
Dua hari kemudian kesehatan Kania sudah mulai membaik. Karena mendapatkan perawatan yang super baik dan obat yang terbaik , luka yang di derita Kania sudah mulai kering dan pulih kembali. Sedang Kinan yang sudah melihat sang Mama mulai kembali sehat dia tak mau jauh dari sang Mama. Jika malam hari dia akan tidur di ruang inap Kania. Siapapun tidak ada yang mampu membawanya pergi dari samping Kania. Hanya jika pagi hari saja dia pergi kesekolah tapi siang hari dia sudah kembali keruangan Kania. Seperti saat ini. Ketika nyonya Rani dan tuan Mahesa akan pulang setelah menjenguk Kania. Dia ingin mengajak Kinan pulang. Tapi dengan wajah Marah dan memeluk sang Mama dia tak bergeming dari sisih Kania .
"Sayang...kita pulang yuk, besok kita kembali lagi kemari..." kata sang Oma.
"Nggak mau....Kinan mau tidur bersama Mama...." jawab Kinan keras kepala .
"Sayang....lebih baik kau pulang bersama Oma nak...nggak baik seorang anak kecil tidur di rumah sakit sayang..." bujuk Kania.
"Nggak...Kinan nggak mau jauh dari Mama , Kinan ingin selalu dekat dengan Mama...please Ma...jangan kau suruh Kinan pergi dari Mama. Kinan nggak akan bisa tidur jika Mama masih berada di sini . Kinan nggak ingin Mama tidur lagi dan nggak mau bangun...." jawab Kinan dengan wajah memelas .
"Baiklah Kinan boleh tidur sama Mama. Ma...biarkan Kinan tidur bersama Kania Ma..." kata Kania pada nyonya Rani.
"Baiklah Mama dan Papa pulang dulu sayang.... Kinan...jangan nakal ya nak..." kata nyonya Rani pada sang cucu.
"Beres Oma... Kinan akan jadi anak yang patuh..." Akhirnya nyonya Rani dan tuan Mahesa segera berpamitan dan keluar dari kamar Kania.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Bara segera menyuruh sang istri untuk istirahat.
"Ma... Sekarang mama istirahat, agar kesehatan mama cepat pulih..." kata Bara sambil membaringkan sang istri yang tadi duduk bersender .
"Baik Pa...." jawab Kania menuruti perintah Bara.
"Dan kau Kinan sayang.... Jangan banyak gerak agar tak mengganggu Mama...?" kata Bara pada sang putra.
"Siap Bos...." jawab Kinan sambil tidur di dekat Kania. Bara dan Kania hanya tersenyum melihat tingkah sang anak. Namun Baru saja Bara memyelimuti Kania dan Kinan tiba- tiba terdengar ketukan di pintu.
"Pa...kayaknya ada tamu....?" kata Kania.
"Sebentar Papa buka pintu dulu ya..." kata Bara sambil mencium lembut kening Kania. Setelah membetulkan selimut di tubuh sang istri Bara segera berjalan kearah pintu . Ketika pintu terbuka terlihat tuan Malik dan istri serta kedua anak dan cucunya berdiri di depan pintu.
"Papa Malik...." ucap Bara kaget.
"Selamat malam nak...." sapa tuan Malik lembut.
"Selamat malam Pa..Ma...mari silahkan masuk..." kata Bara sambil membuka pintu kamar Kania lebih lebar. Mereka masuk kedalam kamar Kania. Melihat mereka datang walau belum tahu siapa mereka , Kania segera bangun dari tidurnya. Melihat sang istri akan bangun Bara buru - buru membantu Kania. Dia menaikkan tempat tidur yang Kania tempati agar agak keatas agar Kania bisa berbaring setengah duduk . Bara sekalian menaruh bantal yang agak tinggi untuk menyangga tubuh Kania . melihat tingkah Bara yang lembut pada Kania , tidak seperti saat menjadi suami Emilda , mereka semakin yakin kalau wanita ini adalah wanita yang sangat Bara cintai. Karena itulah Bara sangat marah melihat Emilda yang telah membuat wanita ini masuk rumah sakit.
