
Bara terbangun ketika mendengar adzan magrib berkumandang dari masjid yang tidak terlalu jauh dari rumah Bara. Perlahan dia melihat dua orang yang dia sayangi tidur dengan lelapnya. Ingin rasanya dia membiarkan mereka terus tidur, tapi kewajiban umat islam harus mereka laksanakan . perlahan dia membangunkan Kania.
"Sayang bangun..." kata bara sambil mengusap pipi Kania perlahan.
Kania yang memang mudah bangun walau dengan sentuhan perlahan membuka matanya. Dia mengumpulkan kesadarannya sebelum terkejut menatap Bara.
"Lo Papa kok ada di sini...?" tanya Kania heran.
"Bukankah kita tadi tidur bertiga..." jawab Bara tenang. Kania terdiam sejenak mendengar omongan Bara.
'aah bener, gue tadi kan tidur bersama mereka( seru Kania dalam hati )
"Sana gih ambil wudhu dulu kita solat berjamaah di sini saja, Papa ganti baju dulu.." kata Bara sambil beranjak dari tempat tidur. Setelah Bara keluar dari kamar, Kania segera masuk kedalam kamar mandi untuk cuci muka dan mengambil wudhu. setelah selesai Kania keluar dari kamar mandi. Saat dia sudah berada berada di dalam kamar Kania melihat Bara sudah berada di dalam Kamar dengan memakai baju koko, terlihat wajahnya yang semakin terlihat tampan berkarisma. Kania merasakan hatinya bergetar.
"Sayang...kok bengong, kau terpesona melihat ketampanan calon suamimu..?" tanya Bara narsis. Kania pun sadar dari pesona Bara. terlihat wajahnya yang memerah karena malu.
"Idih narsis banget...." sungut Kania.
Bara tertawa mendengar omongan Kania. Kania segera mengambil mukena dan memakainya. Tak lama terlihat kedua orang itu menunaikan solat magrib bersama. Setelah selesai solat bersama Kania seger mencium tangan Bara yang terulur padanya.
"Pa...Kania boleh tanya nggak...?" tanya Kania perlahan sambil melipat mukenah dan sajadah.
"Tanya apa...?" tanya Bara datar.
"Papa Kinan kan yang membeli apartemen buat Kania....?" tanya Kania sambil menatap Bara.
"Bukan Papa, tapi perusahaan..." jawab Bara pendek.
"Tapi Kania baru saja memulai jadi artis, kenapa sudah mendapat apartemen..?" tanya Kania heran.
"Bukankah kau ingin keluar dari sini, dan kau sebentar lagi akan sangat sibuk, jadi tempat tinggalmu lebih baik dekat dengan kantor kan...?" kata Bara menjelaskan sambil memeluk Kania yang sedang menyisir rambut dari belakang. Kania yang belum biasa menerima interaksi dengan lawan jenis, sedikit kaget dan deg degan yang saat ini dia rasakan. tapi mau gimana lagi kalau si Bos yang ngelakuin.
"Apakah tidak ada perasaan di bedakan dari artis lain kalau mereka tahu Kania dapat apartemen...?" tanya Kania khawatir.
"Sayang...jangan terlalu khawatir, semua sudah Dika urus, sekarang yang penting kau tinggal di apartemen itu, atau kau tetap di sini saja...?" tanya Bara menggoda, karena dia tahu Kania pasti akan meminta keluar dari rumahnya. Kalau Kania pulang kerumah pak Asep , Bara pasti akan kesulitan bertemu karena Kania tidak ingin hubungan mereka di ketahui orang.
"Baiklah Kania akan tinggal di apartemen itu, tapi Keti dan Arum ikut juga kan...?" tanya Kania lagi.
"Iya, tapi mereka tidak se apartemen denganmu..mereka akan tinggal di lantai bawah...." jawab Bara.
"Baiklah Kania akan melaksanakan perintah Bosku yang tampan ini.." jawab Kania sambil tersenyum.
"Sayang...boleh Kania minta ijin nggak..." tanya Kania sambil memandang Bara yang kini sudah berada di depannya dengan tangan memeluk pinggangnya.
"Ijin apa..?" tanya Bara sambil menatap wajah Kania yang juga menatapnya.
"Kania besok mau kerumah paman Asep boleh...?" tanya Kania pelan.
"Hmm...gimana ya...?" goda Bara.
"Pleace...boleh ya...?"rayu Kania.
"Kalau aku memperbolehkan aku dapat apa..?" tanya Bara sambil tersenyum .
"Cup...." tiba- tiba Kania dengan berani mencium bibir Bara. Bara membatu seketika ketika bibirnya dicium Kania sekilas. mana mungkin Bara tak akan kaget, Kania yang bila di cium Bara menjadi malu kini Berani mencium Bara.
