Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
Bertemu Orang Tua Bara.


__ADS_3

"Bun...Bunda marah...?" tanya Bara yang melihat Kania diam saja .


"Nggak..." jawab Kania singkat.


"Tapi Bunda kok Diam....?" tanya Bara lagi. Kania hanya menatap Bara sebentar. '


'Mana bisa gue marah sama Bos gue sendiri walaupun gue pingin nabok dia, ( teriak Kania dalam hati)


"Apa Bunda harus teriak- teriak Pa..lagian apa Bunda punya hak untuk marah sama Papa ...?" tanya Kania sambil cemberut. Wajah Kania yang cemberut bukannya terlihat menakutkan tapi malah terlihat sangat imut, membuat setiap yang melihat wajah cantik itu menjadi gemas. tak terkecuali Bara yang sedang mati- matian pingin mencium bibir manyun itu.


"Jadi Bunda nggak marah sama Papa..?" tanya Bara sambil tersenyum menatap Kania . Pingin rasanya Bara menggigit bibir yang lagi ngambek itu.


"Mana Berani Bunda Marah..." jawab Kania malah memperlihatkan bibirnya yang semakin manyun.


"Siapa Bilang Bunda nggak Boleh marah sama Papa...?" kata Bara yang semakin gemas melihat sang pujaan hati semakin menggemaskan.


"Benar boleh....?" kata Kania yang kini sudah memandang Bara dengan tersenyum menggoda.


"Bener..tapi bukan sekarang...nanti kalau udah sampai rumah.." jawab Bara dengan senyuman licik.


"Kenapa...?" tanya Kania heran.


"Bukankah sekarang Papa lagi menyetir.." jawab Bara memberi alasan.


"Apa hubungannya Bunda marah sama Papa menyetir...?" tanya Kania heran.


"Kalau Bunda marah nati membuat konsentrasi Papa jadi pecah, Kan berbahaya..." jawab Bara sambil tersenyum licik.


"Idih..alasan...mana ada orang marah menjadikan si supir tidak kosentrasi" gumam Kania.


"Yee..ada Bun...Nach sekarang udah nyampai rumah, sekarang Bunda boleh marah..." lanjut Bara. Bara segera menghentikan Mobilnya di garasi . saat Kania mau keluar dengan Kinan yang sejak tadi hanya mendengar perdebatan Bunda dan sang Papa tiba- tiba terdengar Bara berkata.


"Tunggu di situ dulu Bun..." kata Bara.


Kania pun segera diam tak jadi membuka pintu mobil. Setelah mematikan mesin mobil Bara segera mencabut kuncinya dan turun lalu berjalan kearah pintu di samping Kania. Dia segera membuka pintu itu.


"Sayang silahkan turun tuan putri dan ingat ini selalu, saat kita sedang pergi naik mobil berdua.. jangan turun dulu sebelum aku membukakan pintu mobil ..." kata Bara sambil membukakan pintu mobil untuk Kania.


"Emang Kenapa Pa...?" tanya Kania tak mengerti.


"Sekarang kau itu adalah calon istri dari pemilik perusahaan Dirgantara Grup. Apa lagi sebentar lagi kau adalah seorang selebritis yang akan terkenal Nantinya, jadi saat kau akan turun dari mobil biarkan pengawalmu yang membukakan pintu mobilmu..." nasehat Bara sambil mengambil Kinan dari pangkuan Kania sebelum Kania keluar dari mobil.


"Ya ampun Pa...ribet amat sich, lagian sekarang Kania belum jadi artis kan... mereka juga belum tahu kalau Kania adalah calon istri tuan besar Bara Aris Dirgantara...." sangkal Kania.


"Itung- itung belajar dari sekarang sayang... dan Apa perlu Papa mengumumkan hubungan yang terjadi di antara Kita...?" jawab Bara. Mereka berjalan masuk kedalam rumah. Terlihat tangan Bara menggenggam tangan Kania dengan posesif seolah takut Kania akan pergi meninggalkannya.


"Ist si Papa suka banget ngancem .. Iya dech iya Kania akan ngikuti omongan Papa..." sungut Kania.


