
Ketika sampai di lokasi syuting Kania sudah melihat keberadaan Farel . pria tampan itu sedang duduk dengan wajah keruh.
'Wah ada apa dengan pria tampan ini.." pikir Kania. Namun dia tidak bisa menggodanya Karena sebentar lagi saat dia harus melakukan Adegan di depan Kamera. Tak berapa lama Kania mulai melakukan adegan , pertarungan Antara putri Fang Yun dengan anak buah dari putra seorang perdana mentri dari Raja yang telah membunuh sang Raja terdahulu Ayah dari Putri Fang Yun.
Saat Kania selesai syuting dia masih melihat Farel menyelesaikan perannya. Tiba - tiba Arum datang mendekatinya.
"Bos Ada telfon..." Kata Arum sambil memberikan ponselnya kepada Kania.
"Dari siapa...?" tanya Kania.
"Bos Besar..." jawab Arum singkat.
Kania segera beranjak dari tempat duduknya setelah menerima telfon dari Arum dan melangkah menjauh dari tempat bengambilan adegan.
"Asalamualaikum Pa....?" ucap Kania memberi salam.
"Wa'alaikumsalam Bun...." jawab Bara .
"Ada apa Pa...?" tanya Kania heran, tak biasanya Bara menelfonnya kalau nggak ada kepentingan.
"Kangen..." jawab Bara yang membuat Kania hampir tertawa.
"Ck...apaan sich Pa...?" tak urung wajah Kania memerah.
"Beneran Papa sekarang kangen sama Bunda.." jawab Bara dari sebrang.
"Iya, iya Bunda percaya..lalu mau Papa apa..?" tanya Kania .
"Bunda pulang jam berapa...?" tanya Bara lagi.
"Mungkin jam duaan Pa, karena masih ada satu adegan lagi yang harus kania lakukan ..." jawab Kania.
"Baiklah. Setelah selesai Bunda langsung pulang..." perintah Bara .
"Iya ,iya Bunda pasti langsung pulang ke apartemen..." jawab Kania.
"Ya udah Papa tutup dulu Asalamualaikum...." kata Bara datar.
"'Wa'alaikumsalam..." jawab Kania.
Kania memberikan kembali ponselnya pada Arum sambil masih ada senyum di bibir mungilnya.
Tanpa Kania sadari Farel yang sejak tadi sudah selesai melakukan adegan melihat Kania yang sedang menerima telefon. Terlihat wajah kesedihan di wajah tampannya.
Setelah memberikan telfon pada Arum Kania segera duduk kembali di kursinya. Dan tanpa sadar dia menatap tempat Farel duduk. Dia melihat Pria itu sedang menatapmya dengan wajah sedih.
'Ada apa dengan pria satu ini...( pikir Kania) Kania segera berdiri kembali dan berjalan kearah Farel .
"Rel kau sudah selesai..?" tanya Kania.
"Sudah tadi....?' jawab Farel cuek.
"Doo..cuek amat sahabat gue...?" goda Kania. Farel hanya diam menatap Kania.
"Kenapa wajahmu keruh amat Rel...?" tanya Kania sambil duduk di depan Farel.
"Emang Wajah gue air sungai...?" jawab Farel Sinis.
"ya bukan lah, tapi..Hey...elo marah sama gue...? ada apa Rel...emang gue punya salah... ..?" tanya Kania heran.
"Pikir sendiri, elo punya salah apa sama gue.." jawab Farel tetap sinis.
"Mana gue tahu Rel...kesalahan gue apa kalau elo kagak bilang....?" jawab Kania yang memang nggak tahu kenapa sahabatnya marah sama dia.
"Bodoh..." jawab Farel singkat sambil membuang muka.
"Ya elah...marah beneran sahabat gue..
Okey dech gue minta maaf kalau gue emang punya salah sama elo, tapi tolong bilang ama gue apa kesalahan yang gue lakuin sama elo, hingga elo mara gitu ama gue..please...?" kata Kania sambil menangkupkan kedua tangannya di depan muka serta memperlihatkan wajah imut andalannya.
