
Saat ini Dika, Anton, dan Bara sedang berdiskusi tentang pekerjaan. Mereka terlihat serius menyelesaikan suatu persoalan. Saat mereka asyik berdebat terdengar dering telfon berbunyi yang membuat wajah Bara kesal dan agak marah.
"Bukankah aku sudah bilang matikan telfon kalau sedang bekerja..." kata Bara dingin. Dika dan Anton berpandangan merasa bersalah. Dika yang merasa bunyi telfon itu miliknya segera mematikannya tanpa melihat siapa yang menelfon dirinya. Kembali mereka meneruska pembicaraan mereka. Namun tak berapa lama terdengar bunyi ponsel kembali, membuat Bara terdiam dan memandang kedua pria di hadapannya . ternyata Ponsel Anton yang berbunyi,
"Ck...siapa sebenarnya yang berani mengganggu kita...." kata Bara kesal.
Anton yang merasa pemilik ponsel segera mengambil ponselnya untuk di matikan namun sebelum dia melakukan itu terdengar Bara berkata.
"Terima dulu telfon itu..." kata Bara datar. Saat Anton melihat si penelfon hanya ada nomor pengiriman yang tertera di layar ponsel.
"Halo Asalamualaikum..." sapa Anton dingin.
"Walaikum salam pak Anton.. Maaf menggangu, ini Keti pengawal Nona Kania, tadi kami menelfon tuan Dika tapi ponselnya tidak bisa di hubungi..." kata Keti dengan rasa takut.
"Ada masalah apa dengan Nona Kania hingga kalian menelfon Kami...?" tanya Anton kaget dia segera menghidupkan pembesar suara. Begitu juga dengan Bara dan Dika mereka segera duduk tegak di kursi mereka masing- masing mendengarkan pembicaraan Anton dan si penelfon.
"Kami di serang di tengah perjalanan kami saat mau pulang, tapi kami sudah mengalahkan mereka , hanya saja....." kalimat Keti terhenti membuat mereka yang mendengar penasaran.
"Hanya Kenapa....?" seru Bara yang kini sudah merebut ponsel Anton.
"Nona Kania syok ketika mendengar siapa yang telah mengirim pembunuh bayaran pada Kami..." kata Keti dengan perasaan takut.
"Kalian dimana sekarang...? " tanya Bara menahan kecemasan.
"Kami masih berada di jalan menuju puncak, dan kami sudah mengamankan keenam para penjahat itu.." jawab Keti lagi. Bara pun segera berlari keluar kantornya setelah memberikan ponsel Anton pada pemiliknya. Begitupun dengan Anton dan Dika, mereka segera berlari menyusul sang kakak. Tanpa memperdulikan sekitarnya Bara ,Anton dan Dika segera berlari keluar dari kantor Dirgantara menuju mobil mereka. Tak perduli perhatian para karyawannya yang melihat heran kepergian ketiga petinggi perusahaan yang berlari dengan wajah cemas. Bara segera memacu mobilnya dengan cepat, sedang Dika ikut mobil Anton mengikuti mobil Bara. Mereka segera menuju jalan yang menuju puncak sesuai perkataan Keti. Tak berapa lama mereka sampai di area di mana Kania dan kawan- kawan di serang. Hari yang hampir petang membuat keadaan jalan sangat sepi. Hingga kejadian yang di alami Kania tidak di ketahui orang. Namu tanpa mereka sadari sebuah mobil meninggal kan daerah itu ketika para penjahat sudah di kalahkan oleh Kania dan pengawalnya. Orang itu pergi dengan mengucapkan sumpah serapah atas kegagalan para penjahat.
"Dasar Bodoh, mengalahkan tiga orang wanita aja mereka nggak mampu.." ucap sesosok manusia yang memperhatikan pertarungan itu sejak tadi. dia segera berjalan kearah mobilnya. dan meninggalkan tempat itu dengan penuh kemarahan.
Sedang Bara yang telah sampai di tempat Kania segera menghentikan mobilnya dengan cepat. Dia segera keluar dengan tergesa- gesa. Dia menghampiri Kania yang sedang duduk di dalam mobil. Ketika melihat Bara menghampiri Kania Amanda yang berada di sebelah Kania terkejut. apalagi ketika Bara langsung memeluk Kania. Amanda hanya bisa bengong memperhatikan mereka berdua. Andai bukan Arum yang menarik dia dari dalam mobil mungkin dia masih diam bengong di dalam.
"Sayang....." bisik Bara sambil masuk kedalam mobil dan memeluk Kania.
Kania yang merasakan dekapan hangat dari Bara merasakan luapan emosi yang menyesakkan dadanya. Akhirnya dia tak bisa lagi membendung tangis kesedihan di dalan hatinya. Dia menangis dalam pelukan Bara.
