
#Keesoka. Paginya setelah makan pagi Kania dan Bara serta Kinan pergi kerumah orang tua Bara. Mereka berangkat hanya bertiga saja . sebelum sampai di sana Kania sengaja membeli kue untuk buah tangan mereka . Ketika sampai di minsion keluarga Dirgantara mereka di sambut keluarga Dirgantara dengan gembira.
Terlihat beberapa pembantu yang berjejer rapi menyambut kedatangan sang putra pemilik mension di depan pintu mension tuan mahesa. Sedang sang Papa ,Mama Bara sudah menunggu di ruang tamu.
"Selamat datang calon menantuku..." sapa Nyonya Rani sambil memeluk Kania hangat.
"Selamat pagi Ma...." jawab Kania sambil membalas pelukan Nyonya Rani.
Begitupun dengan tuan Mahesa yang menyambut dengan gembira. Sedang Kinan tak mau lepas dari gendongan Kania. sejak turun dari mobil Kinan minta gendong Kania .
"Kau kenapa Cucuku...?" kata sang Opa ketika melihat Kinan menempel erat di badan Kania . Kinan hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Kenapa sayang....?" tanya Kania.
saat Kinan semakin mempererat pelukannya. dengan pelan Dia menjawab.
"Kinan nggak mau pisah sama Bunda.." jawab Kinan dengan posesif.
"Lo emang siapa yang bilang Bunda mau berpisah dengan Kinan...?" tanya Kania heran sambil duduk dan memangku Kinan yang tetap memeluk Kania dengan erat.
"Bukankah Bunda mau pindah ke apartemen dan Kinan mau di taruh di rumah Opa...?" kata Kinan dengan sedih.
"Siapa Bilang sayang.... Bunda kesini mau silaturahmi dengan Opa dan Oma Kinan...?" kata Kania dia mengusap punggung Kinan dengan lembut.
"Bukannya Bunda dan Papa mau menitipkan Kinan dirumah Opa...?" tanya Kinan dengan wajah lugunya.
"Ya enggaklah sayang..., emang Kinan fikir Bunda sama Papa mau menitipkan Kinan...?" tanya Kania heran.
Kinan hanya menjawab dengan anggukan. Kinan merasa dia akan di titipkan pada sang Oma karena setiap Bara pergi lama keluar negri dia pasti di titipkan pada sang Oma karena tidak ada yang menjaga.s
"He he he...ternyata Kinan salah sangka, Bunda kesini hanya silaturahmi sama opa dan oma aja kok.." hibur Kania.
"Beneran Bunda....?" tanya Kinan tak percaya.
"Iya sayang... Siapa sich yang mau berpisah dengan Kinan Bunda...?" jawab Kania sambil membelai kepala Kinan. mendengar itu Kinan melonggarkan pelukannya.
"Buktinya Bunda mau pindah tu...?" potong Bara yang duduk di sebelah Kania.
"Yee...itu kan demi pekerjaan Pa..." jawab Kania dengan cemberut.
'Lagian kalau gue di situ terus gue takut nggak mampu menjaga iman gue Bos..
(teriak Kania dalam hati)
Tuan Mahesa dan nyonya Rani hanya bisa tersenyum bahagia melihat tingkah putra dan cucu mereka yang terlalu posesif pada Kania.
"Lagian kalian belum muhrimnya, jadi benar sekali kalau Kania tinggal di Apartemen sementara ini..." kata tuan Mahesa menengahi.
"Bukankah sebentar lagi kami menikah Pa..." protes Bara .
"Iya Bar...tapi sekarang belum kan.. Papa tahu Kania takut terjadi sesuatu yang melanggar norma agama.." jawab tuan Mahesa. Sedang nyonya Kania hanya bisa tersenyum melihat kebucinan sang putra.
'Dasar Bara...dulu aja di jodohkan dengan beberapa wanita nggak mau, jangankan memegang melihat aja dia enggan, tapi setelah ketemu Kania dia jadi bucin seperti ini hingga takut kehilangan ..ck ( batin nyonya Rani)
"Ya kita cepatin aja Pa menikahnya, biar Bunda sudah halal hidup bersama Bara.." kata Bara memaksa.
