Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
"DEBY DI KANTOR POLISI.


__ADS_3

Setelah Deby di tangkap dan di bawa ke kantor Polisi dia segera menelfon sang Mama , karena sudah beberapa kali dia menelfon tuan Setyo Hadi tidak di angkat.


"Halo..ada apa sayang...." kata sang Mama saat dia menerima telfon dari Deby.


"Ma...tolong Deby..Deby ada di kantor polisi Ma....!" teriak Deby dari sebrang telfon.


"Apa...! Kau di kantor polisi..?" teriak nyonya Sinta kaget.


"Iya Ma...tolong Deby Ma...?" seru Deby dengan cemas dan takut.


"Iya iya Mama kesana..." seru nyonya Sinta gugup dan khawatir. Dia segera memanggil sopir nya, dan segera pergi kekantor polisi. Sesampainya di sana dia melihat Deby berada di balik jeruji . dia merasa terpukul melihat putri kesayangannya meringkuk di balik jeruji.


Nyonya Sinta meminta waktu untuk berbicara dengan Deby, Mereka mengijinkan nyonya Deby berbicara dengan Deby di ruang khusus. dan segera membawa Deby menemui sang Mama. Deby berlari memeluk sang Mama.


"Ma...Deby nggak mau disini Ma..." kata Deby sambil menangis keras.


"Iya sayang... Mama akan meminta Papa untuk mengeluarkanmu dari sini..." kata nyonya Sinta dengan nada prihatin.


"Apa sebenarnya yang terjadi nak... ?Kenapa kau bisa berada di sini...?" tanya Sinta dengan wajah heran dan cemas.


"Semua itu gara- gara wanita ja***g itu Ma..." kata Deby dengan wajah Marah.


"Maksudmu Kania...?" tanya Sinta dengan wajah heran.


"Iya ..siapa lagi..." jawab Deby dengan marah .


"Lo bukanya tadi mama sudah mengirimi kamu empat pria tangguh...?" tanya Sinta heran.


"Mereka tidak bisa membunuh Kania , malah mereka yang kini ikut tertangkap" jawab Deby lagi.


"Apa...? Mereka kalah...? siapa yang telah menolong Dia dari empat pria itu..?" tanya Sinta dengan marah.


"Dia sendiri dan dua pengawalnya , ternyata dia sangat pintar dalam soal beladiri Ma..." adu Deby pada sang Mama.


"Dia punya pengawal...? Kenapa kau tidak bilang pada Mama...?" tanya Sinta dengan marah.


"Lah Mama gimana sich...kan Deby sudah bilang pada Mama...kok sekarang bilang Deby nggak ngasi tahu.." jawab Deby.


"Iya Mama lupa... Lalu kenapa kau nggak menelfon sama Papa...? " tanya Sinta heran.


"Sudah Ma...Deby sudah menelfon Papa beberapa kali, tapi Papa nggak mau ngangkat juga..." seru Deby marah.


"Mungkin Papa lagi ada meeting Deb..." kata sang Mama.


"Ma..tong Deby Ma, Deby nggak mau tidur di sini...?" kata Deby sambil kembali menangis.


" Baiklah Mama akan mencoba menelfon Papa..?" kata nyonya Sinta . Dia segera mengambil ponsel yang ada di dalam tas tangannya. Dengan segera dia menelfon Setyo Hadi. Satu kali, dua kali sampai telfon yang ketuju baru telfon di angkat.


"Assalamualaikum ada apa sich Ma... Aku sedang sibuk...." seru Setyo Hadi dengan marah.


"Pa...tolong Deby Pa...dia ada di kantor Polisi..." seru nyonya Sinta.


"Apa..di kantor polisi...? Kenapa sampai di kantor Polisi...?" tanya Setyo Hadi .


"Dia ada masalah dengan artis yang bernama Kania... datang aja dulu papa kekantor Polisi nanti kami ceritakan..." kata Sinta lagi.


Setyo Hadi kaget ketika Sinta mengatakan kalau Deby bermasalah dengan Kania. Apa lagi yang di perbuat gadis itu pada Kania, dengan menahan kemarahan dia bertanya .


"Ada apa lagi dia dengan Kania....? Bukankah sudah kubilang jangan membuat masalah dengan hadis itu..?" kata Setyo Hadi dengan menahan kemarahan.


"Datanglah dulu...kami nanti akan menceritakan semua...?" kata Sinta lagi.