"Dasar gadis nakal...." setu Farel yang memang nggak pernah bisa marah pada Kania. dia diam dan menatap Kania, sedang Kania menatap Farel penuh tanya.
"Jadi elo sekarang calon istri kakak sepupu gue...?" tanya Farel dengan sinis.
"Oo itu to...maaf itu benar..." jawab Kania.
"Kenapa elo dulu menolak gue tapi sekarang elo jadian sama kakak gue..?.
Apa sich kurangnya gue kalu di bandingkan sama dia...? Atau karena dia lebih kaya dari pada gue..?" kata Farel perlahan. Ada tekanan kemarahan di wajahnya.
"Cukup Rel...dari dulu elo udah tahu sifat gue, gue nggak pernah ngebedain setatus ataupun kekayaan seseorang di mata gue, lalu kenapa sekarang elo tega ngomong gitu tentang gue...?"Soal cinta mana bisa gue hindari Rel, gue menganggap elo itu Kakak,sodara, sahabat, teman yang aman gue sayangi. ..?" jawab Kania sambil menunduk sedih.
"Tapi gue pingin elo mencintai gue sebagai kekasih Nia..." seru Farel sedikit keras.
"Tapi gue nggak bisa Rel..(kania terdiam sebentar sambil menatap Farel).gue kecewa ama elo Rel..." jawab Kania sambil berlalu meninggalkan Farel yang tertegun melihat kekecewaan di mata Kania. Kania kecewa karena Farel telah menganggapnya gadis matre. untunglah tak lama dia harus kembali melakukan adegan terahir pada hari itu. Setelah selesai Kania segera berlalu dan pulang tanpa menegur atau melihat kearah Farel lagi. Saat itu Farel merasa bersalah karena telah mengatai Kania. Ketika melihat Kania berlalu dia ingin mengejar tapi dia dipanggil untuk malakukan perannya. Sedang Kania setelah berbena diri dia segera pulang.
Di rumah tuan Setyo Hadi .
Sementara di rumah tuan Setyo Hadi terlihat sang putri Deby sedang marah - marah , kamar tidurnya terlihat berantakan bagai kena gempa bumi.
"Deby...sudah cukup..." seru sang Mama sambil berdiri di ambang pintu .
"Ma...! Sebenarnya kemana sich Papa..? Kenapa harus sekarang Papa pergi...?Di telfon nggak bisa , tanya sama sekertarisnya bilang nggak tahu, Mama juga masak istri nggak tahu suami kemana....?" teriak Deby marah.
"Mama kan sudah bilang ,sejak dua hari yang lalu Papa pergi keluar Kota menghadiri pertemuan dengan klien... "jawab sang Mama.
__ADS_1
"Tapi pulangnya kapan Ma...?"seru Deby lagi.
"Mungkin nanti sore atau besok..." jawab sang Mama.
"Tapi Deby butuh pertolongan Papa Ma.. Kalau tidak masa depan Deby hancur Ma..." teriak Deby yang sudah dua hari tidak keluar dari rumahnya. Dia juga menghindari Reza yang sudah beberapa kali menelfonnya. Reza juga datang kerumahnya tapi dia tidak mau menemuinya. Dia takut berita tentang hubungannya dengan tuan Baron telah diketahui Reza dan keluarganya.
"Kamu itu sebenarnya kenapa sich Deb.. Dua hari ini kamu tidak keluar sama sekali dari kamarmu , Reza datang kamu sembunyi, ada apa...?" tanya Sang Mama.( waduh mama si Deby bodoh atau tidak melihat berita kehebohan sang pitri ya..)
"Ma... Apa mama tidak melihat berita tentang Deby...? "Tanya Deby.
"Enggak soalnya dalam dua hari ini kepala Mama pusing banget. Sepertinya penyakit Vertigo mama kambuh..." kata sang Mama.
"Kenapa Mama nggak kerumah sakit..?" tanya Deby .
"Mama nunggu Papa.. sekarang sudah agak mendingan..." jawab sang Mama.
"Tapi melihat tingkahmu seperti ini membuat kepala Mama sakit Deb..." seru sang Mama.
"Maaf Ma...Deby butuh Papa sekarang..." seru Deby kembali.