"Sayang ada apa...?" tanya Bara semakin mempererat pelukannya.
"Pa...kenapa orang tuaku belum puas melihatku masih hidup, kenapa mereka masih minginginkan nyawaku...?" ucap Kania di sela tangisannya.
"Sayang... dengar, sejak dulu bukankah kamu sudah tidak membutuhkan mereka, jadi sekarangpun kamu tidak membutuhkan mereka, untuk apa kau bersedih , mulai sekarang jika mereka memperlakukanmu kejam maka kau harus lebih kejam dari mereka Okey..." kata Bara dengan rahang mengeras. Dia merasakan hatinya sakit melihat gadis yang teramat dia sayangi menangis. Bara tidak pernah melihat Kania sesedih ini.
Setelah puas menangis Kania segera melepas pelukannya.
"Pa...boleh Bunda kerumah paman Asep sebentar....?" tanya Kania.
"Baiklah aku akan mengantarmu..." jawab Bara sambil merapikan rambut Kania yang kusut serta mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Kania. Setelah itu dia membawa Kania keluar dari dalam mobil. Dengan menggandeng tangan Kania mereka berjalan kearah Keti ,Amanda Arum ,Dika dan Anton yang sedang memperhatikan dan menjaga para penjahat yang sedang duduk diam dipinggir jalan. mereka menunggu anak buah Bara yang sudah di telfon Dika.
"Keti dan kau Arum antar asisten Kania pulang lalu bawa mobil Bosmu keapartemen. Sedang kalian berdua selesaikan mereka..." ucap Bara pada Anton dan Dika.
"Siap Bos..." jawab Keti dam Arum bersamaan.
"Kakak mau kemana ....?" tanya Dika pada Bara.
"Mengantar Kania kerumah paman Asep.." jawab Bara. Bara segera membawa Kania masuk kedalam mobil sport miliknya, tak lama Merekapun meninggalkan kelima orang yang masih memperhatikan kepergian mereka berdua
Sedang Arum dan keti segera membawa Amanda yang masih bengong pergi dari tempat itu.
"Nda kau kenapa....?" tanya Arum pada Amanda yang berada di kursi tengah.
Dia masih melihat Amanda yang terlihat bengong.
"Rum gue nggak salah lihat kan....? Itu tadi benar- benar Bos Bara ya...?" tanya Amanda tak percaya.
"Emang kalau bukan Bos Bara lalu siapa..?" tanya Arum menggoda.
"Ya ampun Rum...cakep banget orangnya..." kata Amanda perlahan.
"Ya emang cakep...." jawab Arum lagi.
"Jadi elo berdua sering bertemu beliau ya...?" tanya Amanda lagi.
"Tiap hari Nona..." jawab Keti tenang.
__ADS_1
"Tiap hari...? Maksud elo...? Bukankah sulit sekali ketemu tuan Bara..?" tanya Amanda tak mengerti.
"Gue bilang tiap hari karena tuan Bara adalah Bos kami , kami pernah tinggal di rumah Bos Bara, sedang Nona Kania itu calon istri tuan Bara...?" jawab Arum yang membuat Amanda bagai di sambar petir.
"Apaa...!" teriak Amanda kaget.
"Hus jangan teriak- teriak...." tegur Keti yang sedang menyetir.
"Rum.. Apa benar Nona Kania calon istri Bos Bara..." tanya Amanda antusias hingga dia mendekatkan badannya kedekat Keti dan Arum yang duduk di kursi depan.
"Iya..Nona Kania adalah calon istri tuan Bara. mereka sudah lama berhubungan. Dan kalau kau sudah tahu itu jangan sampai kau mengatakan ini pada orang lain...." jelas Arum pada Amanda.
"Kenapa....?" tanya Amanda heran.
"Karena Nona Kania tidak suka hubungan mereka di ketahui orang..." jawab Arum pada Amanda.
"Ya ampun kenapa sifat Nona Kania seperti itu ya...jika wanita lain Jangankan jadi calon istri , lawong hanya kenal aja mereka bilang kemana- mana sebagai calon istri. Kau ingat tentang Nona Elisabet dulu kan...?" kata Amanda.
"Iya... kami tahu itu, Tapi kami sangat bangga memiliki Bos seperti dia...gadis baik, tidak sombong , suka menolong pokoknya semua kebaikan ada pada dia Nda..." kata Arum memuji.
"Iya sich..gue juga ngerasain itu walau masih baru mengenalnya..." kata Amanda kembali duduk di kursi tempatnya tadi.
"Nda...kau harus merahasiakan ini pada siapapun lo..." kata Arum kembali mengingatkan .
"Beres Rum, aku akan mengunci mulutku .." jawab Amanda. Arumpun tersenyum menatap Amanda yang duduk di belakang.