Setyo Hadi tanpa bertanya lagi langsung menutup telfonnya. Dia bukannya langsung pergi tapi dia menelfon seseorang. Dengan wajah khawatir dia menunggu telfon di angkat oleh orang yang dia telfon.


"Asalamualaikum Pa...ada apa...?" ternyata dia menelfon Bara.


"Wa'aikum salam Bara..apa benar Kania bermasalah dengan Deby....?" tanya Setyo Hadi dengan cepat.


"P


Benar Pa...Deby tadi membawa empat penjahat untuk membunuh Kania Pa..." jawab Bara yang membuat Setyo Hadi semakin marah pada Deby.


"Kurang ajar ....Dia masih berani melakukan itu..." seru Setyo Hadi menahan marah.


"Kania nggak apa- apa kan...?" tanya Setyo Hadi lagi.


"Tidak Pa... Dia baik- baik aja..." jawab Bara .


"Syukurlah kalau begitu, di mana dia sekarang...?" tanya Setyo lagi.


"Dia sedang mandi Pa...Papa mau berbicara dengan dia...? Nanti saja kalau dia sudah selesai mandi Pa..." kata Bara.


"Baiklah nak, papa tutup dulu karena Papa ada sedikit urusan, nanti Papa akan kembali menelfon Kania..." kata Setyo Hadi .


"Baik Pa nanti Bara katakan pada Kania, Asalamualaikum..." kata Bara.


"Wa'alaikum salam..." jawab Setyo Hadi mengakhiri pembicaraan. Setelah itu dia segera keluar dari ruangannya. Ternyata di luar sudah sepi . hanya ada satpam dan para OB yang belum pada pulang. Dia segera menuju parkiran , dan segera membawa mobilnya menuju kantor Polisi.


Ketika sampai di sana dia melihat sang istri sedang menunggunya di bangku luar kantor Polisi, dia lalu mendekatinya.


"Pa...kenapa Baru datang...?" tanya sang istri ketika melihat Setyo Hadi mendekat.


"Jangan cerewet...ada apa dengan Deby..?" katanya dengan dingin.


"Dia ada masalah dengan si ja***g Kania itu..." seru Sinta dengan marah. Setyo Hadi diam berusaha menahan kemarahannya ketika mendengar Sinta mengatakan Kania ja***g. Ingin rasanya dia menampar mulut wanita itu. tapi dia berisaha menahan kemarahannya. Ketika sampai di dalam kantor Polisi dia meminta ijin untuk bertemu dengan Deby. Setelah di perbolehkan bertemu Deby mereka berdua di bawa keruang tempat Sinta tadi bertemu Deby. Mereka di suruh duduk menunggu Deby yang akan di bawa kesana. Tak berapa lama terlihat Deby datang di kawal seorang polisi wanita.

__ADS_1


"Papa....!" teriak Deby sambil berlari memeluk sang Papa. Setyo Hadi dengan enggan memeluk Deby. Setelah beberapa lama dia melepas Deby yang masih enggan melepas pelukannya .


"Ada masalah apa kamu sampai kembali berurusan dengan Kania...?" tanya Setyo Hadi datar.


"Dia memfitnaku Pa.." seru Deby dengan nada marah.


"Maksudmu...?" tanya Setyo Hadi lagi.


"Dia memukuli para penjahat yang datang menghajarnya, dia kan banyak musuhnya Pa... jadi tentu banyak orang yang ingin mencelakainya, tapi dasar wanita busuk , saat banyak orang yang datang dan ketepatan aku ada di sana dia bilang kalau aku yang menyuruh para penjahat itu Pa..." cerita Deby dengan menggebu- gebu .


"Apa benar ceritamu itu...?" kata Setyo Hadi dengan wajah sinis.


"Atau kau yang sengaja membawa para penjahat kesana untuk membunuhnya.?"


tanya Setyo Hadi langsung. Deby dan Sinta memucat ketika mendengar perkataan Setyo Hadi.


"Papa....kenapa Papa berkata seperti itu..? Apa Papa nggak percaya omongan anak sendiri...?" seru Sinta setelah sadar dari keterkejutannya.


"Papa nggak percaya dengan perkataan putri mu karena Papa sudah mendengar apa yang terjadi sebenarnya...?" seru Setyo Hadi marah.


"Papa lebih percaya omongan orang, yang belum tentu benar , Deby di fitnah Pa... Tolong dia...?" kata Sinta dengan marah.


"Ha... Di fitnah...? Apa omongan seorang CEO sebuah perusahaan besar mau menfitnah Deby yang hanya seorang selebritis rendahan...?" kata Setyo Hadi dengan sinis.


