
Hari demi hari berjalan dengan cepat. Begitupun dengan Kania yang kini tidak sadarkan diri sudah berjalan hampir satu bulan. Kini sang putra yang sudah berusia hampir satu bulan pun sudah berada di kediaman Bara Aris Dirgantara dengan tenang walau sang Mama masih berada di rumah sakit tidak sadarkan diri. Bayi kecil itu dalam rawatam sang nenek dari Papa dan Mamanya dengan penuh kasih sayang. mereka bergantian menjaga sang bayi mungil .
Sedang Bara di rumah salit tidak pernah jauh dari pembaringan sang istri. Dia akan keluar dari kamar kania kalau akan menunaikan solat atau makan . sedangkan pekerjaan dia kerjakan di dalam ruang kamar sang istri. Dia akan datang ke kantor hanya kalau ada rapat atau temu klien saja.
"Ma....apakah kau tak merasakan rindu pada kami Ma....? Apakah kau tidak ingin bertemu dengan putra kita yang sudah kau lahirka Ma....?" bisik Bara pada Kania sambil mengusap lembut kepala sang istri dan mencium lembut kening sang istri .
'Papa rindu celotehmu Ma... Papa rindu senyuman Mama... Papa rindu gelak tawamu Ma..." kata Bara sambil menatap wajah sang istri yang diam seperti sedang tidur nyenyak.
Bara tak bosan- bosannya mengajak Kania untuk bercakap- cakap. Terkadang dia akan mengatakan atau menceritakan kejengkelannya atau kemarahannya yang dia lakukan saat dia menghadiri rapat di kantornya. Atau bertemu klien yang sangat menjengkelkan.
Sedang di sebuah ruangan kamar di salah satu kamar di rumah Bara, seorang pria kecil sedang memakai pakaian dan celana panjangnya dengan tergesa- gesa.
Dia Kinan sang putra tersayang Kania dan Bara. Setelah makan siang bersama kakek Mahesa dan nenek Rani tadi, dia segera berpamitan akan tidur siang. Dan setelah sampai di dalam kamar dia segera mengganti baju tidurnya dengan baju kaos lengan panjang dan celana panjangnya. Tak lupa dia membawa masker dan topi . setelah di lihat perlengkapan yang dia butuhkan sudah terpenuhi dia segera keluar dari kamarnya dengan perlahan- lahan. Ketika melihat keadaan rumah sepi, Kinan segera berlari keluar rumah. Dengan jalan lewat pintu belakang Kinan segera keluar dari rumah sang Papa. Dengan ponsel yang dia miliki dia menghubungi taxi online. Setelah memesan dan menunjukkan tepat yang harus mereka tuju, Kinan segera keluar dari rumah sang Papa. Saat dia sampai di luar ternyata taxi sudah menunggumya . ketika dia mendekat sang sopir bertanya.
"Nak...apakah kau yang memesan taxi..?" tanya sang sopir yang terlihat agak tua.
"Benar pak... Tolong bawa saya kerumah sakit Darma Kartika...?" jawab Kinan sambil masuk kedalam taxi.
"Kau sendiri....?" tanya sopir itu heran .
"Iya..." jawab Kinan datar.
"Kemana orang tuamu....?" tanya pak sopir lagi.
"Dia ada di rumah sakit pak....Mamaku baru melahirkan adik kecilku...." jawab Kinan datar.
"Ooo..baiklah bapak akan mengantarkan dirimu..." kata pak supir yang langsung menjalankan mobilnya menuju rumah sakit Darma Kartika. Tak berapa lama sampailah taksi yang di tumpangi Kinan di depan rumah sakit. Kinan segera memakai masker dan topi lalu keluar dari dalam taxi. Setelah membayar taxi dia segera berjalan masuk kedalam rumah sakit. Dia berjalan menuju kamar ICU tempat Kania berada . Dia tahu tempat ruang Kania di rawat karena dia pernah di bawa kesana tapi tidak di perbolehkan masuk kedalam.
Ketika sampai di sana di menengok kedalam kamar Kania, ternyata sang Papa sedang tidak berada di kamar sang Mama. Dengan perlahan Kinan membuka pintu kamar ICU . perlahan dia berjalan mendekati tubuh sang Mama yang sedang tidur dengan tenangnya.
"Ma... Bangun Ma..." seru Kinan di dekat Kania. Tanpa sengaja Kinan berkata di dekat telinga sang Mama.
