
Setelah menyelesaikan semua adegan Kania kembali ke tempat Kinan dan dua pengawalnya yang sedang menonton bersama sang asisten Kania yaitu Amanda. Sedang Rika sudah kembali kekantornya. Kania yang masih memakai hanfu( baju kas Cina jaman dahulu) terlihat cantik dan elegan.
"Bunda... Bunda memakai baju apa ini..?" tanya Kinan dengan polosnya.
"Ini baju untuk syuting film sayang.. Kenapa ..? Bunda terlihat lucu ya...?" tanya Kania sambil mencium pipi Kinan.
"Bunda terlihat cantik..." jawab Kinan sambil memandang Kania senang.
"Trimakasih sayang..." jawab Kania.
Mereka duduk melihat para pemain yang lain yang sedang melakukan adegan.
Sedang di Kantor Setyo Hadi terlihat seorang wanita sedang berjalan tergesa- gesa. Ketika pagi tadi dia menelfon menanyakan sang suami dia mendengar kalau suaminya sudah masuk kantor. Dengan segera dia mendatangi kantornya.
Ketika sampai di depan ruang kantor sang suami dia bertemu dengan sang sekretaris.
"Mely...apakah tuan ada di dalam....?" tanya dia dengan wajah senang.
"Ada nyonya....beliau ada di dalam..." jawab Mely . Dia segera berjalan kearah ruangan Setyo Hadi.
Tok to tok..
"Masuk..." terdengar seruan seseorang dari dalam.
Nyonya Sinta segera masuk kedalam ruangan sang suami. Terlihat tuan Setyo Hadi sedang menekuni leptopnya.
"Papa... Sudah pulang...? Kenapa nggak pulang kerumah...?" tanya nyonya Sinta sambil berjalan kearah tuan Setyo Hadi,
Dia segera memeluk dan mencium sang suami.
"Aku langsung kekantor karena hari sudah siang, nanti sekalian aja pulang kerumah..." jawab Setyo Hadi datar. Terlihat wajahnya menahan kemarahan.
"Kenapa kau nggak ngasi kabar sama sekali kerumah Pa...?" tanya nyonya Sinta.
"Aku sibuk Ma... Selain ada pertemuan kami juga ada Konfrensi ...." kata tuan Hadi beralasan .
"Sebenarnya Kamu pergi kemana sich Pa...?" tanya Nyonya Sinta lagi.
"Ke Kalimantan Utara..." jawab tuan Setyo Hadi ngawur.
"Ya udah , Papa nanti pulang jam berapa..?" tanya nyonya Sinta lagi.
"Nanti agak sorean... " jawab tuan Setyo Hadi datar. Terlihat wajah yang agak dingin dan cuek. Tak biasanya nyonya Sinta melihat tuan Setyo Hadi seperti itu.
'Ada apa ini...kok perasaanku Papa agak beda hari ini...apa ada masalah di perusahaan...?" kata nyonya Sinta agak heran dalam hatinya.
"Ya udah Pa... Mama pulang dulu, kami akan menunggu kedatangan Papa nanti, .." kata Nyonya Sinta pamit pulang.
"Pulanglah...aku nanti sore pulang..." jawab ruan Setyo Hadi datar.
"Mama pulang dulu Pa..."nyonya Sinta segera pergi setelah mencium pipi tuan Setyo Hadi. Setelah kepergian nyonya Sinta , tuan Setyo Hadi memanggil Mely.
Tak berapa lama Mely masuk.
"Saya tuan... Apa ada tugas buat saya tuan..." tanya Mely sopan.
"Semenjak kepergian ku apa Nyonya atau Nona Deby datang kemari...?" tanya Setyo Hadi dengan datar.
"Kalau nyonya tidak pernah datang tuan, hanya terkadang dia menelfon kemari menanyakan kedatangan tuan, tapi kalau Nona Deby dia datang kemari dua kali mencari tuan , dan dia sering menelfon menanyakan tuan...?" jawab Mely.
"Baiklah , kalau dia menelfon menanyakan tentang saya bilang kalau saya sedang sibuk. Dan kalau nyonya tanya tentang masalah perusahaan bilang kamu tidak tahu apapun., kalau dia memarahimu bilang sama saya., kau mengerti...?" kata Setyo Hadi lagi.
"Baik tuan..." jawab Mely.
"Sekarang kembalilah keruanganmu.." kata Setyo Hadi.
"Baik tuan..." Melypun segera berjalan keluar ruangan.
Sedang nyonya Sinta yang pulang dari kantor sang suami merasakan perbedaan sikap tuan Setyo Hadi.
