Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
MALAM PERTAMA.


__ADS_3

Setelah selesai makan malam bersama, Kania dan Bara berpamitan masuk kedalam Kamar. Mereka merasa sangat kelelahan. Ketika sampai di dalam Kamar Kania mengajak Bara untuk solat isya berjamaah. Setelah solat mereka duduk bersama di atas ranjang.


"Pa...Bunda mau ngomong sesuatu..." kata Kania perlahan. ada rasa takut di dalam ucapan Kania.


Bara segera menatap sang istri yang kini sedang menunduk. Perlahan Bara mengangkat wajah Kania.


"Ada apa Bun ...?" tanya Bara perlahan.


"Pa...Boleh nggak Bunda meminum obat pencegah kehamilan...?" tanya Kania sambil menatap takut mata sang suami.


Bara terkejut mendengar omongan Kania.


"Kenapa Bunda mau meminum obat itu..?" tanya Bara sambil menatap mata Kania yang terlihat takut.


"Bunda ingin mencegah kehamilan dulu selama kita belum memberitahukan publik kalau kita sudah menikah. Itu cuma nggak sampai satu tahun aja kok Pa... Setelah itu kita akan memikirkan memberi Kinan adik..." jawab Kania dengan perasaan takut. Bara kaget mendengar alasan Kania. Sebenarnya Bara sudah berniat akan memegang janjinya tak akan meminta hak sebagai suami selama Kania belum mengijinkan itu. Tapi kenapa sekarang Kania berkata seperti itu... Apakah maksud dari Kania, bukankah dengan meminum pil pencegah kehamilan , dia boleh meminta hak nya..


"Maksud Mama gimana...?" tanya Bara mempertegas maksud ucapan Kania.


"Maksud Bunda , Bunda akan meminum obat kontrasepsi pencegah kehamilan selama satu tahun aja, setelah itu kita akan mulai membuat program untuk adik Kinan ...." jawab Kania dengan perasaan malu dan takut.


"Kalau begitu Papa boleh dong meminta hak Papa...?" tanya Bara gembira.


Kania hanya mengangguk kepala dengan perasaan semakin malu. Terlihat wajahnya memerah.


"Trimakasih Bunda... Boleh kok... Papa setuju dengan keinginan Bunda agar kita tidak miliki anak lebih dulu, tapi Bunda janji setelah itu Bunda harus melepasnya karena Papa menginginkan anak yang lahir dari perut Bunda..." jawab Bara dengan gembira.


"Trimakasih Pa... Papa mau mengerti Bunda.." kata Kania yang kini sudah memeluk Bara.


"Bun...kenapa Bunda bisa berfikir seperti itu..?darimana Bunda memiliki fikiran terhadap obat pencegah kehamilan...? bukankah Papa sudah berjanji pada Bunda tidak akan meminta hak Papa pada Bunda ...?" tanya Bara sambil tersenyum .


"Bunda merasa berdosa pada Papa , karena sudah kewajiban Bunda sebagai istri papa yang sah untuk melayani segala kebutuhan Papa. Bunda nggak ingin egois. Papa sudah menuruti keinginan Bunda agar tidak merayakan pernikahan kita , menuruti Bunda agar pernikahan kita tidak di ketahui umum dulu, masak sekarang Bunda juga mencegah Papa meminta hak Papa pada Bunda..." jawab Kania.


Mendengar perkataan Kania , Bara semakin memeluk erat sang istri.


"Trimakasih Bunda... Kau memang istri terbaik buat Papa..." kata Bara dengan lembut. Dia mencium lembut dahi Kania. Perlahan dia menjauhkan wajah Kania dari dekapannya.


"Apakah sekarang Bunda sudah memiliki obat itu...?" tanya Bara sambil menatap Kania dengan wajah menggoda.


"Susah Pa... Kania sudah membeli saat Kania sempat ke kota bersama Mama satu minggu yang lalu..." jawab Kania dengan perasaan malu.


"Lalu sekarang Bunda sudah meminumnya...?" tanya Bara lagi.


"Belum..." jawab Kania semakin malu.


"Kok belum sich...." kata Bara cemberut.


"Bunda kan baru minta ijin Papa...?" jawab Kania. Bara sangat bangga pada Kania yang mau meminta ijin dulu untuk meminum obat pencegah kehamilan itu.


"Sifat Bunda yang jujur inilah yang membuat Papa semakin mencintai Bunda , Lalu Bunda taruh mana pil itu, biar Papa ambilkan...?" tanya Bara denga. antusias.


