
Setelah kejadian di kantor dua hari yang lalu , Kania belum sempat bertemu dengan Bara. Dia terlalu sibuk dengan Syutingnya. Hampir tiap hari dia pulang malam, tadi malam pun dia pulang sampai jam 03.30 pagi. Untunglah hari ini dia tidak ada syuting. Tadi setelah solar subuh dia baru bisa tidur. Saat jam sudah menunjukkan pukul 08.30. Dia terbangun karena bunyi alarm yang dia setel tadi pagi. Setelah mandi dia segera pergi kedapur ingin membuat sarapan yang memang sudah telat. Namun saat sampai di dapur dia melihat semangkok bubur dan segelas susu coklat di atas meja makan walau terasa agak dingin.
"Waah...siapa yang baik hati sudah menyiapkan sarapan pagi untukku ini " kata Kania perlahan. Setelah menyantap makanan paginya Kania segera bergegas keluar setelah membereskan meja makan dan mengganti baju rumahannya. Dia menyambar konci mobil yang ada di atas meja kamar. Saat ini dia memakai celana panjang warna hitam dengan baju Kotak lengan panjang , serta rambut di kuncir ekor kuda juga di sertai topi di kepala. Ketika akan masuk kedalam lift dia menelfon kedua pengawalnya.
"Assalamualaikum Bos...ada apa...?" tanya Arum mengangkat telfonnya.
"Wa'alaikum salam elo lagi ngapain Rum..?" tanya Kania.
"Lagi tiduran Bos... Apa ada tugas buat Kami Bos...?" tanya Arum lagi.
"Ya udah tidur aja lagi...elo berdua gue bebasin tugas hari ini, tapi besok pagi kita berangkat pagi ke lokasi syuting di puncak..." kata Kania sambil melangkah masuk kedalam lift.
"Emang Princess di rumah aja...?" tanya Arum lagi.
"Kagak gue mau kekantor laki gue, mau buat surprise buat dia..." kata Kania sambil tertawa.
"Gila lo Bos... Emang Bos berani nunjukin wajah mendatangi Bos Besar..?" tanya Arum yang tahu Kania nggak suka orang tahu hubungannya dengan sang Bos Besar.
"He he gue punya cara sayang...?" jawab Kania kembali tertawa.
"Beneran Bos...?" tanya Arum tak percaya.
"Kalau elo nggak percaya keluar aja dari kamar elo lihat penampilan gue , elo ngenali gue apa kagak, .." jawab Kania.
"Tapi Bos...emang elo bisa naik mobil sendiri...?" tanya Arum tak yakin ,dia bangun dari tidurnya.
"Yee...elo ngremehin gue ya...?" tanya Kania sebal.
"He he maaf Bos, habis gue nggak pernah lihat Bos Nia bawa mobil sendiri sich.." jawab Arum menyebalkan.
"Ck...menyebalkan sekali..." kata Kania sok marah.
"Ha ha ha...Sory Bos..." seru Arum sambil tertawa.
"Ya udah gue tutup telfonnya Asalamualaikum..." kata Kania mengakhiri panggilan.
"Bos...jangan pergi dulu...gue kesana sama Keti , gue pingin lihat penampilan elo Bos..." Teriak Arum takut Kania menutup telfon nya.
"Iya, iya cepetan..." seru Kania sebelum menutup telefon. Setelah menelfon Kania segera memasukkan kembali ponselnya kedalam tas kecilnya . Sedang Arum segera berlari mencari Keti yang sedang berada di kamarnya.
"Keti ayo cepet keluar..." teriak Arum sambil masuk kedalam kamar Keti.
"Hey apa - apaan si elo Rum..." seru.Keti yang sedang berbaring sambil mendengarkan lagu- lagu dari ponselnya.
"Elo ikut kagak...?" tanya Arum .
"Kemana...?" tanya Keti heran.
"Bos Nia mau keluar sendirian....?" seru Arum .
"Apa...? Keluar sendirian...Kemana..?" tanya Keti heran.
"Makanya cepetan, elo ikut kagak...?" seru Arum sambil berjalan keluar dari kamar Keti.
"Hey tunggu Rum gue ambil jaket dulu.." teriak Keti sambil menyambar jaket yang ada di gantungan baju. Dia segera berlari mengejar Arum yang sudah keluar dari kamar. Setelah mengunci pintu apartemen mereka segera berjalan menuju lift, dan kebetulan lift sedang terbuka karena ada yang keluar. Ketika sampai di lantai dasar mereka segera berjalan cepat menuju pintu keluar. Namun mereka tidak melihat keberadaan Kania. Mereka hanya melihat seorang laki- laki bertopi dan berkacamat hitam yang sedang bersandar di dinding dekat pintu masuk.