Bara tertawa melihat Kania cemberut. Dia menarik tangan Kania lalu dia kecup.


"Trimakasih sayang... Jangan cemberut seperti itu, kau tahu kalau kau seperti itu membuat Papa pingin nyium kamu saat ini juga...." kata Bara yang membuat Kania pipinya memerah karena malu.


"Dasar mesum..." umpat Kania. Bara pun terawa kembali mendengar omongan Kania.


Para pembantu yang mendengar Bara tertawa merasa sangat senang mendengar Bara sering tertawa setelah kehadiran Nona Kania . Ketika sampai di dalam rumah Bara memanggil bik Siti untuk membawa Kinan mencuci tangan, karena sebentar lagi akan makan pagi. Setelah Kinan berada di gendongan bik Siti Bara membawa Kania pergi ke atas. Ketika sampai di Kamar Kania mereka masuk. ketika sudah berada di dalam kamar Kania Bara segera memeluk Kania dengan erat.


"Lo kenapa dengan tingkah Bos Bara kali ini...' seru Kania dalam hati ketika Bara memeluknya dengan erat.


"Ada apa....?" tanya Kania heran.


"Biarkan Papa seperti ini dulu Bun..." kata Bara yang masih memeluk Kania.


Kania yang semula diam karena kaget melihat tingkah Bara , perlahan membalas pelukan Bara.


"Ada apa Pa....? Kenapa tiba- tiba Papa kayak begini...?" tanya Kania lagi setelah beberapa saat mereka berpelukan.


"Papa kangen Bunda... Papa tersiksa jauh dari Bunda..?" kata Bara yang masih memeluk Kania.


"Bukankah Bunda dan Kinan hanya satu hari ninggalin Papa...?" kata Kania heran.


"Tapi Papa gelisah ketika Bunda pergi.." jawab Bara manja.


(Ya ampun...si Bos dingin bisa juga bersikap manja, gimana jika Dika dan Anton lihat ya.🤣🤣)


"Bunda cuma ke rumah paman Asep Pa... bukan keluar negri.." goda Kania.


Bara menjaukan wajahnya sedikit dari wajah Kania.


"Entahlah Bun, rasanya Papa nggak sanggup jauh dari Bunda..." jawab Bara sambil menatap Kania dengan sendu.


"Hey hey hey...gimana nanti kalau Bunda tinggal di apartemen....?" goda Kania sambil tertawa geli.

__ADS_1


"Jangan tertawa Bun...Papa serius..." sungut Bara. Kania pun menghentikan tawanya dengan susah payah.


"Iya iya Bunda nggak ketawa lagi, lalu gimana kalau Bunda tinggal di apartemen apa Papa akan ikut tinggal di sana...?" tanya Kania menggoda.


"Dengan terpaksa Papa akan ikut Bunda.." jawab Bara datar.


"Ya nggak bisa Pa... gimana kalau mereka tahu hubungan kita...?" jawab Kania.


"Bun... Apa Bunda malu ketahuan menjalin hubungan dengan Papa, karena papa seorang...." tiba- tiba Kania sudah mendekap mulut Bara dengan tangan lentiknya.


'Jangan berkata seperti itu Pa...atau Bunda akan marah pada Papa ..." kata Kania dengan tatapan tajam pada Bara.


"Trus kenapa kita harus menyembunyikani hubungan Kita...?" tanya Bara setelah tangan Kania dia tarik dari mulutnya.


"Bukankah Kania sudah bilang, bukannya Kania takut ketahuan berhubungan dengan Papa karena malu dengan setatus Papa yang seorang duda, tapi Kania takut pada masyarakat yang akan mencemo'oh papa yang menyukai seorang wanita biasa , Kania juga takut mereka mengira Kania suka pada Papa karena ketampanan, kekayaan, kedudukan Papa , Kania merasa belum berharga di samping Papa, berikan waktu sedikit aja agar Kania sedikit merasa sepadan dengan Papa..." kata Kania panjang kali lebar.


