
Setelah menyantap hidangan yang di sajikan oleh keluarga Herlambang, para tamu akhirnya berpamitan untuk pulang. Begitupun dengan Mama dan Papa serta keluarga Dirgantara. Tak terkecuali Kinan. Mulanya dia tidak mau meninggalkan Bundanya, Namun karena paksaan dari sang Oma dan opa akhirnya Kinan mau juga pulang tapi dengan satu syarat Bunda dan Papa harus pulang besok. Dan Kania yang terlalu sayang sama sang putra sambungnya menjanjikan itu.
"Pokoknya Bunda besok harus pulang, kalau tidak Kinan akan marah sama Bunda dan Papa titik.." ancam Kinan dengan wajah cemberut.
"Baik sayang...besok pagi Bunda akan pulang bersama Papa okey..." jawab Kania sambil tersenyum manis.
"Janji..." kata Kinan sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
"Iya Bunda janji...?" jawab Kania sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Kinan. setelahnitu barulah Kinan terlihat kembali ceriah.
" Kinan pulang dulu Bunda... Asalamualaikum..." pamit Kinan sambil mencium pipi Kania.
"Wa'alaikum salam sayang..." jawab Kania. Merekapun segera meninggalkan. Minsion Kakek Herlambang.
Setelah mengantarkan kepergian keluarga Dirgantara serta tamu yang lain, Bara dan keluarga Herlambang segera kembali masuk kedalam Minsion , mereka kembali menemui keluarga nyonya Sinta yang masih akan pulang besok . namun karena Kania sudah lelah sang Mama menyuruh pengantin Baru untuk beristirahat lebih dahulu.
"Kalian pasti sudah lelah, istirahatlah di dalam..." kata sang Mama.
"Benar Nia...bawa suamimu masuk kedalam. Pasti dia sudah kelelahan..." kata Kakek Herlambang.
"Baiklah Kek ...maaf Kania masuk dulu..."pamit Kania sopan. Merekapun mengiyakan dan menyuruh Kania pergi .
Kania mengajak Bara masuk kedalam Kamarnya yang sudah dihias sebagai kamar pengantin. Saat mereka masuk terlihat Kamar yang sudah penuh dengan taburan bunga.
"Sayang...siapa yang merias kamar ini...?" tanya Bara.
"Entah Pa...soalnya tadi pagi saat Kania keluar dari sini , keadaannya masih berantakan tu..." jawab Kania.
"Mungkin ini ulah kedua pengawal mu sayang .." jawab Bara .
Bara hanya tersenyum memandangi kamar Kania. Sedang Kania mulai duduk di depan meja rias untuk membuka hiasan di rambutnya.
Kania mwlakukan itu untuk menghilangkan rasa canggung dan rasa deg- degan karena dia tahu malam ini adalah malam pertama dia dan Bara. Walaupun itu masih nanti malam, tapi perasaan cemas sudah melanda hatinya.
"Pa...Papa nggak mau mandi dulu biar segar...?" tanya Kania menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
"Baiklah Papa mandi dulu.. " jawab Bara sambil berdiri dan mulai melepas pakaian pengantinnya. Satu persatu baju Bara dia lepas hingga tinggal celana dan kaos dalamnya. Kania yang belum pernah melihat Bara melepas Baju di deoannya , merasa sedikit risih dan malu. Dia menghindarkan matanya agar tak memandang bentuk tubuh Bara dengan menatap fokus bayangannya di dalam cermin, sambil membuka pernak pernik di kepalanya.
Bara tahu apa yang ada di kepala sang istri. Dia sengaja berjalan mendekatinya.
"Ada apa Bunda...? Kok Bunda malu melihat kearah Papa..?" tanya Bara sambil memeluk pelan tubuh Kania yang sedang duduk di depan kaca dari belakang.
"Yee...siapa juga yang lagi ngeliat Papa.." jawab Kania, namun tak urung terlihat semburat merah di wajah Kania.
"Lalu kenapa wajah ini menjadi merah..?" goda Bara.
"Mungkin Kania kegerahan Pa..." elak Kania yang semakin memerah wajahnya.