"Yaa...gara- gara elo kelamaan Ket lihat Bos Nia udah ninggalin kita..." seru Arum sedih.
"Mana gue tahu kalau Bos Nia mau keluar, emang dia bisa bawa mobil...?" tanya Keti.
"Entahlah...tapi tunggu Ket, bukankah itu mobil Bos Nia...?" tanya Arum dengan wajah heran.
"Nach...bener tu...lalu Bos Nia di mana..?" tanya Keti juga heran.
"Emang Kalian nggak bisa lihat gue...?" terdengar sebuah suara yang sangat mereka kenal.
"Bos Nia...!" seru mereka sambil membalikkan badan mereka. Tapi yang berdiri di depan mereka seorang pria tampan yang memakai topi tadi.
"Kauu...." teriak mereka hampir bersamaan.
"Ck...nggak sopan...kenapa kalian melototi Bos kalian...?" tanya Kania sambil melepas topi dan kacamata dari kepalanya. Kini terlihat wajah cantik Kania dengan rambut di kuncir kuda.
"Bos Nia....!" teriak mereka memekakkan telinga.
"Ist...berisik tahu..." seru Kania sambil menutup telinganya.
"Ya ampun Bos...gue nggak bisa ngenali wajah Bos Nia..."seru Keti sambil memeluk Kania.
"Beneran Bos, ck...gue kira elo cowok beneran, hampir gue naksir sama elo... habis elo ganteng banget Bos..."seru Arum.
"Keren banget deh Bos gue..." kata Arum kembali.
"Ck...pasti ada maunya..." kata Kania sebal.
"He he...kok Bos ngerti sich...." jawab Keti.
"Trus elo berdua mau ikut gue dengan baju kayak gitu doang...?" tanya Kania yang melihat penampilan kedua pengawalnya yang satu memakai kaos dan jaket serta celana pendek sebatas lutut , sedang satunya memakai Hot pant dengan atasan baju lengan panjang yang ditekuk sampai lengan.
"Kalau gitu kami ganti dulu Bos..." kata Keti .
"Nggak usah ...elo- elo pade cantik juga kok pakai baju kayak gitu..." kata Kania.
"Beneran Bos...Bos nggak ape- ape kita pakai pakaian kayak gini ..?" tanya Arum tak percaya.
"Beneran...udah ayo cabut..." kata Kania sambil berjalan kearah tempat sopir yang biasa Keti tempati.
"Lo Bos bukan gue yang ada di situ Bos..?" tanya Keti heran.
"Sekali- kali elo pada jadi Bos gue... Dan gue mau lihatin ame elo berdua yang nggak percaya ame gue..." jawab Kania sambil tersenyum manis.
"Tapi Bos...." kata Keti bingung.
"Bos maafin Arum Bos..." kata Arum sedikit takut.
__ADS_1
"Ha ha ha...kenape dengan wajah elo pada... Elo pikir gue marah....?" tanya Kania sambil tertawa.
"Jadi Bos Nia nggak marah...?" tanya Arum.
"Emang gue mudah marah hanya karena persoalan sepele...?Ck...dasar .." sungut Kania pura- pura marah. Keti dan Arum pun segera masuk kedalam mobil sambil tertawa. Setelah kedua pengawalnya masuk Kania segera menjalankan mobilnya dengan tenang. Dan kedua pengawalnya terlihat keheranan ketika melihat Kania yang mengemudi mobil dengan lincah. Tak memakan waktu lama, cuma beberapa menit aja mereka telah sampai di parkiran mobil perusahaan Dirgantara. Sebelum masuk Kania menelfon Bara.
"Assalamualaikum Bunda..." sapa Bara.
"Wa'alaikum salam Pa..Papa lagi di mana..?" tanya Kania yang sudah tiga hari ini tak mendengar suara sang kekasih.
"Ada di kantor Bun...ada apa..?tumben nelfon sudah tiga hari Bunda nggak bisa di hubungi, sebenarnya kalau sampai hari ini Bunda nggak nelfon , Papa akan datang ke apartemen Bunda.." kata Bara panjang lebar.
"Yee...tahu gitu Bunda nggak nelfon aja tadi..." goda Kania. Kania keluar dari mobilnya sedang kedua pengawalnya di suru menunggu di dalam mobil.