"Ist kau ini...kenapa buru- buru amat mau menikah, meminta Kania aja belum kau lakukan, sabar dikit napa...." jawab sang Papa.
"Bara nggak sabar Pa...Makanya kita cepat- cepat meminta Kania pada pak Asep..." kata Bara dengan wajah kesal. Mendengar Bara menyebut pak Asep tuan Mahesa memandang Kania dengan wajah sedih.
"Maaf Kania , setelah Papa mengenalmu dan mengetahui Bara sangat mencintaimu Papa dengan terpaksa menyelidiki siapa kau sebenarnya. Dan Papa tahu siapa dirimu, tapi Papa ingin tanya, apakah kamu tahu keluarga besar Herlambang , Keluarga dari Papamu.....?" tanya tuan Mahesa .
Kania menatap wajah tuan Mahesa dengan mata yang penuh luka. Dia teringan akan kefua orang tuanya yang tak menginginkan dirinya . Sedang Bara hanya Bisa menatap Kania dengan sedih. Dia tahu kesedihan yang Kania rasakan .
"Kania tidak tahu Pa, Semenjak Kania pergi dari rumah kedua orang tua Kania yang tak pernah menginginkan kehadiran Kania di dunia, Kania tak ingin mengetahui apapun tentang keluarga Herlambang pa.." jawab Kania dengan tegas.
"Sayang...seharusnya kau tidak boleh membenci mereka juga. Karena Kakek dan nenekmu tidak mengetahui kehadiranmu. Yang mereka tahu kalau si Aryo mempunyai seorang putri. Mereka anggap putri angkatnya itulah putri satu- satunya si Aryo... mereka tidak tahu kalau gadis yang ada rumah putra mereka hanyalah gadis pungut.." nasehat tuan Mahesa.
Kania tertegun mendengar nasehat itu.tanpa terasa air mata jatuh di pipi Kania. Melihat Kania menangis Kinan terkejut.
"Bunda ...Bunda kenapa nangis..?" tanya Kinan bingung. Kania tersadar, dia segera mengusap pipinya.
"Ah nggak kok sayang...Bunda nggak nangis, tadi ada debu masuk kemata Bunda..."elak Kania.
"Coba sini Kinan tiup Bunda..." kata Kinan dengan menatap sang Bunda. Kania pun memajukan matanya yang sedang berair. Dengan perlahan Kinan mengusap air mata dipipi Kania dan meniup mata Kania. Melihat tingkah Kinan, Kania dengan sekuat tenaga menahan air mata haru yang semakin ingin mengalir dari matanya.
"Nach, udah sembuh Bunda..?" tanya Kinan sambil mengusap mata Kania yang berair kembali.
"Sudah sayang, makasih ya..." kata Kania sambil membawa Kinan dalam pelukannya. Kania sangat terharu mendapat kasih sayang dia dapat dari Kinan . sedang kedua orang tua Bara merasa Bahagia dan haru melihat Kedekatan Kania dan Kinan yang seperti seorang ibu dan putranya. Mereka semakin yakin merestui hubungan Bara dengan Kania.
"Lalu apa yang harus Kania lakukan Pa..?" tanya Kania bingung.
"Suatu saat nanti Papa akan mengajakmu menemui Kakek dan Nenekmu serta Paman dan Bibi mu.
"Paman dan Bibi ..?" tanya Kania.
__ADS_1
"Iya, Papamu mempunyai dua orang saudara. Papamu anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya seorang Jendral dari AD, sedang adik perempuannya seorang Dokter yang sangat jenius. dia bertugas di rumah sakit Angkatan Darat, kini dia sedang bertugas di laboraturium pusat AD. Sedang Kakekmu adalah pengsiunan Jendral AD. Hanya papamulah yang bekerja sebagai pengusaha perhotelan. Dan kebetulan Pamanmu merupakan salah satu sahabat Papa...." kata tuan Mahendra menjelaskan.
"Gimana dengan keluarga Mama Pa...?" tanya Kania perlahan.
"Kalau Mamamu adalah putri kedua dari pengusaha batik terkenal di kota P. Merekapun juga belum tahu tentang dirimu , yang mereka tahu putri dari dari kedua orang tuamu ya putri palsu itu.." jawab tuan Mahesa.