"Apaa...CEO..? maksud Papa CEO perusahaan DC yang ngomong sendiri pada Papa...? jadi Papa sudah menelfon perusahaan itu...?" tanya Sinta dengan perasaan cemas.


"Iya..aku sudah meminta penjelasan pada perusahaan itu dan tuan Bara sendiri yang berbicara dan apakah tuan Bara berbohong padaku dan Dia memfitnah putrimu...? apa yang di punyai putrimu , keistimewaan apa yang di miliki putrimu hingga tuan Bara mau menfitnahnya... ?' tanya Setyo Hadi dengan marah.


"Tapi Pa...dia putri kita yang butuh pertolonganmu...." kata nyonya Sinta marah.


"Apakah dia sudah berfikir apa resikonya kalau dia ketahuan atau seperti sekarang ini, dia tertangkap..? Atau semua ini adalah ide gilamu ya...!" seru tuan Setyo dengan marah.


"Papa...Papa kok gitu sich... Mana mungkin Mama melakukan semua itu Pa...?" seru nyonya Sinta dengan wajah ketakutan.


"Ha..mana mungkin katamu, lalu bagaimana dengan para penjahat yang kau kirim untuk membunuh Kania tempo hari...? " tanya Setyo Hadi perlahan sambil menatap nyonya Setyo Hadi marah.


"Papa cukup...! Kenapa kalian malah bertengkar, bukannya mencari solusi malah kalian di sini meributkan sesuatu yang nggak penting, apa sich istimewanya pe****r ja***g itu hingga harus di bela oleh seorang CEO seperti tuan Bara...atau dia sudah memberikan tubuhnya pada tuan Bara..." teriak Deby marah.


Plaak..


"Dasar gadis bodoh, jaga mulut motormu itu, Papa nggak pernah mengajarkan kamu berucap sekotor itu...gara- gara kamu aku harus bermusuhan dengan Perusahaan ternama seperti DC.." seru tuan Setyo Hadi setelah menampar Deby.


Deby dan sang Mama terkejut melihat perbuatan Setyo Hadi yang nggak pernah sekalipun memukul Deby.


"Papa...apa yang kau lakukan..." seru nyonya Sinta. Sedang Deby hanya diam sambil memegang pipinya yang kena tampar sang Papa.


"Kenapa...? Apa aku tidak boleh menghajar anak yang telah membuatku mendapatkan masalah , dan kau..ajari putri mu berucap sopan dan baik,.bukan seperti anak berandalan yang tak punya sopan santun dan etika..?" jawab Setyo Hadi dengan marah.


"Pa..kenapa kamu baru sekarang memarahi Deby hingga seperti ini...?" tanya nyonya Sinta dengan marah.


"Karena aku baru tahu kejelekan sifat putri mu..." kata Setyo Hadi dingin.


"Menolong... ? tidak, papa tidak akan ikut campur masalah ini lagi. dia yang membuat masalah hingga seperti ini, kini dia juga harus menyelesaikan sendiri masalah yang dia perbuat. aku sudah nggak sanggup lagi mengikuti cara kamu mendidik putrimu..." seru Setyo hadi sambil berdiri dan melangkah keluar ruangan.


"Pa..tunggu...kita harus bicara Pa..." seru nyonya Sinta dengan berjalan mengejar sang suami.


"Sudah cukup, aku sudah tak perduli lagi , bukankah kalian tak perduli omonganku.. nach sekarang akupun tak perduli apa yang akan kalian lakukan..." seru Setyo Hadi sambil menepis tangan sang Istri yang memegang lengannya .


"Papa...maafkan Deby Pa...tolong Deby Pa..." teriak Deby. tapi Setyo Hadi sudah tak perduli lagi, dia segera berjalan keluar dari ruangan itu. Ketika sampai di depan ruangan dia bertemu dengan Reza yang akan menjenguk Deby.


"Paman...paman di sini...?" sapa Reza sopan.


"Reza...iya paman habis menjenguk Deby, kau juga mau menjenguk dia...?" tanya Setyo basa- basi.


"Paman...sebenarnya ada yang akan Reza omongankan pada Paman...?" kata Reza. kini dia berhadapan dengan Setyo Hadi.


"Apakah penting sekali...?" tanya Setyo.


"Benar Paman..." jawab Reza.


"Kalau begitu datanglah kekantor Paman besok Pagi..." kata Setyo Hadi dengan datar.


