
Sudah hampir satu bulan saat Setyo Hadi mengusir kepergian Pingki dari rumahnya. Setelah kejadian itu kehidupan Kania dapat di katakan cukup tenang. Hanya ada sedikit masalah yaitu sang Mama masih belum mau memaafkan Papanya. Namun Setyo Hadi tak putus harapan , karena memang sudah salah dia yang mudah di tipu oleh wanita iblis itu. Sedang kehidupan Pingki sangatlah menyedihkan, dia di bawah oleh Bondan kedaerahnya di sebuah desa terpencil yang terletak cukup jauh dari kota. Dia seorang tuan tanah yang sangat kikir dan kejam namun Kaya. Tapi kehidupan yang Pingki dapatkan sangatlah menderita, dia menjadi salah satu isti Bondan yang terkenal dengan sifat playboy nya dia juga terkenal dengan maniak *** nya.
Sedang Kania selain tinggal bersama sang Bunda dia juga tinggal di rumah Bara demi Kinan, terkadang dia membawa Kinan ke apartemen tinggal bersama sang Bunda. Namun kesibukan Dia menyelesaikan syuting Putri Fang Yun yang hampir rampung juga membuat dia jarang bertemu dengan Kinan ataupun Bara. Karena setiap dia pulang malam dia akan pulang ke apartemennya .
Seperti saat ini setelah melakukan adegan perkelahian melawan beberapa orang ,Kania merasa kelelahan, mulai dini hari tadi hingga jam 11 malam syuting baru berakhir . Keti Arum dan Amanda yang melihat kelelahan di wajah Kania hanya bisa membantu dengan memijit pelan pundak atau kepala Kania saat istirahat untuk mengurangi kelelahannya.
"Bos kita pulang ke apartemen...?" tanya Keti. Setelah mengantar Amanda pulang
Kerumahnya.
"Iya kita pulang ke apartemen aja, nggak enak mengganggu mereka orang- orang di rumah Bos Bara yang sudah istirahat..." jawab Kania.
"Lagian gue pingin ketemu sama Mama..." lanjut Kania.
"Okey...kita pulang ke apartemen..." kata Keti sambil mengarahkan mobil menuju apartemen. Ketika sampai di apartemen dia melihat sang Mama belum tidur.
"Assalamualaikum Ma..." sapa Kania mengucap salam.
"Waalaikum salam sayang... Kau baru pulang nak...?" tanya sang Mama sambil
Mencium dahi Kania setelah Kania selesai mencium tangannya.
"iya Mama...Mama kok belum tidur Ma...?" tanya Kania lembut.
"Belum sayang, Mama menunggu kedatanganmu..." jawab Sinta .
Mereka berjalan masuk kedalam kamar Kania bersama.
"Mama...mama nggak usah nunggu Kania, gimana kalau kania tadi pulang kerumah Kinan...?" kata Kania pada sang Mama.
"Apakah kau sejak dulu sering tinggal di sana nak...?" tanya sang Mama. Kania tahu kekawatiran seorang ibu pada anak gadis yang tidur di rumah seorang pria. tapi apalah daya Kania, jika dia melakukan itu dia kasihan pada Kinan yang sudah tergantung pada Kania.
"Jangan takut Ma... Kania masih bisa menjaga diri Kania kok Ma... semua itu Kania lakukan semata- mata hanya demi si kecil Kinan Ma... Dia sedih dan bingung kalau Kania lama tak kesana ,.Semua itu gara- gara Kania pernah tinggal disana selama hampir dua bulan lebih, tapi itu karena Kania terluka saat Kania menolong Kinan Ma..." jawab Kania sambil duduk di pembaringan di dalam kamarnya.
"kau terluka...? Kenapa..?" tanya Sinta kaget dan heran.
"Ceritanya panjang Ma..." akhirnya Kania menceritakan saat di mana dia mulai menolong Kinan dari penculikan hingga akhirnya dia terluka tembak hingga dia harus dirawat selama dua bulan, tapi karena Kania tak betah di rumah sakit, akhirnya Bara memaksa Kania tinggal dirumahnya. karena Kania harus istirahat total. dan Kania tak busa membantah karena Bara adalah Bos Besar di perusahaan tempat Kania kerja.
