Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
JEBAKAN AMELIA 1


__ADS_3

Terlihat Kania yang berdiri dengan wajah tenang menghadapi bang Tagor


"Dewi...elo udah siap...?' tanya bang Tagor dengan wajah gembira. Melihat kegembiraan di wajah bang Tagor membuat para anak buahnya menjadi heran.


"Hey lihat...kok ketua Tagor wajahnya gembira amat ya...?" kata salah satu dari mereka.


"Iya...tak biasanya Ketua Tagor seperti itu.." kata yang lain.


"Ssttt ...diam lah kalian, jangan berisik, kita lihat pertarungan Ketua dengan wanita itu, bukankah dia yang di juluki Dewi Maut ...." kata salah satu dari mereka. Merekapun diam menatap pada Kania dan Tagor yang sudah bersiap- siap. Terlihat Kania menggerak- gerakkan tangannya melemaskan badannya.


"Sudah bang.... " jawab Kania sambil tersenyum manis .


Ternyata Tagor sudah tak sabar, dia mulai menyerang Kania duluan dengan hantaman tinjunya yang besar kekepala Kania. saat Tagor melakukan serangan itu, banyak orang menahan nafas karena takut, Namun dengan entengnya Kania mengelak, malah dia membalas dengan tendangan kearah perut Tagor. Terlihat kedia orang itu saling pukul dan saling serang dan perkelahianpun semakin seru ketika bang tagor mulai mengeluarkan jurus- jurus andalannya. Begitupun dengan Kania, melihat serang Tagor yang gencar dia mulai mengeluarkan jurus- jurus yang dia ciptakan sendiri yang belum pernah dia perlihatkan pada siapapun. Gerakan yang lues dan lincah bagai orang menari terlihat sangat indah. Perkelahianpun semakin seru, bang Jonet dan Rido serta Arum dan Keti terkejut melihat gerakan Kania yang indah itu. Tak terkecuali bang Tagor yang sedang bertarung dengan Kania. 30 menitpun berlalu dengan cepat, tiba- tiba sebuah tendangan melayang menghantam perut bang Togar hingga dia terpental jatuh. Semua yang melihat kejadian itu ternganga. Sedang Kania sudah tegak berdiri lagi sambil berucap.


"Maaf bang..." kata Kania. Dia cepat- cepat membantu Tagor yang kesulitan berdiri.


"Gila Nia...tendanganmu kuat banget, gue nggak nyangka di kaki elo yang kecil itu ternyata memiliki tenaga yang kuat banget..ha ha...ternyata gue di tumbangkan oleh elo Nia..." seru bang Tagor sambil tertawa.


"Maaf bang... " jawab Kania meminta maaf.


"Hey...kenapa elo minta maaf... Gue malah bangga ama elo..." jawab bang Togar.


"Apakah gue ketinggalan berita nich..." sebuah suara mengagetkan mereka yang ada di lapangan. Mereka serempak memandang ke asal suara yang datang. Terlihat pria gagah dengan wajah yang terlihat masih tampan di usia yang sudah agak tua itu.


"Burhan...." seru Tagor.


"Tumben elo kesini Han..." kata si Rido.


"Gue denger ada seseorang yang datang ke markas kita, jadi gue penasaran aja... Sebab gue udah lama banget nggak lihat wajah dia..." kata Burhan. Fia menatap Kania yang sedang berdiri di sebelah Tagor.


"Elo kenapa Gor....?" tanya Buran ketika dia masih melihat Tagor memegang perutnya.


"Dapat hadiah dari Kania..." kata Tagor sambil tersenyum masam.


"Hey...kau Kania...?" kata Burhan sambil menatap Kania.


"Benar Bang...apa kabar...?" jawab Kania sambil mengulurkan tangan.


"Ya ampun Nia... lama nggak jumpa elo sekarang cantik banget..." seru Burhan sambil menerima uluran tangan Kania.


"Ck...biasa aja kalik bang..." kata Kania , tak urung wajahnya berubah merah. Burhan adalah seorang dokter di sebuah rumah sakit terkenal di kota B ini. Namun tidak ada yang tahu kalau dia adalah salah satu dari kepala preman di kota B selain para anggota kelompok Dragon fly sendiri.


"Bisa- bisanya elo dapet hadiah dari si Nia Gor...." olok Burhan pada Tagor.


"Ee..elo jangan ngehina gue ya...elo belum tahu kehebatan Nia sekarang,.." kata Tagor marah.


"Benarkah...? Apa Dewi Maut semakin gila...?" tanya Burhan.


