
Tak terasa hari pun berlalu dengan cepat . Kini hari dimana Kania akan di lamar dan sekaligus bertunangan tinggal dua hari lagi. Bik Monah dan Paman Asep telah di antar kerumah Kakek Herlambang. Saat Bik Monah dan Pak Asep datang , mereka menyambut dengan gembira kedatangan paman dan bik Monah . sedang Restoran terpaksa di pegang oleh anak pertama paman Asep yang datang dari kampung. Mereka sengaja di suruh pindah kota J , Sekalian di minta untuk memegang restoran itu. Karena Paman Asep dan bik Monah akan segera tinggal di mension milik Kakek Herlambang , tapi mereka akan tinggal di sana setelah masalah Kania dengan kedua orang tuanya berakhir.
Seperti pagi ini Kania yang sudah kembali datang kelokasi syuting sedang berbincang dengan Farel mereka mencoba menyesuaikan dialog mereka. Kania yang sudah mulai melakukan adegan sejak dua hari yang lalu kini keadaannya sudah kembali sehat bugar seperti biasanya. Ketika mereka sedang berbincang tiba- tiba datang Deby menghampiri mereka. Dia mendekati Farel yang saat itu sedang berdialog dengan serius bersama Kania.
"Hey Farel apa kabar...?" kata Deby dengan genit.
"Baik..maaf tolong jangan ganggu kami, kami sedang menghafal dialog...." kata Farel tanpa menoleh pada Deby.
"Apa aku mengganggu mu...? Kau lebih baik berlatih bersamaku dari pada dengan artis film dadakan itu.. Bukankah aku lebih senior dari dia....?" kata Deby dengan wajah menggoda.
"Lebih senior...? dengan tingkahmu yang seperti ini dan perbuatanmu yang kejam itu ,apakah mencerminkan seorang senior yang baik...?" kata Farel dengan pedas.
"Apa maksudmu...? Jangan sembarangan ngomong kamu...?" seru Deby marah.
"Sembarangan ngomong...? Apakah kau mencambuk Kania dengan sengaja itu adalah tindakan terpuji...?" kata Farel dengan marah.
"Waah...kau membela dia...? bukankah saat itu aku tidak sengaja memukulnya...?" kata dia dengan congkaknya.
"Semua orang tahu kalau itu kamu sengaja, apa perlu aku menunjukkan buktinya ..?" kata Farel dingin. Seketika Deby terdiam, benar kata Farel kalau saat itu dia dalam keadaan syuting film, yang artinya semua perbuatannya yang di sengaja akan terlihat jelas.
"Aah..masa bodoh... Aku tak perduli dengan semu itu..." seru Deby lalu pergi meninggalkan Farel dan Kania. wajahnya terlihat marah. dia semakin membenci Kania.
"Deby....!" teriak sang menejer Deby dari jauh. Dia melambaikan tangannya dengan wajah cemas. Dan dengan santai Deby mendekatinya.
"Apaan sich ... teriak- teriak seperti itu..malu tahu..." seru Deby marah.
"Deb ini gawat..." seru sang menejer pada Deby. Terlihat sang asisten juga berwajah sedih dan bingung.
"Gawat, gawat,.. Memang ada apaan sich..." tanya Deby dengan wajah kesal.
"Apa kau tidak melihat berita tentangmu di internet...?"kata Menejernya dengan wajah pucat.
"Berita apa...?" tanya Deby tak mengerti.
"Berita tentang skandalmu dengan pengusaha tua tuan Baron , cepatlah kau lihat...?" seru sang menejer dengan wajah cemas.