" Ma... Maafkan Kinan Ma...Mama seperti ini karena Kinan , Ma....Kinan rindu Mama, Kinan rindu pelukan Mama, .. Ma ..bangun Ma... Kinan janji, kinan nggak akan nakal lagi. Kinan nggak akan bandel lagi. Kinan janji akan menuruti semua perkataan Mama.. ..Ma bangun Ma....Kinan Mohon....." seru Kinan sambil menangis dan memeluk sang Mama. Dia berdiri dan menaruh kepalanya di dada sang Mama. Dia menangis sambil memanggil sang Mama. Jika orang melihat dan mendengar tangis Kinan. mereka akan merasakan keharuan di dalam hatinya.
Sedang Kania di dalam alam bawah sadarnya tiba- tiba merasakan dadanya sesak, dan terdengar suara Kinan yang menangis sambil memanggil- manggil dirinya . dia segera membuka matanya , dan terlihat sang kakek berada di depannya.
"Nak...kau mendengar itu....?" tanya sang kakek lembut.
"Iya kek... sepertinya Kinan membutuhkan diriku..." jawab Kania.
"Bukan hanya Kinan nak...tapi putra yang baru kau lahirkan juga sangat membutuhkanmu , juga mereka yang sangat mencintaimu Nia... mereka menunggu kau siuman dari tidur pa jangmu..." jawab kakek itu lagi .
'Lalu apa yang harus kania lakukan kek..?"tanya Kania bingung.
"Ikuti suara tangisan putramu, dia yang akan menuntun dirimu kembali
kealammu...." jawab sang Kakek .
"Kalau begitu Kania pamit kek... Asalamualaikum....." pamit Kania.
"Waalaikum salam ingat pesan Kakek, kau harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan, jangan sombong dan takabur, gunakan ilmumu demi kebaikan nak..." pesan Kakel buyut.
"Baik kek...." Kaniapun berjalan dengan cepat mengikuti suara tangisan Kinan yang terdengar semakin lama semakin keras , dan tiba- tiba seberkas cahaya menyelimuti Kania. Karena silau Kania memejamkan matanya. Saat dia membuka mata, terlihat ruangan yang serba putih berada di depannya , dan terlihat botol infus tergantung berada di sebelah ranjang tempat dia berbaring. Dan lebih membuat hatinya trenyuh terlihat sang putra sedang menangis sambil tidur di atas dadanya. Pria kecil itu sendirian berada di dalam ruangan yang dia tempati.
"Ma...bangun Ma...." kata Kinan sambil menangis.
"Sayang...anak laki- laki ...nggak baik lo ..... menangis.... seperti itu...." kata Kania lemah terbatah- batah.
Kinan yang mendengar suara sang Mama berhenti menangis. Dengan cepat dia menarik kepalanya dari tubuh sang Mama. Dia menatap sang Mama yang terlihat tersenyum lembut kepadanya . Kinan mengusap matanya rak percaya . Sedang Kania yang baru bangun dari tidur panjangnya , merasakan tubuhnya yang masih kemah.
"Mama.... Mama sudah bangun...?" kata Kinan tak percaya.
"Iii..ya Nak...." jawab Kania sambil kembali tersenyum dan mengedipkan matanya menatap sang putra..
"Mamaa......" seru Kinan gembira. Dua kembali memeluk sang Mama.
"Aauu..sa ..sayang...." seru Kania perlahan ketika tanpa sengaja Kinan mengenai luka Kania yang berada di dadanya .
__ADS_1
"Ma...maaf Ma...Kinan lupa..." kata Kinan yang ingat kalau dada Kania terluka.
"Nggak apa - apa sayang...." kata Kania lemah.
"Kau..sendiri...? Papa mana ...?" tanya Kania.
Saat itu Bara yang baru selesai solat duhur dan sekalian makan siang sedang berjalan kearah kamar Kania, ketika sampai di pintu ruangan dia mendengar perbincangan dari kamar Kania. Dengan penasaran dia membuka pintu. Dan dia melihat Kinan berada di dalam ruangan.
"Kinan kau...." Bara yang ingin memarahi sang putra tertegu ketika melihat Kania yang sedang berbincang dengan Kinan.
"Mamaa....." seru Bara kaget, setelah sadar dia segera berlari kearah pembaringan Kania, dia memeluk sang istri sambil menangis bahagia..
"Aauu...." seru Kania lemah. Bara yang terlalu gembira sampai lupa pada luka sang istri.
"Ma..maaf sayang....Papa terlalu gembira hingga Papa lupa pada luka Mama....gimana sekarang keadaan Mama, di mana yang terasa sakit Ma...?" tanya Bara beruntun .
"Pa...Mama sudah nggak apa- apa kom Pa... Mama sekarang cuma merasa lemas Pa...." jawab Kania .
