
Kania , Bara, Setyo Hadi serta bik Monah dan paman Asep masuk kedalam ruang keluarga Mension kakek Herlambang. Ketika mereka masuk terlihat keluarga Jendral Rehan , istri dan kedua putra putrinya, keluarga Letnan Jendral Sindu Wicakso bersama istri dan putra tunggalnya. Juga ada kakek Herlambang yang duduk sendiri di kursi tunggal kesayangannya. Serta seorang wanita yang terlihat kurus dan terlihat sedikit lebih tua namun masih terlihat raut wajah cantik di wajah tuanya, dia duduk bersama seorang anak laki- laki yang duduk tertunduk di sebelah wanita itu . Setyo Hadi tercengang ada debaran keras didalam dadanya.
"Sinta..." gumam kecil Setyo Hadi. Kania yang mendengar perkataan sang Papa kaget. Dia segera menatap wajah tua itu yang juga sedang menatap wajahnya dengan nanar.
"Kania... Kau kah Kania putriku..." kata wanita itu sambil berdiri.
"Mama...." Kania serasa tak kuat menahan kegembiraan ketika melihat wajah wanita itu, namun tubuhnya serasa ada yang menahan ketika dia akan mendekatinya. Perasaan takut saat kecil dulu membuat tubuhnya terasa kaku. Dia teringat pada wanita yang sama, seperti wanita yang selalu menyiksanya saat kecil dulu.
"Nak...kenapa denganmu...? apakah kau tak ingin memeluk Mama sayang...? " Kata wanita itu.
"Nyonya...maafkan Kania nyonya...dia mungkin masih trauma dengan kejadian masa kecilnya dulu..." kata Bik Monah sambil menangis melihat wajah Kania yang terlihat memucat. Bik Monah tahu kalau dia nyonya Sinta yang Asli. Karena di wajah itu terlihat kelembutan yang di miliki oleh Sinta yang Asli. Terlihat kedua mata Kania mengeluarkan air mata dengan derasnya.Kania berusaha dengan keras menghilangkan trauma yang ada di dalam hatinya. Melihat itu Bara segera memeluk tubuh Kania.
"Sayang...." Kata Bara menguatkan Kania. Akhirnya Kania menangis dalam pelukan Bara. dia menangis lama dalam dekapan Bara , hingga suara anak kecil menyadarkan Kania.
"Bunda...jangan menangis...." kata Kinan sambil mendekap kepala sang Bunda. Memang saat itu Kinan masih dalam gendongan sang Papa. Hingga saat Bara memeluk Kania , Kinanpun ikut memeluk Kania. Mendengar perkataan Kinan Kaniapun merasa hatinya dingin.
"Iya Sayang....Bunda nggak akan nangis lagi..." kata Kania sambil mencium pipi Kinan. Setelah itu Kania melepas pelukannya dari Bara. Dia perlahan menatap wajah wanita yang masih memandangnya dengan wajah sedih.
Perlahan dia mendekati wanita itu.
"Mama..." ucapnya perlahan.
"Sayang...kau sudah besar...?" ucap sang Mama. Akhirnya Kania berlari dalam pelukan wanita itu dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Mama hik hik hik...'.tangis Kania dan sang Mama membuat Orang yang ada di dalam sana menjadi terharu.
"Kau sudah besar sayang..." kata sang Mama sambil membelai kepala Kania dengan kasih sayang.
"Ma...maafkan Nia Ma...hik hik hik.." kata Kania sambil menangis dalam pelukan sang Mama.
"Nggak ada yang perlu di maafkan, ini bukan kesalahan dirimu nak..." jawab Nyonya Sinta sambil masih memeluk Kania. Setelah puas menangis Kania melepas pelukannya.
"Ma..mama terlihat kurus...?" kata Kania sambil mengusap pipi sang mama.
"Benarkah...?" tanya Sinta dengan wajah cerah.
"Mama tersiksa di sana ya...?" tanya Kania.
"Untuk mencari sesuap nasi, mama harus banting tukang sayang...lihat tangan Mama,..." kata Sinta sambil tersenyum.
Terlihat tangan yang dulunya sangat halus kini terlihat sangat kasar dan kurus.
"Ma...ternyata penderitaan Mama lebih buruk dari penderitaan Kania Ma..." kata Kania sambil tertawa sedih.
"Benar sayang...inilah nasip orang yang di buang nak..." jawab sang Mama sarkas.