"Apa...! Skandalku dengan tuan Baron...? Kok bisa..?" kata Deby dengan wajah heran, sebab hubungannya dengan tuan baron tidak ada seorangpun yang tahu. Tuan Baron adalah pengusaha tekstil yang kaya, dia sudah mempunyai istri dan dua anak yang umur anak keduanya sepantaran dengan Deby. Tapi Karena tuan Baron orang yang sangat loyal pada Deby membuat Deby tak perduli dengan umur tuan Baron. Deby segera membuka ponselnya dan mencari berita tentang dirinya. Dan betapa kaget Deby ketika terpampang dengan jelas di dalam sebuah Vidio berdurasi pendek tentang dirinya yang sedang bercumbu dengan tuan Baron. Tentu saja berita itu membuat Deby panik.
"Gimana ini, apa yang akan di lakukan. Papa dan Reza saat mendengar dan melihat berita ini.."Seru Deby semakin panik.
"Apakah kau tahu dampak dari berita itu..? Banyak perusahaan yang membatalka. kontrak denganmu.." seru sang menejer lagi.
"Tidak..itu tidak mungkin... Itu tidak mungkin terjadi padaku... " seru Deby sambil berlari kearah mobilnya di ikuti sang menejer dan Asisten pribadinya.
Dia segera membawa mobilnya ketempat perusahaan yang menaungi karirnya. Ketika sampai di sana dia sudah di tunggu oleh sang direktur perusahaan. Seorang pria setengah tua yang bernama Alan Bahri.
Deby dan sang menejer segera berjalan kearah kantor sang direktur setelah sang sekertaris menemui mereka dan mengatakan kalau direktur menunggu mereka.
Tok tok tok
"Masuk...." terdengar suara dingin dari dalam.
"Pagi pak..." sapa Deby dan menejernya pada seorang pria yang sedang duduk menatap leptop di meja depannya.
"Pagi...duduk.." suara itu terdengar dingin saat menjawab sapaan mereka.
Dengan perasaan was- was mereka duduk di depan meja pria dingin itu.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan Dep,..? kau menyinggung siapa hingga dia membuat berita sehebat ini...?" tanya pak Alan dengan nada dingin dan sinis. Ada kemarahan yang di tahan.
"Deby nggak pernah punya masalah dengan siapapun pak..." jawab Deby dengan wajah menunduk. Walau dia terlihat takut tapi masih terlihat wajah sombong pada dirinya.
"Apa...tidak menyinggung siapapun...? Lalu untuk apa mereka membuat kabar seperti itu...?" teriak sang direktur.
"Mungkin ada orang yang iri pada ketenaran Deby pak...?" jawab Deby lagi.
"Ketenaranmu....? nggak mungkin.. kau tidak setenar itu hingga membuat orang iri Deb..Tapi kau tahu, yang membuat berita ini tak mungkin hanya orang biasa saja yang melakukannya, kalau kau tidak menyinggung seseorang yang berpengaruh tidak mungkin berita itu hingga beberapa job yang memakai kamu sebagai ambasadornya akan menarik diri dari kita. Mereka tidak ingin memakai lagi dirimu untuk menjadi model mereka , banyak iklan yang menarik kontrak kerjanya. Apa ini... Kalau ini terus terjadi kau akan melihat kejatuhanmu secepatnya.." seru sang Direktur dengan marah.
"Tapi saya tidak mempunyai masalah dengan siapapun...?" jawab Deby.
"Deb..bukan kah kau belakangan ini bermasalah dengan artis naungan Dirgantara...?"kata sang menejer mengingatkan Deby dengan pelan.
"Apa....! Coba kau ulang lagi dengan siapa dia bermasalah..." seru sang Direktur.
"Dengan Artis dari DI pak, malah beberapa hari yang lalu dia dengan sengaja mencambuk artis dari DI itu ketika sedang syuting..." kata sang menejer.
Braaagk....
__ADS_1
Tiba- tiba sang Direktur menggebrak meja dengan keras.
"Bodoh....! Apa yang kau lakukan...? Kau itu bodoh atau tolol ha...? Kau berani melakukan itu pada artis milik DI. Apa kau sengaja melakukan itu agar karirmu hancur ...? Dasar bodoh..." seru pak Alan marah. Dia berbicara sampai berdiri karena marah.