"Sayang...kau harus kuat menjalani cobaan hidup mu nak..." kata Nyonya Rani sambil mendekati Kania dan memeluknya dengan sayang.
"Pa..Ma..Karena itulah Kania tidak ingin mengetahui seluk beluk tentang keluarga Kania, agar Kania bisa iklas melupakan mereka yang telah membuang Kania...?" jawab Kania datar.
"Sayang Mama pun tak habis pikir ketika mengetahui masalah hidupmu. Mengapa kedua orang tuamu lebih mencintai gadis yang mereka pungut dari pada anak kandung mereka.." kata nyonya Rani sambil membelai kepala Kania.
"Pa, Ma sekarang Bunda tidak membutuhkan mereka lagi Pa...karena sekarang sudah ada Bara yang akan selalu berada di sisih Bunda.." kata Bara dengan nada marah.
"Benar Katamu Bar... Ada kamu dan kami yang ada di disini Kania, tapi mereka harus tahu kebenarannya Bar agar gadis palsu itu bisa keluar dari keluarga Kania dan Kania mempunyai hak untuk memiliki keluarganya. Bukan hanya pak Asep dan bik Monah aja yang mesti Kania miliki, mereka adalah keluarga Kania Bara.."jawab sang Papa menasehati.
"Benar Kata Papamu Bara, mereka orang tua Kania, milik Kania bukan milik gadis itu, .."kata sang Mama.
"Baiklah terserah Papa sama Mama aja, sekarang yang penting Bara pingin cepat- cepat nikah Pa..." jawab Bara.
"Ist dasar Bucin..." seru sang Papa.
"Biarin, yang penting Bara tidak ingin kehilangan berlian milik Bara..." jawab Bara posedif sambil memandang Kania dengan lembut. Kania hanya bisa menunduk malu.
"Ya ampuun Bos...jangan buat gue malu napa..( teriak Kania dalam hati)
"Baiklah.. lalu kapan Papa dam Mama harus meminta Kania pada pak Asep, atau kita tunggu Kania menemui kakeknya dulu ...?" tanya sang Papa.
"Nggak,...sudah Bara bilang secepatnya kita melamar Kania Pa..." seru Bara kesal.
"Bar...kenapa sekarang sikapmu berubah begini, kemana sikap dingin dan cuekmu pada wanita....?" tanya sang Papa menahan senyum.
"Sebab kakak gue lagi bucin berat Pa..." tiba- tiba sebuah suara datang dari arah pintu. Mereka yang berada di dalam ruang keluarga melihat Dika datang bersama Anton.
"Ngapain kalian datang kemari...?" tanya Bara datar.
"Yee...salahin tu Papa yang nelfon kami agar datang kemari..." jawab Dika sambil menunjuk sang Papa dengan dagunya.
"Bener Pa...?" tanya Bara.
"Iya...Papa ingin mengajak kalian makan bersama untuk menyambut calon menantu Papa...." jawab sang Papa.
"Iya Bar.. Mama pingin kebahagiaan ini kita nikmati bersama, mama gembira sekali kamu telah menemukan tambatan hatimu..." kata sang Mama.
"Diam kau...mau kupotong gajihmu bulan ini...?" kata Bara mengancam pada Anton .
"Waduh sadis banget Bos..." seru Anton ketika mendengar ancaman Bara. tuan Mahesa dan nyonya Rani hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Bara.
"Jadi kapan Bara...?atau dua bulan lagi...?" tanya sang Papa menggoda.
"Papa..ya nggak mau lah....dua minggu lagi kita melamar Bunda...." jawab Bara tegas.
"Pa..nggak terlalu cepat...?bukankah mulai minggu depan Kania sudah mulai sibuk syuting...?" kata Kania mengingatkan. jika dua minggu rasanya terlalu cepat buat Kania.
"Nach apalagi seperti itu, mending satu minggu lagi Pa..." kata Bara lagi.
"Haa..." seru mereka berbarengan.
"Kak...kok buru- buru amat...?" tanya Dika heran.
"Diam kau..." bantak Bara menatap Duka dengan tajam.
