Baik kak..." jawab Bimo.


'Belum Bos..." jawab Arum.


"Kalau gitu kalian bawa bekal aja, soalnya sekarang udah siang, aku nggak enak sama Sutradara...itu di laci dapur ada kotak makanan..." kata Kania lagi.


"Baik Bos...maaf nyonya kami akan membuat bekal boleh...?" tanya Arum pada nyonya Sinta yang sudah datang kedapur.


"Boleh...kau buatkan sekalian buat Kania..." kata nyonya Sinta yang sudah berdiri membantu pengawal Kania itu membuat bekal. tak lama mereka segera berangkat meninggalkan Apartemen Kania.


Kania segera berangkat bersama kedua pengawalnya sedang Bara pergi kekantor bersama bang Mamat.


****


Sedang di tempat tuan Setyo Hadi terlihat Wajah yang terlihat dingin dari tuan Setyo Hadi ketika sedang sarapan Pagi. dia tadi malam pulang malam karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, ketika sampai di rumah terlihat wanita itu sudah tertidur lelap, membuat Setyo Hadi mengurungkan niatnya untuk membuat perhitungan dengan wanita yang menyamar itu.


"Pa...gimana masalah Deby Pa... aku tak ingin dia lama di penjara..." kata Pingki yang belum tahu kalau samarannya sudah terbongkar.


"Deby...? dia di penjara atau tidak bukan urusan ku...?" jawab Setyo Hadi dingin.


"Pa...dia putri kita Pa...!"seru Pingki dengan marah.


"Apa...putri kita..? kau nggak salah ngomong...?" kata Setyo Hadi dengan sinis.


"Papa...Papa jangan seperti itu, gimanapun dia putri kita...!" teriak Pingki marah.


"Dia bukan anakku, dia anakmu .. putriku sendiri telah kau buang..." seru Setyo Hadi marah sambil menatap Pingki dingin.


"A...apa ma..maksudmu..." kata Pingki terbatah- batah.


"Kau fikir aku tidak tahu siapa kau, pandai sekali kau menipuku..." kata - kata Setyo Hadi bagai halilintar di telinga Pingki.


"Kau kaget...bertahun- tahun kau bodohi aku, kau jauhkan aku dari putriku, kau buang putriku satu- satunya agar putri kandungmu memiliki kasih sayangku seutuhnya, licik sekali kau...." kata Setyo Hadi dingin , dia berjalan mendekati Pingki yang sudah mulai ketakutan.


"A..apa yang k..kau maksud Pa..." jawab Pingki gemeteran.


"Dasar wanita busuk, iblis...kau culik istriku, kau buang dia di tempat yang jauh agar kau bisa memiliki diriku, dasar wanita rendahan...." kata Setyo Hadi marah.


"Pa...a..apa yang kau bi..bicarakan Pa...?" kata Pingki berusaha mengelak.


"Ha ha ha...bodohnya diriku hingga aku tidak bisa membedakan dia dengan dirimu, kau yang berwajah jelek seperti ini kenapa bisa mengelabui diriku, ha ha... benar - benar bodoh, wajah jelek yang berubah menjadi sosok wanita yang aku cintai bisa membuatku terkecoh benar- benar bodoh. .."teriak Setyo Hadi dengan marah.


"Pa...." Plaak.....


sebuah tamparan mengenai pipi Setyo Hadi namun


"Jaga mulutmu Pa..." seru Pingki marah ketika dia mendengar ejekan dari mulut Setyo Hadi.


Plaak...Plaak...

__ADS_1


Dua tamparan membalas tamparan Pingki .


"Dasar wanita Iblis, kau fikir siapa dirimu. kau yang sudah menyiksa istri dan anakku berani memukulku...?" kata Setyo Hadi dengan marah.


"Pa...kau ini kenapa..? aku istrimu..aku Sinta istrimu..." seru Pingki ketakutan, kini wajahnya sudah pucat pasi .


"Ha ha ha istri...? Sinta...? kau pikir aku tidak tahu nona PINGKI..." kata Setyo Hadi menekan kalimat Pingki. Pingki menjadi semakin pucat mendengar Setyo Hadi menyebut namanya.


"ka ..kau..kau..." kata Pingki gemetar.