"Tapi dia hanya Artis baru yang belum terkenal pak..." kata Deby membela diri.
"Bodoh...kau fikir karena dia artis baru kau berani meremehkannya...?kau berani sewenang- wenang pada nya.? Dasar wanita sombong... Kau berani bermain api kini kau tanggung sendiri akibatnya.." seru pak Alan kembali.
"Tapi pak bukan kah Deby artis naungan perusahaan ini...?" seru sang menejer membela Deby .
"Baik..kami akan menyelesaikan masalah ini semampu kami. Jika kami tidak sanggup menyelesaikan masalah dengan perusahaan DI secara damai kami akan angkat tangan..." seru pak Alan dengan marah.
"Baik Pak...kalau tidak ada yang lain lagi kami akan undur diri..." kata menejer Deby dengan takut.
"Pergilah.. Semoga perusahaan DI mau berdamai dengan masalah ini. Kalau tidak kau akan merasakan kejatuhan pada karirmu...." kata pak Alan sinis memandang Deby. Akhirnya Deby dan menejernya keluar dari kantor pak Alan dengan wajah murung. Setelah sampai di kantor menejernya Deby duduk dengan lesu di sofa.
"Apaan sich ,cuma artis seperti itu di bela- belain sampai segitunya dengan DI... " seru Deby dengan nada marah.
"Bukankah aku sudah memperingatimu berkali- kali, tapi kau tetap melakukannya Deb... sekarang apa yang mesti kita lakukan, kita hanya bisa berharap tim humas perusahaan ini bisa menyelesaikan dengan damai , kalau tidak maka bersiaplah karir kamu akan jatuh .."kata sang menejer dengan sarkasme.
"Sudahlah... Aku bosan mendengar ceramahmu, kau lihat nanti pasti perusahaan DI akan meminta maaf padaku dan akan mengeluarkan ja***g itu daribperusahaan mereka.." seru Deby masih dengan sombongnya.
"Aku minta sementara ini kamu jangan banyak berulah, ..." kata Sang menejer yang hanya bisa geleng kepala mendengar omongan Deby. Begitupun dengan sang asisten menejer yang hanya bisa duduk diam di sofa ruangan sang menejer.
Di tempat lain di lokasi syuting terlihat Kania yang baru selesai turun dari atas kudanya setelah melakukan adegan perkelahian sambil masih berada di atas kuda dengan beberapa orang pemain , mereka berkelahi di atas kuda masing- masing. Sebenarnya adegan ini akan sulit jika bukan orang yang sudah berpengalaman berkuda.
"Kin...gila lo....elo kini semakin mahir berkuda, elo melakukan adegan dengan sangat baik...." puji Farel sambil berjalan bersama Kania yang sudah memberikan kurang pada perawat kuda.
"Tuan Farel yang tampan... Kalau kita melakukan dengan sungguh- sungguh tentu mudah, apalagi banyak teman yang membantu kita bisa berakting dengan benar...." jawab Kania merendah.
"Ist...berbicara denganmu mana pernah gue menang...." kata Farel mengalah. Kania hanya tertawa melihat sang sahabat kesal. Ketika mereka sampai di tempat istirahat terlihat Arum dan Amanda mendatangi Kania.
"Bos...ada telfon, mulai tadi dia nelfon elo Bos..." kata Arum sambil memberikan ponsel pada Kania.
Sedang Amanda memberikan anduk kecil pada Kania untuk mengusap peluh dari wajahnya.
"Dari siapa...?" tanya Kania sambil mengambil Ponsel dari tangan Arum.
"Namanya Simon Bos..." jawab Arum.
Kaniapun segera mengangkat panggilan itu.
"Asalamualaikum kak.." sambut Kania riang.
"Walaikum salam Nia...kok sulit amat menelfonmu...?" tanya Simon dengan nada jengkel.
"Yee...sekalinya nelfon marah- marah, lekas tua kak..." goda Kania.