"Biar Bunda ambil sendiri..." jawab Kania sambil ingin beranjak dari pembaringan.


"Jangan...biar Papa yang ambilkan, mama di sini aja. di mana obat itu...?" tanya Bara sambil beranjak dari pembaringan.


"Di laci tengah meja rias itu Pa..." jawab Kania . Bara segera berjalan kearah laci yang di maksud Kania dan membukanya. Di sana dia melihat botol obat. Setelah mengambil satu dia kembali menaruh obat itu. Ia memberikan pada Kania dan segelas air yang ada di atas nakas samping pembaringan. Kania segera meminumnya. Setelah menaruh gelas air bekas Kania minum di atas nakas kembali , Bara segera duduk di atas pembaringan. Dia membawa Kania dalam pelukan nya.


"Trimakasih Bunda...Bunda mengerti Papa.." kata - kata Bara membuat Kania tersenyum.


"Sama- sama Pa... Maaf jika Bunda egois..." kata Kania perlahan.


"Nggak sayang... Papa mengerti Bunda.." jawab Bara. Bara menjauhkan wajah sang istri sedikit lalu menatap wajah cantik Kania.


Perlahan dia menundukkan wajahnya dan ******* lembut bibir merah Kania. Kania membalas ciuman itu dengan lembut pula. ciuman itu semakin lama memanas, begitupun tangan Bara tak lagi bisa diam, dengan perlahan dia mulai membuka kancing baju Kania, kini ciuman Bara mulai berjalan dari mulut turun keleher, dan kini sudah berada di kedua benda kembut di dada Kania. Dan malam itupun menjadi malam yang panjang buat mereka berdua. Di mana kegadisan Kania sudah dia persembahkan buat sang suami tercinta walau dengan merasakan rasa sakit saat pertamakali Kania melakukan perbuatan itu . Bara tahu itu saat Kania menjerit kecil ,Bara ******* bibir Kania untuk mengalihkan rasa sakit yang Kania rasakan. walau perbuatan itu Bara lakukan untuk kedua kalinya, dia bisa membuat Kania lebih santai melakukan malam pertama mereka. Akhirnya meteka mencapai puncak kenikmatan mereka bersama- sama. setelah selesai Bara tidur di samping Kania dan berucap.


"Trimakasih sayang... Kau telah menjaga Kesucianmu dengan baik...." kata Bara sambil memeluk Kania dan mencium bibirnya dengan lembut.


"Itu memang seharusnya aku lakukan Pa...aku memang mempersembahkan semua itu untuk suami tercintaku..?" jawab Kania.


"Sekali lagi trimakasih sayang...." Kini bara yang sudah berada di samping Kania memeluk erat Kania. Dia sangat bahagia malam ini. Gadis yang sangat dia dambakan dan dia cintai kini sudah menjadi miliknya. Namun saat Kania hampir terlelap, tiba- tiba tangan nakal Bara telah kembali menggodanya.


"Pa..." seru Kania kaget, dia memandang Bara dengan gemas.

__ADS_1


"Lagi ya...?" jawab Bara sambil memandang Kania dengan mata menggoda.


"Tapi Pa..." belum juga kalimat Kania berakhir mulutnya telah di bungkam oleh bibir lembut Bara. Isapan- isapan penuh ***** Bara lakukan di bibir Kania, bukan hanya di bibir perbuatan yang di lakukan Bara , namun kembali Bara menghisap dan menciumi seluruh wajah , leher dan kedu benda lembut milik Kania. Hingga tanpa Kania sadari ******* nikmat terucap dari mulut Kania. Hingga akhirnya terjadi kembali penyatuan tubuh mereka malam itu. Bara mengerjai Kania hingga pukul satu dini hari.


Keesokan Harinya Kania terjaga ketika terdengar bunyi adzan terdengar dari ponselnya. Perlahan Kania membuka matanya. Saat matanya terbuka terlihat wajah Bara yang sedang menatapnya.


"Selamat Pagi sayang..." sapa Bara mesra. Dia mencium lembut bibir Kania.


"Pagi Pa...maaf Papa terbangun karena suara adzan tadi ya...?" tanya Kania merasa bersalah.


"Nggak...Papa sudah dari tadi kok bangunnya..." jawab Bara.


"Lo..Papa nggak tidur...?" tanya Kania heran.


"Tidur...tapi karena Papa merasakan kebahagiaan, akhirnya Papa nggak bisa tidur lagi..." jawab Bara dengan wajah gembira.


