Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
KEBENARAN TENTANG KANIA.


__ADS_3

Di kediaman pak Asep terlihat sebuah mobil mewah parkir di halaman rumah pak Asep. Pak Asep dan bik Monah yang belum pernah melihat mobil itu jadi merasa aneh kok tumben ada orang kaya mau makan di restoran kecilnya, walau tanpa di sadari oleh bik Monah dan pak Asep kalau restorannya sudah terkenal di seluruh kota karena masakan di restoran milik bik Monah terkenal dengan masakannya yang sangat lezat. Tak lama terlihat seorang pria tampan keluar dari dalam mobil mewah itu. Pak Asep dan bik Monah pun segera mengenali orang itu.


"Pak...bukankah itu tuan Anton tangan kanan tuan Bara....."bisik bik Monah pada pak Asep. Mereka berdua segera berjalan menghampiri Anton yang sudah berdiri di depan rumah pak Asep.


"Selamat siang tuan Anton ..."sapa pak Asep dengan ramah.


"Siang juga pak Asep bik Monah apa kabar...?" jawab Anton sopan.


"Baik tuan Anton... Mari masuk kedalam tuan..." jawab Pak Asep mempersilahkan Anton masuk kedalam rumahnya.


"Nggak usah pak di sini saja ,Maaf pak Asep dan bik Monah saya mengganggu kegiatan bapak dan bibik, saya datang kesini di utus tuan Bara untuk membawa bibik sama pak Asep pergi ...." kata Anton buru- buru.


"Saya sama istri saya...? Ada apa tuan.? " tanya pak Asep ketakutan.


"saya tidakbtahu pak...." jawab Anton yang memang nggak ngerti masalahnya. yang dia tahu Bara menyuruh dia membawa pak Asep dan bik Monah.


" Apa ada masalah pada putri kami tuan...?" tanya pak Asep lagi. ketakutan akan keselamatan Kania begitu besar di hati kedua orang tua itu.


"Saya tidak tahu pak...saya hanya mendapat perintah membawa kalian berdua kesana..." jawab Anton.


"Kalau begitu tunggu sebentar tuan, kami akan minta tolong dulu pada pegawai saya untuk menjaga restoran, sekalian kami mau ganti baju sebentar...?" jawab pak Asep.


"Baik pak, saya akan menunggu bapak di mobil..." jawab Anton, lalu dia berjalan kearah mobil. Setelah sampai di mobil Anton menelfon dua orang anak buahnya untuk di tugaskan menjaga rumah pak Asep selama pak Asep pergi bersama dia. Sedangkan pak Asep segera menugaskan Vita untuk menjaga restoran selama dia pergi. Setelah mengganti baju yang mereka kenakan dan pamit pada karyawannya pak Asep segera menemui Anton yang sudah berada di dalam mobil mewahnya. Setelah pak Asep dan bik Monah datang, mereka segera pergi meninggalkan rumah pak Asep. Di dalam perjalanan terlihat kecemasan di raut wajah tua pak Asep san bik Monah. kecemasan itu membuat mereka diam di dalam perjalanan. Hampir satu jam perjalanan yang di tempuh mereka , hingga mobil yang di tumpangi mereka mulai memasuki kawasan puncak kota Bg. Saat itu perasaan pak Asep dan bik Monah mulai bertanya- tanya. Karena mereka merasa kawasan itu sangat femiliar sekali buat mereka. Apa lagi saat mulai memasuki perkebunan teh yang mereka kenal.


"Tuan...kita mau di bawa kemana...?" tanya Pak Asep yang mulai merasa takut.


"Ketempat tuan Bara pak..." jawab Anton tenang. Hati pak Asep dan bik Monah resah. Karena mereka tahu siapa pemilik perkebunan itu, apalagi saat mereka melihat rumah besar di tengah perkebunan itu. Apa lagi saat mulai masuk kedalam pekarangan rumah besar itu ,pak Asep dan bik Monah semakin merasa ketakutan.


'Ya Tuhan...apa yang akan mereka lakukan kalau mereka tahu kami yang membawa Nona Kania keluar dari rumah kedua orang tuanya..( pikir pak Asep) Setelah memarkirkan mobil , Anton segera membawa bik Monah dan pak Asep masuk. Saat ketiga orang itu mengucap salam semua mata tertuju pada kedatangan mereka bertiga.


"Asalamualaikum...." ketiganya mengucap salam.


"Walaikum salam..." jawab mereka berbarengan.


"Asep...." seru tuan Herlambang kaget.


"Pak Asep..." kata tuan Rehan .


"Bik Monah..." seru nyonya Garnis gembira. sudah lama dia tidak melihat wanita yang telah mengasuhnya sejak kecil itu.