"kalau begitu kita pulang bersama Paman..." kata Reza tiba- tiba.


"Lo..bukankah kamu tadi mau menjenguk Deby...?" tanya Setyo Hadi heran.


"Besok aja paman, setelah dari kantor Paman. .." jawab Reza yang kini sudah berjalan bersama Setyo Hadi menuju tempat parkir. setelah itu mereka segera menjalankan mobil mereka ketujuan mereka masing- masing.


Sedang di tempat Kania terlihat Kania dan Bara yang sedang duduk bersama di teras balkon Apartemen Kania .


mereka terlihat sedang berbincang- bincang dengan serius.


"Bun.. tadi ada Papa Setyo nelfon.." Kata Bara .


"Papa... ada apa ,? kok tumben Papa nelfon..." tanya Kania heran.


"Dia dengar masalah si Deby dan kamu, mungkin dia mendengar dari Mama Deby yang ada di kantor Polisi.. dia takut kamu cedera Bun..." jawab Bara.


"Oo biar Bunda nanti menelfon dia Pa..." kata Kania .


"Bun.. kita belum beli baju buat menghadiri perayaan ulangtahun perusahaan lo..." kata Bara yang ada di sebelah Kania.


"Emang harus ya Pa...? Bukankah baju pemberian Papa masih banyak yang belum Kania pakai..." jawab Kania dengan wajah polosnya.


"Ck. .kau ini...kita akan memakai baju yang sama saat di pesta nanti..." kata Bara .

__ADS_1


"Ih..kayak anak kecil aja Pa..."jawab Kania yang memang agak kampungan🤣🤣


"Dasar kau ini...maksud Papa yang senada Bunda..." kata Bara gemas melihat tingkah Kania yang suka pura- Pura tidak tahu model. dia segera menarik Kania dalam dekapannya. kaniapun tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Bara.


"Iya, iya Bunda tahu...kapan kita akan mencari baju itu..?" tanya Kania.


"Kapan Bunda ada waktu...?" tanya balik Bara.


"Bunda belum tahu Pa.. gimana kalau nanti saat Kania ada waktu senggang , Kania langsung ke kantor Papa...?" jawab Kania.


"Beneran Bunda akan datang kekantor Papa, nggak takut ketahuan karyawan.?" tanya Bara tak percaya.


"Lihat saja nanti...Kania berani atau tidak datang kekantor Papa..." jawab Kania.


"Beneran Papa tunggu, awas kalau nggak datang... tapi Papa kok sangsi ya kalau Bunda berani datang kekantor Papa..?" kata Bara memprovokasi Kania.


"Siapa takut...ayo taruhan, Papa mau kasi apa kalau Bunda datang ke kantor Papa tanpa di antar siapapun...?" kata Kania menantang. sambil membalikkan badannya menghadap Bara.


"Papa akan memberikan suatu hadiah buat Bunda saat ulang tahun perusahaan..." jawab Bara.


"Yee Papa...nanti busa ketahuan dong hubungan kita ..." kata Kania kaget.


"Bunda lihat saja nanti cara Papa memberikan Bunda hadiahnya..." jawab Bara denga senyum penuh misteri.


"Setuju..." kata Kania sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Barapun mengulurkan tangan untuk berjabat tangan tanda setuju.


"Awas Papa tunggu.." kata Bara .


"Siap Bos..." jawab Kania sambil meletakkan tangan di dahi seperti orang hormat.


"Kau ini...kenapa baru sekarang aku bisa menemukanmu...?" kata Bara bergumam


"Mungkin Papa kurang teliti mencari keberadaan Bunda..." jawab Kania ngawur.


"Benarkah....? atau kau yang terlalu pandai bersembunyi...?" kata Bara sambil menatap sang kekasih.


"Mana mungkin...bukankah Kania belum tahu kalau pria yang Kania tolong mencari Kania...? tunggu dulu Pa... kenapa saat Kania mengajak Papa pergi kerumah sakit Papa nggak mau, tapi saat para anak buah Papa datang , Papa langsung mengajak mereka kerumah sakit, Kania jadi heran dech, bukankah saat itu Papa terluka sangat Parah.. .?." tanya Kania dengan wajah penuh tanda tanya.