"Bodoh amat...." ternyata Simon masih kesal.
"Maaf.. Kania ada kerjaan kak.. Jangan marah lagi dong... Lekas tua dan nanti kakak nggak laku lo...." goda Kania lagi.
"Kau sekarang ada di mana...? Di lokasi syuting ya...apa pekerjaan yang kau katakan tadi kamu lagi syuting....?" tanya Simon beruntun.
"Hey...dari mana kakak tahu gue jadi artis...?" tanya Kania kaget.
"Ada dech...." jawab Simon sambil tertawa.
"Pasti dari si Farel kan..?" kata Kania sambil menatap horor Farel. Farel hanya mengangkat bahu cuek.
"Nggak juga...gue tahu sendiri kok...?" bohong Simon.
"Kakak bohong...mana mungkin kakak bisa tahu gue main film...?" tanya Kania lagi.
"Bukankah kakak salah satu canayang terhebat..." jawab Simon sambil tertawa.
"Ck...alasan, pasti Farel yang ngasih tahu kakak..." kata Kania lagi.
"He he ...gimana kabarmu sekarang princes....?" tanya Simon mengalihkan pembicaraan.
"Gue baik aja kak... dan kakak sendiri gimana sekarang...?" tanya Kania .
"Kata Farel elo habis terluka Nia...?" tanya Simon lagi.
"Ck dasar Farel...(Kania melotot pada Farel, dan Farel hanya tertawa) cuma luka dikit kok kak...?" jawab Kania.
'Luka dikit gimana , kalau lukanya cuma sedikit kenapa sampai kau bawa kerumah sakit...?" kata Simon sedikit marah.
__ADS_1
"Iya, iya.. lukanya sedikit mengeluarkan darah, tapi sekarang udah sembuh kok, buktinya Kania sekarang sudah bisa akting lagi..." jawab Kania.
"Gimana dengan wanita yang melukaimu.?" tanya Simon lagi.
"Dia akan mendapat balasan yang setimpal kak.." jawab Kania dengan tenang.
"Apakah Farel ada di sisihmu...?" tanya Simon lagi.
"Ada kak ...apakah Kakak mau ngomong sama dia..." tanya Kania.
"Iya ..kakak ada sedikit keperluan sama dia. Kaniapun segera memberikan ponselnya pada Farel. terlihat mereka berbicara dengan serius. sedang Kania segera duduk di kursi yang sudah Arum sediakan.
Tak terasa hari pun berlalu dengan cepat. ketika saat pulang tiba- tiba Kania melihat Anton sedang menunggu mereka di dekat mobil Kania.
"Tuan Anton...." sapa Kania.
"Nona Nia di tunggu Bos di mobil...." jawab Anton sambil tersenyum.
"Di mana...?" tanya Kania.
"Mari ikut saya...?" kata Anton.
"Baik tuan... Rum, Keti antar Amanda lalu kalian bisa langsung pulang...." Kata Kania pada kedua pengawalnya.
"Baik Bos..." jawab mereka serempak. sedang Kania mengikuti Anton pergi ke mobil mewah milik Bara. Ketika sampai di mobil Bara, Kania melihat Bara yang sudah menunggu di dalam mobil mewahnya.
"Kok tumben nyusul Kania Pa...?" tanya Kania saat masuk kedalam mobil Bara.
"Kita akan langsung mengambil Baju untuk lamaran kita sayang..." jawab Bara .
"Nggak pulang dulu...? Kania masih bau lo..." goda Kania.
"Nggak usah... calon istriku walau tidak mandi masih harum kok..." jawab Bara sambil mengecup dahi Kania dengan sayang. Kania hanya tersenyum mendengar perkataan dan perlakuan Bara kepadanya.