"Baiklah Papa tahu maksud Bunda, tapi ijinkan Papa sering datang ke apartemen Bunda..." jawab Bara.


"Papa..gimana kalau mereka mengetahui itu pa...." tanya Kania lagi.


"Kalau gitu Bunda jangan pindah kesana, Bunda tinggal aja di sini..." jawa Bara ngotot.


"Papa sayang... Kita ini belum muhrim nya Pa.. Sebenarnya Kania tinggal di sini aja itu sudah salah, hubunga kita masih belum di halalkan Pa..." kata Kania sok bijak.


"Kalau begitu kita halalkan dulu hubungan kita ya...?" kata Bara dengan wajah memohon.


"Ya Tuhan...kok jadi dia yang ngebet nikahnya..seharusnya gue dong , sebab siapa juga yang akan menolak manusia seperti orang yang ada di depan gue ini.' jerit Kania dalam hati frustasi menghadapi sang Bos Bara.🤣


"Lalu kalau kita sudah halal nggak mungkin kita nggak akan melakukan hubungan suami istri kan....?" kata Kania lagi. Terlihat semburat metah di Wajahnya yang cantik saat dia mengucap kalimat itu.


"Apa salahnya ,Bukankah kita sudah syah sebagai suami istri...?" jawab Bara.


"Lalu kalau Kania hamil...?" tanya Kania sambil cemberut.


"Aku berjanji nggak akan ngelakuin itu kalau kau tidak mengijinkannya sayang.. " janji Bara sambil menatap Kania dengan wajah memohon. Kania terharu dengan perkataan Bara.


'Ya Tuhan...bukannya gue sok jual mahal pada dia, tapi gue nggak percaya diri karena kemiskinan gue, tapi ...Tuhan hamba tak sanggup melihat wajah pria tampan ini yang terlihat sangat memohon. Apa yang harus hamba lakukan Tuhan.... Tolong kau beri petunjuk pada hamba apa yang mesti hamba lakukan. ( seru Kania dalam hati)


"Baiklah akan Nia fikirkan permintaan Papa. Berikan Kania waktu tiga hari untuk berfikir, apa lagi Kania belum pernah ketemu sama kedua orang tua Papa, ..." kata Kania menyerah.


"Beneran kamu akan memikirkan permintaanku...?" kata Bara gembira.


"Iya..setelah tiga hari dari hari ini Kania akan memberi jawabannya..." jawab Kania.


Tok tok tok...


Bara segera melepas ciumannya dengan enggan.


Kania segara berjalan kearah pintu untuk membukanya. Terlihat bik Siti berdiri di muka pintu.


"Bik Siti....? Ada apa bik...?" tanya Kania.


"Nona Kania apa tuan Bara ada di dalam..?" tanya Bik Siti pelan.


"Ada Bik...( Kania segera membuka pintu dengan lebar) Bos di cari bik Siti.." kata Kania memandang Bara yang sedang duduk di sofa.


"Ada apa Bik....?" tanya Bara.


"Tuan ada tuan besar sama nyonya di bawah..." jawab bik Siti.


"Apaa.. Papa sama Mama datang...?" tanya Bara denga wajah ceriah.


"Iya tuan , mereka baru saja datang..." jawab bik Siti.


"Ya sudah sebentar lagi kami turun... Bilang sama Mama dan Papa.." jawab Bara.


"Baik tuan..." kata bik Siti , lalu dia meninggalkan mereka berdua.


"Sayang ayo ikut kebawa, kita temui Mama dan Papa.." seru Bara dengan senang. Kania jantungnya seperti mau melompat ketika mendengar perkataan Bara.


' ya ampuun secepat inikah gue harus bertemu dengan Mama dan Papa tuan Bara...'teriak Kania dalam hati.


"Pa... Apa nggak sebaiknya Bunda di sini aja ya... Bunda kok rasanya takut bertemu beliau..." kata Kania panik.


"Hey sayang... Jangan takut, kan ada aku yang akan bersamamu, bukankah kamu ingin tahu reaksi kedua orang tuaku kala melihatmu...?" kata Bara menenangkan perasaan kania yang terlihat cemas.