"Paman, Bibik..." seru Kania sambil berjalan kearah pak Asep dan Bik Monah setelah memberikan Kinan pada Bara.


"Paman , Bibik kalian datang kemari.." kata Kania sambil memeluk bik Monah. Dia melihat ketakutan di wajah kedua orang tua itu.


"Jangan takut Paman, bibik...." hibur Kania, dia segera Membawa mereka berdua kedepan kakek Herlambang.


"Selamat siang tuan Besar..." sapa pak Asep pada kakek Herlambang.


"Siang Sep, apa kabar kalian..." kata kakek Herlambang sambil menerima uluran tangan pak Asep. Bik Monah pun mengikuti perbuatan sang suami. Sedang Kania kembali duduk di sisi Bara.


"Kami baik- baik saja tuan besar...." jawab pak Asep sambil menunduk.


"Pak Asep , bik Monah apa kabar...?" sapa nyonya Garnis sambil berjalan mendekat dan memeluk bik Monah dengan akrab. Orang yang telah merawat mereka ketika kecil dulu, saat sang mama pergi selamanya meninggalkan mereka pergi ke hadapan sang pencipta.


"Nyonya Garnis..." kata bik Monah haru ketika nyonya Garnis memeluknya.


"Pak Asep, bik Monah...kalian melupakan aku....?" sapa tuan Rehan ramah sambil berdiri dan berjalan menghampiri pak Asep dan bik Monah.


"Tuan besar....tuan semakin gagah..." puji pak Asep sambil menitikkan air mata. Begitu juga dengan bik Monah yang kini sudah mengeluarkan air mata juga.

__ADS_1


Tuan Rehan memeluk pelan pria yang dulu selalu membawakan makanan dan minuman kala dia sedang belajar saat menghadapi ujian sekolah. Pak Asep akan menemaninya hingga larut malam.


"Apa kabar kalian berdua...?" tanya tuan Rehan dengan lembut.


"Kami baik- baik saja tuan...?" jawab pak Asep.


"Kalian masih ingat aku kan...?" tanya istri tuan Rehan dengan lembut.


"Tentu nyonya... Kami masih ingat nyonya istri tuan Rehan.." jawab pak Asep sambil berjabat tangan dengan keluarga besar Herlambang.


"Kania inikah paman dan bibikmu...?" tanya tuan Mahesa saat berjabat tangan dengan pak Asep dan bik Monah.


"Iya Pa... Merekalah yang merawat Kania sejak keci,.. Paman , bibik ini Papa dan Mama tuan Bara...?" kata Kania memperkenalkan tuan Mahesa dan nyonya Rani.


"Maaf tuan, nyonya kami tidak tahu itu.." sapa pak Asep sopan.


"Nggak jadi masalah pak..." jawab tuan Mahesa.


"Ayo Asep, Monah kalian duduklah, aku ingin bertanya sesuatu pada kalian.." kata kakek Herlambang. sepertinya kakek sudah tidak sabar mendengar cerita dari pak Asep.


"Baik tuan besar..." jawab Pak Asep sopan. Mereka berdua akhirnya duduk bersama kedua keluarga besar itu.


"Nach Sep.. coba kamu ceritakan semua kejadian yang menimpa cucuku Kania semenjak kecil. Aku ingin mendengar sendiri kejadian semenjak dia dilahirkan kedunia ini ,aku tadi sudah mendengar cerita itu dari tuan Mahesa , sekarang aku ingin kamu ceritakan lebih jelas lagi..." kata kakek Herlambang sambil memandang pasutri yang berada di hadapan mereka.


Pak asep memandang lembut pada Kania. Sedang Kania menatap pak Asep dan bik Monah dengan tersenyum manis.


"Mereka sudah tahu semua tentang Kania Paman..." kata Kania lembut.


