Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
TENTANG MAMA KINAN


__ADS_3

Saat Kania mengikuti Farel pulang kerumahnya, Kania merasa kaget di sebabkan mobil mereka memasuki daerah rumah elit yang sangat Kania kenal, mana mungkin Kania akan lupa sebab jalan yang mereka lalui adalah jalan yang Kania lalui sehari- haru hampir dua bulan lamanya. Kania segera sadar ketika mobil itu masuk kesebuah rumah mewah yang teryata berjarak satu rumah dari rumah Bara. Kata halusnya rumah itu dengan rumah Bara hanya di halangi oleh rumah Dika .


'Ya ampun....apa yang harus gue lakuin sekarang...😥( seru Kania dalam hati)


Akhirnya Kania mengirimkan WA pada Arum agar mencarikan solusi untuk pergi dari Farel. Setelah mereka turun tiba- tiba Arum mendatangi Kania.


"Bos maaf ...tadi ada panggilan dari Nona Rika kalau Bos di tunggu kedatangannya sekarang juga..." kata Arum buru- buru.


"Bos....?" beo Farel.


'Mati gue...kenapa Arum manggil gue Bos sich...( teriak Kania dalam hati)


"Rel maaf ya gue terpaksa pulang dulu, kayaknya menejer gue ada penting..." kata Kania mengalihkan masalah.


"Tunggu dulu Kin...apa maksud dia manggil elo Bos...?" tanya Farel dengan wajah menyelidik.


"Yaa..kayak elo kagak tahu aja, biasalah anak mudah...uda dech kita bahas lain kali aja ye...dach...Asalamualaikum..." seru Kania sambil menarik Arum pergi dari depan Farel.


"Tapi Kin...." seru Farel, dia belum tahu di mana rumah Kania. Tapi terlihat Kania sudah berlari masuk kedalam mobil merahnya.


"Dasar gadis nakal... elo selalu membuat gue gemes Kin..." omel Farel sambil tersenyum. Sejak dulu Farel memiliki nama panggil untuk Kania yaitu Kin- kin.


Sedang di perjalanan setelah lepas dari Farel , Kania segera menyuruh Keti untuk pulang kerumah Bara. Kania segera menelfon Rika kalau dia sekarang dalam perjalanan pulang karena syuting hari ini sudah selesai. Ketika melihat kedatangan Kania para satpam yang lagi bertugas tersenyum senang pada calon majikan wanita mereka.


"Selamat siang Non Kania...?" sapa mereka.


"Siang pak...tuan Bara dan den Kinan belum pulang pak...?" tanya Kania dari jendela mobil.


"Belum Non.." jawab salah satu dari mereka sambil membuka pintu gerbang


"Ya udah kalau gitu Nia masuk dulu pak..?" kata Kania ramah pada pak ujang si satpam paruhbaya itu.


"Iya Non..." jawab mereka kembali menutup pintu gerbang. Ketika sampai di dalam garasi mobil milik Bara, kania dan kedua pengawalnya segera masuk kedalam rumah. Ketika sampai di depan pintu belakang rumah utama Kania berpapasan dengan bang Mamat.


"Assalamualaikum Bang...." sapa Kania.


"Lo Non Kania...Walaikum salam Non...?" jawab bang Mamat.


"Bang..kalau nanti jemput Kinan jangan bilang kalau Nia berada di sini ya bang.." kata Kania.


"Beres Non..." jawab bang Mamat.


Kania segera masuk kedalam rumah dan menuju kekamar yang biasa dia tempati. Setiap berjumpa dengan para pembantu Bara , Kania menyapa mereka dengan ramah, keramahan Kania itulah yang membuat penghuni rumah Bara sangat menyukainya. Sesampainya di dalam kamar , Kania segera menuju kamar mandi. Namun sebelum pergi ke kamar Mandi dia menelfon Bara kalau dia datang kerumah Bara.


"Asalamualaikum Bun.." sapa Bara.


"Walaikum salam Pa..." jawab Kania.


"Ada apa Bun...?" tanya Bara heran , karena tidak biasanya Kania menelfon dirinya.


"Pa..Bunda sekarang ada di rumah Papa hari ini papa pulang jam berapa...?" tanya Kania. Tentu saja kabar itu membuat Bara senang.


"Beneran Bunda dirumah...?" tanya Bara kesenengan.


