
Setelah sarapan bersama keluarga besar Dirgantara Kania membawa Kinan untuk bersiap- siap karena sebentar lagi mereka sekeluarga akan pergi kerumah besar keluarga Herlambang.
"Bun... Apa sudah siap...?" tanya Bara yang kini sudah berdiri di belakang Kania yang sedang menyisir Kinan.
"Sudah Pa, tinggal menyisir rambut Kinan..." jawab Kania .
Tak berapa lama terlihat Bara, Kania dan Kinan menuruni tangga rumah . ketika sampai di lantai bawah mereka melihat tuan Mahesa dan nyonya Rani serta Dika sudah menunggu mereka.
Setelah melihat kedatangan Kania dan Bara serta Kinan yang ada di gendong Bara, Mereka segera berangkat. Tak lama terlihat dua mobil mewah pergi meninggalkan rumah besar Bara.
"Pa ..rumah kakek Herlambang di mana sichm.?emang masih jauh ya..?" tanya Kania pada Bara di tengah perjalanan.
" Entahlah Bun...kalau rumah tuan Rehan Papa tahu, beliau ada di kota ini juga, tapi kalau kakek Herlambang Papa belum tahu, kata Papa sich di daerah puncak kota Bg ..." jawab Bara.
"Bun...Bunda bawa minuman nggak...?" tanya Kinan tiba- tiba.
"Kenapa ...?., Kinan haus....?" tanya Kania sambil membelai kepala Kinan.
"Iya Bun..." jawab Kinan sambil menatap Kania.
"Ada...Bunda sudah siapin untuk Kinan kok...?" jawab Kania sambil mengambil taperware yang berisi jus lemon kesukaan Kinan.
"Apakah ini yang Kinan minta...?" tanya Kania sambil memberikan botol air minum itu pada Kinan..
"Bunda...trimakasih...?" seru Kinan dengan wajah senang.
"Bun...sejak kapan bunda menyiapkan botol itu...?" tanya Bara dengan tersenyum bahagia menatap Kania sekilas.
"Tadi setelah solat subuh Pa... Bunda takut Kinan kehausan..." jawab Kania .
"Tapi kenapa hanya Kinan yang kau perhatikan...?" tanya Bara dengan wajah cemberut.
'Hi hi..lucu juga kalau lihat si dingin ini cemberut...( seru Kania dalam hati)
Kania menatap Bara sambil tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum.....?" tanya Bara.
"Bunda suka lihat Papa cemberut..?" jawab Kania sambil tertawa.
"Kau mentertawakan Papa...?" tanya Bara dengan tatapan mengancam.
"Enggaaak ..." Kania menahan tawanya. Dia akhirnya mengambilkan Botol taperware satunya yang juga berisi jus lemon kesukaan Bara. tadi pagi Kania memang membuatkan dua Botol jus lemon, Karena dia tahu kedua pria berlainan umur itu sama- sama menyukai jus lemon.
"Ini minuman buat Papa.. Bunda juga sudah membuatkan untuk Papa...." kata Kania sambil menunjukkan botol berisi jus lemon itu pada Bara.
"Trimakasih Bunda, mana... nanti Papa minum..." pinta Bara pada Kania. Kaniapun memberikan botol minuman itu pada Bara.
Tak berapa lama terlihat mobil tuan Mahesa memasuki sebuah perkebunan teh yang terlihat sangat luas, dan di tengah perkebunan itu terlihat sebuah bangunan yang sangat mega. Mobil tuan Mahesa memasuki pekarangan rumah yang sangat mega itu dan luas itu.
"Pa..apa itu rumah kakek Herlambang.?" tanya Kania sambil memandang rumah besar itu.
"Sepertinya iya Bun....?" jawab Bara sambil memarkirkan mobilnya di sebelah mobil milik sang Papa. Terlihat tuan Mahendra bersama nyonya Rani dan Dika keluar dari mobil. Kania pun segera keluar setelah Bara membukakan pintu dan mengambil Kinan dari pangkuan Kania. Kania merasakan ada debaran di hatinya saat mengingat kalau rumah ini adalah milik kakeknya.
Terlihat dua pasang suami istri bersama dua pria dewasa dan seorang wanita muda sudah menunggu mereka di teras rumah. Merekapun segera melangkah menuju kearah keluarga Herlambang yang sudah menanti.