"Nia...elo dapet dari mana gerakan indah elo tadi...?" tanya Jonet pada Kania.


"He he he ...maaf bang...itu ciptaan gue sendiri.. Gerakan taekwondo gue gabungin dikit dengan gerakan wushu bang...?" jawab Kania.


"Gila...kau bisa beladiri Wushu Nia...?" tanya bang Jonet dan bang Burhan hampir bersamaan.


"Dikit bang..." jawab Kania merendah.


"Dasar maniak beladiri...." teriak Rido.


"He he... Elo tahu gue kan bang..." kata Kania sambil tertawa.


"Ya udah yuk kedalam, kita ngobrol di dalem aja..." ajak bang Jonet sambil berjalan kedalam sebuah ruangan yang dulu kania ketahui sebagai ruang tempat pertemuan para pengurus . Kania dan kedua pengawalnya mengikuti bang Jonet. Ketika sampai di dalam, mereka duduk di bawah dengan beralaskan permadani berwarna biru.


Setelah duduk bersama Kania memperkenalkan kedua pengawalnya.


"Bang kenalin sahabat gue Arum dan Keti..." kata Kania pada mereka.


"Sahabat elo...?" tanya Burhan.


'Dia pengawal Kania Han..." seru bang Jonet.


"Apaa...pengawal...?" seru Tagor dan Rido hampir bersamaan. Sedang Burhan menatap Kania dengan mata menyelidik.


"Gue jadi curiga... Elo sekarang kerja di mana sich Nia... Kok sampai pakai pengawal segala...?" tanya Burhan dengan wajah menyelidik.


"Dia kerja di perusahaan Dirgantara Han.. Dan dia dekat dengan Bos besarnya..." kata bang Jonet lagi.


"Bukan deket lagi bang...tapi dia bini Bos Bara..." teriak Arum dan Keti dalam hati.


"Apaa...!" kini ganti Burhan yang berseru kaget.


"Kenapa lo Han...?" tanya Bang Jonet.


"Kau anak buah Bara Aris Dirgantara...?" tanya Burhan tak percaya.


"Iya bang...dia Bos gue., abang kenal Dia..?" tanya Kania.


"Siapa yang nggak kenal pria dingin itu Nia, Dia adalah pemilik rumah sakit tempat gue kerja sekarang. Dan nanti malam ada pertemuan dengan dia ..." jawab Burhan .


"Oo pantes Bos Bara bilang datangnya telat( seru Kania dalam hati )


"Lalu kau kesini ada acara apa...? Atau emang sengaja mau ketemu kita- kita ya..?" tanya Burhan .


"Ada acara di hotel AA bang, nach sekalian aja gue mampir kesini..." jawab Kania. setelah berbincang agak lama, Kania dan bang Jonet pun segera pamit pulang.


Ketika sampai di rumah, Rima telah menunggu bersama kedua anaknya.


"Kak Nia..." seruan dari dalam rumah ketika Kania baru keluar dari dalam mobilnya. Seorang gadis remaja berlari menghampiri Kania serta memeluknya.


"Hay sayang..elo udah besar sekarang.. Sudah punya pacar...?" goda Kania sambil membalas pelukan Sinta gadis cantik putri bang Jonet yang memiliki nama persis seperti nama sang Mama.


'Idih apaan ... Jangankan punya pacar, dekat cowok aja sudah ada yang melototin..." adu Sinta pada Kania.


"Oh ya...siapa..?" tanya Kania sambil tertawa.


"Tu...." tunjuk Sinta pada sang kakak yang kini sedang berdiri bersama sang bunda. Kania tertawa ketika melihat siapa yang di tunjuk Sinta.


"Nia kok lama sich...apa kamu nggak lapar...?" tanya Rima dengan wajah cemberut dan cemas.

__ADS_1


"Lapar sich kak, cuman keasyikan ngobrol tadi jadi lupa waktu...' jawab Kania.


"Hay Ren..apa kabar...?" sapa Kania pada Rendra.


"Baik Nia...siapa mereka...?" tanya Rendra sambil menunjuk kedua pengawal Kania dengan dagunya.


"Mereka sahabat gue.. Itu Keti dan ini Arum, Bukankah kau sudah pernah bertemu dengan Arum..?" kata Kania. Mereka bertiga bersalaman.


"Pernah bertemu....? " kata Rendra membeo sambil mengingat- ingat.


"Ya sudah ayo masuk kita makan dulu... Kasihan Kania..." kata Rima sambil menarik tak sabar tangan Kania masuk kedalam rumah. Merekapun akhirnya makan siang bersama.