"Sudah kan..." jawab Kania sambil merasakan wajahnya yang memanas.
"Kau..." tiba - tiba bibir Bara sudah menyerang bibir Kania yang tidak siap menerima serangan dari Bara. Sejenak Kania tertegun, tak berapa lama diapun membalas ciuman Bara. Mereka akhirnya tenggelam dala ciuman yang memabukkan. Hingga akhirnya Kania merasakan sesak di dadanya karena terlalu lama berciuman. Bara akhirnya melepas ciumannya ketika melihat sang gadis kehabisan nafas.
"Sayang...kau selalu membuatku kehabisan nafas..." seru Kania dengan wajah cemberut.
"Dan kau tahu aku selalu enggan melepas bibirmu dari bibirku..." jawab Bara sambil mencium lembut bibir Kania lagi. Bara menghapus bibir Kania yang habis dia *****.
"Boleh kan Kania besok kerumah paman Asep....?" tanya Kania lagi.
"Boleh..." jawab Bara sambil mengecup dahi Kania.
"Bener boleh...?" tanya Kania tak percaya.
"Iya...nggak nginap kan...?" tanta Bara.
"Nginap satu hari..." jawab Kania sambil tersenyum manis.
"Jangan suka tersenyum seperti ini dengan pria lain...aku cemburu..." kata Bara posesif.
"Apa aku boleh cemburu juga...?" tanya Kania menggoda.
"Tentu sayang... Tapi kau nggak usah khawatir karena aku tak akan mudah tersenyum pada gadis manapun.." jawab Bara.
"Aku percaya..." jawab Kania. Mana mungkin aku tak percaya, dia kan pria paling mahal senyumannya he he๐
"Sayang...apakah Kakek dan Nenek Kinan akan merestui hubungan kita..?" tanya Kania dengan perasaan takut.
"Mereka harus merestui hubungan kita, karena aku tak akan menikah selain denganmu..." jawab Bara.
"Kalau mereka memaksamu...?" tanya Kania lagi.
"Aku bukan anak kecil yang takut pada mereka, hidupku adalah milikku jadi jangan kau khawatir kan itu lagi Okey..." jawab Bara sambil memeluk Kania dengan sayang.
__ADS_1
"Aku nggak akan pernah melepaskan dirimu dari hidupku sayang..." kata Bara yang masih memeluk Kania.
"Apapun itu....?" tanya Kania.
"Apapunitu, pegang janjiku ini sayang..." jawab Bara kembali dengan yakin. Kania semakin memeluk Bara karena bahagia. Kini dia yakin pada cinta Bara.
"Papa , Bunda...kenapa Papa memeluk Bunda..." tiba- tiba suara Kinan membuat mereka terkejut . Kania segera melepas pelukannya.
"Tadi Bunda mau jatuh lalu Papa membantu Bunda sayang..." bohong Kania. Dia segera menghampiri Kinan dan memeluk Kinan yang sudah bangun.
"Kinan Bunda bohong tu... Yang bener Bunda pingin meluk Papa, .."goda Bara pada sang putra.
"Apa benar Bunda...?" tanya Kinan sambil menatap Kania dengan wajah hampir menangis.
"Sayang...Papa bohong, Bunda tadi mau jatuh, beneran Bunda nggak bohong...." hibur Kania pada Kinan.
"Beneran Bun...?" tanya Kinan dengan wajah tanya.
"Iya sayang...." jawab Kania. Kinan pun segera memeluk Kania lagi.
"Bun jangan mau di peluk Papa..." rajuk Kinan.
"Iya sayang... Bunda nggak akan mau di peluk Papa, ..." jawab Kania menenangkan hati Kinan.
"Bunda..." namun ucapan Bara di sela Kania.
"Papa...." hardik Kania.
Bara hampir tertawa bahagia melihat wajah Kania seperti istri yang sedang marah karena sang putra di jahili.
"Iya dech.. Papa salah, maafin papa ya...?" kata Bara membujuk Kinan.
"Iya Kinan maafin Papa, tapi Papa nggak boleh peluk- peluk Bunda lagi....?" kata Kinan sambil menatap sang Papa.
"Iya dech...tapi deket Bunda boleh kan..?" tanya Bara sambil menatap Kinan dengan wajah sedih membuat Kania pingin tertawa.
"Iya tapi nggak boleh peluk Bunda..." kekeh Kinan.
"Iya dech iya...." jawab Bara sambil duduk dekat Kania.
"Udah malem makan yuk...Bunda udah lapar..." ajak Kania mengalihkan persoalan. Kinan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Baik sekarang kita turun kebawah tapi Kinan gendong Papa, kasihan Bunda nanti kelelahan ...." bujuk Bara.