"Oh ya Nia...kenalkan dia Bimo yang selalu membantu mama, keluarga Bimolah yang menampung Mama ketika mama di buang seseorang saat itu..tapi kedua orang tuanya sudah tiada , sedang keluarganya sudah tidak ada. dia sebatang kara seperti Mama. "Kata Sinta lagi.
"Tidak Ma..kalian berdua tidak akan sendiri lagi, kita akan merebut kembali identitas mama yang sudah dia ambil. Dan soal Bimo ,dia akan menjadi adik Kania Ma...bukankah Kania tidak punya saudara..." kata Kania sambil memandang anak remaja itu.
"Hay kenalkan aku Kania kakakmu...." kata Kania ramah sambil mengulurkan tangannya.
Anak lelaki remaja itu menyambut tangan Kania dengan gugup.
"Aku Bimo kak..boleh aku memanggilmu kakak .." tanyanya sambil tersenyum takut dan malu.
"Tentu saja Boleh bukankah kau akan menjadi adikku..." kata Kania lagi. Lalu Kania menghampiri Kakek Herlambang. yang sejak tadi belum Kania sapa.
"Kakek...apa kabar...?" sapa Kania sambil mencium tangan sang kakek lalu memeluknya dengan manja.
"Kau ini...kukira kau melupakan Kakekmu..." kata kakek Herlambang pura- pura marah.
"Ya ampuun ...maaf kek, habis Nia baru bertemu Mama..." jawab Kania .
"Dasar anak nakal..." kata sang Kakek sambil mengusap kepala Kania. Sedang saat itu Setyo Hadi hanya bisa melihat Sinta dengan wajah sedih, dia belum berani menyapa Sinta. Karena sejak tadi dia sudah merasa di abaikan. Tak berapa lama Kakek Herlambang berkata.
" Yo...dia Sinta istrimu, apakah kau tidak ingin menyapanya...?" kata San Papa.
"Setyo ingin sekali menyapanya Pa, tapi sepertinya istriku tidak memberiku kesempatan Pa..." jawab Setyo Hadi sedih.
"Sinta...apakah kau tidak ingin menyapa suamimu..." tanya Kakek Herlambang pada Sinta .
"Maaf Pa Sinta masih nggak mau memaafkan orang yang sudah membuang Sinta dan telah selingkuh hidup bertahun- tahun dengan wanita yang bukan istrinya. Dan dia sudah menyiksa anak kami satu- satunya Pa.." kata Sinta dengan wajah dingin.
__ADS_1
"Tapi Sin aku benar- benar tak tahu kalau dia bukan dirimu..." kata Setyo dengan wajah memelas.
"Apakah kau tak merasakan perbedaan sikap dia ...? Dan kau dengan teganya menyiksa putri kita satu- satunya, seharusnya kau curiga dan menyelidiki kebenarannya, kenapa sampai istrimu sendiri begitu membenci pitri kecilmu dan terlalu menyayangi putri yang hanya seorang putri angkat, tapi kau.... Kau malah menambah penderitaan putri kecilmu hingga dia pergi dari rumahmu, dan itupun kamu tidak mencarinya...? Apakah itu sikap seorang Papa...?" kata nyonya Sinta dengan berapi- api.
"Benar, aku memang Bodoh ,bebal, tolol, hingga membuat putriku satu- satunya pergi meninggalkan diriku..." kata Setyo Hadi menyesal.
"Sesalmu sudah tak berguna mas... apakah Kau tahu ,dimana mereka buang diriku...? Dan apa saja yang kualami di sana..?" kata Sinta sedih.
"Maafkan aku Sin...maafkan aku, tolong biarkan aku menebus kesalahan ku padamu...?" kata Setyo dengan wajah memelas.
"Bagaiman caranya kau akan menebus kesalahanmu...?" tanya Sinta acuh.
"Kita hidup bersama kembali..." jawab Setyo.
"Hidup bersama...? Tidak, aku tidak mau menerima pria yang sudah bertahun- tahun hidup dengan wanita lain,.." kata Sinta dingin.
"Sin tonglah Sin maafkan aku... bukankah kau tahu kalau aku tidak mengetahui kebenarannya...?" rayu Setyo Hadi lemah.
"Pokoknya saat ini aku tidak ingin memaafkan dirimu. Aku ingin hidup dengan putriku..." jawab nyonya Sinta.
"Tapi Sin..." Setyo berusaha membujuk nyonya Sinta.
"Yo...biarkan Sinta tenang dulu...." kata sang Papa.
"Tapi Pa..." Setyo Hadi berusaha protes sambil menatap wajah sang Papa. Kakek Herlambang memberikan kode agar Setyo Hadiah tenang dulu.