"Baiklah tuan, saya akan menceritakan. semua kejadian yang menimpa Nona Kania. Tapi sebelumnya saya minta maaf karena telah berani membawa Nona Kania keluar dari rumah tuan Setyo Hadi. Itu semua kami lakukan karena kami sudah tak sanggup melihat kejahatan dan penyiksaan tuan dan nyonya Setyo pada Nona Kania darah daging mereka sendiri...." kata pak Asep dengan wajah sedih. Akhirnya pak Asep dan bik Monah secara bergantian menceritakan kehidupan Kania selama delapan tahun di rumah orang tuanya sendiri. Di mana dia di perlakukan bagai seorang anak tiri. Sejak Kania lahir di dunia ini dia belum sekalipun merasakan. dekapan sayang kedua orang tuanya. Sejak bayi Kania sudah dirawat oleh bibik Monah dan pak Asep. Mereka berdua membiarkan Kania di rawat oleh bik Mobah dan pak Asep, setelah Kania kecil mylai tumbuh Jangankan di belikan baju, di beri uang untuk membeli susu sekalipun Kania tak pernah menerimanya. Dia bisa sekolah karena memakai uang gajih pak Asep dan bik Monah. Baju serta makanan adalah sisah milik Nona Deby yang sudah tidak dia sukai. Hingga kejadian hari itu di mana pertengkaran antara Deby dengan Kania yang mengakibatkan Kania mendapatkan tamparan dari Mama dan Papanya yang akhirnya membuat mereka memutuskan keluar dari rumah itu karena Kania sudah tidak tahan lagi atas penyiksaan dan pukulan dari kedua orang tuanya. Setelah menerima tamparan dari Mama dan Papanya pada Hari itu.Kania dan pak Asep serta bik Monah keluar dari rumah tuan Setyo Hadi.


"Maaf tuan besar, saya sudah tak sanggup melihat Nona Kania tersiksa. Karena itulah Kami memutuskan keluar dari rumah itu. Apalagi kami tak tega membiarkan Nona Kania yang ingin pergi sendiri.... "kata pak Asep mengakhiri ceritanya. Semua orang yang mendengarkan itu merasa marah dan geram. terutama Bara yang sejak tadi sudah merasakan kepiluhan di dalam hatinya ketika mendengar penderitaan yang di alami sang kekasih di masa kecilnya.


"Lalu gimana kehidupan kalian setelah itu...?" tanya tuan Rehan .


"Ya Tuhan....begitu menyedihkannya hidup keponakanku. Dasar manusia B***h apa sebenarnya yang ada di otak si Setyo itu, apa dia sudah segila itu..?" seru tuan Rehan marah.


"Tuan...untung kalung pemberian nyonya besar sempat saya ambil, saat itu nyonya Sinta memakaikannya pada Nona Deby. Tapi saya tak rela. barang yang seharusnya milik Nona Kania saya tak rela jika yang seharusnya milik Nona Kania di berukan pada Nona Deby, Tanpa setahu Nona Deby saya membuka kalung itu. Dan memberikannya pada Nona Kania.. Non apa masih ada kalung itu....?" tanya bil Monah pada Kania.


Kania segera mengeluarkan Kalung yang sempat beberapa tahun berada di tangan Bara.


"Apakah kalung ini Bik...?" tanya Kania.


"Benar Non... Itu kalung yang di berikan nyonya besar pada tuan Setyo Hadi, bukankah itu perhiasan keluarga..." kata Bik Monah.


"Benar Bik...aku juga punya..." seru Kristal sambil nengeluarka Kalungnya.


"Aku juga masih memakainya, karena aku hanya mempunyai seorang putra mungkin nanti istri si Viktor yang memakai..." seru Nyonya Garnis juga mengeluarkan kalungnya.


"Sep, Monah Terimakasih kalian telah menyelamatkan dan mencintai cucuku, aku nggak bisa membayangkan apa jadinya Kania tanpa pertolongan kalian." kata tuan Herlambang sambil menepuk pundak pak Asep dan memeluknya.


"Itu sudah kewajiban saya melindungi Nona Kania tuan..." jawab Pak Asep haru.


Tak lama terlihat keakrapan di antara dua keluarga itu.


"Pak Asep sebenarnya beberapa hari lagi kami akan kerumah bapak...." kata tuan Mahesa.


"Kerumah saya tuan....?" tanya pak Asep tak mengerti.


"Iya kerumahmu... ." kata tuan Mahesa sambil menyeruput teh hangat di depannya.

__ADS_1


"Emang ada apa kamu kerumah pak Asep Mahes...?" tanya tuan Rehan.


"Itu si Bara buru- buru pingin melamar Kania..." jawab tuan Mahesa dengan tenang.


"Mahes...mulai hari ini kalau kau mau melamar Kania, bukan hanya pada pak Asep saja, tapi juga pada kami ...." seru tuan Rehan menatap sang sahabat.


"Benarkah...? Bagaimana pak Asep...?" tanya tuan Mahesa.


"Itu benar tuan... Tuan besar adalah kakek kandung Nona Kania, merekalah yang berhak menentukan kehidupan Nona Kania..." jawab pak Asep.


"Paman...Kakek memang keluarga Kania, tapi pamanlah yang membuat Kania bisa hidup sampai sekarang ini jadi paman dan Bibik juga berarti dalam hidup Kania ... " kata Kania sambil memeluk pak Asep.