"Iya...tapi jangan bertingkah seperti ini Deb.." seru sang Mama.
"Semua ini gara- gara wanita sialan itu... Kenapa dia bisa berada dalam naungan perusahaan DI sich... gara- gara dia Deby jadi begini.." seru Deby kembali marah.
"Apa maksudmu...? Wanita siapa yang kau maksud...?" tanya Nyonya Sinta pada sang putri.
"Wanita pendatang baru itu Ma... dia memberi masalah buat Deby..." kata Deby kembali.
"Kok Bisa...?bukankah dia sudah kita beri pelajaran...?" tanya Nyonya Sinta kembali.
"Bukankah penjahat yang di sewa Mama gagal membunuhnya...?"ejek Deby pada sang Mama.
"Kebetulan penjahat yang kita sewa kurang pintar..." elak nyonya Sinta.
"Sama aja, namanya gagal Ma..."kata Deby jengkel.
"Kita akan mencari yang lebih kuat... Lalu apa yang dia perbuat padamu...?" tanya nyonya Sinta lagi.
"Kapan Hari Deby sempat mencambuk punggungnya dengan parah. Tapi entah mengapa dia cepat sekali sembuhnya,.."
"Tunggu... Kau mencambuk dia...? Gimana bisa...?" tanya nyonya Sinta bingung .
"Aku mencambuknya saat di dalam adegan film Ma... ?"jawab Deby.
"Kok bisa...? Kenapa...?" tanya sang Mama .
"Habis dia genit banget Ma.. Dia sok dekat dengan Sutradara dan si Farel, Deby jadi marah karena dia peran Putri Fang Yun lepas dari tangan Deby..." Kata Deby menjelaskan.
"Lalu apa hubungannya dengan kemarahanmu ini...?" tanya nyonya Sinta tak mengerti.
"Berita apaan sich Deb...? Coba Mama lihat..." kata sang Mama.
Deby segera mencari berita tentang dirinya dan memberikan ponselnya pada sang Mama. Dengan penuh tanda tanya nyonya Sinta mengambil dan membaca berita putrinya. Ketika melihat dan membaca berita itu terlihat keterkejutan di wajah cantiknya.
"Deby...apa- apaan ini...? Kau bermain api dengan tuan Baron...? Kau sudah gila ya... gimana kalau sampai Papamu tahu soal ini, dan pasti kedatangan Reza kesini untuk menanyakan ini padamu, apa yang kau lakukan Deb... kenapa jadi begini...?" seru nyonya Sinta Marah.
"Deby salah Ma... tapi tolong bilang sama Papa agar membantu Deby keluar dari masalah ini... Deby nggak mau karir Deby berakhir Ma....Deby juga tak ingin Reza meninggalkan Deby Ma.. !" seru Deby ketakutan.
"Ya ampuun Deb... bagaimana ini...Papa pasti sangat marah padamu dan soal keluarga Reza gimana Papa menghadapinya, ini kecerobohanmu Deb, lagian kenapa kau bermain api dengan tuan Baron....?" tanya nyonya Deby bingung dan marah.
"Semua gara- gara wanita ja**"g itu ma... Kenapa sich perusahaan DI menjadikan dia artis mereka, sedang Deby sudah meminta sendiri kesana mereka menolak Deby.." kata Deby dengan marah.
"Kau ini... Sekarang mama semakin pusing menghadapi masalahmu Deb..!." seru nyonya Sinta sambil memegang kepalanya.
"Please Ma...tolong Deby...Deby tak ingin kehilangan semuanya ." kata Deby sambil menangis dan memeluk sang Mama.
"Bukankah Mama sudah bilang jangan bertindak gegabah,....!" seru sang Mama
"Iya Deby salah Ma... " jawab Deby.
"Ya udah coba Mama telfon Papa kamu..." kata nyonya Sinta sambil berjalan keluar menuju kamarnya. Ketika sampai di kamarnya dia mengambil ponsel yang ada di atas nakas . dengan segera dia menelfon sang suami. Namun telfonnya tidak bisa dihubungi. Sampai beberapa kali nyonya Sinta menghubungi tuan Setyo Hadi namun tetap juga tidak bisa terhubung.