"Selamat pagi Jendral...." sapa tuan Mahesa dengan riang.
"Apa- apaan kau Mahes..." jawab tuan Rehan sambil memeluk tuan Mahesa.
"Lama nggak ketemu apa kabarnya Re..?" kata tuan Mahesa setelah melepas pelukannya.
"Aku baik- baik saja , oh ya kenalkan ini istri dan putra putriku..."jawab tuan Rehan sambil memperkenalkan keluarganya.
"Maaf mbak...kebiasaan kami seperti ini kalau bertemu,.. ( sambil mengulurkan tangan pada istri dan putra tuan Rehan)dan ini keluargaku Istri dan anak serta cucuku...? Kata tuan Mahesa memperkenalkan keluarganya. Nyonya Rani ,Dika Bara serta Kania menyalami mereka.
"Hay Doktor apa Kabar...?" sapa tuan Mahesa pada nyonya Garnis adik dari tuan Rehan yang juga dekat dengan tuan Mahesa saat mereka masih remaja.
"Baik Mahes, Gimana kabarmu...?" tanya Nyonya Garnis sambil menjabat tangan tuan Mahesa.
"Baik... Apa kabar juga mas Sindu...?sapa tuan Mahesa pada suami nyonya Garnis. Merekapun satu persatu di perkenalkan pada keluarga Herlambang. Tak lama mereka segera di persilahkan masuk kedalam rumah. Kania yang sejak tadi memandang keluarga Herlambang terlihat kesedihan yang mendera hatinya.
'Inikah sebenarnya keluarga gue... Apakah mereka akan menerima keberadaan gue di kehidupan keluarga mereka...? Tuhan...berikan kekuatan pada hamba apapun yang akan terjadi nanti..' ( tangis Kania di dalam hati )
Merekapun di persilahkan duduk di ruang tamu yang terlihat cukup mega. Tak berapa lama keluarlah seorang bapak yang sudah tua namun masih terlihat sehat dan gagah. Terlihat masih ada bekas raut wajah yang tampan di wajahnya yang mulai menua. pria itu menghampiri mereka.
"Paman Herlambang apa kabar..." sapa tuan Mahesa sambil berjabat tangan di ikuti istri dan putranya tak terkecuali Kania. Namun saat bertemu dengan Kania terlihat wajah tuan Herlambang tertegun, dia menatap Kania lama. Sedang Kania yang merasa di tatap oleh sang Kakek merasa kesedihan mendera hatinya. Dia menahan dengan sekuat tenaga air mata yang akan jatuh.
"Papa....ada apa...?" tanya tuan Rehan pada sang Papa ketika dia melihat tuan Herlambang menatap Kania cukup lama.
__ADS_1
"Siapa dia Re...?" tanya beliau dengan wajah terlihat sedih.
"Dia putrinya Mahesa , ada apa Pa...?" jawab tuan Rehan, terlihat wajah tuan Rehan menunjukkan keheranan.
"Dia putri mu Mahes....?" tanya kakek Herlambang sambil memandang tuan Mahesa.
"Maaf...Dia menantuku ..." jawab tuan Mahesa . Kakek Herlambang pun segera duduk bersama mereka.
"Oh ya Mahes , tumben kau ingin
bertemu dengan Kami, karena kami tahu kesibukan kalian para pembisnis.." kata tuan Rehan .
"Maaf Re...kami mengganggu waktu kalian, sebab kami ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting pada keluarga Herlambang.." jawab tuan Mahesa dengan tenang.
"Soal apa itu Mahes...kok kayaknya serius sekali ..." tanya tuan Regan.
"Ini tentang menantu kami si Kania...?" jawab tuan Mahesa.
"Tentang menantumu....? Ada apa dengannya...?" tanya tuan Rehan dengan mengerutkan dahi heran. Namun beda dengan kakek Herlambang, terlihat ada ketegangan di wajah tuanya.
"Ada apa dengannya...?" tanya kakek Herlambang tak sabar menyela pembicaraan.
"Tapi sebelumnya kami meminta maaf terlebih dahulu pada keluarga Herlambang, saat mendengar cerita kami kalian boleh percaya ataupun tidak itu terserah Kalian ..." kata tuan Mahesa sebelum bercerita.
