
Sudah sebulan ini Kania berada kembali di rumah nya, kehidupan yang tenang membuat keluarga itu terlihat sangat bahagia. Begitupun dengan Johan putra dari Emilda . setelah kepulangannya dari rumah sakit karena penyakit keracunan tubuhnya , Johan sering datang kerumah Kania. Terkadang dia datang di temani Om atau tantenya, tapi kebanyakan dia datang di temani oleh pengasuhnya . terkadang dia sampai tidur di rumah Bara karena tidak mau pulang kembali kerumah sang Kakek. alasannya dia masih kangen pada Kania.
Sedang keluarga Avanya semakin terpuruk dalam kebangkrutan, karena tindakan salah satu putri keluarga Avanya kembali yang menyerang Kania, hingga Kania terluka parah dan tertidur koma di rumah sakit yang membuat Keluarga besar Dirgantara menarik semua investasi dari keluarga besar Avanya.
Dan kejadian itu membuat semua keluarga Avanya yaitu keluarga Alvonso jatuh pailit alias bangkrut. Apalagi putri dari kakak tuan Alvonso yang telah mencelakai Kania sakit parah dan masuk rumah sakit. Sedang Emilda sendiri mendapat hukuman 10 tahun penjara bersama gadis yang telah menyakiti Kania. Kini kehidupan Kania kembali tenang . setelah sang buah hati sudah berumur tiga bulan, Kania mulai kembali ke dalam aktivitasnya. Namun ke posesifan Bara pun semakin besar, karena Kania setelah melahirkan Kefin, bukannya terlihat menua malah sekarang seperti remaja yang baru masuk perguruan tinggi. Dia terlihat cantik mudah, ramah dan anggun, Bara yang melihat perubahan sang istri menjadi sangat posesif. Kalau tak ada pengambilan foto sebagai model atau pengambilan soting adegan film sebagai artis, Kania di haruskan berada di ruangan Bara. Mau tak mau akhirnya Kania menuruti permintaan sang suami.
Seperti saat ini saat Kania sedang menyelesaikan pemoyretqnnya sebagai model sampul majalah ternama tiba- tiba terdengar ponsel miliknya berbunyi.
Amanda dan Keti yang sedang menemani Kania terkejut dan saling berpandangan.
"Kak...ponsel Bos Nia berbunyi tu..." kata Amanda pada Keti. sambil menunjuk dengan dagunya kearah tas Kania yang berada di sebelah Keti.
"Iya , gue juga denger dodol...." jawab Keti sambil mengambil ponsel dari tas slempang milik Kania. Ketika di lihat tertera nama suami tersayang sang Bos di layar ponsel milik Kania .
"Ya ampun dari Bos Bara..." kata Keti.
"Ya sudah elo berikan sama Bos Nia..." kata Amanda. Bertepatan saat itu Kania menatap kearah mereka. Segera Keti mengacungkan ponsel miliknya.
Kania segera tahu kalau sang suami sedang menelfonnya, karena Keti dan Amanda tak akan berani menunjukkan ponselnya jika yang menelfon orang lain.
"Bang...Break dulu sebentar ya... Kayaknya suami gue menelfon tu...?" kata Kania pada sang fotografer. sang foto grafer juga tak bisa berkutik jika telfon modelnya berdering dan sang menelfon adalah sang suami , pengusaha nomet satu di negara ini.
"Okey.. Kita break sebentar..." kata sang fitografer. Kania segera berjalan kearah Keti dan Amanda. Dia segera mengambil ponsel yang di sodorkan Keti.
"Asalamualaikum Pa..." sapa Kania.
"Waalaikum salam Ma...kau masih lama selesainya...?" tanya Bara dengan lembut.
"Nggak sebentar lagi sudah kelar kok Pa..emang ada apa Pa...?" tanya Kania.
"Ada undangan yang harus kita hadiri Ma ...." jawab Bara.
"Lo.. Papa kok baru bilang sekarang...?" tanya Kania heran.
__ADS_1
"Undangannya baru datang barusan sayang...." jawab Bara dengan lembut.
"Ooo...kalau begitu Mama pulang untuk ganti baju ...." kata Kania.
"Nggak usah...Papa sudah menyiapkan untuk Mama di kantor, jadi selesai dari sana Mama langsung aja datang kekantor Papa..." kata Bara.
"Baiklah Pa...sebentar lagi Mama akan kesana...?" jawab Kania.
" Ya sudah Papa tutup dulu Ma.. Asalamualaikum ..." kata Bara mengakhiri pembicaraan.
"Waalaikum salam..." jawab Kania lalu menutup sambungan telfonnya. Kania segera melanjutkan sesi pemotretannya yang sempat tertunda.
Seperti itulah hari- hari yang di lakui Kania sekarang .
💥💥💥💥
Tujuh tahun kemudian.
Seorang pria tinggi mudah , gaga dan tampan sedang berada bersama Papa, Mama, serta Kakek dan Neneknya juga dua pria muda dan dua gadis kembar yang terlihat sangat imut di sebuah Bandara kota J.
"Safa sayang.... Kalau nggak kesana mana bisa kakak meneruskan sekolah kakak...?" jawab sang Kakak.