"Bunda kok gitu sich....."seru Bara kesal.
"He he he...jangan marah Pa...nanti lekas tua lo..." goda Kania lagi. Kini dia sudah berada di depan kantor Bara.
"Bodoh amat... trus ngapain Bunda telfon...?" tanya Bara yang sedang kesal.
"Nggak Boleh...ya udah..." jawab Kania sambil menutup telfon karena sudah sampai di loby Kantor.
"Maaf tuan bisa saya Bantu...?" tanya seorang resepsionis yang sedang berada di loby.
"Saya mau bertemu tuan Bara Nona...?" jawab Kania.
"Sudah ada janji...?" tanya resepsionis yang bernama Sasa Melinda yang tertera di name tag nya.
"Sudah...saya di suru langsung kerungannya..." jawab Kania dengan menunjukkan senyum manisnya.
"Kalau begitu silahkan tuan..." jawab gadis itu.
"Trimakasih Nona cantik..." kata Kania.
Dia segera masuk kedalam lift menuju ruang kantor Bara. Setelah sampai di depan pintu ruang Bara dia tak melihat sekretaris Bara. Meja kerjanya terlihat kosong. Ketika dia mau mengetuk pintu ruangan Bara tiba- tiba pintu terbuka dan terlihat Bara akan keluar bersama sang sekertaris yang berada di belakangnya.
"Uff maaf..." seru Kania yang hampir memukul dada Bara.
"Siapa kau...?" tanya Bara dingin.
"Maaf tuan...bukankah saya sudah mempunyai janji dengan tuan Bara..." jawab Kania.
Bara menatap Kania tajam, dia merasakan femiliar dengan suara pria yang sekarang berada di depannya.
Perlahan Kania membuka kacamata hitamnya. Dia mengedipkan sebelah matanya yang membuat kaget Bara. Segera terlihat senyum tipis di bibir dinginnya.
" Masuk... dan kau keluarlah aku nggak jadi pergi..." kata Bara menyuruh sang Sekertaris keluar ruangan.
"Baik tuan..." jawab sang Sekertarisnya sambil berjalan keluar ruangan. Ketika pintu sudah di tutup Bara langsung memeluk Kania yang kaget dengan tingkah sang kekasih.
"Papa...!" seru Kania kaget.
"Dasar gadis nakal.... Kenapa kau selalu menutup telfon dariku ha..." tanya Bara dengan nada marah dan rindu.
"Ya elah Pa...Kania itu lagi marah sama Papa, lah kok sekarang malah Papa yang marah sama Nia..." jawab Kania yang masih dalam pelukan Bara.
Dia melepas pelukannya dan menarik Kania untuk duduk di atas pangkuannya yang kini sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Siapa Amelia...? Dan Nia minta penjelasan sejelas- jelasnya .. ?" tanya Kania yang sudah memandang Bara dengan wajah cemberut.
"Amelia...?" tanya Bara heran.
"Iya Amelia...tapi Pa, Apa Nia mempunyai hak untuk bertanya soal itu...?" tanya Kania kembali ,sambil melingkarkan tangannya di leher Bara.
Cup..
"Kau mempunyai hak sepenuhnya tentang hidup Papa sayang... Apapun yang menyangkut Papa kau berhak bertanya pada Papa, apapun itu..." jawab Bara.
"Kenapa kau tanyakan soal itu...?" tanya Bara sambil memandang wajah Kania.
"Aku kemaren bertemu dengan dia di depan ruang kantor kak Rika, dia sedang membuly seorang Produser yang kini sepertinya sedang fokum dalam bembuatan film. Dan kau tahu sendiri kan kalau aku paling tak suka melihat penindasan. Akhirnya kami sedikit ada percekcokan, dia mengatakan kalau dia calon istri atau tunanganmu..."jawab Kania sambil cemberut.
"Apakah kau cemburu.....?" tanya Bara dengan wajah menggoda.
"Ck..apa Kania nggak boleh cemburu..." jawab Kania sambil cemberut.
Bara pun jadi gemas dan ******* bibir yang selalu membuat dia tak mampu lama- lama jauh dari Kania . dia juga melampiaskan kerinduannya yang sudah hampir tiga hari tak mendengar suara manja Kania. Andai dia tak keluar kota secara mendadak mungkin dia sudah pergi ke apartemen sang kekasih. Dia sebenarnya sangat marah pada Kania karena telfonnya selam tiga hari tidak aktif. Dia tak tahu kalau sang gadis sedang marah padanya. Setelah lama berciuman Bara segera melepas ciumannya.