"Selamat malam Nak Kania...."sapa tuan Malik ramah sambil berjalan mendekati Kania. Dia mengulurkan tangan pada Kania untuk bersalaman. Kania menyambut tangan itu dan menciumnya. Begitu juga pada nyonya Malik. Begitupun dengan putra dan pitri serta cucu tuan Malik, mereka bergantian menyalami Kania .Kania memandang sang suami seakan bertanya siapa mereka. Bara yang mengerti pandangan Kania berkata.
"Dia kakek dan Nenek Kinan, mereka tuan Malik dan Tante Lidya, papa dan mama Emilda, juga adik- adik Emilda...." kata Bara menjelaskan.
"Ooo..Maaf Om , Tante..Kania tak tahu..." kata Kania sambil tersenyum lembut.
"Nggak Masalah nak..." jawab tuan Malik .
"Sayang...gimana kabarmu...?" tanya nyonya Malik.
"Baik tante... Sayang salim sama Kakek dan Nenek..." kata Kania memerintah Kinan yang masih tiduran di sebelahnya. Perlahan pria kecil itu bangun dari tidurnya dan turun dari tempat tidur. Dia mencium tangan nyonya Lidya dan tuan Malik serta putra putrinya . Melihat perbuatan Kinan nyonya Lidya terlihat meneteskan air mata.
"Nak...boleh nenek memelukmu....?" tanya nyonya Lidya mengharap. Kinan menatap wajah sang Mama dan Papa bergantian. Kania dan Bara memberi anggukan kepala. Melihat Mama dam Papa mengijinkan Kinan segera memeluk nyonya Lidya. Melihat itu nyonya Lidya menangis dan memeluk Kinan . setelah agak lama dia melepas pelukannya dan mencium pipi Kinan dengan sayang.
"Ma...Papa juga pingin memeluk Kinan Ma..." kata tuan Malik. Nyonya Lidya segera memberikan Kinan pada sang suami. Setelah agak lama tuan Malik melepas pelukannya. Dia mencium kening Kinan dengan sayang.
"Sekarang Kinan sudah sekolah...?" tanya tuan Malik penuh sayang.
"Sudah Kek..." jawab Kinan sopan.
"Di TK kecil atau besar...?" tanya tuan Malik lagi.
'Di SD Kek...kelas lima.." jawab Kinan dengan wajah datar.
"Apaa....?" seru mereka hampir bersamaan.
"Maaf...Kinan loncat Kelas Om..." kata Kania menyela .
"Bukankah Kinan masih berumur ...." ucap nyonya Lidya terhenti karena dia lupa umur Kinan .
"Tuju tahun Ma...." jawab tuan Malik.
__ADS_1
"Iya masih tuju tahun kan....?" kata nyonya Malik melanjutkan .
"Benar Tan..tapi kecerdasan Kinan membuat para guru menaruh dia di kelas lima, itupun mereka akan mengikutkan Kinan untuk ujian kelulusan tahun ini..." jawab Kania dengan senyum bangga.
'Ya Tuhan nak....ternyata cucu Kakek anak yang jenius..." kata tuan Malik sambil memeluk Kinan dengan bahagia.
"Kek...boleh Kinan kembali ke Mama..." tanya Kinan yang memang tidak terlalu suka berdekatan dengan orang asing.
"Iya sayang...." jawab tuan Malik sambil melepas Kinan. Kinan segera berjalan kembali ke sang Mama dan kembali naik ketempat tidur Kania, diapun tidur di sebelah Kania sambil memeluk Kania.
Melihat tingkah Kinan kedua orang tua Emilda menatap Kania Kagum. mereka bisa melihat Kasih sayang dan ketulusan Kania kepada sang cucu.
"Nak...kami datang kesini hanya ingin meminta maaf padamu atas tingkah laku Emilda terhadapmu... " kata tuan Malik dengan wajah sedih dan Malu.
"Benar nak...kami merasa sedih dan malu atas perbuatan Emilda terhadapmu..." kata nyonya Lidya menambahkan.
"Om..Tante...mengapa kalian harus meminta maaf, kalian tidak bersalah, semua itu adalah perbuatan Emilda bukan perbuatan Om dan tante, jadi Om dan tante tidak berkewajiban untuk meminta maaf pada Kania...." kata Kania sambil tersenyum ramah.