"Ada apa ini...apa ada masalah di kantor..? Atau ada wanita lain di hatinya..?" kata Nyonya Sinta sambil mengemudi.
"Ah lebih baik aku lihat dulu nanti, mungkin dia sedang ada masalah di kantor..." kata nyonya Sinta berkata sendiri. Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya pulang kerumahnya.
Sesampainya di rumah dia segera menyuruh para pembantunya untuk memasak masakan kesukaan tuan Setyo Hadi. Sedang dia sendiri pergi kekamarnya untuk membersihkan kembali kamarnya yang sudah terlihat bersih. Semoga kamampuanya merayu Setyo Hadi mampuh mengendalikan kembali pria yang sangat dia cintai itu. Setelah berbena dia segera berjalan ke dapur. Tapi ketika melewati ruang tamu dia bertemu dengan Deby.
"Mama...kok sibuk banget...?" tanya Deby sambil menatap wajah sang mama yang terlihat berseri.
" Papa sudah datang Deb..." kata nyonya Sinta dengan wajah senang.
"Apaa...Papa sudah datang Ma...?" tanya Deby tak percaya.
"Iya. .. tadi mama kekantor dan Papa ada disana... Dia akan datang nanti sore.." jawab sang Mama sambil tersenyum senang.
"Kalau begitu kita bisa segera menyelesaikan persoalan Deby dong Ma.." kata Deby gembira.
"Tentu Deb... kita akan menceritakan tentang gadis ****** itu... Dan merencanakan apa saja yang akan kita lakukan padanya..." jawab nyonya Sinta sambil tertawa.
"Ha ha ha...benar apa kata mama... Kita akan membuat wanita itu menderita.." seru Deby gembira.
"Tenang sayang...kita akan menghabisi wanita ****** itu. Lihat saja apa yang akan terjadi padanya nanti..." kata nyonya Sinta dengan nada sinis.
"Nach sekarang ayo bantu mama membuat makanan untuk Papa..." ajak nyonya Sinta pada sang Putri.
"Ayo Ma..."jawab Deby . Mereka segera berjalan kearah dapur untuk segera memasak.
Sedang di lain tempat terlihat Kania yang sedang membereskan barang- barangnya bersama para pengawalnya dan Asisten pribadinya. mereka akan pulang karena ada sedikit kendala hingga syuting film di tunda besok.
"Bos kita langsung kekantor kak Rika.. ?." tanya Arum yang sudah berjalan di sebelah Kania.
"Nggak usah dech kita langsung aja ke kantor Humas menemui kawan- kawan kita..." kata Kania.
"Ha..kita mau berkunjung ke kantor Humas Bos...?" tanya Arum lagi.
__ADS_1
"Iya..gue sudah minta ijin sama Bos Besar kalau gue ingin berkunjung kesana.." jawab Kania.
"Wah...senengnya...gue kangen mereka.." seru Arum gembira.
"Rum...kenapa elo seneng banget ...ada apa..?" tanya Keti yang Baru datang bersama Amanda.
"Kita mau ke kantor Humas bertemu teman- teman Ket..." seru Arum gembira.
"Beneran...? waah gue juga seneng Rum.. gue udah lama kangen mereka..." kata Keti penuh semangat.
"Nda...kau bisa sendiri ke ruangan kak Rika kan...? nanti bilang sama dia gue lagi kekantor tuan Dika ..?" kata Kania kepada Amanda.
"Kak..sebenarnya gue juga pingin bertemu dengan teman- teman kak Nia.." kata Amanda terlihat kecewa.
"Ya udah kalau elo mau ikut, ikut aja.. ntar setelah dari kantor humas elo bisa menemui kak Rika. atau elo telfon kak Rika kalau elo ikut gue sekarang..." kata Kania memberi saran.
"Baik Kak..." jawab Amanda dan langsung menelfon Rika. ketika sampai di mobil mereka masih menunggu Amanda yang sedang menelfon Rika. tak lama terlihat Amanda sudah mendatangi mereka.
"gimana Nda..?" tanya Arum.
"Kata kak Rika nggak masalah, dia bilang besok aja Amanda datang kekantor kak Rika.." jawab Amanda dengan wajah senang.