"Nak... Apakah mang Asep sepandai itu hingga kamu memiliki ilmu bela diri...?" tanya sang Mama heran. setahu Sinta mang Asep tidak memiliki ilmu beladiri.
"Kalau soal ilmu beladiri Nia dapatkan bukan dari Paman Asep Ma... Itu Kania miliki pertama kali Kania dapat dari paman Herman teman paman Asep yang menolong kami mencarikan rumah pada saat pertama kali kami datang di kota B... Lalu dari bang Jonet kepala preman kota B yang menganggap Kania bagai anak sendiri karena Kania menolong Putranya. Dan dari banyak perguruan beladiri di kota B Ma..." kata Kania menjelaskan .
"Ya ampun nak.... Di dalam kesusahanmu kau mendapatkan keberuntungan Nia..." puji sang Mama.
"Mungkin Tuhan kasihan sama Nia Ma.. Atau mungkin Mama dulu orang yang baik hingga Tuhan memberi balasannya pada putri Mama yang teraniaya..." kata Kania sambil tersenyum.
"Entahlah nak... Intinya di dalam kemalanganmu Tuhan memberikan kebaikan yang berlimpah padamu, kau masih mendapatkan kasih sayang yang berlimpah walaupun bukan dari kedua orang tuamu..." kata sang Mama.
"Benar Ma... Itu menjadi suatu pelajaran buat kita ... Di dalam suatu masalah atau kejadian yang menimpa kita , mungkin itu cobaan yang di berikan Tuhan untuk menguji Iman kita, agar kita bisa menjadi manusia yang lebih kuat di dalam menghadapi hidup ini Ma.."kata Kania lembut.
"Benar sayang... Mama bangga padamu nak.. " kata sang Mama sambil memeluk dan mencium dahi Kania.
"Ya sudah sekarang kau tidurlah, malam sudah semakin larut kau besok masih syuting kan..?" kata sang Mama lagi.
"Iya Ma.. tapi Kania mau mandi dan solat dulu, tadi Kania belum solat isya . Mama tidur aja dulu..." kata Kania.
"Baiklah sayang, Mama tinggal dulu ya.." jawab sang Mama sambil berdiri .
"Mama nggak tidur sama Nia Ma...?" tanya Nia.
"Nggak usah... Mama masih belum mematikan lampu dan memeriksa dapur Nia..." jawab Sinta sambil mengusap kepala Kania sayang.
"Baik Ma.." kata Kania sambil berdiri.
"Ya udah Mama tinggal dulu, selamat malam sayang..." kata sang Mama sambil mencium dahi Kania.
"Malam Ma..." jawab Kania. Sinta pun segera meninggalkan kamar sang putri dengan wajah bahagia. Dia tak menyangka kalau dia masih di beri kesempatan bertemu dengan putrinya. Sinta memang tidur di kamar sebelah dan ruang yang semula di jadikan ruang kerja atau ruang baca kini di jadikan kamar tidur buat Bimo. Kini Bimo sudah sekolah di SMP favorit di kota J. Untung Bimo anak yang cerdas , dengan susah paya dia mengejar ketinggalan pelajarannya . melihat usaha Bimo Kania memanggilkan guru privat yang datang dua hari sekali ke apartemen untuk memberi les privat buat Bimo.
Kania segera pergi kekamar mandi untuk segera mandi. Setelah mandi dan solat Kania segera naik ke tempat tidur karena seluruh tubuhnya sudah terasa lelah. Tak berapa lama dia sudah terlihat terlelap dalam tidurnya.
Keesokan Harinya saat Adzan subuh berkumandang Kania terbangun dari tidurnya. Setelah mandi dan solat dia segera keluar menuju Balkon dengan memakai pakaian olah raga. Memang selama ini Kania tidak pernah malas untuk melatih ilmu beladiri nya. Terkadang dia ditemani oleh kedua pengawalnya. Setelah hampir dua jam dia berada di balkon dia menyudahi latihannya. Setelah itu Dia kembali masuk kekamarnya. Setelah mandi dan mengganti baju dia segera keluar menuju dapur. Terlihat sang Mama sedang memasak di bantu Bimo.
"Pagi Ma..." sapa Kania sambil memeluk dan mencium pipi sang Mama.
"Pagi sayang... " jawab sang Mama.
"Bim...kau membantu Mama masak...?" tanya Kania.
"He he Iya kak... "Jawab Bimo cengengesan.