"Mahes ceritakan saja dengan jelas..." seru nyonya Garnis tak sabar.
"Sebenarnya Kania adalah cucu tuan Herlambang..." ucap tuan Mahesa tenang. Namun membuat keluarga Herlambang kaget.
"Apaaa...." seru mereka bersama.
"Apa maksudmu Mahes...? Cucu Papaku...?cucu dari mana...?" tanya Rehan dengan wajah bingung.
"Putri dari Setyo Hadi...." jawab tuan Mahesa datar.
"Mahes kau jangan mengada- ada, putri Setyo cuma satu si Deby dia tidak mempunyai saudara lagi, apa kau akan mengatakan kalau menantumu ini putri selingkuhannya Setyo...?" seru tuan Rehan sedikit marah.
"Bukan, dia bukan putri selingkuhannya si Setyo tapi dia putri asli Setyo dengan Sinta..." jawab tuan Mahesa tenang.
"Mahes tolong jangan berbelit - belit. Aku ingin penjelasan yang jelas..." kata tuan Rehan dengan sedikit marah. Akhirnya tuan Mahesa menjelaskan semua kejadian yang dialami Kania sejak kecil hingga sekarang ini.
"Apaaa...." teriak mereka hampir berbarengan.
"Nak...apa benar yang di katakan papa mertuamu...?" tanya kakek Herlambang sambil mendekati Kania.
"Kek itu memang benar....sebenarnya Kania sudah tidak ingin mengetahui apapun tentang keluarga Herlambang, Kania tidak ingin berhubungan dengan keluarga yang telah membuangku sejak aku terlahir kedunia ini. tapi Papa Mahesa menasehatiku kalau aku masih memiliki seorang Kakek yang tak mengetahui tentang keberadaanku, mulanya Kania tak perduli apapun tentang keluarga ini. Namun tuan Setyo...( kania berhenti sejenak untuk bernafas karena merasakan dadanya yang sesak karena marah) Dia kembali mengusikku , dia mengirimkan pembunuh bayaran untuk membunuhku...." jawab Kania dengan nada kebencian.
"Apaaa..."kembali teriakan terdengar dari mulut mereka.
"Sampai segila itukah adikmu Pa..." seru istri tuan Rehan.
"Kak...kalau mang benar kejadiannya, sudah seperti ini , apa sebenarnya kemayan saudara kita itu...?" teriak Nyonya Garnis marah.
"Pa...aku nggak bisa membayangkan bagaiman kesedihan yang di alami nona Kania jika memang kenyataan seperti itu terjadi pada dia Pa..." kata putra tuan Rehan sambil memandang Kania dengan wajah sedih.
"Re...sepertinya aku mempercayai cerita ini Re...kalian tunggu disini..." tiba- tiba kakek Rehan masuk kedalam rumah. Mereka yang di tinggalkan hanya diam menunggu. Tak lama dia keluar dengan membawa Album Foto yang terlihat sudah tua. Dia mendekat dan menyerahkan album itu. Tapi sebelumnya dia memberikan selembar foto pada mereka.
"Lihatlah foto ini..." katanya perlahan. Mereka melihat lembaran foto yang agak besar berada di atas meja. Terlihat foto seorang gadis berbaju pitih sedang tersenyum menatap kamerah.
"Lo gadis yang di foto itu kok mirip denganku...?" seru Kania kaget.
"Bun...kok fotomu berada disini...?" tanya Bara kaget. Bukan hanya Bara, keluarga Herlambang pun terkejut melihat foto itu.
"Pa..papa kok punya foto gadis ini....?" tanya tuan Rehan.
"Iya Pa..dari mana papa mendapatkan foto ini...?" tanya Garnis.
"Apa kalian lupa dengan wajah ibu kalian...?" tanya Kakek Herlambang. tuan Rehan dan nyonya Garnis terkejut
"Ya Tuhan...benar kata Papa, gadis ini mirip dengan Mama...?" seru tuan Rehan dengan wajah terlihat syok.
Namun nyonya Garnis sudah lupa wajah sang Mama.
"Aku lupa wajah Mama kak..." serunya dengan sedih.
"Itu bukan foto gadis ini, tapi foto Mama kalian saat masih muda..." jawab sang Kakek.