"Ya udah kita berangkat sekarang..." merekapun segera masuk kedalam mobil , tak lama terlihat mobil milik Kania pergi meninggalkan lokasi Syuting. tak berapa lama sampailah mereka di kantor perusahaan DI . Sebelum masuk kedalam kantor Kania menelfon Bara kalau dia sudah berada di parkiran kantor, Barapun menyuruh Kania masuk saja kedalam kantor Dika. setelah menelfon Bara Kania juga menelfon Dika minta ijin. Dika berkata kalau dia langsung aja ke ruang Humas karena Dika sudah memberitahu pak Marwan . Kania dan kawan- kawan segera masuk kedalam kantor. ketika sampai di loby perusahaan Kania bertemu dengan beberapa karyawan yang mengenalinya. mereka menyapa Kania dengan ramah, tapi ada juga yang memandang iri Kania yang kini sudah menjadi seorang artis. ketika sampai di ruang humas terlihat keadaan sangat sepi. perlahan Kania membuka pintu ruangan.
"Assalamualaikum..." sapa Kania memberi salam.
"Wa'alaikum salam....."jawab mereka yang ada di dalam ruangan. Dan mereka melihat kearah pintu siapa yang datang.
"Halo...apa kabar semuanya.....?" sapa Kania sambil melambaikan tangannya.
"Princess..." teriak Sonya , Karin dan Ratih bersamaan. mereka berteriak sambil berlari kearah Kania. mereka segera memeluk Kania dengan erat.
Setelah puas baru mereka melepaskan pelukan mereka.
"Princes...gue kangen sama elo.." seru Sonya sambil mengusap air mata yang ada di pipinya.
"Gue juga Princess..." kata Ratih.
"Kenapa elo lama nggak kesini Nia..." seru Karin sambil mengusap matanya.
"Hey...kenapa Kalian pada menangis... kalau kalian kangen ama gue kenapa nggak ke apartemen gue...?" kata Kania.
"Nia...sekarang elo tinggal di apartemen..?" tanya Sonya.
"Iyaa...punya perusahaan...?" jawab Kania.
"Di mana...?" tanya Karin
"Di Apartemen bukit Indah...?" jawab Kania.
"Ya ampun Princess itu kan Apartemen yang mahal banget..." seru Sonya Kaget.
"Halo Nia apa kabar..." pertanyaan Karin terpotong oleh sapaan para teman yang lain.
"Hay...Alhamdulilah gue Baik- baik aja .. kalian juga kan...?" jawab Kania sambil menyambut uluran tangan mereka satu- persatu. kania pun sibuk menerima sapaan dari mereka semua. setelah mereka kembali duduk Kania kembali berbicara pada ketiga sahabatnya.
"Dia putraku...?" jawab Kania cuek.
"Apaa..." seru ketiganya bersamaan.
"Stt jangan keras- keras..." kata Kania.
"Dasar gadis halu...sejak kapan elo ngelahirin anak setampan ini .. " ejek Sonya.
"Kalau pingin anak ceper nikah Princes, jangan anak orang elo jadiin anak..?" goda Karin sambil mencubit pipi Kinan gemas.
"Maaf tante...Kinan memang anak Bunda Nia..." kata Kinan sambil cemberut.
"Apaa...?" mereka bertiga kembali berteriak.
"Sst..jangan keras- keras..nanti di marahi pak Marwan..." kata Kania memperingatkan.
"Dia beneran anak elo Nia...kapan elo ngelahirin dia...?"tanya Ratih tak percaya.
"Gue nggak usah ngelahirin ... " jawab Kania.
"Dasar wanita sableng..." seru Sonya sambil mencubit hidung mancung Kania.
"Aauu..." seru Kania kaget.
"Tante jangan cubit Bunda..." teriak Kinan sambil mengusap hidung Kania. memang Kinan sekarang ada di pangkuan Kania.
"Maaf sayang...tante nggak sengaja.." seru Sonya kaget. akhirnya membuat ketuju orang itu tertawa. setelah berbincang - bincang agak lama kania pun segera pamit pulang setelah berjanji akan mengunjungi mereka kembali.
****
Di tempat Setyo Hadi.
Sore harinya sekitar jam lima lebih Setyo baru pulang kerumahnya. Dia sengaja berlama- lama ada di kantornya. Solat duhur dan azhar dia lakukan di musolah kantornya. Sebenarnya kalau tak ingat perkataan saudara dan sang Papa rasanya Setyo Hadi tak ingin pulang kerumahnya agar tak bertemu dengan wanita yang kini sangat dia benci. Ingin rasanya dia tidur di hotel miliknya. Ketika sampai di halaman rumahnya dia melihat kedua wanita itu sedang menunggunya di depan rumahnya. Rasanya Setyo Hadi ingin membunuh wanita yang telah menyiksa istrinya itu. Dengan menahan kemarahan didalam dada dia keluar dari mobilnya.