"Baik Pa..." jawab Kinan. Merekapun bertiga keluar dari kamar Kania dengan Kinan dalam gendongan Bara. Ketika sampai di lantai dasar mereka bertemu dengan Dika yang juga baru masuk kedalam rumah Bara.
"Hey jagoan apa kabar...?" sapa Dika pada Kinan.
'Its Papa sama anak sama aja..." pikir Kania .
"Kenapa kau kesini...?" tanya Bara datar.
"Ada dua tujuan kedatanganku kemari. satu aku mau makan disini bersama keponakan dan calon kakak iparku ,kedua aku akan melaporkan tentang apartemen untuk kakak ipar..." jawab Dika.
"Kita urus soal apartemen setelah kita selesai makan..." jawab Bara
"Siap komandan..." seru Dika semangat. Merekapun segera berjalan kearah meja makan bersama- sama.
Setelah makan Kania dan Kinan pergi kamar Kinan sedang Dika dan Bara pergi keruang kerja Bara.
******
Di sebuah rumah besar dan mega terlihat seorang gadis sedang berbincang dengan kedua orang tuanya. Dan seorang pria yang duduk di sebelahnya, Tetapi terlihat wajahnya yang terlihat kesal dan marah.
"Papa..kenapa Deby hanya jadi peran pembantu wanita...?" tanya sang putri dengan wajah cemberut dan marah.
"Peran pembantu wanita...? Lalu siapa peran utamanya nak....?" tanya sang Mama.
"Entahlah Ma... Katanya seorang pendatang baru dari perusahaan DI .." jawab putrinya.
"Wah kalau dari DI nggak bisa di omongin lagi Deb...soalnya yang papa dengar investor terbesar pada pembuatan film itu dari perusahaan DI..." kata sang Papa.
"Tapi dalam audisi Deby nggak ketemu sama dia..." kata Deby jengkel.
"Mungkin kamu aja yang nggak tahu dia sayang...." jawab pria di sebelahnya.
Dia Deby kakak angkat Kania yang telah merebut kasih sayang orang tua Kania serta kekasih Kania. sedang kedua orang tua itu adalah Setyo Hadi herlambang dan Sinta Yunita kedua orang tua Kania yang telah membuang Kania darah daging mereka sendiri .
"Entah lah...mungkin saja aku nggak sempat bertemu dengan dia saat audisi ..." katanya dengan wajah lembut. mereka bertiga tidak tahu kalau kelembutan dan baik hati Deby hanyalah kedok dia semata. Dia sebenarnya adalah gadis culas yang sangat pendendam dan pemarah jika di belakang orang tua dan sang kekasih tetapi dia akan menjadi gadis yang sangat baik dan imut jika berada di depan kedua orang tuanya ataupun sang kekasih.
"Ya Udahlah sayang...kau harus bersyukur bisa menjadi salah satu pemain di film tuan Seto Aji...?" jawab pria di sebelahnya yang ternyata sang tunangan yaitu Reza Firaus.
"Iya sayang...kau harus bersyukur karena banyak artis yang ingin ikut andil dalam film itu.." jawab sang Ayah.
"Katanya ada beberapa pemain dari luar Negri ya...?" tanya sang Mama.
"Benar Ma... Katanya pemeran utama pria seorang artis dari Korea...?" jawab Reza menjawab pertanyaan sang ibu mertua.
"Maklum Ma, tuan Seto Aji adalah produser sekaligus sutradara yang sangat handal di masa ini...." jawab suaminya.
__ADS_1
"Waah hebat banget orang itu.." puji sang Mama.
"Karena itulah saat dia membuat film di sini banyak para Artis yang pingin main dalam film nya..." jelas Reza kembali.
"Seandainya Deby bisa jadi pemeran utama betapa bangganya kita , pasti Mama akan di puji oleh ibu- ibu sosialita teman arisan ibu...?" ucap bu Sinta Yunita.
"Itulah Ma...makanya Deby kecewa, kenapa Deby yang seorang artis dan model papan atas kalah dengan artis biasa..." keluh Deby dengan nada kesal.
"Mama...mama ini gimana sich kok tambah ngomporin Deby...?" kata pak Setyo Hadi.
"Bukannya ngomporin Pa... Cuma sayang aja kenapa si Deby nggak mendapatkan peran utama..." jawab bu Sinta lagi.
"Itu sama juga Ma...dasar Mama... sudah, sudah besok senen bukannya kamu foto buat poster film itu Deb...." tanya sang Papa.
"Iya pa..." jawab Deby.
"Ya sudah, kau bisa lihat gadis yang menjadi pemeran utama kamu, selain itu kau bisa menunjukkan pada sutradara kalau kau lebih pandai dari wanita itu..." kata si Papa.