"Nggak boleh...?" kata Kania menggoda.


"Papa malahan senang Bun...?" jawab Bara.


"Lalu Papa pulang kapan....? Sore...?" tanya Kania lagi.


"Sebentar lagi Bun, saat makan siang.. Papa pingin makan bareng sama Bunda.." jawab Bara.


"Okey Bunda tunggu di Rumah ya... Asalamualaikum..." kata Kania.


"Baik Bun... Walaikum salam..." jawa Bara sambil tersenyum senang. Sedang Anton dan Dika yang berada di depannya hanya bisa geleng- geleng kepala.


"Kak..kalau kakak pulang kapan kita membahas soal perusahaan Prayoga..?" tanya Dika yang sempat mendengar percakapan sang Kakak .


"Kalian berdua nanti malam datang kerumah..." jawab Bara tenang.


"Ck...dasar bucin..." gumam Dika.


"Aku dengar Dik...." kata Bara.


"He he...maaf kak..." cengir Dika.


Bara pun segera mengambil jas kerjanya yang berada di sandaran kursi kerjanya.


"Aku pulang dulu ,nanti malam aku tunggu kalian di rumah..." kata bara sebelum melangkah keluar ruangan. Ketika sampai di luar terlihat wajahnya kembali dingin menakutkan. Bara segera berjalan ketempat parkiran mobil. Tak berapa lama terlihat mobil mewah Bara pergi meninggalkan kantor Perusahaan Dirgantara Group.


Sedang Kania yang berada di rumah Bara terlihat sedang membantu Chef Gio di dapur. Mereka sedang memasak makanan untuk makan siang.


"Chef Kania pingin masakan pedesaan boleh nggak...?" tanya Kania.


"Silahkan Non Kania...emang Non Kania mau masak apa...?" tanya Gio .


"Cuma sambel kemangi chef...soalnya Kania kapan hari melihat Kemangi di kebun belakang..." jawab Kania.


"Boleh silahkan Non..." Kata chef Gio.


Kania pun mengambil ikan tuna yang ada di dalam kulkas. Setelah membersihkan sisik yang tidak terlalu banyak dari daging ikan, Kania segera memotong ikan jadi beberapa bagian. Setelah itu dia membuat bumbu untuk menggoreng ikan.


'Non bibik bantu menggoreng ya...?" kata bik ijah.


"Iya bik.. Makasih ya...sekarang Kania mau membuat sambalnya..." kata Kania. Dia segera meracik sambal di atas cobekan. Tiba- tiba dia ingat kalau belum mengambil daun kemangi.


"Bik Minah Kania minta tolong ya...?" kata Kania pada bik Minah yang berada di ruang makan sedang menata makanan.

__ADS_1


"Iya Non...apa yang harus bibik lakukan..?" tanya bik Minah yang sudah berada di sebelah Kania.


"Bik Kania minta tolong ambilkan. daun Kemangi di belakang ,.ambil yang mudah aja ya bik..." kata Kania.


"Baik Non..." jawab bik Minah sambil berjalan kehalaman belakang. Tak lama bik Minah datang dengan membawa segenggam daun kemangi.


"Ini Non..." kata bik Minah sambil memberikan daun kemangi pada Kania.


"Makasih ya bik..." kata Kania .


"Sama- sama Non..." bik Minah pun segera kembali menata makanan.


Setelah membuat sabal terasi Kania segera mencuci daun Kemangi lalu mencampurkan kedalam sambal di atas cobekan lalu dia ulek perlahan, setelah itu ikan tuna goreng dia taruh juga di atas sambal daun kemangi tadi tak lupa dia memberi sedikit air jeruk nipis .


"Tadaa.... jadi dech...." seru Kania gembira.


"Non sepertinya sambal buatan non Kania enak ya...?" kata bik ijah.


"Iya..aku jadi ngiler ngeliatnya..." kata si Minah.


"Kalian coba aja nanti makan sambal buatan Kania. Tadi Kania membuat banyak kok..." kata Kania pada para pembantu Bara.


"Emang boleh Non..." tanya bik Ijah.


"Ya boleh lah...masak mau Nia habisin sendiri..." jawab Kania.


"Makasih ya Non..." kata Bik Ijah dan Bik Minah hampir bersamaan.