"Ya Tuhan...berikan hamba kekuatan untuk menahan amarah hamba dan berikan kesabaran pada hamba untuk menghadapi wanita iblis itu. Hamba lakukan ini semata - mata demi istri dan putri hamba..." kata Setyo Hadi perlahan sebelum keluar dari mobil dan mendekati mereka.
"Papa...." seru Deby manja. Dia berlari memeluk Setyo Hadi dengan gambira.
Setyo Hadi membalas pelukan Deby dengan malas. Setelah itu dia segera melepas pelukannya.
"Papa..." ucap nyonya Sinta , dia lalu memeluk Setyo Hadi juga.
"Papa sakit Pa...?" tanya Deby yang melihat Setyo Hadi lesuh.
"Papa lelah... Badan papa sakit semua.
Maaf Papa masuk kekamar dulu..." kata Setyo Hadi dengan malas.
__ADS_1
"Papa nggak makan dulu...?" tanya nyonya Sinta
"Nanti saja Aku masih kenyang..." jawab Setyo Hadi dengan wajah lelahnya.
"Ya udah Papa tidur dulu, nanti mama bangunin saat makan malam..."kata nyonya Sinta lagi.
"Baik...." jawab Setyo Hadi dengan singkat. Dia segera berjalan kearah kamar . sedang Sinta dam Deby saling pandang.
"Ma... Papa kenapa..?" tanya Deby heran.
"Entahlah Deb... Mama juga nggak tahu kenapa dengan Papamu..." jawab nyonya Sinta sambil memandang suaminya yang berjalan kearah kamarnya.
"Coba Mama tanyakan mungkin ada masalah di kantor Ma..." kata Deby.
'Iya nanti mama akan coba tanyakan pada Papa..." kata Sinta perlahan.
"Trus masalah Deby gimana Ma...?" seru Deby manja.
"Tunggu sampai Papa hilang lelahnya Deb..." jwab sang Mama.
"Baiklah Ma...tapi jangan sampai lama Ma karena besok Deby harus syuting lagi.." jawab Deby.
"Lo emang sekarang kamu tidak ada jadwal syuting...?" tanya sang Mama.
"Nggak ada Ma... hampir satu minggu ini Deby menganggur karena semua produk yang memakai Deby sudah menarik kerjasamanya hanya tinggal film ini dan satu atau dua produk yang tak terlalu bermutu yang masih memakai Deby..." jawab Deby sedih .
"Sampai segitunya Deb...?" kata sang Mama.
"Iya Ma... karena itulah Ma, Mama harus cepat bilang sama Papa agar Deby terbebas dari masalah ini...?" kata Deby.
"Baiklah nak...Mama akan usahakan itu.." kata sang Mama menghibur.
Mereka akhirnya meninggalkan ruang tamu, Deby kearah kamarnya sedang sang Mama pergi ke dapur.
Malamnya saat makan malam terlihat wajah Setyo Hadi yang makan dengan wajah datar. Dia makan tanpa banyak bicara dan makannya sedikit saja. Ketika sang istri ungin membuka percakapan ,Setyo Hadi memotong pembicaraannya.
"Kalau makan jangan sambil bicara....." katanya dengan dingin.
"Papa kenapa... apa ada masalah di kantor Pa...?" tanya Sinta dengan sabar.
"Cukup...aku bilang jangan berbicara saat makan...!" seru Setyo Hadi dengan nada marah. Sinta pun segera menutup mulutnya . Setelah selesai makan setyo Hadi berbicara.
"Aku akan keruang kerja, tolong jangan di ganggu ..." katanya datar.
"Tapi Pa... Deby ingin minta tolong sama Papa...?" kata Deby menghentikan Setyo Hadi yang akan berdiri, dia kembali duduk seperti semula. Dia menatap Deby dengan tajam.
"Minta tolong apa...?" tanya Setyo Hadi datar.
"Menyelesaikan masalah Deby Pa..." jawab Deby dengan wajah sedih yang di buat- buat.
"Apa lagi yang sudah kau perbuat hingga masalahnya tidak bisa kau selesaikan sendiri... dan Kenapa kau tidak minta tolong sama Mamamu ...?" kata Setyo Hadi dengan dingin.
"Mama bilang yang bisa menyelesaikan hanya Papa...." jawab Deby.
"Masalahnya terlalu besar Pa... Mama nggak sanggup menyelesaikan sendiri, cuma Papa yang bisa menyelesaikannya...." kata Sinta menyela pembicaraan Deby dan sang Papa.
"Seserius apa masalahnya hingga kalian tidak bisa menyelesaikan sendiri..." tanya Setyo Hadi dingin.
Deby pun segera bercerita mulai dari berita yang menyebar hingga ketika dia mencambuk Kania. Saat Setyo Hadi mendengar perkataan Deby dia kaget
Braagk..