"Ck...dasar Bos bucin , apapun keadaan Nona Kania pasti terbaik di matanya, tapi emang benar sich... walaupun dalam keadaan berantakan Non Kania tetap terlihat cantik, malah saat dia sedih saat mendengar orang tuanya mengirimi dia pembunuh dia terlihat cantik dan imut. ist ...fikiran apa yang ada di otakku ini..' umpat Anton di dalam hatinya.
"Ton...kita langsung ke Butik milik tante Kiki..." perintah Bara pada Anton.
"Siap Bos..." jawab Anton sigap.
Merekapun segera pergi dari lokasi Syuting.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata pria yang sedang mengawasi Kania sejak tadi. Dia terkejut ketika melihat Kania di jemput oleh seseorang yang sangat dia kenal.
"Anton....bukankah dia Asisten pribadi kak Bara..." gumam Farel terkejut.
"Keliatannya mereka sangat dekat, apakah Kania punya hubungan sama Anton, ..?" kata Farel perlahan. saat itu dia akan pulang, ketika tanpa sengaja dia melihat Kania sedang berbincang dengan Anton.
Tak lama terlihat Kania berjalan bersama Anton sedang kedua pengawalnya dan Asisten pribadi Kania berjalan masuk kedalam mobil Kania. Farel semakin memperhatikan Kania. tak lama terlihat dia masuk kedalam sebuah mobil mewah yang Farel tahu mobil itu mobil limited Edition.
"Apakah di dalam sana ada kak Bara ya..? ada hubungan apa Kak Bara dengan Kania...?"gumam Farel penuh heran. Setelah kepergian mobil yang di tumpangi Kania, Farel segera masuk kedalam mobilnya dan segera meninggalkan lokasi syuting. dia ingin mengejar dan membuntuti mobil yang di Naiki Kania, namun saat dia keluar dari parkiran lokasi syuting dia tak lagi melihat mobil itu. walau dia memacu cepat mobilnya, dia tak juga dapat menemukan mobil itu lagi.
"Sial...ternyata gue kurang cepat...." umpat Farel.
"Tunggu dulu...bukankah besok lusa kak Bara akan melamar dan bertunangan dengan keluarga Herlambang, apakah si Deby itu,..? mana mungkin Deby , bukankah dia sudah bertunangan...? bukan, bukan dia...lalu siapa...?" seribu pertanyaan berkecamuk dalam hati Farel.
"Gue jadi penasaran siapa gadis yang sudah membuat gunung es itu mencair.." kata Farel sendiri. ada senyum tipis di bibirnya ketika dia mengingat siapa gadis yang bisa menaklukkan hati sepupunya yang dingin itu.
sedang di tempat lain terlihat mobil bara sudah memasuki Butik milik Nyonya Kiki, sahabat nyonya Rani Mama Bara. ketika mereka masuk kedalam Butik terlihat Nyonya Rani sudah menunggu mereka.
"Mama...sore Ma..." sapa Kania sambil mencium tangan dan pipi nyonya Rani. juga wanita yang ada di dekat nyonya Rani yaitu Nyonya Kiki pemilik Butik itu.
"Sore sayang...kau baru pulang syuting..?" tanya Mama Rani.
"Iya Ma.." jawab Kania.
Barapun yang ada di dekat Kania segera mencium tangan dan pipi sang Mama.
Juga pada wanita yang ada di dekat sang Mama Bara mencium tangannya.
"Ayo kalian duduk dulu..." kata Nyonya Kiki pada Kania dan Bara. Bara dan Kania segera duduk di sofa dekat Nyonya Rani.
Tak berapa lama Kania segera mencoba gaun yang akan dia pakai saat pertunangan nanti. begitu juga dengan. Bara , dia mecoba baju lengan panjang senada dengan baju Kania. Tak berapa lama terlihat Mobil Bara dan mobil nyonya Rani keluar dari butik itu. mereka segera meninggalkan Butik setelah mengambil baju pesanan mereka.
Cukup dulu ah... sampai di sini dulu ceritanya ya...jangan lupa like dan Komennya dong....😍
Bersambung.
__ADS_1