"Jadi kesimpulannya aku percaya kalau gadis ini adalah cucu perempuanku.." jawab sang Kakek.
"Nak...boleh kakek memelukmu...." kata Kakek Herlambang.
__ADS_1
"Kek... Apakah kakek begitu mudah mempercayai Kania sebagai putri Kakek..?" tanya Kania tak yakin.
"Nak..aku percaya padamu, tak akan ada kemiripan yang begitu
Sempurna kalu tak ada garis darah yang sama diantara kalian..." jawab sang Kakek.
"Kakek...." seru Kania berlari dalam pelukan sang Kakek. Dia menangis di dalam pelukan orang tua itu.
"Nak...maafkan Kakek yang nggak pernah mengetahui keberadaanmu..?" kata kakek Herlambang.
"Nia sudah memaafkan Kakek, karena ini bukan kesalahan kakek. Sebenarnya Kania sudah nggak mau tahu apapun tentang keluarga ini kek, ..." jawab Kania.
"Jangan seperti itu nak...kau adalah cucu ku darah dagingku, selama ini kau hidup dengan siapa....?" tanya Kakek Herlambang dengan wajah sedih sambil melepas pelukannya.
"Dengan bik Monah dan paman Asep kek..." jawab Kania.
"Asep dan Monah...?" tunggu dulu, bukankah itu pembantu kita yang di minta si Setyo untuk ikut dia...?" kata kakek Herlambang lagi.
"Ya ampuun apakah bik Monah yang merawatmu selama ini..?" tanya nyonya Garnis terkejut.
"Benar Nyonya... Dia yang merawat Kania sampai sekarang..." jawab Kania.
"Jadi yang di maksud pembantu yang membawa kabur anak si Setyo adalah bik Monah dan pak Asep...?" tanya tuan Rehan kaget. Karena pak Asep dan bik Minah adalah pembantu mereka sejak Rehan mudah. malah tuan Herlambang lah yang menikahkan mereka berdua.
"Benar tuan...?" jawab Kania
"Kek ...kakek duduk dulu..." kata Kania yang melihat sang Kakek masih berdiri, dia membimbing Kakek Herlambang duduk.
"Mahes kau bisa kan membawa Bik Monah dan pak Asep datang kemari...?" tanya Tuan Rehan pada sang sahabat.
"Bisa... Kalau itu akan membuatmu percaya kalau menantuku adalah keponakan yang telah di buang saudara mu...." jawab tuan Mahesa. Dia segera menyuruh Bara untuk membawa bik Monah dan pak Asep datang kerumah kakek Herlambang. Bara pun segera menelfon Anton untuk membawa bik Monah dan pak Asep kerumah tuan Herlambang. dengan memberikan alamat pada Anton.
"Nak...kau jangan memanggilku tuan, aku adalah kakak dari kedua orang tuamu jadi panggil aku paman Rehan dan itu bibimu adik dari Papamu namanya bibi Garnis...kemarilah nak...Paman ingin memeluk keponakanku yang telah di buang Setyo....?" kata tuan Rehan sambil berdiri dan merentangkan tangannya. Kania yang duduk di dekat kakek Herlambang tertegun sejenak.
"Pergilah nak, mendekatlah pada pamanmu..." kata Kakek Herlambang pelan. Kania pun perlahan berdiri dan berjalan kearah tuan Rehan. Air matanya berderai kembali saat berada dalam pelukan sang Paman. Dan entah sejak kapan sang bibi Garnis telah berada di dekat pamannya setelah Kania lepas dari pelukan sang Paman , bibi Garnispun meminta pelukan. Kania merasakan perasaan bahagia membuncah di dalam dadanya. Begitupun dengan keluarga tuan Mahesa yang sebentar lagi juga akan menjadi keluarganya. Setelah melepas rasa haru di dalam hati . merekapun kembali duduk bercengkrama sambil menunggu kedatangan bik Monah dan pak Asep. Kania mulai berusaha akrab dengan putra putri paman dan bibinya.
"Pa...kenapa paman Setyo bisa lebih memilih si Deby itu ya, kalau di lihat Kania lebih segalanya dari si Deby..." tanya putri tuan Rehan yang bernama Kristal pada sang Papa. Tuan Rehan mempunyai dua anak , sisulung bernama Hardika Herlambang yang bekerja sebagai tentara seperti sang Papa sedang sang adik bernama Kristalika ayu Herlambang masih kuliah semester akhir.