Setelah menerima kode dari sang Papa , Setyo Hadi kembali diam walau dalam hati dia masih nggak rela kalau wanita yang dia cintai membencinya. Akhirnya mereka pun berbincang- bincang bersama. Keluarga tuan Rehan dan Nyonya Garnis yang sejak tadi diam sekarang ikut berbincang bersama. Mereka menanyakan pada Sinta bagaimana kronologi penculikannya beberapa puluh tahun yang lalu itu. Dan dimana dia di tempatkan. Akhirnya nyonya Sinta menceritakan kronologi saat dulu dia di culik.
Sinta berkata saat dia setelah melahirkan dan berada di dalam ruang pemulihan dia di datangi seorang dokter dan dua orang perawat yang mengontrol kesehatannya , saatbitu Setyo Hadi keluar mendadak . namun setelah kedatangan tiga orang itu dia merasa mengantuk dan lemas. Setelah itu dia tak sadarkan diri. Ketika dia sudah sadar tiba- tiba dia sudah berada di dalam mobil yang membawa dia kesebuah tempat yang sangat terpencil dan sunyi. Dan kedua orang itu berkata kalau semua itu atas suruhan dari tuan Setyo Hadi.
Mulai saat itulah dia hidup di daerah itu tanpa memiliki uang sepeserpun. Untuk mendapatkan sesuap nasi dia bekerja sebagai pekerja kebun dari seorang tuan yang tanah kaya di daerah itu. Setelah beberapa minggu baru dia tahu kalau dia di buang di pulau K di daerah kota L yang sangat pelosok sekali.
Untuk pergi kekota L saja hanya bisa memakai mobil milik tuan limon nama orang kaya itu. Jadi untuk usaha pulang kembali ke kota J sangatlah mustahil sekali. apalagi tanpa uang sepeserpun. Saat itu Sinta yang baru melahirkan dan tak pernah hidup susah sangatlah menderita. Berbulan- bulan hidupnya menjadi kuli kebun bersama beberapa orang di desa itu. Tidurnya di sebuah gudang milik tuan Lemon bersama beberapa pekerja. Sebenarnya tuan Lemon tertarik pada Sinta, tapi Sinta tidak mau, kejadian yang dialaminya karena dibuang oleh tuan Setyo Hadi yang sangat dia cintai memberikan luka yang teramat menyakitkan, karena penolakan Sinta tuan Lemon membatasi kebebasan Sinta, uang yang dia dapatkan pun hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari- hari itupun dengan makanan yang kurang bergizi.
Hingga beberapa tahun kemudian seorang penduduk yang mungkin kasihan melihat kehidupan Sinta yang menderita dia membawa Sinta untuk tinggal di tempatnya. Dia seorang ibu yang tinggal dengan putra dan menantunya , mereka hidupnya sederhana , hidup dari hasil kebun yang sebagian di jual pada tuan Lemon dan sebagian lagi untuk mencukupi kehidupan sendiri selama menunggu panen hasil kebun berikutnya . sampai beberapa tahun kemudian lahirlah Bimo di kehidupan keluarga itu, namun sang ibu dari anak itu atau menantu wanita tua itu meninggal ketika Bimo berusia tiga tahun, Empat tahun kemudian sang Bapak dari Bimo pun meninggal juga, mungkin karena umurnya sudah tua. Saat Bimo berusia 12 tahun sang nenek pun meninggal dunia. Tepatnya tiga tahun yang lalu. Bimo akhirnya hidup bersama Sinta yang sudah dia anggap Ibunya.
"Jadi selama tiga tahun lebih aku dan Bimo hanya hidup berdua... Karena kebaikan keluarga Bimo inilah hidupku bisa selayaknya manusia..." kata Sinta mengakhiri ceritanya.