"Kau itu cowok Bim...seharusnya kakak yang membantu Mama..maaf ya Ma..." kata Kania.
"Nggak masalah, mama malah lebih suka kalau kalian mengerjakan pekerjaan lain dari pada membantu mama, ini sudah biasa buat Mama..." jawab Sinta lembut.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kau nggak ikut kakak latihan di balkon aja..bagus kan kalau kau bisa beladiri, kau bisa menjaga dirimu sendiri..." kata Kania.
"Benar juga perkataan kakakmu Bim... Kau juga bisa menjaga dirimu sendiri dari orang yang akan mengganggumu.." Kata sang Mama.
"Apa Boleh Bimo ikut latihan dengan Kak Nia...?" tanya Bimo.
"Ya elah Bim... Bukankah sekarang kakak yang ngajak elo...ya ampun nich anak... Santai aja kali Bim sama kakak..." kata Kania mengajak Bima lebih dekat dengannya. Karena melihat Bimo masih takut dan sungkan padanya.
"Baiklah Bimo akan ikut latihan sama kakak kalau kakak dan Ibu sudah mengijinkan..." jawabnya sambil tersenyum.
"Hey..hey tuan ganteng...coba elo ganti panggilan elo ama yak gue dengan sebutan Mama juga..." kata Kania mengajak Bimo berucap elo gue. Dia pingin Bimo santai menghadapinya.
"Baik ,Mama..." jawab Bimo . Kania dan Sinta tertawa mendengar Bimo yang megucap kata Mama dengan kaku.
"Nach gitu...itu baru adek gue..." kata Kania sambil tertawa.
"Udah, udah ayo kita makan sama- sama, bukankah sebentar lagi kalian pada pergi, Nia coba kau panggil pengawalmu, kita makan sama- sama.." kata Sinta.
Sinta tahu Kania memiliki ppengawal pribadi.
"Baik Ma.." Kania segera menelfon Arum dan Keti. Sedang Bimo pergi kekamarnya untuk mengganti bajunya dengan baju seragam sekolah. Tak berapa lama Keti dan Arum sudah datang, mereka segera berjalan menuju meja makan .
"Bim...kau sudah selesai dek..." teriak Kania.
"Iya kak sebentar..." jawab Bimo dari dalam kamarnya yang memang tidak terlalu jauh dari ruang makan. Tak berapa lama terlihat dia datang sudah berpakaian lengkap baju putih biru.
Merekapun segera memulai sarapan pagi nasi goreng dengan telor ceplok dan ayam goreng.
"Rum Keti kenapa kalian nggak latihan..? Perasaan beberapa hari ini kalian malas ya...?" tanya Kania di sela makannya.
"Maaf Bos...Kami kelelahan jadi tidur sampai siang..." jawab Keti.
"Jadi kalian nggak solat shubuh...?" tanya Kania.
"He he..solat Bos...habis solat tidur lagi.." jawab Arum cengengesan.
"Dasar pemalas...." umpat Kania.
"He he he...maaf Bos..." jawab Keti.
" Tolong mulai sekarang kalau kalian mempunyai waktu senggang bantu gue ngelatih si Bimo beladiri. Biar ntu badan tambah bagus..." kata Kania sambil menunjuk Bimo dengan dagunya. Emang tubuh Bimo terlihat tinggi dan bagus. Mungkin karena di kampung dia bekerja keras untuk mencari makan bersama Sinta.
"Baik Bos... Emang tubuh si Bimo bagus dan sehat, kalau dia mulai sekarang rajin olah raga , kelak pasti tubuhnya akan terlihat bagus.." jawab Arum.
"Iya kak...Bimo akan berlatih giat...?" jawab Bimo mantap.
"Kalau begitu kita mulai belajar besok pagi...." kata Kania lagi.
"Siap Bos...." Jawab Arum dan Keti hampir bersamaan .
"Baik Kak...." Jawab Bimo semangat
Nyonya Sinta hanya tersenyum bahagia melihat mereka berempat. Namun hatinya lebih bahagia melihat gadis cantiknya tumbuh dengan baik, dia harus lebih bersyukur pada Tuhan karena mendapatkan anak seperti Kania. Dan dia harus mengucapkan banyak trimakasih pada bik Monah dan mang Asep yang telah mendidik Kania hingga menjadi anak yang seperti ini.