Tiba- tiba terdengar suara mobil datang, tak berapa lama terdengar teriak Kinan memberi salam.


"Asalamualaikum...."serunya.


"Walaikum salam...." jawab Kania dari dalam dapur. Mendengar suara Kania , Kinan segera melompat kegirangan.


"Bunda.....!" teriaknya.


"Sayang...pelan- pelan ..." seru Kania buru- buru keluar. Melihat Kania , Kinan segera melompat dalam gondongan Kania. Melihat tigkah Kinan, Kania segera menggendong dan memeluk serta menciumi pipi gembul Kinan.


"Bunda...Bunda sudah tiga hari nggak kesini...Kinan kangen Bunda..." seru Kinan protes.


"Bunda sibuk sayang...lalu kenapa Kinan nggak ke apartemen Bunda aja...?" tanya Kania.


"Nggak Boleh sama Papa , Bunda..." jawab Kinan cemberut.


"Lo Kenapa....?" tanya Kania heran.


"Takutnya Bunda pulang malem sayang...?" tiba - tiba suara bariton itu menyela pembicaraan Kania dan Kinan.


Kania dan Kinan segera menoleh ke asal suara. Terlihat Bara datang dengan membawa tas kerja.


"Ih si Papa...maluu tahu..." kata Kania perlahan


"Emang kenapa....?" tanya Bara menggoda.


"Ck...banyak pembantu Pa..." kata Kania.


"Jadi kalau nggak ada pembantu boleh.." goda Bara lagi.


"Idih apaan si Pa..." kata Kania merasa malu, dia segera membawa Kinan kekamarnya.


Barapun segera melangkah menuju ke kamarnya.


Sesampainya Kania dan Kinan di kamar Kinan, Kania segera memandikan Kinan dan mengganti baju nya. Setelah merapikan dan menyisir rambut kinan , Kania segera membawa anak laki- laki itu turun kelantai bawah. Ketika baru keluar dari kamar Kinan , Bara sudah mendekati mereka.


"Sini biar papa yang mengggendong Kinan...?" pinta Bara. Kania pun segera memberikan Kinan pada Bara. Terlihat ketiga orang itu berjalan nenuruni tangga. mereka terlihat bagai sebuah keluarga yang harmonis. Setelah sampai di ruang makan Bara segera mendudukkan Kinan di kursi. Kania pun segera duduk di dekatnya. Dia segera mengambilkan nasi dan lauk buat Kinan.


"Bun...itu sambal kok ada ikannya..? Dan daun apa yang bercampur ikan itu..?" tanya Bara yang baru melihat masakan seperti itu.


"Ah..maaf Pa..itu masakan yang Bunda suka, namanya ikan pecek sambal kemangi..." jawab Kania sambil tersenyum.


"Siapa yang membuat Bun...?" tanya Bara lagi.


"Bunda tadi.. " jawab Kania.


"Enak Bun...?" tanya Bara.


"Coba aja Pa.. Papa mau Kania suapi pakai tangan...?" tanya Kania yang memang sudah mulai makan tanpa memakai sendok.


"Boleh ...coba Papa mau merasakan dulu..." kata Bara.


Kania pun segera mengambil sesuir ikan tuna yang sudah di pecekkan dengan sambal daun kemangi lalu menyuapkan pada Bara yang sedang menanti.


"Aaa..." kata Kania. Bara pun segera menerima suapan dari tangan Kania. Saat jemari Kania menyentuh bibir Bara ada sensasi yang mereka rasakan. Hingga membuat wajah Kania menerah.


Sedang Bara merasa senang ketika jemari lentik itu bisa dia rasakan ketika bersentuhan dengan bibir nya. Setelah itu Kania melihat wajah Bara yang sedang menguyah . ada rasa ketakutan di hati Kania kala melihat Bara memejamkan mata.


"Nggak enak ya Pa...?" tanya Kania khawatir.


"Bun...enak banget..tapi Papa nggak bisa makan tanpa sendok....?" seru Bara.


"Bun suapi ya....?" pinta Bara.


"Tapi Pa..." seru Kania tak enak.


"please...sekali ini aja...salah siapa Bunda membuat masakan seperti itu..." kata Bara dengan senyum liciknya. dasar Bos yang mencari perhatian, ada kesempatan tak akan Bara sia- siakan dasar..🤣🤣.