"Ya ampuun...kemana sich Papa ini, kok ditelfon tidak bisa..." kata nyonya Sinta dengan kesal.
"Dan dia juga tidak menelfon atau nge WA sama sekali..begitu sibulkah dia... Nggak biasanya dia seperti ini..." kata nyonya Sinta ngomong sendiri. Dia kembali menelfon seseorang.
"Asalamualaikum nyonya.." terdengar jawaban dari sebrang.
"Mel...tuan Setyo sudah datang...?" tanya nyonya Sinta.
"Belum nyonya..." jawab Mely singkat.
"Sebenarnya pergi kemana tuanmu itu Mel..." hardik nyonya Sinta.
"Mely juga tidak tahu nyonya... Setahu Mely tuan Setyo berpamitan keluar untuk
menemui Klien..." jawab Mely. namun sebenarnya Mely tahu di mana tuan Setyo. hanya saja tuan Setyo melarang dia untuk memberitahu di mana keberadaannya.
"Ya sudah, kalau nanti tuan datang telfon aku..." perintah Nyonya Sinta dengan nada marah.
"Baik nyonya..." jawab Mely.
Nyonya Sinta segera menutup telfonnya dengan perasaan marah.
Sedang di puncak terlihat Setyo Hadi sedang duduk bercengkrama dengan sang Papa. Kedua saudaranya sudah tadi pada pulang kerumah masing- masing karena tugas mereka sudah menunggu.
__ADS_1
"Yo...kamu nggak pulang...?" tanya Kakek Herlambang.
"Setyo malas ketemu sama wanita itu Pa..." kata Setyo Hadi.
"Tapi kau tetap harus melakukan itu Yo.. demi keselamatan istrimu, kami takut dia masih hidup Yo... kita nggak boleh gegabah..." kata sang Papa ikut merasakan kebencian sang anak terhadap wanita yang telah menyamar jadi menantunya.
"Setyo takut khilaf dan memukulnya Pa.." kata Setyo Hadi dengan marah.
"Itu cobaan yang harus kamu lakukan, kau harus ingat akan keselamatan istrimu, juga kebahagiaan yang akan kalian dapatkan saat kalian sudah menemukan istrimu Yo..." nasehat sang Papa.
"Baiklah Pa, Setyo akan berusaha menahan kemarahan Setyo pada wanita itu..." jawab Setyo Hadi.
"Semoga semuanya cepat terselesaikan sebelum Kania menikah..." kata sang Papa.
"Iya Pa...semoga saja, karena dengan begitu setatus Kania yang seorang Herlambang bisa ia sandang. Setyo menyesali perbuatan Setyo yang telah menelantarkan putri Setyo satu- satunya Pa.." ucap Setyo dengan wajah sedih.
"Benar Katamu Yo... dengan ditemukannya Sinta nanti, si istri palsumu itu bisa kita masukkan kedalam penjara , dan Kania bisa menyandang nama Herlambang yang memang miliknya. dan kalian bisa hidup bersama..." kata Kakek Herlambang dengan sabar.
"Apakah kau tidak kekantor Yo...?" tanya sang Papa setelah mereka diam sebentar
"Setyo akan kekantor besok saja sekalian pulang Pa...tapi Setyo akan sering pulang kemari Pa..." kata Setyo Hadi dengan menatap sang Papa.
"Terserah Kamu.. tapi mulai sekarang kau harus hati- hati, jaga diri dan hartamu jangan sampai kau lengah.." kata kakek Herlambang.
"Benar Pa..aku akan membawa barang- barang penting kemari Pa... aku ingin menitipkannya pada Papa..." kata Setyo Hadi.
"Terserah kamu jika itu yang terbaik untukmu dan keluargamu..." kata Kakek Herlambang lagi. merekapun melanjutkan obrolan sampai sore hari.
Sedang ditempat lain terlihat Kania yang baru turun dari mobil mewahnya brsama Keti dan Arum. mereka berjalan menuju kedalam loby apartemen. mereka segera masuk kedalam lift.
"Kalian berdua langsung istirahat saja... nggak usah ngantar gue keatas...?" kata Kania pada kedua pengawalnya.