"Papa..kebiasaan dech, kalau mencium Bunda pasti sampai Bunda kehabisan nafas..." seru Kania sebal.
"Habis Papa kangen Bunda..." jawab Bara.
"Lalu kenapa Bunda ponselnya sering nggak aktif, andai papa ada di rumah pasti Papa sudah pergi ke apartemen Bunda.." kata Bara kesal.
"Dasar Papa...namanya juga orang lagi marah...emang Papa pergi kemana..? Trus kenapa nggak ngomong sama Bunda...?" jawab Kania panjang lebar kali tinggi.
"Salah Bunda , Papa sudah menelfon Bunda tapi nggak di angkat kalau nggak gitu ponsel Bunda nggak aktif..." jawab Bara sambil menyibakkan rambut poni yang menutupi muka Kania.
"Maafkan Nia Pa...habis Nia sebal lihat nada bicara si Amelia sama dua orang yang ada di sampingnya itu , Kata dia bukan hanya para artis atau karyawan yang tahu soal itu, bahkan para Direktur perusahaan ini pada tahu kalau dia calon istri atau tunangan Papa..."adu Kania pada Bara.
"Amelia...? Amelia yang mana sich...? Coba papa tanya dulu sama Anton, mungkin dia tahu siapa dia..." jawab Bara. Dia segera menghubungi Anton.
"Ada apa Bos..." tanya Anton saat baru mengangkat telfon.
"Kamu di mana...?" tanya Bara.
" Ada di ruangan saya Bos... ini mau keruangan Bos Bara karena ada sedikit persoalan yang akan saya tanyakan..." jawab Anton.
"Kalau gitu cepat datang kemari aku mau Menanyakan sesuatu padamu.." kata Bara lagi.
"Baik Bos saya akan segera kesana.." jawab Anton. Dia seger menutup telefonnya. Tak berapa lama terdengar bunyi ketokan pintu.
Tok tok tok..
__ADS_1
"Masuk.." jawab Bara. Kania segera akan bangun dari pangkuan Bara, tapi Bara malah mempererat pelukanya di pinggang Kania.
"Pa..malu ada Anton...." kata Kania.
"Nggak apa- apa...Papa masih rindu Bunda, siapa suruh Bunda nggak mau mengangkat telfon Papa..." jawab Bara cuek. Kaniapun mati kutu, terpaksa dia diam di atas pangkuan Bara saat Anton masuk. Terlihat wajah kaget Anton saat melihat Kania berada di atas pangkuan Bara.
"Pa..lihat Anton kaget melihat Nia di sini..." kata Nia berusaha membujuk Bara.
"Biarkan aja...kalau iri biar dia cari juga kekasih..." kata Bara dengan keras.
"Ck..dasar bucin...( sungut Anton dalam hati)ha ha ha..anton nggak berani ngomong langsung, takut kena hukuman kali🤣🤣.
"Pa..kita duduk di sofa yuk..." ajak Kania yang nggak enak melihat wajah Anton yang resah.
"Nggak disini aja..." jawab Bara.
"Papa...." kata Kania sambil menatap Bara dengan wajah imutnya.
"Iya, iya kita diduk do sofa , tapi Bunda nggak boleh jauh dari Papa..." kata Bara.
"Iya...Bunda akan nempel kayak prangko pada Papa..." jawab Kania .
"Sabar...sabar...gue lagi ngadepin si bebyger....( kata Kania dalam hati)
Mereka akhirnya duduk di sofa bersama- sama , dan Kania harus duduk nempel kayak prangko beneran.
"Waah...apa gue nggak gerah nanti ya...?" batin Kania.
"Oh ya Bun...Bunda sekarang lagi libur kan..?" tanya Bara .
"Iya Kania hari ini nggak ada jadwal syuting. Tadi malam Bunda pulang sampai ham 03.30 pagi Pa..." jawab Kania.
"Apa Bun jam 3 pagi... ?" tanya Bara kaget.
"Iya Pa..." jawab Kania.
"Kok Bunda nggak ngomong sama Papa..?" tanya Bara.
"Lo Nia kan udah bilang kalau Nia lagi marah sama Papa...?" jawab Kania sebal.
"Ck..Ton coba kau bilang siapa Amelia itu...?" tanya Bara pada Anton.
"Amelia...? Amelia siapa Bos..?" tanya Anton sambil menatap pasangan yang ada di depannya.
"Artis ternama Amelia yang mengaku calon istri tuan Bara..." jawab Kania sarkasme.