"Trimakasih Nda kalau kau mau ngerahasiain ini .." kata Arum kembali.
"Nggak usa berterimakasih Rum karena ini sudah kewajiban kita..." jawab Amanda.
Sedang di dalam sebuah mobil sport yang berjalan menuju rumah pak Asep terlihat Kania duduk di sebelah Bara yang sedang mengemudi.
"Sayang...jangan sedih lagi ya...?" hibur Bara.
"Aku usahain Pa..." jawab Kania sambil berusaha tersenyum menatap Bara sekilas.
Bara memegang tangan kanan Kania
"Bun...jangan di pikirin lagi orang tua seperti itu, kau akan selalu marah kalau mengingat dia..." kata Bara lagi.
Bik Monah yang tahu kedatangan Kania segera berlari kerumah induk. Ketika Kania dan Bara sampai di dalam rumah mereka melihat pak Asep dan Bik Monah menyambut mereka. Melihat kedua orang tua itu Kania segera berlari dalam pelukan mereka.
"Bik....?" seru Kania sambil kembali menangis.
"Ada apa sayang....?" tanya pak Asep dan bik Monah heran.
"Apa yang terjadi nak....?" tanya pak Asep sambil membelai rambut Kania yang ada dalam pelukan bik Monah. Kania hanya bisa menangis sedih.
"Ayo duduk dulu.....ada apa tiba- tiba kau menangis seperti ini...?" tanya pak Asep heran karena sejak kecil Kania jarang sekali menangis semenjak keluar dari rumah tuan Setyo Hadi. Bik Monah membimbing Kania duduk di sofa. mereka berempat duduk bersama di ruang tamu pak Asep.
"Orang tuanya ingin membunuh dia paman..." jawab Bara dengan nada marah.
"Apaaa...." teriak kedua orang tua itu kaget
"Mereka mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhku paman..." jawab Kania di sela- sela tangisannya.
"Ya Tuhan..benar- benar keterlaluan mereka, belum cukupkah mereka menyiksa putri mereka sendiri...tapi kau tidak apa- apa kan sayang....?" tanya pak Asep dan bik Monah bersamaan. mereka memeriksa tubuh Kania dengan khawatir.
"Kania tidak apa- apa bik..." jawab Kania.
"Syukurlah sayang, paman tahu mereka akan sulit menyakiti dan mengalahkan mu , karena itulah paman berani melepaskan dirimu jauh dari kami nak..." kata paman Asep.
"Nia...kau tak perlu sedih karena orang tuamu nak, karena sekarang kau sudah memiliki tuan Bara yang akan menyayangi mu lebih dari mereka..." kata bik Monah sambil membelai rambut Kania .
"Nach benar kata bik Monah Bun... Kau tidak perlu lagi kasih sayang dari orang tua yang sudah sengaja membuangmu. Masih ada pak Asep, bik Monah , Papa, Kinan dan kedua orang tuaku serta para sahabat- sahabatmu yang selalu mencintaimu Bun..." kata Bara menghibur Kania.
"Benar katamu Pa..aku memang tidak membutuhkan mereka, aku tidak butuh kasih sayang dari mereka, aku sudah mendapatkan lebih banyak kasih sayang dari kalian semua..." jawab Kania yang kini telah berhenti menangis .
"Nach begitu dong...." seru bik Monah bahagia.
"Ya udah Pa...kita pulang yuk, takutnya Kinan menunggu kita.." kata Kania sambil berdiri.
__ADS_1
"Lo kalian tidak makan dulu di sini....?" tanya bik Monah.
"Nggak usah bik...takutnya Kinan menunggu kepulanganku.." jawab Kania.
"Ya udah ..kalau begitu hati- hati di jalan.." pesan bik Monah
"Iya Bik..Kania pulang dulu bik, paman.... Asalamualaikum...." pamit Kania sambil mencium tangan pak Asep dan bik Monah, Begitu juga dengan Bara.
"Walaikum salam..." jawab pak Asep dan bik Monah. Mereka mengantar Kania sampai di luar rumah. Untunglah hari sudah menjelang malam jadi mereka tak menjadi tontonan tetangga. Merekapun segera pergi dari rumah pak Asep pulang ke apartemen Kania.
Ketika mereka dalam perjalanan pulang ke apartemen Bara menerima telfon dari sang Papa kalau mereka menunggu kedatangan Kania dam Bara di rumah besar Bara. Akhirnya mereka melajukan mobilnya menuju rumah Bara.
Saat sampai di rumah Bara terlihat mobil Kania sudah berada di sana bersama mobil milik tuan Mahesa. Saat Kania dan Bara masuk kedalam rumah, mereka melihat Tuan Mahesa dan nyonya Rani sudah berada di sana bersama Dika ,Anton serta Kinan yang berada di pangkuan sang nenek.