"Benarkah...? kalau gerah bagaimana kalau kita mandi bersama...?" goda Bara kembali.
"Papaa...!" seru Kania kesal namun wajahnya semakin merah seperti tomat.
Barapun tertawa senang, dia mencium pipi Kania yang merah lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi. Sedang Kania merasakan wajahnya yang semakin panas.
'Dasar pria penggoda..." umpat Kania . Dia kembali melanjutkan menyelesaikan membuka rambutnya yang tadi di sanggul. Setelah terlepas dari semua aksesoris terlihat rambut Kania yang agak panjang itu terurai dengan indah. Kania segera cepat - cepat membuka baju kebaya dan kain panjangnya sebelum Bara keluar dari dalam kamar mandi. Dia masih mendengar suara air sower yang mengalir yang bertanda Bara masih mandi. Setelah mengganti baju dan kain panjang dengan kaos dan celana panjang , Kania juga mengambilkan baju Bara yang ada di dalam koper yang mereka bawakan dari rumah Bara. Ketika Kania menaruh baju Bara diatas pembaringan tiba- tiba Bara keluar dari kamar mandi hanya memaki handuk saja sebatas perut. Hingga terlihat perutnya yang kotak- kotak. Tentu saja semua itu membuat wajah Kania menjadi merah.
"Papa..kok.."
"Kenapa sayang..kau malu melihat badanku ...? bukankah kita sudah menjadi suami istri dan kau akan selalu melihat itu setiap hari..." goda Bara.
"Ck.. Tentu saja Nia malu Pa.. Bukankah baru sekarang Nia melihat tubuh seorang pria..." kata Kania kesal.
"Ya ampun maaf sayang....papa lupa.." jawa. Bara. Dia mendekap tubuh Kania yang berada di depannya.
"Sayang...lihat Papa...kau harus terbiasa dengan ini..." kata Bara sambil menengadakan Kania agar menatap wajahnya.
"Kau sadar...kau kini sudah menjadi istriku Nona Kania...kau adalah istriku yang paling aku harapkan sejak dulu. Kau tahu ...bertahun- tahun kuimpikan saat- saat seperti ini. Kau menjadi istriku, kau menjadi ibu dari anak- anakku. Sayang...berikan aku kesempatan untuk menjadi satu- satunya pria yang engkau cintai..." kata Bara dengan wajah penuh cinta .
Kania memandang wajah yang menatap dirinya penuh dengan kasih sayang itu.
"Iya Pa... Kau adalah satu - satunya cinta yang ingin kumiliki selama hidupku juga. ku mohon jangan pernah menyakiti ataupun mengkhianatiku selamanya, aku akan menjaga kesucian cinta kita selama hidupku . namun satu , jangan pernah kau ajari aku untuk selingkuh, jika kau mengkhianati cintaku sekalipun itu hanya satu kali, aku tak akan pernah mempercayaimu selamanya dan itu akan mengajariku untuk berbuat dosa padamu..." kata Kania sambil menatap Bara yang kini sedang memeluknya.
"Sayang...aku janji aku akan menjaga kesucian cinta kita selamanya, dan aku tak akan pernah memberikan cela untukmu berbuat dosa kepadaku. Aku akan menjaga kepercayaanmu padaku selamanya..." jawab Bara.
"Ku mohon jika kelak kau mengetahui aku memiliki kesalahan atau berbuat yang melanggar hukum agama atau prilakuku tidak berkenan di hatimu, tegur aku, ingatkan aku selalu, kau mau kan...?" tanya Kania.
__ADS_1
"Pasti sayang... itu sudah menjadi kewajibanku..." jawab Bara.
"Jika kau ataupun aku mendengar apapun tentang kita di dalam perjalanan hidup kita, tolong tanyakan dulu atau kau selidiki dulu kebenarannya, jangan melakukan sesuatu yang akan membuat kepercayaan di antara kita terganggu... Kita harus memiliki kepercayaan yang penuh terhadap satu sama lainnya." lanjut Kania.