"Apakah Papa begitu gembira...?" tanya Kania sambil memandang wajah Bara yang terlihat sangat tampan pagi ini.


"Sangat...Papa sangat gembira Bun, apakah Bunda tidak merasakan juga...?" tanya Bara.


"Bunda juga sangat bahagia tapi maaf jika Bunda membuat Papa kecewa karena pernikahan Kita tidak diadakan seperti yang Papa harapkan ...?" Kata Kania lagi.


"Nggak masalah, bukankah kita juga akan merayakan suatu hari nanti sayang...yang terpenting buat Papa sekarang adalah Bunda kini milik Papa seutuhnya, dan mulai dari sekarang Papa tak akan mengijinkan Bunda jauh dari Papa lagi..." kata Bara sambil memeluk Kania.


"Iya Pa... Bunda janji tak akan pernah jauh dari Papa..." jawab Kania.


"Ya udah yuk kita mandi dan solat berjamaah..." kata Kania lagi .


Dia segera melepaskan pelukan sang suami dan segera berdiri. Namun saat dia akan berjalan tiba- tiba tubuhnya melayang.


"Aauuu..." teriak Kania kaget, ternyata Bara telah menggendongnya dari belakang.


"Pa turunin, tubuh Bunda berat lo..." seru Kania berusaha turun dari gendongan Bara.


"Diamlah Bun...kau tak akan bisa berjalan dengan benar , karena pasti kau akan merasakan sakit di areal bawahmu... Sekalian kita Mandi bersama ..." kata Bara. Kaniapun menurut perkataan Bara.


Namun yang di katakan mandi bersama bukanlah mandi langsung selesai. Tapi dasar Bara dengan kecerdikannya dia kembali mengajak Kania untuk penyatuan kembali. Dan akhirnya solat subuhpun hampir saja kesiangan.


"Bun...kita jalan - jalan dulu yuk sebelum pulang...?" ajak Bara.


"Ayo...kita nikmati udara pagi yang sejuk ini..." jawab Kania.


Mereka berjalan berdua dengan tangan Bara yang selalu menggandeng tangan Kania.


"Pa....rasanya Kania pingin punya ramah di perkebunan teh seperti ini saat kita tua nanti..." Kata Kania sambil berhenti dan memandang kebun teh yang sangat luas itu.


"Kita juga punya rumah di puncak, tapi di kota B..." jawab Bara sambil memeluk pinggang Kania dari belakang, mereka berdiri menatap hamparan pohon teh sambil berpelukan. Udara dingin di puncak membuat mereka memakai baju hangat. dan saling menghangatkan diri.


"Benarkah....? Apa kita bisa berlibur kesana jika ada liburan Pa...?" tanya Kania .


"Bisa...kita akan melakukan itu kalau kita mempunyai waktu senggang lagi. Bukankah sebentar lagi kau mulai sibuk dengan promosi film mu..."kata Bara sambil menaruh kepalanya di bahu Kania.


"Bunda tahu... Bagaimana kalau setelah selesai promo film Putri Fang Yun kita pergi kesana bersama Kinan juga...?" kata Kania memberi usulan.


"Boleh juga...tapi apakah Bunda tak ingin Kita pergi bulan madu sayang...?" tanya Bara sambil membererat pelukan nya. Kania yang sedang bersandar di dada bidang Bara sambil melihat hamparan kebun teh tertegun. Dia segera membalikkan badannya menatap sang suami.


"Haruskah...?" tanya Kania.


"Apakah kau tidak ingin...?" tanya Bara.


"Bertiga...?" tanya Kania lagi.


"Cup...namanya bulan madu ya hanya berdua saja Bunda..." jawab Bara dengan gemas sambil mengecup bibir Kania sekilas.


"Ck..Papa..ini di muka umum Pa... gimana kalau ada orang...?" kata Kania sambil lihat Kanan kiri.


"Kau ini... Kau tahu ,wajahmu kalau seperti itu menggemaskan Bunda... Membuat Papa pingin makan Bunda..." kata Bara gemas.


"Yee...dasar otak mesum..." kata Kania sambil mencubit hidung Bara perlahan.


Bara hanya tertawa mendengar perkataan sang istri.

__ADS_1


"Gimana mau bulan madu ...?" tanya Bara kembali.


"Bunda nggak tega ninggalin Kinan Pa... Bunda takut terjadi sesuatu pada Kinan ..." jawab Kania.