"Apa...? kau kaget mengetahui aku tahu siapa kamu ha..." teriak Setyo Hadi marah.


"Kau..kau...siapa Pingki..." kata Pingki berusaha mengelak.


"Ha ha ha...kau tak tahu Pingki...?" Okey akan kutunjukkan siapa Pingki.." Setyo Hadi lalu memanggil orang kepercayaannya yang tadi pagi sudah di suruh membawa kedua orang tua Pingki kerumahnya. tak lama terlihat tiga orang masuk kedalam ruang makan. seorang laki- laki yang berpakaian hitam- hitam dengan sepasang orang tua yang terlihat sangat sedih.


"Nach...apa kau kenal kedua orang tua itu..?" tanya Setyo Hadi.


"Tidak...aku tidak mengenal mereka..." jawab Pingki dengan tegas. Setyo Hadi segera menyuruh pengawalnya untuk mengambil berkas yang ada di atas meja kerjanya. dan kedua orang tua itu dia suruh duduk di meja makan.


"Baik...sekarang kau baca laporan ini..." kata Setyo Hadi sambil menyerahkan salinan tes DNA dia dengan pak Karta dan tes DNA dia dengan Deby. serta tempat dimana dia mengoperasi wajahnya agar mirip Sinta beserta foto sebelum dan sesudah operasi..


Terlihat wajah Pingki yang pucat bagai selembar kertas ketika melihat surat- surat itu.


"Tidak...ini tidak mungkin...ini tidak mungkin,... aku Sinta...aku Sinta bukan Pingki..." teriaknya tak percaya.


"Ha ha ha...kau kaget...? kau kaget aku telah mengetahui semuanya...? dasar wanita iblis, kau culik istriku dan kau buang kedaerah yang jauh, kau siksa putriku hingga dia kabur dari rumah, dasar wanita iblis...kau memanipulasi diriku hingga aku membenci putri kecilku, kau buat aku melupakan keberadaannya. kau kejam sekali , kau bukan seorang Wanita, andai kau bukan wanita iblis pasti kau mau merawat putri dari pria yang kau cintai, tapi tidak...kau berusaha menyingkirkan gadis itu dari sisihku agar anak gadismu sedirilah yang mendapatkan kasih sayang dariku seutuhnya...kau memang wanita jahat..." teriak Setyo Hadi marah.


"Ha ha ha...kalau memang iya kenapa...? kau tidak mempunyai bukti tentang kejaharanku, lagipun kau sudah menjadi milikku bertahun- tahun dan wanita ja***g yang kau cintai itu sudah mampus, apa kau masih mau mencarinya ha ha ha...?" teriak Pingki dengan tertawa gembira . Pingki merobek- robek kertas dan foto yang tadi di serahkan Setyo Hadi padanya.


Plaak... Plaak... Plaak...


"Tutup mulut motormu itu..." teriak Setyo Hadi sambil menampar Pingki dengan keras hingga dia terjatuh dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Setyo Hadi berjongkok dan mencengkeram dagu Pingki dengan keras.


"Kau fikir kami sebodoh itu...? aku telah menemukan keberadaan Sinta yang telah kau buang itu, aku juga sudah mendapatkan bukti banyak tentang dirimu, Aku juga telah bertemu dengan putriku . soal kejahatanmu aku tak akan melaporkan dirimu kepada Polisi, aku punya sendiri cara untuk membalas perbuatanmu yang kau perbuat pada Putri dan Istriku. tenang saja..." jawab Setyo Hadi dengan nada dingin dan sinis. terlihat wajah Pingki yang semakin pucat.


"A...apa yang a..akan kau per..perbuat Pa.. !"teriak Pingki ketakutan.


"Pa...? Papa..? siapa suamimu..? aku bukan suamimu nona Pingki..." kata Setyo Hadi dingin. terlihat wajah nya yang sangat menakutkan.


"Sebelum kau menerima hukuman dariku, ini hadiah dariku..." dia bertepuk tangan dua kali. tak berapa lama masuklah tiga orang kedalam ruang makan. dua pengawal Setyo Hadi dan yang satunya Deby. ketika melihat keberadaan Setyo Hadi dan Mamanya Deby merasa gembira.


"Papa...Mama...!" seru Deby gembira.