Dika terdiam walau dalam hati tertawa melihat tingkah sang kakak seperti takut kehilangan Kania. Begitupun dengan Anton yang ternganga melihat sang Bos dinginnya , kehilangan sikap dinginnya. Sedang Kania hanya bisa bengong melihat keinginan Bara yang buru- buru menikah.
"Baiklah sekarang Papa memutuskan kita akan meminang Kania dua minggu lagi .... ?" kata sang Papa.
"Kok dua minggu lagi Pa...?" tanya Bara kurang puas.
"Bar...nggak bisa cepat- cepat gitu dong.. Kita juga harus mempersiapkan cincin serta seserahan buat Kania..." kata sang Mama.
"Bukankah seserahan serta cincin pertunangan bisa kita siapkan dalam dua hari aja kan Ma..." bantah Bara.
"Duh ni anak, pingin nya buru- buru aja...
Pokoknya dua minggu lagi titik..." seru sang Papa.
"Iya dech iya...Bara nurut kata Papa.." kata Bara dengan nada menyerah. Walau dalam hati dia sangat gembira. Sedang Kania hanya bisa pasrah pada kemauan sang kekasih. Akhirnya kesepakatan pun telah di ambil dua minggu lagi mereka akan melamar Kania di rumah pak Asep. Saat mereka sedang berbincang bersama , seorang pelayan datang dengan terburu- buru.
"Maaf nyonya Imah mengganggu, di depan ada tamu mencari tuan dan nyonya..." kata bik Imah pembantu nyonya Rani.
"Siapa bik...?" tanya nyonya Rani.
"Tuan dan nyonya Ridwan serta putrinya Nona Vike nyonya.." jawab bik Imah. bik Imah tahu mereka Karena pak Ridwan dan istrinya sering kemara, begitu juga dengan putrinya yang beberapa kali ikut kemari.
"Suruh masuk dulu bik, sebentar lagi kami kesana...?" kata nyonya Rani.
__ADS_1
"Baik Nyonya..." jawab bik Imah. Dia segera pergi keluar.
"Baiklah karena semua sudah di putuskan, kalian mengobrol dulu di sini Mama sama Papa mau menemui tamu Papa di luar.. sebentar lagi Kita makan bersama..." kata sang Mama.
"Baik Ma..." jawab Bara , Kania dan Dika.
"Baik Tante..." jawab Anton.
Tuan Mahesa dan nyonya Rani segera keluar menemui tamunya.
Sedang di luar terlihat sepasang suami istri dan putrinya sedang duduk di ruang tamu mension tuan Mahesa. Mereka menunggu kedatangan sang pemilik mension dengan wajah gembira.
"Pa... Gimana cara Papa mengutarakan maksud kita nanti...?" tanya istri pak Ridwan.
"Tenang saja Ma... Si Mahesa itu teman Papa semasa di SMA dulu, dan sekarang kami jadi rekaman bisnis, jadi gampang buat Papa merayu dia.." jawab sang suami dengan yakin.
"Pa..sejak pertemuan pertama kita dulu Vike sudah jatuh cinta pada Bara Pa, jadi Papa harus bisa membujuk Om Mahesa untuk menjodohkan si Bara denganku Pa..." kata sang putri dengan wajah penuh harap.
"Pasti Vik... Karena jika itu terjadi keuntungannya buka hanya terhadapmu tapi terhadap perusahaan kita juga, orang seperti Bara jangan sampai lepas dari tangan kita...." jawab sang Papa dengan yakin.
"Kalau begitu kita harus membujuk kedua orang tuanya dengan serius Pa, Mama ingin kita mempunyai besan sekaya mereka...." kata sang istri.
"Pa...jika mereka menolak gimana...aku tak mau membuang kesempatan menjadi istri seorang Bara yang Kaya dan tampan itu Pa.. " kata sang putri cemas.
"Itu nggak mungkin nak... Mereka nggak akan menolak menantu secantik kamu, mereka akan menerimamu dengan senang hati. Apa lagi dia teman Papa.." kata pak Ridwan dengan yakin.
"Benar itu Pa, anak kita akan menjadi wanita terkaya di negara ini kalau dia menikah dengan Bara Pa.." kata sang istri. Tanpa mereka sadari tuan Mahesa dan sang istri telah mendengar rencana mereka. Tuan Mahesa mengepalkan tangannya menahan marah.