"Benar kata Papa, akan kutunjukkan pada mereka kalau aku lebih baik dari wanita itu..." jawab Deby semangat. Merekapun segera membahas percakapan soal lain.
*****
Pagi menjelang Kania yang sudah selesai mandi dan solat keluar dari kamarnya menuju taman di belakang rumah. Dia berjalan kearah kebun belakang yang banyak di tumbuhi pohon buah - buahan. Setiap hari jika waktunya senggang Kania sering berolahraga dan berlatih bela dirinya disini, banyak jurus - jurus yang dia kembangkan sendiri. Sering kedua pengawalnya ikut berlatih dengan Kania. Mereka senang berlatih dengan Kania terkadang mereka menerima ilmu dari Kania. Seperti saat ini setelah berlari lima puluh kali putaran di lahan kosong cukup lebar, Kania melanjutkan dengan gerakan phus up 50 kali dan sit up 50 kali setelah itu Kania mulai berlatih bela dirinya.
"Kania...." teriakan nyaring terdengar dari arah rumah. Kania melihat Keti dan Arum berlari kearahnya.
"Nggak usa teriak- teriak napa..." sungut Kania yang kaget.
"Habis elo kenapa nggak membangunkan kita sich..." seru Keti kesal .
"Emang kalian nggak solat subuh apa..?" jawab Kania.
"Iya ,kami solat subuh tapi gue kira elo nggak akan berlatih..." kata Keti lagi.
"Orang itu kalau udah selesai solat jangan tidur lagi, gerakin tubuh agar badan tu sehat..." nasehat Kania.
"Hey...gue kagak tidur lagi kalik, tu si Keti yang tidur...." jawab Arum.
"Lalu kenapa elo nggak keluar...?" tanya Kania.
"He he gue baca novel..." jawab Arum.
"Nona cantik...ini mach masih pagi kenapa baca novel...?" tanya Kania.
"Habis ceritanya seru Nia..." jawab Arum
"Dasar kutu buku....udah kalian cepat lari keliling lalu melakukan gerakan phus up dan sit up dulu..." perintah Kania.
"Beres Bos..." seru mereka berdua.
Mereka berdua pun segera melaksanakan perintah Kania yang sudah mereka anggap sebagai guru mereka. Sedang Kania melanjutkan latihannya. Beberapa saat kemudian kedua pengawalnya sudah menyelesaikan tugasnya. Merekapun mulai bersama- sama berlatih beladiri.
Tak berapa lama terlihat kedua pengawal Kania menyerang Kania bersama- sama. Terlihat gerakan mereka yang sangat cepat . mereka saling pukul dan saling menyerang.
Hampir dua jam mereka berlatih Hingga suara Kinan yang nyaring menghentikan gerakan mereka.
"Bunda....!" teriak Kinan sambil berlari menghampiri mereka bertiga.
"Sayang...jangan mendekati Bunda... Bunda bau..." seru Kania ketika Kinan mendekat padanya.
"Nggak apa- apa Bunda, Kinan suka bau Bunda..." seru Kinan sambil memeluk tubuh Kania. Keti dan Arum melihat tingkah Kinan menjadi tertawa.
"Bos jangankan orang dewasa, Kinan yang kecil aja lengket sama dirimu..." kata Arum sambil tertawa.
"Hus...kau ini, terang aja Kinan suka sama aku bukankah Kinan putra kesayanganku ya kan sayang..." kata Kania pada Kinan.
"Cie, cie putraku nich ye...?" goda Keti yang membuat pipi Kania memerah.
'Ups...kenapa gue bisa ngomong gitu sich umpat Kania dalam hati.
"Uda ach yuk kuta masuk... Oh ya Keti Arum habis ini gue kerumah paman Asep, elo berdua ikut nggak...?" tanya Kania sambil berjalan kembali kerumah.
"Bunda mau kerumah kakek Asep....?" tanya Kinan antusias.
"Iya sayang...kenapa Kinan mau ikut...?" tanya Kania pada Kinan.
"Iya Bunda Kinan ikut...."seru Kinan gembira.
"Bilang dulu sama Papa sayang...?" jawab Kania.
"Beres Bun...yee...Kinan kerumah Kakak Asep..." seru Kinan gembira .
"Nia kita juga ikut...lagian pasti Bos Bara menyuruh kita ikut elo Bos...." kata Arum.
"Iya juga sich..." jawab Kania.
"Ya udah kita siap- siap setelah makan kita berangkat. .." kata Kania lagi.
"Okey Bos..." jawab mereka berdua. Metekapun segera masuk kedalam rumah. Kania dan Kinan kerumah utama sedang Arum dan Keti masuk keruangan khusus pembantu.
__ADS_1
Bersambung dulu .. jangan lupa like dan komennya.