"Kalau begitu Mama tunggu sebentar ya.. Papa akan memanggil dokter...." seru Bara. Karena merasakan kegembiraan sang istri yang sudah siuman, hingga membuat Bara lupa kalau memanggil dokter cukup dengan memencet tombol yang ada di ranjang Kania mereka para tenaga medis akan segera tiba . Kania yang melihat perbuatan Bara hanya tersenyum . sedang sang putra memegang lembut tangan sang Mama.
"Mama..Kinan gembira melihat Mama telah bangun...." kata Kinan dengan wajah gembira.
"Sayang.... Naiklah, ..." kata Kania perlahan.
Kinan segera naik perlahan ke ranjang Kania. Dia duduk di sebelah Kania yang berbaring. Tak lama Bara datang bersama Sandy dan seorang perawat.
"Selamat siang Kania...." sapa Sandy pada Kania.
"Siang dokter Sandy...." jawab Kania dengan suara yang masih lemah.
"Aku periksa dulu ya...." kata Sandy sambil menaruh stetoskop di telinganya. Dan dia mulai memeriksa Kania. Tak berapa lama terlihat senyuman di wajah tampannya.
"Alhamdulillah Bara istrimu sudah baikan...." kata Sandy bernafas lega.
"Alhamdulillah...." seru Bara bersyukur.
"Syukurlah ...kalau begitu sekarang juga kau pindah istriku ke kamar perawatan.." kata Bara memerintah .
"Baik Bos..." jawab Sandy sambil tersenyum. Dia merasakan kebahagian yang di rasakan sang sahabat. Dia segera menyuruh para perawat untuk segera memindahkan Kania keruangan khusus milik sang pemilik rumah sakit.
Saat Kania di pindahkan keruangannya, Bara tidak pernah lepas dari sisih sang istri. Begitupun dengan Kinan yang ingin selalu berada di dekat sang Mama.
Setelah sang istri berada di ruang rawat inapnya , Bara segera mengabari keadaan Kania pada kedua orang tuanya dan kedua orang tua Kania.
Ketika mereka mendengar Kania sudah siuman, mereka segera pergi kerumah sakit.
Saat bik Monah mendengar Kania susah siuman, dia sebenarnya ingin menjenguk putri yang amat dia sayangi itu. tapi dia tidak bisa meninggalkan putra Kania yang masih kecil itu.
"Bu....biarlah kita tunggu saja kepulangan Kania , Bukankah si den Kefin tidak bisa kita tinggal , siapa nanti yang akan menjaga dia...." kata pak Asep bijak.
"Iya Pak.... lebih baik kita tunggu aja Kania pulang. kasihan Kefin..." jawab bik Monah.
"Lihatlah tampan sekali anak ini..."kata pak Asep sambil membelai pipi Kefin dengan sayang.
"Iya pak...wajahnya mirip sama Papa dan kakaknya, sedang senyum dan matanya seperti Kania...lihatlah wajahnya perpaduan antara tuan Bara dan Kania.." kata bik Monah dengan wajah gembira. Mereka berdua mengagumi putra kedua Bara. yang terlihat sangat tampan perpaduan antara wajah Kania dan wajah Bara.
Sedang di dalam rumah sakit terlihat kedua orang tua Bara yaitu tuan Mahesa dan nyonya Rani sudah datang terlebih dahulu mengunjungi sang menantu yang baru bangun dari tidur panjangnya.
"Sayang... Mama kangen putri Mama... sekarang gimana perasaanmu nak...?" tanya nyonya Rani sambil memeluk dan mencium Kania.
"Alhamdulillah Kania merasakan sehat Ma... cuman sekarang Kania kangen pengen ketemu putra Kania yang Satunya..." jawab Kania.
'Sabar sayang....kau akan bertemu dia saat kau sudah pulang kerumah ..." kata nyonya Rani menghibur.
"Iya Ma..." jawab Kania.
"Lo...kok Kinan ada di sini...? bukankah kau sedang tidur di rumah nak..?" tanya sang Oma ketika baru menyadari keberadaan Kinan yang tidur di sebelah Kania.
__ADS_1
"Maaf Ma...jangan memarahi Kinan, Karena dialah Kania sadar Ma...." jawab Kania membela sang putra.
"Maksud Mama...?' tanya Bara yang berada di sisih Kania. Dia tadi memang tak tahu saat Kania sadar pertama kali. yang dia tahu Kinan sudah berada do dekat sang Istri .
"Saat Mama di dalam alam bawa sadar Mama, Mama mendengar tangisan Kinan dan panggilan Kinan yang membuat Mama tersadar akan kewajiban Mama, Karena tangisan Kinan itulah yang menuntun Mama hingga tersadar..." jawab Kania.