"Tapi Pa..." ada ketakutan dan keraguan di hati Kania.


"Nggak ada tapi- tapian sayang..." cega Bara dengan cepat.


"Baiklah, tapi kau harus janji nggak boleh jauh dari aku...." kata Kania.

__ADS_1


"Iya iya...aku akan selalu ada di dekatmu..." hibur Bara.


Akhirnya Bara dan Kania segera turun ke bawah untuk menemui kedua orang tua Bara.


Saat mereka sampai di ruang keluarga mereka melihat Dika dan Kinan sedang berbincang dengan dua orang paruhbaya yang terlihat masih cantik dan tampan. Terlihat Kinan berada di pangkuan seorang nyonya cantik yang terlihat lembut dan anggun. Bara yang sedang mengagandeng Kania mendekati mereka.


"Bunda...." seru Kinan sambil turun dari pangkuan wanita itu dan berlari kearah Kania.


'Duh anak ganteng...kenapa kau panggil gue seperti itu di depan mereka,apa nanti kata mereka..(teriak Kania dalam hati)


Kania segera membawa Kinan ke dalam gendongannya.


"Papa , Mama..." sambut Bara datar sambil memeluk mereka bergantian. Sedang Kania memberi salam dengan mencium tangan mereka bergantian.


"Bara...siapa gadis cantik ini, Kenapa Kinan memanggil Dia Bunda..." tanya sang mama dengan wajah penuh tanya menatap pada Kania yang sedang menggendong Kinan .


"Dia Kania Ma... Orang yang telah menyelamatkan Kinan dari penculikan itu.." kata Bara.


"Waah...jadi gadis ini toh yang jadi pahlawan buat Kinan...?" tanya sang Mama dengan wajah senang.


"Apakah dia tinggal di sini....?" tanya sang Mama kembali. Kini terlihat wajahnya penuh curiga.


"Iya Ma..demi keselamatannya, karena dia hampir di celakai kembali oleh Avanya putri Om Alvonso sahabat Papa.." kata Bara menjelaskan.


"Apa maksudmu Bar...?" tanya sang Papa. Tuan mahesa memang belum tahu dalam di balik penculikan Kinan.


"Putri Om Alvonso lah yang menjadi otak penculikan Kinan Pa... Dia dua kali berusaha menculik Kinan dan dua kali juga Kania yang menggagalkan penculikan itu..." kata Bara menjelaskan.


"Apaa...! Putri Alvonso otak dari penculikan itu...? Coba kamu ceritakan kebenarannya Bar...?" seru tuan Mahesa dengan nada marah.


Bara pun segera menceritakan Kejadian yang terjadi pada Kinan Dan Kania sehingga Kania masuk rumah sakit.


"Dia ingin membunuh Kinan karena keinginannya menikah denganku dia fikir Kinanlah penyebab kegagalannya.


"B****t benar- benar gila perempuan itu untung kamu nggak mau menjadikan dia istrimu. Dasar wanita nggak bener.." seru pak Mahesa dengan marah.


"Papa sich mau- maunya menerima permintaan si Alvonso itu, untuk putramu nggak setuju. Andai mereka jadian gimana... Aku nggak bisa ngebayangin si Kinan bila memiliki ibu sambung seperti dia..." seru sang Mama jengkel. Sebab ketika dia melihat Avanya dia merasa ada ketidak beresan dengan gadis itu. Tapi kecurigaannya dia hapus karena sang suami yang menginginkan perjodohan itu.


"Bara menolak itu karena ada dua sebab Pa, Ma..." jawab Bara.


"Dua sebab...?apa itu..?" tanya sang Papa.


"Iya Pa...pertama.. Bara sudah tahu kehidupan Avanya yang terlalu bebas. Dia hidupnya berantakan, suka gonta ganti pasangan. Aku tidak mau punya istri yang hidupnya penuh kepura- puraan dan hina. dan yang kedua Pa...terutama pokok permasalahannya Adalah aku masih mencari gadis yang tak pernah ku ketahui dimana keberadaannya. Mama masih ingat penolakan aku ketika Mama menginginkan aku menikahi Mama Kinan...?" tanya Bara pada sang Mama.