"Iya sayang....aku mengerti itu..." jawab Bara kembali. Dan perlahan wajah Bara mendekati wajah Kania. Dengan lembut dia mencium dan ******* bibir merah milik Kania yang kini sudah sah dia cium kapanpun. Dan Kania membalas ciuman yang lembut itu . cukup lama mereka melakukan itu hingga akhirnya mereka melepas ciuman itu karena Kania merasa nafasnya menyesak karena ***** mulai melanda mereka.
"Sayang...mandi dulu sana... jika ini kita teruskan bisa- bisa aku menerkammu sekarang juga..." kata Bara menahan nafsunya. Kania tahu itu karena merasakan sesuatu milik Bara yang mulai mengeras bawah.
"Baiklah ,Bunda akan mandi dulu, karena sebentar lagi kita harus solat dulu sebelum menemui mereka lagi. Baju Papa sudah Bunda siapkan di pembaringan..." jawab Kania sambil menatap cinta pada sang suami.
"Iya Bun..." jawab Bara. Kaniapun segera melangkah kekamar mandi setelah mencium sekilas bibir Bara. Bara terkejut melihat perbuatan Kania. Tak lama dia tersenyum sambil memandang kepergian sang istri.
Setelah Mandi dan solat berjamaah dengan Bara, Kania dan Bara kembali menemui keluarga yang masih berkumpul di ruang tamu maupun di ruang makan . Mereka bergabung kembali dengan keluarga besar Herlambang dan keluarga dari Mama Sinta.
Kania melihat wajah sang Mama terlihat cerah dan sang Papa selalu menjadi ekor sang Mama. Kania segera mendekati mereka berdua, sedang Bara mendekati kakek Herlambang.
"Waah...yang nggak mau pisah dengan Mama...." goda Kania pada sang Papa.
"Ck kau ini..Wajar Papa nggak mau meninggalkan Mamamu bukankah Mama baru memaafkan Papa..." jawab Setyo Hadi sambil cemberut.
"He he...Papa takut Mama hilang ya..." goda Kania lagi.
"Iya...Papa takut Mama menghilang lagi dari pandangan Papa..." jawab Setyo Hadi lagi.
"Nia ngerti Pa..." kata Kania lagi.
"Oh ya Ma...besok Kania pulang dulu ya bersama Papanya Kinan, soalnya Kania udah janji sama Kinan kalau Kania pulang besok pagi, nanti Mama sama Bimo pulangnya bersama Arum dan Keti.." kata Kania pada sang Mama.
"Ma...Mama pulang bersama Papa aja ya...? Kita pulang kerumah kita lagi..?" kata Setyo Hadi menjawab perkataan Kania.
"Nggak Pa... Mama nggak mau rumah bekas wanita itu, Mama tak ingin pulang lagi kerumah itu.." jawab Sinta.
"Kalau Papa beli rumah yang baru Mama mau kan tinggal bersama Papa...?" tanya Setyo Hadi berharap.
"Iya..asal jangan rumah itu..." jawab Sinta.
"Baiklah Papa akan membeli rumah yang baru, sedang rumah itu kita jual saja.." kata setyo Hadi.
"Bagaimana kalau sebelum Papa membeli rumah Baru , Papa dan Mama tinggal dulu di apartemen Kania, bukankah Kania sekarang tinggal di rumah suami Kania Pa...?" kata Kania mengusulkan.
"Kalau putrimu sudah mengijinkan, Mama setuju aja..." jawab Sinta cuek.
"Trimakasih Ma..." seru Setyo Hadi gembira.
"Eet..mau apa...?" tanya Sinta ketika Setyo Hadi akan memeluknya.
"Memelukmu..." jawab Setyo Hadi sambil tersenyum.
"Dasar...kau sadar di mana kita sekarang...?" jawab sang istri.
"Kenapa...? bukankah kita suami istri..?" tanya Setyo Hadi heran.
"Kau lupa kita di mana...? kau itu orang tua mempelai wanita , dan kita sedang melaksanakan perkawinan putri kita..?" jawab Sinta kesal.
"Ma...Papa rindu memeluk Mama.. " goda Kania.
"Ck..kau ini...bukankah masih banyak waktu untuk kita... Sekarang kau nggak malu di lihat mereka..." kata Sinta kesal.