"Tapi Om merasa bersalah telah salah mendidik Emilda , Om dulu terlalu memanjakan dia , hingga membuat dia menjadi orang yang egois , sombong dan mau menang sendiri... sebenarnya Om telah mperingati dia agar tidak mengusik kehidupan kalian , tapi entah kenapa dia bisa melakukan perbuatan yang sangat merugikan kalian, sekali lagi Om minta maaf nak...." kata tuan Mahesa dengan wajah memohon.
"Baiklah Om Kania memaafkan perbuatan Emilda namun soal hukum Kania tidak bisa membantu..." jawab Kania . Kania berbicara sambil mengusap lembut Kinan yang berada di sampingnya , hingga pria kecil itu tertidur sambil memeluk Kania. Melihat semua itu kedua orang tua Emilda semakin merasa bersalah dan terharu melihat kedekatan dan kasih sayang yang terlihat antara Kania dan Kinan.
"Nak...kalau soal kewajiban hukuman yang di terima Emilda Om pun merasa setuju, karena itu adalah akibat yang harus di terima Emilda, nak... bolehkah Kami meminta sesuatu pada mu...?" tanya tuan Malik dengan wajah tegang. karena apa pantas dia meminta sesuatu lagi pada Kania setelah mereka di maafkan. sedang Bara hanya diam saja melihat apa yang di lakukan tuan Malik terhadap sang istri dari tempat duduknya.
"Apa Om..." jawab Kania penuh tanya.
"Bokeh Kami menganggapku sebagai putri Kami, boleh Kami menganggapku bagian dari keluarga kami...."kata tuan Malik dengan wajah penuh harap.
"Maksud Om dan tante...?" tanya Kania tak mengerti.
"Jadilah putri Kami, ...kami ingin kau menganggap kami sebagai orang tuamu juga nak...." jawab. tuan Malik penuh harap. Kania terkejut begitupun Bara mereka tak menyangka kalau tuan Malik bisa berkata seperti itu.
"Om..bukankah Om dan tante sudah memiliki putra dan putri sendiri, dan bukankah masih ada Emilda putri tertua tante dan Om Malik...." kata Kania sambil menatap tuan Malik heran.
"Nak... kami sangat kecewa dengan Emilda, Entahlah apa yang akan Om dan tante lakukan terhadap Emilia, Om sangat kecewa beberapa tahun ini akan perbuatan Emilda. dan perlu kamu ketahui dia juga putra Emilda dari pernikahannya yang kedua, namun dia tak pernah perduli dengan putranya. Om merasa kecewa dan malu terhadap kelakuan Emilda nak...." kata tuan Malik dengan wajah sedih..
"Kak...bolehkan kami jadi adik kakak..?" kata adik perempuan Emilda yang bernama Ayu Malik Handoko sambil memegang tangan Kania . Kania semakin bingung melihat kejadian itu .
"Sayang...kalau kau mau , kau bisa menerima permintaan mereka , mereka ternyata mengagumimu sayang..." kata Bara yang berjalan dan mendekati Kania.
Dia tersenyum lembut menatap sang istri dengan wajah bangga.
"Baiklah kalau itu permintaan kalian..." jawab Kania sambil tersenyum lembut.
"Trimakasih kak....." seru Ayu sambil memeluk Kania dengan gembira.
"Hey...hati- hati Ayu...kakakmu masih belum sembuh benar..." kata nyonya Lidya dengan wajah bahagia .
"Maaf...." kata Ayu sambil melepas pelukannya.
"Kak...boleh aku memelukmu...?" kata Mirza memotong pembicaraan Ayu.
"Tidak...tidak boleh..." seru Bara posesif.
"Kenapa Kak....?" keluh Mirza tak senang .
"Kau sudah dewasa tak perlu pelukan.." jawab Bara cuek.
"Ck...dasar posesif...." gumam Mirza kesal.
Kania hanya tertawa melihat tingkah Bara. begitupun dengan nyonya Lidya dan tuan Malik.
"Kalau begitu kak Bara, boleh kan kami sesekali datang kerumah Kakak..." kata Ayu sambil menatap Bara dengan penuh harap.
Bara terdiam sejenis mendengar permintaan Ayu putri tuan Malik .
"Boleh , kalian boleh datang kerumah.." jawab Bara datar.
__ADS_1
'Trimakasih kak..." seru Ayu dan Mirza berbarengan. terlihat wajah bahagia di kedua adik dan orang tua Emilda.