"Iya.. Mama masih ingat Kau mengatakan kalau kau menolak perjodihan itu karena kamu masih mau mencari gadis penyelamat hidupmu, dan mama tetap memaksamu menikahi mama si Kinan kan..." jawab sang Mama.


"Benar Ma...dan itulah penyebab penolakan aku terhadap gadis- gadis yang Mama dan Papa ajukan padaku.." jawab Bara .


"Apakah kau tetap akan mencari keberadaan gadis itu selamanya Bara.."


Tanya sang Papa prihatin.


"Aku sudah menemukan gadis itu Pa, Ma..." jawab Bara dengan muka berseri.


"Benarkah...? Apakah gadis ini...?' tanya sang Papa terhenti sambil menatap Kania.


"Benar Pa.. Kania lah gadis yang aku cari selama ini, dialah yang membuatku hidup sampai saat ini, Aku tak akan bida hidup sampai saat uni jika saja saat itu aku tak bertemu dengan gadis yang sangat berani dan sangat yakin bisa menolongku . apakah Papa dan Mama tahu , Saat itu tak ada lagi tempat aku lolos dari kejaran mereka yang terlalu banyak. Mungkin memang sudah jodoh Kami . hingga membuatku berhutang nyawa padanya. dan sekarang pun dia juga yang membuat Kinan hidup sampai sekarang ini, pertolongan dia pada Kinan hampir merenggut nyawanya...." kata Bara dengan perasaan bangga dan haru sambil menatap Kania yang terbengong berdiri menggemdong Kinan.


'Jadi hal inikah yang membuat sang tuan besar Bara memaksaku untuk menikah dengannya, jadi dia mencintaiku bukan hanya saat ini...? ' (seru Kania dalam hati)


Bara mendekati Kania yang masih terlihat bengong.


"Jadi Pa , Ma, restui aku untuk menikahi gadis pujaanku ini, mana mungkin aku bisa hidup kalau dia jauh dariku..." kata Bara dengan mimik muka serius.


"Ya Tuhan...jadi gadis inikah yang membuat putraku dan cucuku masih hidup...nak...apakah kau tahu orang yang kau tolong seorang Bara Aris Dirgantara...?" tanya sang Mama.


"Maaf nyonya, saya malah baru beberapa bulan yang lalu tahu kalau pria yang terluka parah dulu adalah tuan Bara . sedangkan baru sekarang saya tahu kalau tuan bara mencari dan mencintai saya seperti itu sejak dulu.... Maaf nyonya saya menolong seseorang tanpa melihat siapapun dia, saya hanya tidak suka ada kejahatan yang terjadi di depan saya...." jawab Kania yang sedikit tersinggung dengan omongan Mama Bara. Karena dia merasakan kalau mama Bara menyangka dia menolong Bara karena dia tahu kalau yang dia tolong adalah seorang Bara Aris Dirgantara seorang CEO yang memiliki kekayan tak habis di makan tuju turunan


'Tuhan...berikan kesamabar pada hamba...( doa Kania dalam hati)


"Sayang...."kata Bara yang merasakan ketersinggungan Kania.


"Maaf sayang...bukan Mama meragukan kebaikanmu, maafkan Mama nak..."Kata sang Mama mendengar nada getir di suara Kania. Dia tahu ucapannya menyinggung gadis yang sangat di cintai putranya.


"Nggak apa- apa tante, Kania memahami perasaan tante..." jawab Kania dengan tersenyum tulus.


"Nak... Jangan memanggilku tante, panggil tante dengan sebutan Mama seperti Bara dan Dika, bukankah kamu calon istri Bara ..." kata Nyonya Rani Widya Dirgantara Mama Bara.


"Trimakasih Ma..." jawab Kania canggung


"Kau juga harus memanggilku Papa nak...?" kata tuan Mahesa pada Kania.

__ADS_1


"Baik Pa...." jawab Kania tersenyum lembut.


Bersambung dulu ye...


__ADS_2