"Selamat malam Pa, Ma..." sapa Kania pada kedua orang tua Bara.
"Malam Kania..." jawab Mereka sambil menerima ciuman tangan dari anak dan calon menantu mereka.
"Ada apa Ma, Pa...kok tumben Papa dan Mama datang malam - malam begini..." tanya Bara sambil duduk bersama Kania. Sedang Kinan melihat sang Bunda datang segera lari ke atas pangkuan Kania.
"Bunda habis nangis ya..." tanya Kinan yang masih melihat ada air mata di pipi sang Bunda. tangan kecil itu mengusap lembut pipi Kania.
"Nggak sayang...mata Bunda kemasukan debu tadi Sayang...." jawab Kania sambil mencium pipi Kinan.
"Bara..Kami sudah mendengar semua kejadian yang di alami Kania tadi sore.." kata tuan Mahesa datar.
"Lalu apa yang mesti kami lakukan Pa..?" tanya Bara sambil memandang wajah sang Papa.
"Ini sudah tidak bisa di biarkan lagi Bara.. Besok pagi Papa putuskan akan membawa Kania kerumah Kakek Herlambang, kebetulan teman Papa putra kakek Herlambang yaituJendral Rehan dan Doktor Garnis mempunyai waktu untuk kita, kebetulan keluarga mereka lagi berkunjung kerumah kakek Herlambang..." kata tuan Mahesa .
"Baik Pa, kalau memang itu jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini..." jawab Bara.
"Gimana denganmu Nia...apa kau mau menemui mereka...?" tanya tuan Mahesa pada Kania.
"Kania ikut apa kata Papa ...Kania siap.menemui mereka Pa, kebetulan Kania besok ada jadwal kosong, tapi Kania harus ijin sama tuan Seto Aji..." jawab Kania.
"Biar aku nanti yang ngomong padanya Bun..." kata Bara lembut.
"Baiklah masalah sudah terpecahkan, kalau begitu besok kita kesana bersama- sama..." jawab tuan Mahesa dengan wajah tenang.
"Pa.. besok aku boleh ikut nggak...?" tanya Dika pada sang Papa.
"Pekerjaanmu...?" tanya tuan Mahesa menatap Dika.
"Biar Asistennya yang menghendel Pa..?" jawab Bara mewakili sang adik.
"Ya sudah kita kesana semua..." jawab sang Papa.
"Bos..tumben kau baik sama aku..." goda sang adik.
"Perlu kucabut ijinku..." kata Bara mengancam.
"Yee..ya enggak lah...trimakasih kakak tersayang..." kata Dika sambil tertawa.
"Cih sok imut..." ejek Bara yang membuat Papa dan Mamanya tertawa.
Karena hari sudah malam dan besok mereka akan pergi kerumah kakek Herlambang maka Kania tidur di rumah Bara bersama para pengawalnya. Setelah makan malam bersama Kania mengajak Kinan tidur bersama di kamarnya. Bara melihat kepergian sang gadis yang menggendong putranya pergi berjalan menuju kamarnya dengan wajah Bahagia.
Keesokan paginya Kania terbangun ketika dia merasakan ada belaian lembut di kepalanya.
Perlahan dia membuka matanya. samar karena masih mengantuk dia melihat sosok tampan berada di depannya. setelah kesadarannya telah pulih benar dia melihat Bara sedang duduk di sebelahnya. Dia terlihat tampan dengan baju koko nya.
"Papa...kok sudah ada di sini....?"tanya Kania.
"Mandi gih kita solat tahajud bersama yuk..?" ajak Bara.
"Emang sekarang jam berapa Pa..?" tanya Kania.
"Jam tiga kurang 10 menit..." jawab Bara
"Baiklah tunggu Bunda mandi dulu..." jawab Kania. Kaniapun segera beranjak pergi kekamar mandi . setelah mandi dan mengambil wudhu , Kania segera pergi mengambil peralatan solat. Merekapun segera melaksanakan solat tahajud berjamaah.
__ADS_1
Setelah solat dan berdoa Kania mengambil Alquran dan membaca beberapa ayat sambil menunggu saat solat subuh . Bara sangat kagum mendengar kemerduan suara Kania ketika melantunkan ayat- ayat suci Alquran. Hingga terdengar Adzan subuh berkumandang Kania mengakhiri bacaannya. Merekapun segera turun kebawah menuju musolah. Ketika sampai di sana kedua orang tua Bara sudah berada di sana bersama para pegawai rumah Bara. Setelah adzan berakhir merekapun segera melaksanakan solat subuh berjamaah dengan tuan Mahesa sebagai imamnya.
Bersambung dulu sobat, tak bosan author ingatkan jangan lupa like dam komennya agar author semangat membuat cerita ..