"Biar Kami bawain tas Bos aja dulu. setelah itu kami akan langsung keapartemen kami sendiri..." kata Arum yang masih membawa tas milik Kania.
"Nggak usah... sini biar gue sendiri yang bawa, kalian langsung aja kembali ke apartemen kalian..." kata Kania lagi.
"Baiklah Bos..." jawab Arum sambil memberikan tas pada Nia.
Setelah lift sampai di lantai dua Arum dan Keti segera keluar dari lift. Kania melambaikan tangannya sebentar saat kedua pengawalnya memandang dirinya sebelum pintu lift tertutup. ketika sampai di depan pintu aparyemennya Kania segera memencet nomor dijid pintunya.setelah terbuka Kania segera masuk kedalam. saat sampai di dalam Kania mencium parfum yang sangat dia kenal.
'Apa dia sudah ada di sini.. atau aku aja yang lagi halu....( pikir Kania).
Kania segera masuk kedalam kamarnya. Dia segera buru- buru kedalam Kamar mandi karena kegerahan ingin segera mandi. Karena hari memang sudah sore, setelah mandi Kania segera solat ashar. setelah itu dia berniat akan membuat makanan untuk makan malam.
Namun saat dia melewati meja makan dia kaget, karena di atas meja sudah tersedia makanan yang masih terlihat panas. Ada stik daging sapi , Ayam goreng , Sup jamur, dan udang goreng.
"Ya ampun siapa yang sudah memasak nasi ini...?" tanya Kania heran dan kaget
"Aauuu....!" teriak Kania kaget karena sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang.
"Selamat Sore calon istriku..." sebuah suara yang sangat Kania kenal terdengar di sebelah telinganya.
"Papa....!" seru Kania .
"Ya Tuhan Pa...kau membuat aku jantungan tahu...? hampir saja tangan Bunda memukulmu..." seru Kania Kaget dan bernafas lega.
"Benarkah...? kalau begitu maafkan Papa sayang.." kata Bara sambil mempererat pelukannya.
"Iya Bunda maafin...lalu ini semua siapa yang memasak.....? Papa...?" tanya Kania.
" Benar...ini Papa yang memasak, Papa masak khusus untuk calon istri dan Mama Kinan..." jawab Bara.
"Beneran Papa yang masak masakan ini...?" tanya Kania kaget.
"Iya ini buatan Papa... kenapa...? Bunda nggak percaya..?" tanya Bara.
"Percaya....boleh Bunda coba...?" tanya Kania.
"Silahkan tuan putri...." kata Bara sambil menarik kursi untuk tempat duduk Kania. dia sendiri duduk di sebelah Kania.
Setelah duduk Kania segera ingin mengambil stik daging sapi, namun Bara menghalangi.
"Tunggu dulu..." Bara mengambil stik yang sudah ada di atas piring lalu memotong- motong kecil baru kemudian di berikan pada Kania.
"Trimakasih..." kata Kania sambil menerima stik yang telah terpotong dan tinggal memakannya. saat potongan stik masuk kedalam mulutnya. Kania kaget ternyata masakan Bara sangat lezat.
"Pa...masakan Papa sangat enak..." seru Kania.
"Pasti dong...siapa dulu..." kata Bara sombong.
"Waah...beruntung sekali diriku, punya calon suami yang gagah dan tampan juga punya keahlian masak..." goda Kania.
"Tentu saja Sayang...aku akan selalu memanjakanmu dengan masakanku.."
kata Bara sambil tersenyum.
"Bukankah seharusnya Bunda yang manjakan Papa dengan masakan Bunda..?" kata Kania.
"Kita saling mengisi sayang... gimana kalau setiap hari libur kita akan membuat masakan yang akan kita makan bersama, kau setuju..." tanya Bara yang kini sudah mulai makan juga.
"Ide bagus Pa... kita bisa mencoba membuat bermacam - macam masakan .." kata Kania senang.
"Itu akan kita lakukan sayang ..." jawab Bara.
Udahan dulu ya ...jangan lupa like dan Komennya.
__ADS_1
Bersambung.