"Tapi kak Kinan kan juga bisa sekolah di sini...?" jawab sang adik. Yach..dia Kinan yang Kini sudah berusia empat belas tahun lebih, dia sudah lulus dari sekolah menengah atas karena kejeniusannya. Sebenarnya dia bisa lulus dua tahun yang lalu, namun sang Papa tidak mengijinkan Kinan mengikuti ujian kelulusan agar Kinan bisa menikmati masa remajanya. Namun jangan di sangka dia sudah mendapatkan beberapa piala dari beberapa olimpiade dari beberapa kejuaraan sain yang telah dia ikuti. Sedang dua pria yang yang hampir sabaya dengannya itu , adalah Johan dan Kefin putra Kania dan Bara . serta gadis kembar adik Kinan yang bernama Safa dan Marwa . Safa dan Marwa lahir setelah Kefin berumur tiga tahun , Kini Kefin sudah berumur tuju tahun dan kecerdasan otaknya melebihi kecerdasan Kinan. Saat dia baru berumur satu tahun setengah dia sudah pandai membaca. Saat umur dua tahun dia sudah mahir mengoperasikan komputer. Melihat kecerdasan sang adik Kinan mengajarinya untuk meretas. Mereka berdua akan berada di ruang lab komputer sang Papa berjam- jam. Begitupun dengan kedua adik kembar mereka, si Safa dan Marwa mereka berdua juga mempunyai kemampuan untuk mengoperasikan Komputer milik sang Papa . Entah apa yang di makan Kania saat mengandung mereka, hingga ke tiga putra - putri yang di lahirkan olehnya menjadi anak jenius semua. Terkadang Johan akan merasa mender jika sedang belajar dengan mereka. Karena kemampuan otaknya jauh dari kemampuan mereka. Namun dengan telaten Kinan dan Kefin akan membantunya. Bara yang melihat kemampuan keempat putra- putrinya sangatlah bangga. Tak ketinggalan kedua keluarga Dirgantara dan keluarga Herlambang , mereka jadi kebanggaan kedua keluarga itu terutama kakek Herlambang dan kedua paman Kania. Mereka sangat mengagumi putra - putri Kania dan Bara.
"Sayang...kak Kinan di sana juga menjaga Oma dan Opa kan..." bujuk Kinan pada Salfa yang memang paling dekat dengannya.
"Tapi Salfa tidak ingin jauh dari kak Kinan..." jawab Safa kini mulai menangis. Melihat sang putri menangis Kania segera mendekatinya.
"Sayang...kalau Safa kangen kakak, bukankah kau bisa menelfon kakak atau kita bisa kesana kan..." bujuk sang Mama.
"Beneran Ma....?" tanya Safa dengan wajah bertanya.
"Iya sayang...." jawab Kania.
__ADS_1
"Mama janji ya...?" kata gadis kecil itu dengan wajah menuntut.
"Iya Mama janji...." jawab Kania sambil tersenyum dan mengusap air mata yang ada di pipi Safa. Kinan segera mengggendong sang adik dan mencium pipinya.
"Sayang...Safa nggak boleh nakal ya..." kata sang kakak dengan lembut.
"Iya kak...tapi kakak janji akan selalu menelfon Safa ya...?" kata gadis itu dengan wajah masih cemberut imut.
"Iya sayang...kakak janji..." jawab Kinan dengan penuh sayang.
"Kak...kakak lupa sama marwa ya..." sebuah suara membuat Kinan melihat kearah kakinya. terlihat Marwa sedang memegangi kakinya.
"Hey...siapa yang akan melupakan gadis imut adik Kakak ..?" jawab Kinan sambil tertawa. Dia segera menurunkan Safa dan berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Marwa.
"Tapi sejak tadi Kakak hanya berbicara dengan Safa...kakak lupa kalau masih ada Marwa..." jawab Marwa sambil cemberut.
"Hey....jangan marah sayang...maaf kalau kakak tadi melupakan adik imut Kakak ini...." kata Kinan sambil mencium lembut Marwa. Dia akhirnya memeluk kedua gadis itu bersamaan. Dia menciumi keduanya bergantian
"Sayang .. Kalau kakak nanti jauh dari kalian berdua, kalian nggak boleh nakal Ya... Kalian harus selalu patuh nasehat dan omongan Mama san Papa..." kata Kinan menasehati.
"Baik Kak..." jawab mereka berdua serempak. Begitupun dengan Johan dan Kefin. Mereka segera mendekati Kinan untuk berbincang. Tak lama waktu pemberangkatan Kinan pun segera tiba. Kinan segera berpamitan pada mereka satu persatu. Hingga tiba Pada Kania.
"Sayang...ingat pesan Mama, jangan lupa solat, jangan telat Makan, ingat jaga kesehatan. Mama nggak ingin mendengar kau sakit ataupun kelelahan..." kata sang Mama sambil memeluk dan mencium pipi Kinan.
"Siap Madame...." jawab Kinan dengan wajah jenaka. Kinan memiliki wajah seperti Bara. Dia terlihat dingin dan cuek terutama pada kaum wanita. Namun dia akan terlihat lucu dan konyol kala bersama keluarganya.
"Dan ingat Boy...jangan keluar malam hari. Jaga kesehatanmu jangan membuat Oma dan Opamu khawatir..." kata sang Papa.
"Siap Bos...." jawab Kinan sambil menerima pelukan dan ciuman dari sang Papa.
Setelah menerima wejangan dari Kakek, Nenek, Mama dan Papanya Kinan segera melangkah masuk kedalam Bandara.
Setelah pesawat yang di tumpangi Kinan mengudara dan lenyap dari pandangan menuju Amerika, mereka semua pulang kembali kerumah besar milik Bara.
__ADS_1
Tamat.
Terimakasih atas partisipasi pembaca yang sudi meluangkan waktu membaca cerita author. Terimakasih juga atas like, vote dan Komennya yang telah di berikan pada author. 🙏🙏🙏🙏