"Benar apa yang di katakan Kania Sep, kamulah yang lebih berhak pada Kania dari pada kami. Jadi janganlah kamu merendahkan dirimu seperti itu. mari kita sama- sama membuat Kania bahagia kami akan menyetujui keputusanmu..." kata kakek Herlambang bijaksana.


"Baik tuan besar, sekarang bagi kami berdua adalah kebahagiaan Nona Kania, kalau memang tuan Bara mau melamar Nona Kania dan Keluarga tuan besar merestuinya. Asep dan Monah ikut aja, karena setahu kami tuan Bara sangat perduli dan mencintai Nona Kania..." jawab Pak Asep dengan tenang.


"Nah kau dengar itu Mahes apa kata


Pak Asep..dia menyerahkan sepenuhnya tentang perjodohan Kania pada Kami..." goda tuan Rehan sambil tertawa.


"Baiklah, baiklah... Aku akan datang kemari ketika melamar Kania, tapi pak Asep harus ada di sini juga...?" kata tuan Mahesa .


"Baguslah, dan soal pak Asep pasti dia ada di sini. Malah aku ingin dia dan istrinya kembali kemari untuk menemani Papa di sini., gimana pak Asep. Apakah Pak Asep dan bik Monah mau kembali kesini pak...?" tanya tuan Rehan dengan wajah mengharap. Pak Asep dan bik Monah saling pandang.


"Tuan Besar kami masih memiliki restoran yang harus kami urus dan juga bagaimana nanti kalau kami bertemu dengan tuan Setyo...?" jawab pak Asep bingung.


"Paman Rehan biarkan paman Asep dan bibik Monah berada di sana dulu sampai masalahku dengan tuan Setyo Hadi selesai dulu ( Kania tak mau menyebut tuan Setyo papa), kalau persoalan ini telah berakhir nanti akupun akan sering berada di sini menemani Kakek..." kata Kania menengahi.


"Benar Paman Rehan, kami nanti akan sering berlibur kemari jika masalah tuan Setyo dan Deby sudah selesai...." kata Bara menegaskan.


"Baiklah kalau itu keputusan kalian, oh ya Kania apakah sekarang kau sudah bekerja...?" tanya tuan Rehan pada Kania.


"Sudah Paman, dulu Nia kerja di perusahaan Dirgantara Group , tapi sekarang jadi artis film dadakan...?"


Jawab Kania sambil tersenyum malu .


"Maksudmu....?" tanya tuan Rehan tak mengerti.


"Seorang Sutradara meminta padaku paman agar aku mengijinkan Kania untuk main dalam filmnya gara- gara tanpa sengaja Kania menolong dia menyelesaikan kerusuhan saat audisi para artis...." Kata Bara menjawab pertanyaan tuan Rehan.


"Jadi berita heboh pada saat audisi artis itu Kak Kania ya....?" seru Viktor menyela pembicaraan.


"Kehebohan giman Vik...?" tanya sang Mama.


"Berita itu sudah menyebar di internet Ma.. Seorang gadis super melawan dua pria kekar dalam satu gebrakan , malah ada vidionya lo...tapi tunggu dulu..(Viktor mengeluarkan ponselnya dari saku celananya lalu mengutak atik ponselnya. ) nach lihat ini Vidio itu. Aku sempat menyimpannya karena gadis yang menjadi trendyng topik sangat cantik, dan ya ampuun dia benar- benar kak Kania...." seru Viktor heboh.


"Coba lihat Vik...." kata Hardika sambil merebut ponsel yang ada ditangan Viktor. Dan dia terlihat kaget saat melihat vidio aksi Kania saat audisi artis itu.


"Pa lihatlah vidio ini..." kata Hardika sambil memberikan ponsel Viktor pada sang Papa. Tuan Rehan pun dengan penasaran menerima pinsel yang Hardika berikan. Saat melihat aksi Kania di dalam pinsel Viktor tuan Rehan pun tercengang.


"Nia...dari mana kau dapatkan kepandaian seperti ini...?" tanya tuan Rehan dengan menatap tajam Kania.


"Tuan.. apakah itu vidio Nona Kania berkelahi...?" tanya Bik Monah.


"Iya Bik...." jawab tuan Rehan .


"Waah kalau masalah Non Kania ngelawan para penjahat itu mah udah biasa tuan..dulu saat masih di kota B , maaf... non Kania termasuk salah satu orang yang di takuti penjahat..." seru Bik Monah bangga.


"Maksud Bibik...?" tanya tuan Rehan kaget sekaligus penasara.

__ADS_1


Wee kalian penasaran juga ya...? kagak Kan...? soalnya sampai di sini dulu ye...ceritanya. habis author lagi ada kesibukan dikit. jangan lupa like dan komennya ya....


Bersambung.


__ADS_2