"Amelia..?(terlihat Anton berfikir keras)
Oo..apakah dia baru pulang dari luar Negri..?" tanya Anton sambil menatap Kania.
"Entahlah... aku tak tahu..." jawab Kania.
"Iya pasti dia..." jawab Anton lagi.
"Dia siapa Ton...?" tanya Bara.
"Itu lo Bos.. Putri sahabat Mama Bos Bara yang dulu dekat dengan si Dika dan dia ngejar- ngejar Bos Bara..." kata Anton menjelaskan.
"Mengejarku....?" tanya Bara.
"Iya...dia yang terobsesi pada Bos Bara itu lo... Yang sekarang jadi artis yang lumayan terkenal itu. Bukankah dia di masukkan kemari atas rekomendasi dari Bos Bara karena orang tuanya meminta tolong pada Mama Rani..?" jawab Anton panjang kali lebar.
"Oo..iya aku ingat..dia gadis menjijikkan itu...? Jadi kau marah karena cemburu pada gadis menjijikkan itu Bunda...?" tanya Bara.
"Menjijikkan gimana Pa...?" tanya Kania tak mengerti.
"Ya menjijikkan.... Dia akan selalu berusaha mendekati Papa sampai Papa ingin memukul dia andai dia bukan wanita.. Dan dia memang selalu mengatakan kalau dia calon istriku pada semua orang...aku sampai muak melihat perbuatannya..." jawab Bara.
"Sstt...jangan membenci orang seperti itu Pa... Karena bisa- bisa Papa ganti mencintainya lo..karena cinta dan benci itu mempunyai batasan yang tipis sekali, Bunda tak ingin kebencian Papa akan membuat hati Papa berubah mencintainya..." kata Kania sambil mendekap mulut Bara.
"Dan Kania juga tak ingin Papa menyimpan kebencian yang berlebihan pada sesama manusia..." kata Kania lagi.
"Baiklah sayang...Papa akan berhenti membenci seseorang berlebihan, sebenarnya Papa nggak benci sama dia, hanya sebal dan risih saja saat mendengar dia berbicara yang bukan- bukan pada semua orang..." jawab Bara.
"Kania tahu... Suatu saat dia akan berhenti berkata demikian saat tahu kalau Papa adalah milik Kania...?" jawab Kania dengan sabar.
"Trimakasih sayang...kau memang calon istriku yang bijaksana. Andai kau memperbolehkan aku berkata pada semua orang pasti aku sudah mengatakan kalau aku adalah milimu dan kamu adalah milikku satu- satunya. Dan tak seorangpun yang bisa menggantikannya.
"Aku tahu itu Pa... Sejak mendengar ucapan Amelia aku juga tahu kalau itu hanya kebohongan dia saja, tapi namanya juga hati, aku masih juga merasakan kecemburuan itu melanda hatiku..." jawab Kania jujur.
Bara menarik Kania dalam pelukannya dan mencium lembut dahi Kania.
"Trimakasih sayang...kau memang yang terbaik buatku. Beruntung aku memiliki dirimu..." kata Bara penuh sayang.
"Aku juga Pa...aku bangga memiliki mu.." jawab Kania.
"Khmm....khmm...." dehem Anton
"Bos...Nona Nia...ingat gue masih di sini ya..?" sindir Anton.
"Ck..kau ini...merusak saat romantis orang saja..." kata Bara kesal.
"Ya...si Bos...bukankah gue sejak tadi ada disini..." sungut Anton.
"Ck kau ini..." kata Bara kesal.
"Bun...Kau pulang bersama Papa ya... Sebab nanti sore kita langsung pergi cari baju buat Pesta ulang tahun perusahaan yang tinggal satu minggu lagi.." kata Bara.
"Baiklah.. tapi Bunda mau nelfon Arum dan Keti yang sedang menunggu Bunda.." kata Kania.
"Baiklah...kalau begitu Papa mau diskusi dulu dengan Anton, kalau Bunda lelah Bunda bisa istirahat di kamar Papa.." jawab Bara.
"Okey...kalau gitu Kania masuk kesana aja ya..." kata Kania sambil berdiri dari sofa dekat Bara. Dia seger pergi kekamar Bara untuk menelfon kedua pengawalnya agar pulang membawa mobilnya. sedang Bara mulai berdiskusi dengan Anton.
__ADS_1
Cukup dulu guys jumpa lagi besok ya... Tak bosan author mengingatkan jangan lupa selalu tinggalkan like dan komennya untuk Author .
Bersambung.