"Pa..jangan kau perlihatkan kemarahanmu..." kata sang isti menasehati.
"Papa jadi geram melihat orang seperti mereka Ma mereka terlalu serakah dan mata duitan..." geram tuan Mahesa.
"Sabar Pa...bukan kah kita sudah mempunyai menantu yang cantik dan baik hati..." hibur nyonya Rani.
"Benar Ma... Kania lebih segalanya dari wanita serakah itu..." seru sang suami.
"Ayo Pa kita menemui mereka..." ajak nyonya Rani.
"Baik Ma..." mereka berduapun segera keluar menemui keluarga Ridwan.
"Wah...apa kabar mbak Vera..." sapa nyonya Rani sambil menyalami istri pak Ridwan.
"Baik jeng Rani, gimana kabar jeng Rani sekarang...?" tanya istri pak Ridwan yang bernama Vera.
"Baik mbak...ayo silahkan duduk..." kata mama Bara setelah bersalaman dengan pak Ridwan dan Putri mereka . Sedang tuan Mahesa setelah memberi salam pada istri pak Ridwan segera berbincang dengan pak Ridwan.
"Lo ini si Vike...katanya sekolah di singapore...?" kata mama Bara.
"Iya jeng...Baru beberapa bulan lalu dia kembali setelah menyelesaikan kuliahnya..."jawab bu Vera dengan bangga.
"Wach...sekarang sudah bisa membantu sang Papa di kantor dong...?"kata nyonya Rani.
"Iya jeng... Dia mulai belajar membantu Papanya mengurus perusahaan..." jawab bu Vera semakin bangga.
"Bagus kalau begitu, siapa lagi yang akan membantu sang papa kalau bukan putrinya sendiri..." kata nyonya Rani memuji. Mungkin tuan Ridwan mulai mempunyai kesempatan untuk mengajukan niatnya. Saat dia mendengar nyonya Rani memuji sang putri dia mulai berkata.
"Mahesa kok aku nggak lihat putra- putramu...?" tanya pak Ridwan pada tuan Mahesa.
"Oo.. Mereka ada di belakang bersama Kinan putra Bara..." jawab tuan Mahesa tenang.
"Kenapa tak kau suru mereka berbincang disini, kita bisa memperkenalkan putra Bara denga. putriku...?" kata pak Ridwan lagi.
"Waah putra si Bara sulit dekat dengan orang lain. Dia sangat pendiam melebihi Bara..." kata tuan Mahesa kembali.
"Apakah ibunya nggak pernah kemari..?"tanya pak Ridwan . karena dia tahu tentang mama Kinan.
"Bara yang tak ingin bertemu dengan ibunya Kinan..."kata tuan Mahesa mulai kesal.
"Apa Bara tak ingin mencari istri lagi ..?" tanya Pak Ridwan mulai menjurus.
"Soal itu masalah Bara Wan , dan aku menyerahkan sepenuhnya pada Bara soal mencari calon ibu dari putranya..." jawab tuan Mahesa lagi.
"Mahes, gimana kalau kita menjodohkan anak- anak kita....?" tanya Pak Ridwan mulai membuka rayuannya.
"Kalau soal itu aku nggak mau ikut campur urusan Bara Wan, Bara terlalu keras dan sensitif kalau menyinggung masalah perjodohan, Kami sudah tak ingin ikut campur setelah kejadian mamanya si Kinan.."jawab tuan Mahesa sabar walau di dalam hati dia sangat marah karena tahu maksud dari perjodohan itu.
"Kita paksa Aja Mahesa... kebetulan putriku masih mudah dan dia mau menjadi ibu dari cucumu itu..." kata pak Ridwan kembali.
"Waah...itu nggak mungkin Wan, karena putraku sudah memiliki calon istri..." kata tuan Mahesa dengan datar.
Ketiga orang yang ada di hadapan orang tua Bara tertegun mendengar perkataan tuan Mahesa yang mengatakan Bara sudah memiliki calon istri.
Stop...sampai disini dulu ya guys, besok gue lanjut lagi, eee..jangan lupa dong.. Like dan komentarnya. Kasihankan pada author yang rajin membuat cerita ..😂 😂
Bersambung
__ADS_1