*****


Malam harinya setelah solat magrib Kania segera mempersiapkan diri untuk pergi ke pesta ulangtahun Amelia. Saat ini dia memakai baju pesta warna biru laut. Baju yang panjang sampai menyentuh tanah dan di hiasi berlian kecil di dada membuat penampilan Kania terlihat anggun dan cantik. Ketika Kania keluar dari dalam kamar semua yang berada di ruang keluarga terpesona melihat penampilan Kania.


"Bos kau terlihat sangat cantik..." seru Arum yang kini sudah berpakaian pesta pula. Begitupun dengan Keti, dia juga sudah memakai pakaian pesta.


"Ck emang sejak dulu gue cantik kan.. dan lagian kalian kayak nggak pernah lihat gadis cantik aja dech..."kata Kania ambil tersenyum dan timbul kenarsisannya .


"Ya ampun Nia...kau benar- benar cantik sayang..." seru Rima sambil menatap Kania .


"Benar kak...kak Nia terlihat keren..." timpal Sinta.


"Trimakasih semuanya..." kata Kania.


"Ya udah Kak , Kania berangkat dulu ya.. Sekalian Kania pamit, takutnya nggak ada waktu besok Kania kesini..." kata Kania berpamitan.


"Kakak nggak kesini lagi...?" tanya Sinta sedih.


"Iya sayang...kapan- kapan kakak kemari lagi ya..." jawab Kania.


"Ya udah kalau gitu hati- hati Nia..


Salam untuk bik Monah dam paman Asep ya..." kata Ratih.


"Iya kak nanti aku sampaikan pada bik Monah dan paman Asep... Ya sudah Nia pergi ya Kak..Asalamualaikum..." pamit Kania. tanpa mereka sadari kalau tatapan Rendra sangat penuh dengan kekaguman pada Kania.


"Walaikum salam..." Kaniapun pergi meninggalkan rumah bang Jonet, Kania juga tak lupa memberi amplop yang berisi uang pada Rima, semula Rima menolak, namun karena ancaman Kania yang tak akan mau datang lagi membuat Rima dengan terpaksa menerimanya. Sedang bang Jonet ikut Kania ke hotel AA, dia memberitahu Kania kamar yang sudah dia pesankan untuk Kania dan kedua pengawalnya. Bang Jonet juga memberikan kunci kamar pada Kania. Ketika sampai di Hotel AA terlihat tamu sudah banyak yang datang.


Kania segera masuk kedalam Hotel tempat Pesta Ulangtahun Amelia, sedang Keti masuk bersama bang Jonet.


Ketika mereka mau masuk kedalam ruang pesta , seorang petugas meminta kartu undangan, setelah melihat kartu undangan petugas mempersilahkan Kania dan Arum masuk kedalam


"Ya ampun Bos ramai banget..." kata Arum sambil menatap para tamu .


"Maklum orang kaya Rum..." kata Kania.


Arum tertawa sambil menutup mulutnya.


Saat mereka sudah di dalam ruangan, Amelia yang melihat kedatangan Kania segera berjalan mendekatinya. Dia berjalan bersama Rusti dan Dian.


"Hay Nia , apa kabar....aku kira kamu nggak datang..." sapa Amelia Ramah.


"Ya enggak la..elo ngundang gue, masak gue nggak datang, selamat ulang tahun ya...." kata Kania sambil memberikan hadiah kecil buat Amelia.


"Silahkan....?" kata Kania sambil tersenyum.


"Hey teman- teman kemarilah....." serunya sambil berdiri di tengah- tengah ruangan. Kania sudah menyangka itu.


"Bos...gimana ini...dia sengaja ingin mempermalukan Bos Nia..." kata Arum dengan cemas.


"Tenanglah Rum...jangan khawatir...?" jawab Kania menenangkan pengawalnya. Semua orang mendekati Amelia yang sedang berdiri di tengah ruangan dengan memegang hadiah dari Kania.


"Aku mendapatkan hadiah dari seseorang dan dia sekarang ada di sini, apakah kalian ingin tahu siapa orang itu...? itu dia..( Amelia menunjuk pada Kania yang berdiri bersama Arum dengan tenang) dia memberiku hadiah ini, ..." lanjutnya.


"Ya ampuun...masak memberi hadiah sekecil itu...? Kayak nggak menghargai nona Amelia saja..." kata salah


Satu dari tamu yang ada di sana.