"Ya Tuhan nak... kenapa bukan sejak dulu kau bawa Kinan kedalam ruang ICU tempat istrimu berada...?" kata sang Mama menyesal pada Bara .
"Bara lupa Ma...bukankah cinta pertama istri Bara adalah Kinan putraku...." jawab Bara dengan perasaan cemburu. Kania yang melihat wajah sang suami sedang cemburu pada putranya sendiri tertawa.
"Papa....jangan kau bilang kalau kau sekarang cemburu pada putramu sendiri...?" goda Kania.
"Habis Mama sich...Papa yang berhari- hari menunggui Mama dan mengajak Mama berbicara tidak bisa membuat Mama sadar, tapi Kinan yang hanya sehari saja ada bersama Mama, eee... Mama malah bisa sadar..." kata Bara sambil cemberut.
"Ck...Suamiku sayang....apakah Kania harus pingsan lagi biar Papa nggak merasa di bedakan ....?" kata Kania kembali menggoda.
"Nggak Sayang....Papa cuma bercanda kok..., Papa bersyukur memiliki Mama yang sangat menyayangi Kinan, Papa tahu seberapa besar sayang Mama pada Kinan, ...." kata Bara sambil mencium sekilas bibir Kania.
"Papa...." seru Kania kaget, sebab di sana
ada Kedua orang tua Bara dan juga si kecil Kinan.
"Papa...Papa nggak boleh cium- cium Mama...." seru Kinan marah.
dan tingkah Bara dan Kinan membuat semua tertawa.
"Gimana kabarmu sayang...." tiba- tiba tuan Mahesa mendekati Kania lalu memeluk sang menantu yang sudah dia anggap putrinya sendiri.
"Papa...baik Pa..." jawab Kania membalas pelukan dari tuan Mahesa.
"Syukurlah nak.... Kami mendoakan kesehatan mu selalu..." kata tuan Mahesa sambil mengusap rambut Kania dengan sayang.
Tak lama kemudian Tuan Setyo Hadi dan nyonya Sinta datang tergopoh- gopoh.
"Kania....!" seru nyonya Sinta sambil berlari memeluk sang putri .
"Mama....apa kabar Ma...?" tanya Kania sambil membalas pelukan sang Mama.
"Mama baik- baik saja sayang... nak... syukurlah kau sudah siuman, syukur Alhamdulillah tuhan mengabulkan doa kami semua yang mengharapkan kau cepat sadar nak..." kata nyonya Sinta sambil menangis.
"Trimakasih Ma...trimakasih untuk semua orang yang telah mendoakan Kania..." jawab Kania sambil melepas pelukan nya. dia mengusap mata sang mama yang sedang menangis.
"Jangan menangis Ma.... Mama jelek kalau menangis..." goda Kania.
"Dasar kau ini... " Kata sang Mama sambil mencubit hidung Kania pelan.
"Nak...gimana kamu sekarang..." tanya tuan Setyo Hadi. nyonya Sinta yang mendengar suara sang suami segera me jauh untuk memberi kesempatan pada tuan Setyo Hadi.
Tuan setyo Hadi segera memeluk Kania dengan sayang.
"Alhamdulillah Kania baik- baik saja Pa..." jawab Kania sambil membalas pelukan sang Papa.
"Syukurlah kalau begitu Nak..." jawab tuan Setyo Hadi .merekapun menemani Bara dan Kania hingga malam, Saat Malam tiba mereka segera berpamitan pulang, karena nyonya Sinta akan kerumah Bara, karena malam ini dia yang harus menjaga sang cucu di rumah Bara.
Saat pulang Kinan yang di ajak pulang tidak mau berpisah dengan Kania.
"Nggak ...Kinan nggak mau jauh dari Mama...Kinan takut Mama akan tidur lama lagi...." kata Kinan ketakutan.
"Baiklah...Kinan boleh tidur dengan Mama, tapi dengan satu syarat besok pagi Kinan harus pulang dan pergi sekolah, besok sepulang sekolah Kinan baru datang lagi kemari ...." kata Kania dengan lembut.
"Baik Ma... mulai sekarang Kinan akan menuruti perkataan Mama..." jawab Kinan dengan wajah gembira.
Kania tersenyum mendengar ucapan Kinan, karena sejak bertemu Kania, Kinan tak pernah membantah perkataan Kania.
Akhirnya Tuan Mahesa dan nyonya Rani pulang tanpa sang cucu.
maaf author baru buat sekarang. jangan lupa like dan komennya author tunggu.
__ADS_1
Bersambung.