"Entahlah Kris...mungkin karena Pamanmu saja yang b***h...." kata tuan Rehan dengan nada marah.
"Aku juga merasa aneh kak... Kok bisa - bisanya kak Setyo membuang putrinya sendiri dan memilih gadis itu ..." seru sang adik yaitu nyonya Garnis dengan kesal.
"Pa...sejak dulu aku nggak suka sama si Deby itu, apakah kalian masih ingat pertengkaranku dengan dia terakhir kali kita bertemu itu...?" seru Kristal yang masih marah dan jengkel terhadap Deby hingga terjadi pertengkaran di antara mereka.
"Sudahlah dek...sekarang kita kan udah tahu kalau dia adalah putri palsu paman Setyo..." kata sang Kakak menghibur. dia sadar akan kemarahan sang adik karena telah di tuduh oleh Deby, telah mencuri cincin pertunangannya.
"Kalau teringat kejadian itu pingin rasanya aku memukul pepalanya yang sombong itu.." seru Kristal dengan nada marah dan jengkel
"Sudahlah sayang... sekarang dia bukan siapa- siapa di keluarga kita, sepupu mu yang asli adalah Kania bukan dia..." kata sang mama membujuk.
"Benar juga kata Mama, dia sekarang bukan siapa- siapa di keluarga kita..." kata Kristal dengan senang.
"Oh ya Mahes, sejak kapan Kania jadi menantumu...apakah pria kecil itu putra Kania...?" tanya kakek Herlambang pada tuan Mahesa saat melihat Kinan sejak tadi lengket dengan Kania.
"Sebenarnya Kania belum menjadi menantuku, dia masih calon menantu, sedang dia cucuku putra Bara, anak tertuaku calon Suami Kania.
"Lo.. jadi mereka belum jadi suami istri..? dan tunggu dulu..( diam menatap Bara) bukankah dia pengusaha besar Bara Aris Dirgantara yang terkenal Dingin itu kan..?" tanya tuan Rehan yang masih menatap Bara dengan seksama. pertanyaan tuan Rehan membuat tuan Mahesa tertawa.
"Benarkah putraku terkenal dengan kedinginannya....?" tanya tuan Mahesa di sela- sela tawanya.
"Aku mendengar Rumornya seperti itu... pria tampan dan sukses tapi dingin pada kaum perempuan..." jawab tuan Rehan.
"Tapi setelah melihat orangnya langsung aku percaya dengan rumor itu, kau terlihat tampan tapi sangat dingin nak..." kata tuan Rehan kembali.
"Benarkah Paman...? tapi aku nggak masalah selama kekasihku ini menyukaiku....." jawab Bara enteng sambil tersenyum menatap Kania yang berada di sampingnya.
"Waah ...ternyata Kakak ipar tergila- gila pada kak Kania ya...?" goda Viktor putra nyonya Garnis.nyonya Garnis punya satu putra yang sekarang sudah menjadi seorang polisi seperti sang Papa. Mendengar godaan Viktor merekapun tertawa tak terkecuali Bara yang tersenyum mendengar godaan dari Viktor
"Benar...aku sangat tergila- gila pada Kania, dia gadis yang membuatku tak mampu lepas dari pesonanya..." jawab Bara jujur.
"Benar katamu kak...jangankan dirimu, aku saja yang baru melihatnya hampir jatuh cinta padanya, andai dia bukan kakak sepupuku mungkin aku akan berjuang merebut dia darimu..." kata Viktor kembali yang membuat wajah Bara memerah karena cemburu.
"Kak jangan cemburu...aku hanya mengatakan kebenarannya...." kata Viktor sambil tertawa.
"Sudah- sudah...kau ini memang anak konyol, jangan membuat Kakak iparmu cemburu..." kata sang mama menengahi.
merekapun akhirnya berbincang dengan akrabnya. Kristal begitu menyukai Kania yang bersifat ramah.
Cukup dulu ya ceritanya , besok author sambung lagi dengan cerita yang lebih asyik, jangan lupa like dan komennya selalu author tunggu .
__ADS_1
Bersambung.