"Ma...maafkan Nia Ma... ternyata penderitaan mama lebih parah dari Nia, kehidupan Nia jauh lebih baik karena masih ada bik Monah dan Paman Asep yang merawat Kania dengan kasih sayang hingga Nia sebesar ini, tapi Bunda..Bunda menderita tanpa siapapun di dekat Bunda..." kata Kania sambil memeluk Sinta.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya dan suami nyonya, karena saya sangat menyayangi Nona Kania sejak dia lahir. saya sudah merawat nona Kania sejak dia pulang dari rumah sakit. saat itu kami juga heran kenapa nyonya Sinta tidak mau merawat nona kecil sama sekali. dia hanya mau menggendong sebentar kala ada tuan Setyo Hadi. namun semenjak nona Kania umur satu tahun dia sudah di suru tidur dengan saya dan mang Asep. Sejak saat itulah kehidupan nona Kania menjauh dari kehidupan tuan Setyo Hadi. sering nona Kania mendapatkan siksaan sejak kecil, saat nona Kania berumur 6 tahun pernah menapatkan hukuman di kurung di gudang selama seharian tanpa di beri makan sama sekali. itupun setelah mendapat pukulan dan cubitan dari nyonya Sinta. dia baru mengeluarkan nona Kania saat tuan Setyo Hadi mau pulang. Dan itu dia dapatkan hanya karena nona Deby terjatuh karena ulahnya sendiri dan dia memfitnah nona Kania yang mendorongnya. perlakuan nyonya Sinta bukan hanya itu saja, puncak dari nona Kania dan kami pergi dari rumah itu saat nona Kania mendapatkan tamparan dari nyonya Sinta dan tuan Setyo Hadi, itupun bukan kesalahan nona Kania, nona Deby merebut boneka nona Kania yang di beri oleh tetangga, Boneka itu memang mahal dan nyonya Sinta menuduh nona Kania mencuri boneka milik nona Deby..." kata bik Monah menceritakan tentang Kania.
"Ya Tuhan mas....kau lebih membela gadis pungut itu dari pada putri sendiri .." seru nyonya Sinta marah.
"Iya, iya aku salah Sin... aku memang Papa yang bodoh, aku tidak menyangka kejadian itu yang di alami Kania..." sesal Setyo Hadi.
"Kau memang keterlaluan Yo... putri sendiri menderita di dekatmu kau tak tahu itu, malahan kau menambahinya .." geram tuan Rehan pada sang adik.
"Kak semuanya sudah ada bukti kalau dia berbuat sangat kejam , kita harus menangkap dia secepatnya kak...?" kata tuan Sindu ikut marah mendengar semua cerita tentang Kania dan sang Mama.
"kita tidak menangkap pun dia akan masuk penjara paman..." kata Bara tenang.
"apa maksudmu Bara..." tanya Sindu pada Bara dan semua orang menatap Bara kecuali Kania dan sang Papa.
"Deby sudah masuk penjara gara- gara berusaha membunuh kembali Kania di tempat Syuting film. dia menyuruh 4 orang pembunuh menyerang Kania..." jawab Bara tenang.
"Dan banyak saksi yang melihat kejadian itu termasuk saya sendiri.. " lanjut Bara.
"Apaaa..." teriak mereka bersamaan.
"Nia...kau nggak apa- apa kan sayang.. seru Sinta sambil meneliti sang putri.
"Nia nggak apa- apa kok Ma..." jawab Kania menenangkan sang Mama.
"Para penjahat itu kiriman dari si Wanita iblis itu..." kata Setyo Hadi pelan.
"Jadi kau juga tahu semua itu..." teriak Sinta marah.
"Aku tahu setelah dia meminta tolong untuk mengeluarkan Deby dari kantor Polusi...." jawab Setyo Hadi.
"Dan kau mengeluarkan anak itu...?" tanya Sinta marah.
"Mana mungkin aku mengeluarkannya, malah sebenarnya aku ingin mencekik wanita iblis itu tapi kak Rehan dan dek Sindu menyuruhku menahan diri demi menemukan keberadaanmu..." Kata Setyo Hadi dengan wajah memelas menatap sang istri.
__ADS_1
"Wanita iblis..., ?bukankah wanita itu juga yang hidup bersamamu selama ini...?" kata Sinta sinis.
"Aku fikir dia itu dirimu Ma..." jawab Setyo Hadi cepat. Sinta hanya mencibir kesal mendengar protes suaminya.
"Ya ampuun...kok nggak kapok- kapoknya dua orang itu, sudah beberapa kali gagal masih saja ngelakuin..." kata Hardika jengkel.
"Untung yang dia lawan Kania kita, seandainya gadis lain sudah sejak dulu mereka tiada..." jawab Kristal putri tuan Rehan.
"Maksud kalian apa...?" tanya Sinta tak mengerti.
"Tante...putri tante itu bukan wanita sembarangan, kami berdua aja nggak bisa ngalahin dia, jangankan cuma 4 orang, kalau dia sudah bersama kedua pengawalnya 10 orang pun mereka lalap bik..." kata Viktor bangga pada saudaranya yang cntik itu.
"Apa Benar itu ...?" tanya Sinta kaget. dan di anggukin Viktor.
"Ma...jangan percaya Viktor Ma... emang makanan di lalap..." kata Kania menyela pembicaraan mereka. sedang Bara tersenyum bangga menatap Kania. sang Mama hanya bisa menatap putrinya takjum.