"Memang saat itu nyawa Papa ada di ujung tanduk. andai saat itu Bunda tidak menolong Papa dengan menyembunyikan Papa mungkin saat ini Papa sudah tidak ada lagi di dunia ini. untunglah Papa bertemu dengan dewi penolong Papa hingga Papa bisa hidup sampai sekarang ini..dan kenapa saat itu Papa nggak mau kamu bawa kerumah sakit. karena pasti kau akan membawaku kerumah sakit umum yang ada di daerah itu. dan apakah kau tahu..?. mereka telah mencari di semua rumah sakit yang ada di kota itu, jika kau membawaku kesana apa yang akan terjadi..? karena itu aku tidak mau kau bawa kerumah sakit, aku di bawa para anak buahku kerumah sakit pribadiku, lagi pula aku tak ingin kehilangan gadis yang telah jadi dewi penolongku. Dan harus kau tahu juga Saat pertama kali aku bertemu denganmu , aku sudah jatuh cinta pada dirimu...?" jawab Bara sambil mencium lembut dahi Kania. Kania merasakan. kehangatan mengalir di dalam dadanya.


" Kapan Kinan hadir di hidup Papa..?" tanya Kania.


"Setahun setelah aku mencarimu tanpa dapat hasil, Mama menekanku untuk mencari istri dan akhirnya seperti yang aku ceritakan padamu tentang mamanya Kinan..." jawab Bara.


"Kok Papa nggak tahu kalau aku bekerja di kantor Dika , bukankah setiap penerimaan karyawan baru Papa juga tahu...." tanya Kania heran.


"Entahlah... mungkin saat penerimaan karyawan baru, aku dan Dika mungkin sedang tugas di luar. dan semua di tangani oleh para dewan Direksi.." jawab Bara.


"Pokoknya sekarang..aku nggak ingin melepaskan gadis ku ini... apapun yang terjadi kau harus tetap percaya padaku dan selalu ada di sampingku.." kata Bara sambil memeluk erat Kania. Perlahan dia merenggangkan pelukannya dan menunduk untuk mencium dan ******* bibir Kania yang selalu membuat candu untuknya. merekapun saling berciuman dan ******* bibir mereka. tak berapa lama Bara melepas ciumannya.


"Sayang... sudah malam, kau nggak pulang...?" tanya Kania dengan lembut.


"Papa mau tidur sini Bun..." jawab Bara.


"Tidur di ruang sebelah ya...?" kata Kania lembut.


"Iya.. Papa nggak akan merusak kebahagiaan mu sayang..." jawab Bara sambil mencubit lembut hidung Kania.


"Ya udah Kita tidur Pa...besok Pagi Kania ada syuting pagi..." kata Kania sambil melepas pelukan Bara.


"Baik, ayo...." ajak Bara.


Mereka melangkah masuk kedalam kamar. Bara langsung menuju kamar yang ada di sebelah kamar Kania.


"Pa..kalau mau memakai selimut ada di almari , di sana ada selimut Baru yabg belum terpakai..." kata Kania sebelum bara berlalu.


"Iya Bun...selamat malam..." jwab Bara.


"Malam Pa..." jawab Kania.


Setelahnitu Kania menutup pintu kamarnya. sesampainya di dalam Kamar dia menelfon sang Papa. dengan Nomor yang di kasih Bara.


"Assalamualaikum..siapa ini..." terdengar suara sang Papa Setyo.


"Ini Kania Pa..." jawab Kania.


"Nia putriku...!." seru Setyo Hadi dengan gembira.


"Iya Pa...Papa tadi mencari Kania...?" tanya Kania.


"Iya nak...Papa takut kamu cedera karena perbuatan Deby..." jawab sang Papa.


"Kania nggak apa- apa kok Pa... Kania nggak terluka, Papa jangan cemas ya...?" kata Kania lembut.


"Syukur lah nak... Papa menghawatirkan dirimu..mulai sekarang kau harus lebih hati- hati nak, aku takut mereka akan mencelakaimu lagi.." kata Setyo Hadi menasehati sang putri.


"Trimakasih Pa... Papa juga harus hati-; hati ,Kania takut mereka akan mencelakai Papa..." kata Kania.


"Jangan khawatir sayang...papa akan selalu jaga diri baik- baik.." jawab Setyo Hadi.


"Baiklah Pa, udah malem kania tutup dulu kita lanjut laun waktu Asalamualaikum" pamit Kania.


"Iya sayang...Wa'alaikum salam..." jawab Setyo Hadi.


Setelah menutup telfon Kania segera naik keatas ranjang untuk tidur. tak berapa lama dia sudah berada di alam mimpi.

__ADS_1


Sampai disini dulu...jangan lupa like dan komennya author tunggu..


Bersambung.


__ADS_2