"Malu - maluin...orangnya sich cantik, kalau emang orang nggak punya ngapain datang keacara ulangtahun nona Amelia, dasar nggak punya malu.." kata tamu yang lain. Dan banyak lagi cacian dan hinaan yang di dengar Kania.


Arum yang mendengar semua itu menjadi marah. Tapi Kania menahannya.


"Biarkan aja Rum...kita lahat aja nanti apa yang akan terjadi..." kata Kania mencegah Arum yang akan meledak amarahnya.


"Tapi Bos...." seru Arum marah.


"Percaya sama gue, elo akan tahu nanti.." jawab Kania smbil memegang tangan Arum.


"Apakah kalian ingin lihat juga...?" tanya Amelia dengan congkaknya.


"Buka aja Mel...gue pingin tahu, paling - paling gantungan kunci yang di beli dari pasar loak...." seru salah satu teman Amelia.


"Buka aja dech kak...?" seru Rusti .


"Kita buka ya...?" Amelia segera membuka kado itu. Semua orang menatap isi kado itu penasaran, tak lama kado terbuka dan tampaklah sebuah kalung dari platina dengan bandul berbentuk bunga mawar dengan berlian berada di tengah bunga mawar. Bandul itu terlihat sangat indah dan mewah.


"Ya ampuun..cantik banget bandulnya, bukankah itu berlian di tengah mawar.." kata seorang artis dengan wajah penuh kekaguman.


"Jangan- jangan itu berlian palsu..." kata yang lain.


"Benar... masak dia mampir membeli sebuah berlian..." jawab yang lain, Amelia yang mendengar perdebatan itu menjadi senang. namun sebelum dia melanjutkan hinaannya pada Kania, seorang wanita cantik mendekat.


"Boleh aku melihat keaslian berlian itu...?" tanya wanita itu.


"Bukankah dia ledy Ivony pemulik toko Berlian di kota J..." kata seorang artis .


Mendengar perkataan artis itu Amelia bahagia karena dia yakin kalau berlian itu, berlian palsu. dia segera memberikan kalung itu pada ledy Ivony. setelah mengamati dan memeriksa kalung itu dia berseru.


"Nona... kau membeli berlian ini di mana..? walaupun kecil berlian ini adalah barang yang sangat mahal..." kata ledy Ivony yang membuat semua tamu terkejut.


"Apaa.. jadi beian itu asli....? seru mereka.


"Makanya kita jangan mudah menghina orang...belum tentu benda yang kita remehkan tidak berharga.." kata tamu yang lain. Dan banyak lagi komentar dari tamu yang lain, dan intinya mereka mengagumi hadiah pemberian Kania. Amelia yang niatnya ingin mempermalukan Kania menjadi sangat marah ketika mendengar para tamu memuji hadiah dari Kania.


Ingin rasanya Amelia menampar Kania yang terlihat tenang menatap wajahnya. Dian yang melihat kemarahan Amelia yang di tahan berusaha menghibur.

__ADS_1


"Sabar Mel.. Rencana kita sedang berjalan kau harus bisa menahan kemarahanmu..." kata Dian menghibur Amelia. Amelia berusaha menahan kemarahannya.


"Kak apa semua sudah siap..." tanya Amelia..


"Jangan khawatir Mel, semua sudah aku siapkan..." jawab Dian. Merekapun kembali menemui para tamu.


"Bos.. Bos nggak rugi memberikan hadiah itu buat si jahat Amelia...?" kata Arum nggak rela.


"Tenang aja Rum, hadiah itu dari Bos Bara, dia tahu apa yang akan di lakukan Amelia padaku, jadi dia memberikan itu untuk membuat marah Amelia..." kata Kania. Merekapun segera berjalan mengambil makanan, tak lama Terlihat Kania yang sedang duduk sambil makan dan minum bersama beberapa orang tamu. Saat semua orang sudah meninggalkan tempat duduk Kania , terlihat Kania pergi kearah Kamar kecil bersama Arum.


"Kak suruh orangmu mengganti minuman Kania..." bisik Amelia pada Dian.


Dian segera menyuruh pelayan yang sudah dia bayar untuk memasukkan minuman yang berisi obat perangsang pada minuman Kania. Dengan cepat pelayan itu memasukkan cairan berbahaya itu pada minuman Kania. Setelah pelayan itu pergi Kania kembali dari kamar kecil bersama Arum.


Ketika dia kembali ke mejanya. Terlihat gelas minumannya yang tadinya sudah kosong sekarang telah terisi hampir setengah. .


"Rum...itu gelas mu...?" tanya Kania.


"Bukan Bos, itu gelas elo..." jawab Arum.