"Baiklah, Papa tahan dulu keinginan Papa untuk memeluk Mama..." kata Setyo Hadi kecewa.
"Papa ...sabar dikit ya...Bukankah Papa nanti malam bisa kembali tidur bersama Mama, iya kan Ma...?" kata Kania ingin menyatukan kedua orang tuanya.
"Nggak...?" jawab sang Mama datar.
"Mama....katanya Mama sudah memaafkan Papa...kok Mama masih marah sich..." bujuk Kania.
"Iya, iya....Papa bileh tidur sama Mama.." jawab sang Mama pasrah, dia tak bisa menolak keinginan sang putri yang dia tahu ingin menyatukan dia kembali dengan suaminya. Sedang Setyo Hadi gembira mendengar perkataan Sinta.
Kania menatap sang Papa yang juga sedang menatapnya dengan wajah gembira , Kania mengedipkan sebelah matanya. dan Setyo Hadi tersenyum bahagia. dia tahu putrinya ingin mempersatukan dia kembali dengan sang istri.
"Trimakasih Nak..." kata Setyo Hadi pada sang putri , dia lalu berdiri dan mendekati Kania yang duduk di sebelah sang istri. dua duduk dan memeluk Kania.
"Trimakasih sayang....Papa dan Mama tahu kalau kau ingin Papa dan Mama bersatu kembali..." kata Setyo Hadi terharu.
"Kania ingin kita berkumpul bersama .. Kania ingin kita memulai kembali kehidupan keluarga kita yang pernah hilang Pa.. " jawab Kania. akhirnya mereka bertiga berpelukan bersama.
__ADS_1
"Trimakasih sayang kau telah memaafkan Papa, trimakasih Ma..Mama juga telah mau memaafkan Papa..." kta Setyo Hadi terharu.
"Iya Pa... tapi ingat, andai bukan karena pitri Kita Mama nggak akan pernah memaafkan Papa yang telah begitu tega membuang putri sendiri hanya Karena rayuan wanita dan putri angkat..." jawab Sinta masih dengan nada kecewa.
"Iya...Papa tahu, Papa minta maaf..."kata Setyo Hadi yang memang merasa bersalah. dan keluarga yang ada di sekitar mereka yang melihat ketiga orang itu ikut merasa bahagia . Mereka tahu kalau Setyo Hadi telah di maafkan oleh putri dan istrinya. Bara mendekati mereka bertiga.
"Boleh Bara ikut bergabung..." kata Bara mengganggu mereka yang saling memeluk. Kania yang mendengar itu melepas pelukan dari orang tuanya.
"Ck Papa.... Papa mau memeluk Bunda..?" goda Kania.
Barapun tersenyum dan memeluk sang Istri.
"Papa hanya tak ingin melihat Bunda sedih..." jawab Bara.
"Oh ya Ma... si Bimo kemana ya...?" tanya Kania.
"Tadi Mama melihat dia bersama Arum dan Keti... kau tahu nak...semenjak kalian melatih dia, dia lebih sering bersama dua pengawalmu itu dari pada bersama Mama..." adu nyonya Sinta pada Kania.
"Nggak apa- apa Ma.. kasihan dia dulu hidup di desa terpencil, jadi mungkin sekarang dia pingin seperti anak yang lain dalam bergaul .. dan mereka berdua bisa membimbing Bimo kan Ma...?" jawab Kania.
"Benar Katamu Nia...dulu sewaktu masih di desa dia selalu bersama Mama , dia membantu Mama mencari nafkah sampai dia tidak ada waktu bermain bersama teman sebayanya.. " kata nyonya Sinta.
"Sipa yang kau maksud Ma...?" tanya Setyo Hadi.
"Kau lupa dengan anak laki- laki yang keluarganya telah menolongku ketika di desa terbuang dulu... ?" tanya Nyonya Sinta mengingatkan.
"Ya ampun Ma...Papa lupa pada dia , boleh Papa bertemu dengannya...?" kata Setyo Hadi .