"Apaaa...kau mencambuk Kania...?" seru Setyo Hadi kaget. Hingga tanpa sadar dia menggebrak meja .
Sinta dan Deby sampai terlonjak kaget melihat Setyo Hadi yang marah.
"Papa ada apa...." tanya Sinta yang sadar dari keterkejutannya. Dia heran melihat Setyo Hadi yang marah. Sedang Setyo Hadi tersadar mendengar pertanyaan Sinta. Dia segera menahan kemarahannya.
"Kau tahu dengan siapa kau berhadapan..." tanya Setyo Hadi yang tak bisa sepenuhnya menahan kemarahannya. Mana mungkin dia tak marah ketika mendengar anak perempuannya yang telah memaafkan dia terkena cambukan yang di sengaja oleh gadis yang kini sangat dia benci.
"Deby tahu Pa... dia artis naungan perusahaan DI...." jawab Deby dengan wajah di buat sedih.
"Kalau sudah tahu kenapa kau lakukan itu...?" teriak Setyo Hadi meluapkan kemarahannya. Ingin rasanya dia menampar gadis yang dia tahu berpura- pura sedih itu. karena dia tahu sifat Deby yang terlalu manja dan Arogan itu.
"Tapi Deby tidak suka dengan wanita ja***g yang kegenitan itu Pa..." seru Deby marah. Setyo Hadi sudah tak kuat lagi menahan kemarahannya ketika Deby menyebut Kania wanita ja***g dan gadis yang genit.
"Cukup...! kau yang membuat masalah, kau sendiri yang harus menyelesaikan masalahmu sendiri Papa tidak ingin perusahaan papa bermasalah dengan Perusahaan DI hanya karena terseret masalah yang kau lakukan, dan kalau kau mau minta tolong mintalah tolong pada keluarga Reza atau tuan Baronmu itu.." seru Setyo Hadi dengan marah. dia segera pergi ke ruang kerjanya.
"Tapi Pa..." Seru Deby berusaha meminta tolong pada sang Papa.
"Cukup Deb..semua adalah akibat dari perbuatanmu sendiri, kau yang melakukannya dan kau juga yang harus menyelesaikan nya..." kata Setyo Hadi dingin. dia segera berjalan cepat meninggalkan ruang makan menuju ruang kerjanya.
"Papa....!" teriak Deby ingin mengejar sang Papa namun Sinta memegang lengannya.
"Deb... jangan dulu... Bukankah Mama sudah bilang biar mama yang mengatakannya sama Papa, tapi kau bandel sich... sekarang biarkan Papa sendiri dulu , nanti biar Mama yang membujuk Papa..." kata Sinta menenangkan Deby.
"Ma...Deby takut Papa tidak mau menolong Deby Ma..." kata Deby dengan sedih.
"Tenanglah nanti Mama yang akan membujuk Papa..." hibur Sinta pada Deby.
Akhirnya mereka menyelesaikan makan malam mereka yang sempat tertunda.
Sedang Setyo Hadi sangat marah dan merasa cemas. dia takut Kania lukanya belum sembuh benar.
"Apakah Kania sudah sembuh benar... ? tapi saat di puncak dia terlihat sehat..apa sakit bekas cambukan itu masih sakit..?
putriku memang gadis yang kuat..." Setyo Hadi terlihat agak lega ketika dia ingat kalau Kania saat di puncak sudah terlihat sehat.
"Biar besok saja aku datang padanya, aku akan menanyakan itu pada Bara.... aku bodoh juga kenapa tidak meminta nomor telfon anakku itu...dasar bodoh.." katanya menyesali kebodohannya sendiri.
"Lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku dulu biar besok bisa pergi ke kantor si Bara...ya ampun... aku nggak yakin mempunyai menantu seperti si Bara CEO dingin itu. semua ini aku dapatkan dari putriku yang selama ini aku sia- siakan. maafkan Papa nak... Papa telah membuatmu menderita. semua ini gara- gara wanita iblis itu. aku nggak pernah menyangka kalau dia bukan Sinta istriku..." Setyo tak pernah membayangkan kehidupan yang dia lalui selama ini bukan dengan Sinta istri yang sangat dia sayangi , tapi dengan wanita yang menyamar menjadi istrinya. Kemarahan menggebu dalam dirinya, tapi
dia menekan kemarahan itu demi keselamatan sang istri sendiri.
__ADS_1
cukup dulu ya ...jangan lupa like dan komennya yang membuat autor semakin bersemangat membuat cerita. kita sambung lagi besok.
Bersambung.