"Nia...kapan- kapan bawalah Bik Monah dan Mang Asep kemari nak..." kata sang Mama.
"Apa nggak lebih baik kita menengok bik Monah dan paman Asep kerumah Kakek Ma...sekalian kita menjenguk kakek..." jawab Kania.
"Lo mang Asep apa ada di rumah kakek Herlambang...?" tanya Sinta heran.
"Iya Ma...mereka di minta menemani kakek Herlambang, sedang rumah dan restoran di berikan pada putra bik Monah Ma..." kata Kania menjelaskan.
"Oo...syukurlah kalau gitu, jadi Kakek Herlambang punya teman.." kata Sinta lagi.
"Lalu Mama kapan kerumah orang tua Mama..?" tanya Kania.
"Entahlah nak....Mama masih takut bertemu mereka, Mama takut mereka syok ketika tahu kejadian yang menimpa Mama..." jawab Sinta dengan nada sedih.
"Tapi Mama tetap harus menemui mereka Ma... mereka adalah kedua orang tua Mama...?" kata Kania pada Sinta.
"Benar kata Bos Nia nyonya... nyonya Sinta harus menemui kedua orang tua nyonya. mereka harus tahu kebenarannya..." kata Arum menambahkan.
"Baiklah kita akan pergi kerumah kakek dan nenekmu saat kau mempunyai waktu luang Nak..." jawab nyonya Sinta.
"Nach gitu dong Ma, kita akan pergi bersama- sama sekalian liburan, Papa boleh ikut juga kan Ma...?" tanya Kania hati- hati.
"Nggak ...Mama nggak mau pria bodoh itu ikut kita..." jawab nyonya Sinta dengan nada kesal.
"Ma... kasihan Papa , bukankah dia sudah minta maaf pada Mama, lagian bukan salah dia seluruhnya kan ma..." bujuk Kania.
" Sudah, sudah hari sudah siang, apa kalian nggak berangkat ..?" kata nyonya Sinta mengalihkan pembicaraan.
"Iya, iya kami berangkat.. tapi Mama harus memikirkan omongan Nia ya... ya udah Nia pamit dulu Asalamualaikum.." pamit Kania sambil mencium tangan dan pipi nyonya Sinta.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam hati- hati di jalan..." jawab nyonya Sinta. mereka segera berangkat meninggalkan apartemen Nia.
Sementara ini Kania akan mengantar dulu Bimo kesekolahannya. sedang kepulangannya nanti Keti yang akan menjemput selama dia belum tahu jalan menuju dan pulang sekolah. setelah mengantar Bimo Keti segera membawa mobilnya menuju lokasi syuting sebab Rika dan Amanda suda berada di sana. pengambilan adegan tinggal beberapa hari lagi. karena itu Kania lebih sering berada di lokasi syuting dari pada di rumah atau di kantor Rika. Ketika sampai di lokasi syuting terlihat kak Rika dan Amanda telah menunggu di depan mobilnya.
"Pagi kak...?" kata Kania menyapa.
"Pagi Nia... " jawab Rika sambil tersenyum.
"Hay cantik apa kabar...? kok sekarang wajahmu selalu berseri- seri, aku jadi curiga nich..." goda Kania pada Amanda.
"Ih kak Nia... emang wajah ku biasanya cemberut gitu...?" jawab Amanda sambil manyun.
"Nach ini.. lihat wajahnya manyun kan...?" seru Kania menggoda .
"Kak Nia....!" seru Amanda jengkel. dan akhirnya semua tertawa melihat wajah Amanda yang sebal.
Mereka segera berjalan kearah tempat di mana para pemain film berganti kostum.
Ketika sampai di sana Kania bertemu Farel yang sudah memakai kostum pangeran Minggyun.
"Hey putri Fang Yun, apa Kabar...?" sapa Farel.
"Waah pangeran Minggyun pagi ini terlihat tampan sekali..." goda Kania.
"Yaah..kenapa putri Fang Yun baru tahu gue tampan ya...andai sejak dulu dia merasa gue itu tampan pasti dia sudah menerima cinta gue..." goda Farel yang membuat orang yang mendengar omongannya melongo.
"Fareeel.....ngomong apa sich...elo minta gue jitak apa gue tendang..." seru Kania jengkel.