"Rum...kata orang bijak,kalau kita berada di keramaian dan di tempat musuh, kalau kita meninggalkan minuman kita saat masuk kekamar kecil kita harus waspada..." kata Kania.


"Iya Bos, itu pilihan bijaksana..." jawab Arum. Sedang Amelia yang melihat Kania belum meminum minumannya menjadi kesal.


"Kenapa dia nggak langsung meminum minumannya sich.." seru Arum marah.


'Mungkin dia agak curiga kak..." kata Rusti.


"Lalu gimana caranya agar dia meminum minumannya..." seru Dian kesal. Mereka diam , tiba- tiba Amelia mempunyai ide.


dia berjalan mendekati Kania.


"Hey Kania.. boleh kita bersulang...?" kata Amelia mengajak Kania bersulang.


Kania tertegun sejenak,


'Waah benar dugaan gue, kalau di dalam minuman ini ada sesuatu, gimana gue mengelak untuk meminum minuman ini ( batin Kania )


"Kania...apa kau menolak ajakan kak Amel yang sedang ulangtahun ...?" kata Rusti memprofokasi.


"Baiklah..." kata Kania sambil mengambil minuman yang ada di atas meja. Arum kaget mendengar omongan Kania.


"Bos..." seru Arum pelan.


Kania hanya mengedipkan matanya memberi isarat pada Arum agar tenang.


Kania segera meminum minuman itu hampir setengah, setelah itu dia mengambil tisu yang ada diatas meja, dia mengusap mulutnya perlahan.


"Kenapa tidak kau habiskan...?" kata Amelia.


"Aku tadi sudah banyak minum, bolehkan kalau aku menghabiskan. separuhnya saja...?" tanya Kania perlahan.


"Oh nggak apa- apa, separuh juga nggak masalah...." jawab Amelia dengan senyum liciknya.


"Ya sudah aku kesana dulu ya..." kata Amelia .


"Silahkan..." jawab Kania.


Terlihat Amelia meninggalkan Kania dengan Arum. Tiba- tiba seorang pelayan datang mendekati Arum, dan tiba - tiba dia menumpahkan minuman ke baju Arum. Dia seolah terjatuh karena sesuatu.


"Hey...apa yang kau llakukan..." seru Arum.


"Ma..maaf Nona, saya tak sengaja.. " jawab pelayan itu.


"Ck..dasar pelayan sembrono...?" seru Arum jengkel.


"Nona mari saya bantu membersihkan. di kamar mandi...." kata pelayan itu .


"Nggak usah...gue bisa sendiri..." jawab Arum.


"Rum.. Pergilah..." kata Kania.


Tiba- tiba kania memegangi kepalanya.


"Bos ada apa...?" tanya Arum.


"Kepalaku sedikit pusing..." jawab Kania.


"Apakah kita kekamar aja...?" tanya Arum.


"Pergilah kekamar mandi dulu... Kita akan pergi kekamar setelah kau datang..." jawab Kania.


"Baik Bos..." jawab Arum. Diapus segera melangkah pergi ke kamar mandi. Setelah Arum pergi. Kania berdiri sambil sesekali memegang kepalanya.


Amelia yang sejak tadi memperhatikan Kania tersenyum bahagia.


"Kak Dian suruh orangmu membawa Kania kekamar yang sudah di persiapkan untuknya..." perintah Amelia pada Dian.


" Baik Mel...." jawab Dian.


Dia segera memanggil pelayan yang sudah dia bayar untuk membawa Kania pergi kekamar yang sudah di persiapkan . Dan pelayan itu segera menghampiri Kania.


"Nona...ada apa...? Apa saya bisa membantumu...?" tanya pelayan yang sudah di suruh Dian.


"Tolong ... Kau bisa membawaku kekamarku...?" tanya Kania.


"Bisa Nona...mari saya antar...?" kata pelayan itu dengan cepat. Dia segera membimbing Kania berjalan kearah Kamar yang sudah di persiapkan untuknya. Kania sesekali menggelengkan kepalanya atau memegang kepalanya. Dan Amelia yang melihat tingkah Kania tertawa senang.


"Dek...bawa tuan Muhlis kekamar Kania.." perintah Amelia pada Rusti.


"Baik kak..." jawab Rusti dengan gembira.


" Ha ha ha...kau rasakan wanita ja***g, kau akan tamat sebentar lagi...." seru Amelia kegirangan.


Maaf bersambung dulu ya....gue lanjut pada episode yang akan datang... Jangan lupa like dan komennya...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2