"iya dech Bunda suapi..." Kata Kania. akhirnya Kania menyuapi Bara terlebih Dahulu

__ADS_1


"Bun..Kinan juga..." protes Kinan.


'Ya ampun..nich bocah ame bapaknya sama- sama manja..." (seru Kania dalam hati)


"Tapi sayang...masakan Bunda pedas lo.." kata Kania.


"Kinan coba dikit..." jawab Kinan.


"Baiklah...." Kania menyuapkan sedikit nasi dan sambal kemulut Kinan. saat makanan berada dalam mulutnya Kinan merasakan pedas melanda mulutnya tapi tak lama rasa nasi dan ikan yang pedas itu enak sekali. Kania yang melihat wajah Kinan memerah panik.


"Sayang...jangan di makan terus, lihat kau kepedasan..." seru Kania.


"Nggak Bun...Kinan suka..lagi Bun..." seru Kinan senang.


"sayang....." seru Kania kaget sebab Kinan tidak terlalu suka makanan pedas.


"Bun...Papa juga pingin makan lagi..?" seru Bara.


"Iya, iya kalian berdua Bunda suapi...?" seru Kania sambil tersenyum melihat tingkah dua orang pria berlainan umur yang dia sayangi. setelah menyuapi mereka Kania baru mulai makan . Bara tersenyum ketika melihat wajah Kania yang terlihat ceriah.


Setelah selesai makan siang Kania membawa Kinan bermain di dalam Kamarnya. sedang Bara berjalan kearah kamar kerjanya.


"Bun..Papa keruang kerja sebentar..." pamit Bara pada Kania.


"Iya Pa... Kania dan Kinan pergi ke kamar.." jawab Kania. merekapun pergi ketujuan masing- masing.


"Sesampainya di dalam Kamar Kania dan Kinan mulai bermain dengan permainan yang biasa mereka lakukan , yaitu permainan game di dalam leptop yang mereka sukai saat bermain bersama. tak berapa lama Kinan sudah mengantuk. Kania segera menidurkan Kinan . tak berapa lama pria kecil itu sudah terdengar dengkuran halusnya.


Setelah menyelimuti Kinan Kania turun dari ranjang dan berjalan ke arah Balkon. Dia berdiri di balkon dengan memandang taman dan hamparan kota yang terlihat dari atas Balkon. tiba- tiba dia merasakan pelukan hangat tangan kekar.


"Ada apa sayang...?" tanya Bara sambil memeluk pinggang Kania dan menyenderkan kepala Kania di dadanya.


"Nggak ada Pa... hanya rasanya Kania tak percaya bisa dekat dengan Papa dan Kinan..." jawab Kania pelan.


"Andai Aku bisa cepat menemukan mu mungkin sudah sejak dulu kita menikah. " jawab Bara.


"Emang Papa sudah sejak dulu mencari Bunda...?" tanya Kania.


"Iya..setelah Papa pulang dari rumah sakit, tapi papa nggak bisa menemukan Bunda..." jawab Bara.


"Saat itu Bunda nggak bileh berdagang keliling sama Paman Asep dan bik Monah karena Bunda sudah kelas tiga. mereka pingin bunda fokus pada pelajaran agar mendapat beasiswa kuliah.." kata Kania menjelaskan sambil berbalik menghadap Bara.


"Ternyata seperti itu... tentu Saja Papa nggak bisa menemukan Bunda, yang di cari ternyata lagi di umpetin...." goda Bara sambil mencubit hidung Kania. Kania hanya tersenyum.


"Pa...Apa benar Papa dingin dengan wanita, dan kenapa Papa ketakutan jika berada terlalu dekat dengan wanita....?"tanya Kania.


"Benar... Entahlah Papa nggak suka dekat dengan wanita sejak dulu... rasanya seperti di cekik dan merasa jijik jika Papa di dekati atau di pegang seorang wanita..."kata Bara menjelaskan.


"La kalau sama mamanya Kinan kok Bisa..? bukankah Mama Kinan wanita juga, malah sampai hadir Kinan..?" tanya Kania sambil tersenyum menggoda.


"Jangan menggodaku seperti itu Bun.. kau tahu Papa pingin memakanmu saat melihat senyum menggodamu itu..." kata Bara sambil memandang Kania gemas.