"kagak..gue minta cium aja kalik..." jawabnya enteng.
"Dasar pembuat onar...lo mau gue tabok ha....!" seru Kania kembali.
"kagak sayang... udah sono elo ganti kostum , ntar kak Seto Aji marah ha ha.." kata Farel tertawa senang sambil berjalan meninggalkan Kania bersama Asisten pribadinya dan menejernya, juga para pemain yang tadi jalan bersamanya.
"Dasar pembuat onar..." omel Kania sambil berjalan ketempat para artis ganti kostum.
"Kak Nia...kakak emang udah lama ya kenal kak Farel..?" tanya Amanda.
"Dia sahabat gue saat gue masih SMA .." jawab Kania.
"Jadi kakak udah lama kenal kak Farel..?" tanya Amanda lagi.
"Lumayan...tapi kemudian dia pergi keluar Negri dan baru sekarang kami bertemu lagi.." jawab Kania.
"Waah kisa yang asyik tu..jangan- jangan kalian saling cinta...karena kulihat kak Farel sepertinya cinta tu pada kakak..." kata Amanda polos.
"Manda....jangan ngomong sembarangan, kau tahu kak Nia kan..?" kata Arum memperingatkan.
"Eh iya maaf Amanda lupa kak..." jawab Amanda ketakutan.
"Emang kenapa Nda..." tanya Rika heran melihat tingkah Amanda.
"Nggak ada kak, cuma amanda takut ada yang mendengar lalu jadi gosip..." jawab Amanda beralasan.
"Benar juga apa katamu Nda... jika omonganmu tadi terdengar orang lain , pasti akan menjadi masalah.." kata Rika lagi.
"Benarkan...? untung tadi Arum mengingatkan..." jawab Amanda sambil tersenyum.
'Maaf kak Rika aku berbohong padamu. semua itu kulakukan demi janjiku pada kak Nia...kamu nggak akan percaya kalau wanita di adapanmu adalah calon nyonya pemilik perusahaan..." batin Amanda merasa bersalah pada Rika.
Setelah smpai ditempat ganti baju Kania segera mengganti bajunya dengan kostum putri Fang Yun. setelah di rias penampilannya dia segera keluar menuju tempat lokasi bersama para temannya. tak lama pengambilan adegan di mulai. adegan di mulai dengan putri Fang Yun yang di bantu pangeran Minggyun mengambil alih kerajaannya dari tangan musuh yang telah menewaskan Ayah dan bundanya.
****
Di tepat lain seorang wanita sedang mendapatkan tamparan dari wanita lain.
"Apa yang sedang kamu lakukan ha...?" teriak wanita yang terlihat marah Karena salah satu bajunya rusak karena kena setrika.
"Maaf kak... aku tadi lupa mematikan setrikaan saat kakak tadi memanggilku..." jawab wanita yang kena tampar.
"Alasan...kau sengaja karena kau iri melihatku di belikan baju baru kan..?" kata wanita itu dengan sinis.
"Tidak kak... aku benar- benar lupa mematikan setrikaan kak..." jawab wanita itu ketakutan .
Plaak...
"Sekali lagi kau lakukan itu , kubunuh kau.." teriak wanita itu dengan marah.
"Sekarang kau masih ku ampuni, jika kau lakukan lagi mati kau...sudah pergi sana , muak aku melihat tampangmu yang sok cantik itu..." kata Wanita itu.
"Baik kak..." wanita itu segera pergi kembali ke dapur. saat itu dia menjadi tontonan beberapa wanita yang merias wajahnya dengan tebal. Dia Pingki si Sinta palsu yang kini hidupnya menderita di tangan seorang Bondan , pria yang mempunyai banyak istri. sedang yang tadi menampar Pingki adalah Istri pertama Bondan yang terkenal dengan kegalakannya. Pingki dan beberapa wanita lain menjadi istri Bondan merangkap sebagai pembantu. Jangankan kehidupan mewah seperti ketika dia hidup bersama Setyo Hadi. kehidupan sederhanapun tak bisa ia dapatkan. dia kini hanya bisa kerja dan makan yang hanya dia dapatkan saat dia selesai melakukan tugas beratnya. Semua penderitaan Sinta kini dia dapatkan juga.
Udah dulu ya...gue sambung besok, jangan lupa like dan komennya.
__ADS_1
Bersambung.