"Tante...apa boleh Johan menjadi anak tante...." tiba- tiba sebuah suara mengejutkan mereka semua. Johan putra Emilda yang berdiri di ujung tempat tidur.
pria kecil itu menatap Kania dengan wajah yang terlihat penuh penderitaan.
"Om...dia putra Emilda....?" tanya Kania.
"Iya nak... tapi dia tidak pernah mendapatkan perhatian dari Emilda nak...
semenjak dia datang ke Indonesia Emilda selalu meninggalkannya, ..." jawab nyonya Lidya dengan wajah sedih.
Kania menatap wajah anak itu yang terlihat mendambakan kasih sayang.
"Sayang...kemarilah...." kata Kania sambil melambaikan tangannya kearah Johan. Pria kecil itu berjalan kearah Kania dengan takut- takut. Kania merasakan hatinya bagai tersayat ketika melihat wajah sedih Johan. Bagaimanapun pria kecil ini adalah adik Kinan dari sang Mama.
Kania menggeser sedikit tidurnya.
"Baiklah nak... naiklah , dan tidur sini bersama Mama..." kata Kania pada Johan. Mirza membantu Johan naik keatas tempat tidur. lalu dia tidur di sebelah Kania bersebrangan dengan Kinan.
Kania memeluk kepala kecil yang tidur di lengan nya.
"Kau boleh menjadi anak Mama...kau boleh memanggilku Mama juga sayang.." kata Kania lembut.
"Benar tante...Johan boleh memanggil Mama pada tante...?" tanya pria kecil itu sambil menatap Kania dengan wajahnya yang terlihat gembira.
"Iya sayang....kau boleh memanggil tante Mama..." jawab Kania .
"Trimakasih Ma...." kata Johan dengan gembira.
"Iya sayang... dan kau boleh datang kerumah Mama, nanti biar Om Mirza yang akan mengantar kau keruma Mama ya..." kata Kania sambil mengusap kepala Johan dengan sayang.
"Iya Jo...nanti biar Om Mirza yang akan membawamu kesana..." kata nyonya Lidya yang merasa bahagia melihat perlakuan Kania pada kedua cucunya.
"Trimakasih Ma...trimakasih nek..." kata Johan sambil bangun dari tidurnya dan menatap pada sang nenek.
"tunggu sayang....sini tanganmu berikan pada Mama..." kata Kania sambil mengambil tangan Johan.. Johan membiarkan tangannya di pegang Kania. Kania segera melihat nadi Johan.
"Tan...apa Johan sering merasakan. sakit perut dan kepala...?" tanya Kania dengan wajah khawatir .
"Benar nak... dia juga sering mengalami sesak napas...?" jawab sang Mama.
"Sejak kapan itu Tan...?" tanya Kania.
"Semenjak dia datang ....ada apa dengannya Nak..." tanya nyonya Lidya dengan wajah khawatir.
"Sepertinya dia pernah mengalami keracunan Ma... dan racun itu masih mengendap di dalam tubuh Johan..." Kata Kania lagi.
"Apaa...?" seru mereka hampir bersamaan.
"Hey...jangan kaget seperti itu... ini belum tentu benar... mungkin perkiraanku salah.. " kata Kania cepat- cepat ketika melihat reaksi mereka .
"Apa benar yang kau katakan nak...?" tanya tuan Malik pada Kania.
"Ini hanya perkiraan Kania Om... lebih baik Om membawa Johan kedokter untuk mengeceknya... semoga perkiraan Kania Salah..."Jawab Kania .
"Baiklah nak...besok Om akan membawa Johan ke dokter untuk di periksa..." kata tuan Malik dengan wajah cemas.
"Semoga dugaan Kania salah ya Om..." kata Kania menghibur.
"Semoga nak...." jawab tuan Malik.
merekapun mengobrol dengan akrab , setelah agak lama tuan Malik dan keluarga berpamitan.
Johan yang sejak tadi selalu ingin dekat dengan Kania merasa enggan untuk pulang. namun setelah di bujuk dan sang kakek berkata kalau akan datang lagi besok menjenguk Kania, barulah dia mau di ajak pulang. Setelah kepergian mereka , Bara menyuruh Kania untuk beristirahat.
Jangan lupa like dam komen serta vote nya ya....
__ADS_1
Bersambung.