"Idih ..otak mesum..." jawab Kania tak urung rona merah terlihat di wajah Kania.


Bara tertawa melihat wajah sang gadis.


"Saat itu Papa di jebak oleh Mamanya Kinan, Mama Kinan adalah gadis pilihan Mama Rani dia putri sahabat Mama, Saat itu Mama Rani sakit Parah entah mengapa beliau meminta paksa Papa untuk menikahi putri sahabatnya itu, mulanya Papa kekeh tidak mau karena Bunda sudah berada di hati Papa sejak pertemuan kita itu, Papa berfikir nyawa dan tubuh Papa hanya milik Bunda,(Bara diam sejenak menatap wajah Kania) akhirnya Mama memberi ide agar Papa mau makan malam dengan gadis putri teman mama Rani itu, semua itu ide teman Mama. akhirnya dengan berat hati Papa melakukan keinginan Mama. ternyata semua itu jebakan yang di buat putri teman mama. Saat makan malam tanpa setahuku dia memasukkan obat perangsang di dalam minumanku hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. ketika aku bangun kami sudah berada di atas ranjang dengan tubuh tanpa busana. kulihat dia menangis sejadi- jadinya , dia mengatakan aku telah menodainya. saat itu aku marah karena aku tahu dia sengaja menjebakku. namun nasi sudah menjadi bubur akhirnya aku harus menikahi dia.."kata Bara menjelaskan masalahnya.


"Kenapa kalian berpisah...?" tanya Kania. dia mengusap lembut pipi Bara.


" Mungkin karena sudah takdir Kinan harus lahir, perbuatanku yang hanya sekali itu membuat dia hamil, namun karena Aku merasa di jebak menikahi dia, aku selalu mengacuhkannya namun setelah Kinan lahir dan ketika kami tes DNA ternyata Kinan memang putraku, akhirnya aku berusaha menerimanya walau dengan berat hati. Tapi Tuhan berkehendak lain, saat aku berusaha menerima dia aku malah menemukan dia di dalam hotel bersama laki- laki lain, pada saat itulah aku menceraikan dia...." jawab Bara.


"Sekarang dia di mana Pa...?" tanya Kania.


"Entahlah...Papa tak perduli tentang keberadaannya apa lagi sekarang, gadis yang aku cari dan yang aku cintai yang memiliki tubuh dan hati ini sudah berada di hidup Papa membuat Papa semakin tak perduli.." jawab Bara sambil memeluk erat Kania dan mencium dahi Kania dengan penuh sayang.


"Pa..gimana jika dia akan mengganggu kehidupan rumah tangga kita, terutama menggangu Kinan... Kania tidak ingin kehilangan Kinan Pa...?" tanya Kania yang ada di dalam dekapan Bara.


Bara mendengar omongan Kania menjauhkan Wajahnya dan menatapnya dengan sayang. dia tersenyum bahagia mendengar Kania sangat menyayangi Kinan putranya.


"Sayang...semua itu tak akan pernah terjadi, aku janjikan itu..." jawab Bara sambil membelai pipi Kania.


"Semoga tidak ada yang akan memisahkan kita bertiga Pa..." kata Kania


"Kau harus yakin itu..." jawab Bara sambil mencium lembut dahi Kania.


"Pa... ada yang ingin Bunda tanyakan sama Papa..."kata Kania lembut.


"Hmm...apa...?" tanya Bara menatap wajah Kania dengan mesra.


"Papa yang mengirim bingkisan pada Nia kemaren...?" tanya Kania , dia menarik Bara dengan penuh tanya.


"Sudah kau terima hadiah dari Papa...?" tanya Bara sambil tersenyum. Kania mengeluarkan kalung yang sudah dia pakai.


"Ada maksud apa Papa mengirim hadiah itu di lokasi syuting...?" tanya Kania heran.


"Karena Papa tahu pasti Deby akan menyuruh kekasihnya untuk mengirim hadiah kelokasi. atau dia sendiri yang mengirimnya atas nama tunangannya..." jawab Bara.


"Apa sampai segitunya Pa...?" tanya Kania heran.


"Itu sudah biasa untuk mereka sayang..?" jawab Bara. dia semakin memeluk Kania erat.


Udahan dulu dech... maaf author agak telat update nya. maaf ya....🙏🙏


jangan lupa like dan komennya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2