"Kita akan menitipkannya pada Mama dan Papa sayang...?" jawab Bara .


"Baiklah tapi jangan sekarang ya Pa... Bunda masih banyak pekerjaan dan Bunda masih tak ingin jauh dari Kinan..." jawab Kania sambil menatap sang suami dengan manja.


"Baiklah...apapun kata ratuku, hamba siap melaksanakannya..." kata Bara dengan senyum menawan.


"Ck..Papa.. jangan tersenyum seperti ini ah..." seru Kania tiba- tiba.


"Emang Kenapa...?" tanya Bata heran.


"Nanti banyak wanita yang tergika- gila pada Papa, dan itu membuat Bunda nggak suka..." jawab Kania sambil cemberut.


"Hey...kau mulai pandai merayu ya...? dan ini..apakah Bunda cemburu sama Papa..?" tanya Bara kaget mendengar perkataan Kania.


"Iya..Bunda cemburu... Bunda cemburu pada wanita yang terlalu genit pada Papa. lihat saja mereka yang mendapatkan perhatian sedikit dari Papa, mereka sudah menyebar luaskan kalau papa adalah calon suami mereka, apa lagi mendapat senyuman seperti ini...?" kini Kania yang balik menggoda Bara.


"Ck kau ini... sudah mulai berani menggoda Papa ya... ? baiklah Papa tak akan memberikan senyuman Papa kepada wanita lain selain istri tersayang Papa..." kata Bara sambil mencium dahi Kania dengan lembut.


"Janji ya...?" kata Kania manja.


"I promise my wife..." jawab Bara dengan senyuman manisnya.


'Okey...senyuman manis ini hanya untuk ku dan anak- anak kita..." kata Kania dengan mencubit kedua pipi Bara dengan sayang.


"Baik...itu akan aku ingat selalu ...." janji Bara.


"Ayo kita kembali Pa... kita akan segera kembali kekota ...." ajak Kania..


"Baiklah ayo...." kata Bara kemudian berjalan sambil merangkul pundak Kania.


Saat mereka sampai di Minsion kakek Herlambang, mereka telah di tunggu keluarga besar untuk sarapan pagi.


"Kalian dari mana...?" tanya sang Mama.


"Melihat kebun teh Ma..." jawab Kania sambil memeluk dan mencium pipi sang Mama.


"Ya sudah ayo kita makan bersama...." ajak nyonya Sinta pada pasangan pengantin baru itu. Merekapun segera masuk kedalam ruang makan yang kini sudah penuh dengan para saudara dari keluarga Herlambang maupun keluarga Sinta. terlihat sang Papa melambaikan tangannya agar Sinta ,Kania dan Bara bisa duduk di dekatnya. meja panjang dan lebar itu penuh orang. setelah mengambil makanan Buat Bara akhirnya merekapun segera makan bersama.


Setelah selesai makan mereka kembali berkumpul di ruang keluarga.


"Ma..Mama kapan pulang ke apartemen..?" tanya Kania.


"Besok Nia...soalnya adikmu Bimo lusa masuk sekolah..." jawab sang Mama.


"Mama pulang sama Papa atau sama pengawal Kania...?" tanya Kania lagi.


"Biar Mama dan Bimo pulang sama Papa nak, agar Papa tahu apartemen mu.." tiba - tiba Setyo Hadi sudah datang bersama Bara.


"Kalau begitu Arum dan Keti pulang bersama Kania Ma , Pa..." kata Kania


"Iya... bawalah mereka berdua, biar Mama dan Bimo pulang bersama Papa.." jawab sang Papa.


"Baiklah Ma , Kania sekalian mau pamit, karena Kania sudah janji sama Kinan mau pulang sekarang..." ucap Kania .


"Nanti malam Bara juga ada sedikit pekerjaan yang harus Bara tangani Ma , Pa... " tambah Bara.


"Ya sudah, kalau begitu kalian bersiap- siaplah lalu kalian pamit sama Kakek dan nenek Kalian...?" kata Setyo Hadi lembut.


"Baik Pa... kami pamit dulu..." akhirnya Bara dan Kania masuk kedalam kamar mereka untuk bersih- siap pulang.


Kania segera menelfon kedua pengawal nya untuk segera bersiap pulang kekota.


tak berapa lama terlihat mobil Bara dan mobil Kania pergi meninggalkan Minsion milik Kakek Herlambang.


udahan dulu, jangan lupa like dan Vote nya ya....


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2