Deby segera berlari memeluk Pingki. begitupun dengan Pingki dia merasa bahagia ketika melihat Deby sudah bebas.


"Nak..kau sudah bebas sayang...?" tanya Pingki dengan gembira.


"Iya Ma...Papa telah membebaskan ku ...." jawab Deby. Pingki merasa gembira, dia merasa kalau Setyo Hadi sudah memaafkannya.


"Trimakasih Pa...kau telah memaafkan kami..." kata Pingki gembira.


"Ck memaafkan kalian. ..? siapa yang memaafkan kalian...?" kata Setyo Hadi dingin.


"Apa maksudmu Pa...?" tanya Pingki heran.


"Sebentar lagi kalian akan tahu maksudku.." jawab Setyo Hadi datar. sedang kedua orang tua yang berada di depan mereka yang duduk memperhatikan mereka sejak tadi bertanya dengan perlahan.


"Tuan...untuk Apa Kami datang kemari tuan..?" tanya bapak tua itu.


"Oo maaf pak Karta aku melupakanmu, apakah kau tak mengenal wanita yang ada didepan kalian...?" tanya Setyo Hadi pada pak Karta.


"Maksud tuan nyonya itu...?" tanya pak Karta lagi.


"Benar nyonya itu, apa bapak kenal..?" tanya Setyo Hadi datar.


"Tidak tuan...kami tidak mengenalinya, kami tidak pernah bertemu dengan nyonya itu...bukankah begitu bu..?" jawab pak Karta ..


"Benar tuan, kami tidak mengenal nyonya itu..." jawab sang istri menambah kan.


"Aku dengar kalian mempunyai seorang anak perempuan , dimana dia sekarang...?" tanya Setyo Hadi lagi.


"Oo anak durhaka itu...? dia sudah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu tuan..." jawab pak Karta.


"Oo begitu ya...lalu gimana kehidupan kalian selama ini...?" tanya tuan Setyo Hadi lagi.


"Ada seorang darmawan yang selaku membantu kehidupan kami dan beberapa orang tak mampuh di sekitar kami setiap bulannya. .. beliau selalu membawakan kebutuhan Kami setiap bulan. ..." jawab Pak Karta dengan wajah berseri.


"Wah...baik benar orang itu..." kata Setyo Hadi.


"Benar tuan... walau umurnya masih sangat mudah , tapi kelakuan dan budi baiknya sangatlah tinggi, dia baik cantik dan anggun..kami sangat bersyukur pada bidadari penolong kami..." jawab Pak Karta dengan wajah bahagia.


"Gitu ya...kalau begitu bapak boleh pulang, nanti pak Karta dan bu Karta biar di antar oleh anak buah saya... tolong sampaikan salam pada Bidadari kalian ..." kata Setyo Hadi ramah.


"Baik tuan trimakasih saya permisi dulu.. Asalamualaikum..." kata pak Karta dan bu Karta sambil berdiri dan berjalan keluar.


"Bapak...!" seru Pingki keras. namun pak Karta dan bu Karta tetap berjalan keluar tanpa nenoleh pada Pingki. terlihat tetesan Air mata pada kedua mata orang tua itu. ternyata pak Karta dan bu Karta mengetahui kalau wanita yang tadi sedang bertengkar dengan tuan Setyo Hadi adalah putrinya. tapi setelah mendengar kejahatan yang di lakukan. sang putri mereka tak sanggup memaafkan tindakan sang anak. terlihat tangan bu Karta yang menggenggam erat tangan tua pak Karta. tak berapa lama setelah kepergian pak Karta terlihat empat orang pria tegap masuk kedalam rumah Setyo Hadi.


"Bawa mereka..." ucapnya dingin.


Ke empat orang pria yang bertubuh tegap itu segera membawa Pingki dan Deby keluar


"lepaskan...lepaskan...Pa...mau di bawa kemana kami.. tolong maafkan kami Pa.." teriak Pingki.


"Papa...apa apaan ini... lepaaskan.. lepaskan... Papa..tolong Pingki Pa..."" teriak Pingki ketakutan. Namun Setyo hadi sudah menulikan pendengarannya.


Ffuu...cukup segini dulu ceritanya ye... besok gue lanjut lagi. jangan bosan nunggu lanjutannya ya.... jangan lupa like dan komennya selalu author tunggu.🙏.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2