"Bunda...." seru Kinan tiba- tiba. dia turun dari pangkuan Bara dan berjalan kearah Kania.
"Sayang..." kata Kania sambil mengangkat Kinan dan di taruh di atas pangkuannya.
"Lo dia putra kalian ....?"tanya Sinta ketika mendengar Kinan memanggil Kania Bunda.
"Dia cinta pertama Kania, sebelum mencintai Papanya Ma..." jawab Kania sambil mencium pipi Kinan.
"Waah...kalau begitu dia juga cucu Mama dong... sayang...maukah ikut nenek...?" tanya Sinta sambil memandang Kinan dengan wajah senang. namun Kinan yang tak mudah dekat dengan orang lain mempererat pelukannya.
"Maaf Ma...dia memang tak mudah dekat dengan orang lain..." kata Kania.
"Tapi lihatlah dia begitu lekat denganmu..?" kata nyonya Sinta yang melihat Kinan menempel kayak prangko pada Kania.
"Sejak pertamakali ketemu Kania dia memang seperti ini Ma..." jawab Kania.
"Dia sudah tahu kalau Kania bakal jadi Mamanya tante...." goda Viktor. mereka semua tertawa mendengar candaan Viktor.
"Sin..kau mau pulang denganku kan...?"tiba - tiba terdengar suara Setyo Hadi .
"tidak...aku tidak akan pulang kerumahmu mas..." tolak Sinta.
"Lalu kau akan tinggal di mana...?" tanya Setyo Hadi lagi.
"Aku akan mencari kontrakan..." jawabnya datar.
Mendengar itu Kania mendekati Bara.
"Pa...apa boleh Mama tinggal di apartemen Kania...?" tanya Kania perlahan pada Bara.
"Boleh... biarkan Mama tinggal di sana bersama Bimo..." jawab Bara.
"Gimana dengan perusahaan...?" tanya Kania nggak enak.
"Apartemen itu atas namamu sayang..." jawab Bara. Kania tersupu ketika Bara mengelus rambutnya dengan mesra di depan keluarganya. Sedang nyonya Sinta sangat bahagia melihat Bara yang terlihat sangat mencintai Kania.
"Ma...lebih baik Mama tinggal di apartemen Kania saja Ma... di sana Mama bisa tinggal dengan Kania dan Bimo, dan Mama juga bisa di jaga oleh kedua pengawal Kania..." kata Kania pada sang Mama .
"Benar Kata Nia Ma.... Mama Bisa tinggal di Apartemen Kania, di sana ada dua kamar yang bisa di tinggali Mama dan Bimo..." Kata Bara menyela.
"Baiklah Mama setuju usulanmu Nia..." jawab sang Mama.
"Tapi Kania...." Setyo Hadi ingin memorotes ide Kania.
"Pa...biarkan Mama tinggal di rumah Nia sampai persoalan Papa dengan wanita itu selesai. kalau Papa pingin lebih cepat berkumpul dengan Mama dan Kania, maka Papa harus menyelesaikan persoalan Papa dengan wanita itu.." ucap Kania pada sang papa yang terlihat tak rela sang istri ikut putrinya.
"Benar kata- kata Nia Yo.. sekarang istrimu sudah di sini , kau sudah bisa menyelesaikan masalahmu dengan wanita itu.." kata sang Papa.
"Apa perlu aku yang bertindak Kak..?" tanya Sindu.
"Nggak usah Dek... aku yang akan menyelesaikan semuanya. dia telah membuang istriku jauh dariku dan sekarang akulah yang akan membuang dia jauh dari keramaian Kota bersama putri kesayangannya...."kata Setyo Hadi dengan marah.
"Baguslah kalau begitu..." kata Rehan yang masih terlihat marah pada Setyo Hadi karena mendengar kisah Sinta dan Kania. Karena sudah siang mereka segera maka. siang bersama di rumah kakek Herlambang.
Sore harinya Kania membawa sang Mama dan Bimo ke Apartemennya bersama Bara. Setelah mengantarkan sang Mama keApartemen , Kania pamit untuk pulang kerumahnya Bara karena sudah berjanji dengan Kinan untuk tunggal sementara di rumah Bara. Kania berjanji akan menyuruh Keti dan Arum untuk menemani sang Bunda.
Maaf...segini dulu ceritanya, besok gue sambung lagi ye....jangan lupa like dan komennya selalu gue tunggu. maaf kalau ada tiponya.
__ADS_1
Bersambung