"Tentu saja boleh Pa, malahan harus... karena dia sudah Kania anggap adik sendiri..., suamiku juga sudah mencarikan sekolah terbagus buat dia..." kata Kania bangga. Bara yang mendengar Kania menyebutnya Suami membuat dia merasa bahagia.
"Benarkah...? ya ampuun maafkan Papa Ma... habis Papa masih fokus pada Mama yang nggak mau memaafkan Papa...." kata Setyo Hadi yang memang lupa pada si menolong sang istri. bertepatan saat itu Arum , Keti dan Bimo sedang berjalan masuk kedalam ruang tamu.
"Nach itu mereka...." seru Kania.
Keti , Arum , dan Bimo yang memang mau mendekati Kania, berjalan kearah mereka.
"Dari mana kalian...?" tanya Kania.
"Dari taman Bos... si Bimo merasa gerah jadi Kami ajak pergi ketaman..." jawab Arum.
"Bim kau sudah tahu Dia...?" tanya Kania pada Bimo. sambil menunjuk sang Papa dengan dagunya.
"Sudah kak...bukankah dia Papa kak Nia..?" kata Bimo menjawab pertanyaan Kania.
"Hey...Dia juga Papanya kamu Bim...?" kata Kania .
Setyo Hadi memperhatikan wajah Bimo. terlihat wajah yang tampan walau sedikit hitam karena pekerjaan yang dia kerjakan selama di desa. namun Setyo Hadi tahu kalau anak Laki- laki itu kelak pasti menjadi anak yang sangat menawan. tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang tampan membuat dia bukan seperti anak desa.
"Bim ayo kenalan sama Papa..." kata Kania. Bimo segera berjalan kearah Setyo Hadi. namun Setyo Hadi malah merentangkan tngan sambil berkata.
"Sini nak, peluk Papamu ini..." kata Setyo Hadi membuat semua orang yang ada di situ terkejut, begitupun dengan Bimo. dia tertegun mendengar perkataan Setyo Hadi.
"Kenapa kau tak ingin memiliki Papa sepertiku...?" tanya Setyo Hadi lagi. akhirnya Bimo berjalan dan memeluk Setyo Hadi dengan gembira. semua orang terharu melihat kejadian itu.
"Boleh saya memanggil anda Papa..?" tanya Bimo yang ada di pelukan Setyo Hadi. perlahan Setyo Hadi mendorong tubuh Bimo agar agak menjauh dari tubuhnya. dia memegang kedua lengan Bimo dan berkata.
"Kau adalah putra dari istriku dan kau adalah adik dari anak kesayanganku apakah kau mau jadi putraku juga...?" tanya Setyo Hadi dengan wajah terharu.
"Tentu Pa.. Bimo mau menjadi putra Papa juga.." jawab Bimo dengan air mata mengalir dari kedua matanya. Setyo Hadi kembali memeluk Bimo dengan sayang.
"Trimakasih nak kau mau menjadi Putraku. dan aku juga berterimakasih padamu yang telah membantu istriku selama ini.." kata Setyo Hadi terharu.
"Mama Sinta adalah Mama yang terbaik untuk Bimo Pa...saat ibu , bapak dan nenek meninggal Mama Sinta lah yang menjadi pelindung buat Bimo. andai Mama Sinta nggak ada , entah apa yang terjadi pada Bimo Pa..." kata Bimo sambil menangis dalam pelukan Setyo Hadi.
"Nach sekarang kau akan memiliki Papa, Mama, dan kak Kania di dalam hidupmu, sekarang kau tidak boleh bersedih lagi .." kata Setyo Hadi sambil memandang wajah Bimo .
"Trimakasih Pa, Ma, dan Kak Nia yang mau menganggap Bimo sebagai keluarga..." kata Bimo terharu.
"Sama- sama nak...ya udah ayo kita bergembira lagi,..." kata Setyo Hadi .
mereka akhirnya berbincang dan bercanda gembira .
Maaf...mungkin ceritanya agak nggak menarik, sialnya kesehatan author agak terganggu dikit. maaf ya..🙏🙏.
Jangan lupa Like dan Komennya juga Vote nya.
__ADS_1
Bersambung.