Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
DEWI MAUT KEBAIKAN.


__ADS_3

"Apa maksud bibik...?" tanya tuan Rehan kaget sekaligus penasaran.


"Paman...apakah paman pernah mendengar nama sebuah perkumpulan yang bernama Dragon Fly di kota B...? Yang anggotanya terdiri dari preman- preman kelas kakap...?" tanya Bara menyela perkataan bik Monah dan tuan Rehan.


"Drogen fly....?" kara tuan Rehan membeo.


"Aku mendengar itu...?" jawab Viktor.


"Aku juga mendengarnya, itu lo pa..kelompok yang bisa menangani pembunuhan berantai di kota B beberapa tahun yang lalu, Yang sempat membuat kita ingin bertemu dengan mereka..." kata Hardika mengingatkan peristiwa di mana terjadi pembunuhan berantai pada anak- anak muda di kota B dulu. yang membuat pusing aparat Negara. Namu kelompok Dragon Fly dengan mudah dan hibatnya memecahkan dan menangkap pelaku pembunuhan itu sekaligus menggagalkan penjualan manusia keluar negri.


"Hmm..ya ,ya Papa ingat sekarang...lalu apa hubungannya dengan Kania Bara...?" tanya tuan Rehan heran. Sedang Kania terlihat agak pucat karena takut.


'Ya Tuhan...mati gue, apa yang akan terjadi jika mereka tahu siapa gue .... bagaimana Bos Bara bisa mengerahu rahasia gue sich, dan sejak kapan dia tahu tentang rahasia itu...( teriak Kania dalam hati) terlihat Kania menundukkan wajahnya .


"Tapi perbuatan mereka selalu membantu aparat negara, mereka menangkap para penjahat dan menyerahkan pada Kami, hingga kami terbantu menangkap para penjahat yang kami sendiri kesulitan untuk menangkapnya.." jawab Viktor membela.


"Apakah kalian juga pernah dengar sepak terjang seorang wanita yang dikenal dengan julukan Dewi Maut Kebaikan...?" tanya Bara lagi tanpa menanggapi pertanyaan tuan Rehan. Dia melihat satu persatu wajah yang penuh pertanyaan itu. Tak luput wajah sang Papa yang terlihat pengerutkan dahi menatap kepadanya. Sedang bik Monah dan Pak Asep terlihat cemas menatap Kania.


"Bukankah dia wanita satu- satunya yang berada di kelimpok Dragon fly yang sangat menakutkan itu...?" kata Viktor dengan wajah penuh tanya.


"Iya, dia satu - satunya anggota wanita di antara lima pemimpin kelompok Dragon Fly..." lanjut Bara.


"Tunggu....jangan kau bilang gadis itu adalah Kania....?" tanya Viktor kaget.


"Begitulah kenyataannya...dia memang Kania saudara sepupu kalian...?" jawab Bara tenang.


"Apaaa..." teriak mereka hampir bersamaan. Hanya pak Asep , bik Mona dan Bara yang diam membisu.


"Benarkah wanita yang menakutkan para penjahat itu Kania...?" tanya Hardika tak percaya.


"Apa benar itu Nia....?" tanya tuan Rehan setelah sadar dari keterkejutannya.


"He he he...iya Paman, tapi Paman , maaf...Kania dan Kawan- kawan nggak melanggar hukum kok...beneran paman. Kami hanya membantu polisi menangkap mereka , tapi ada juga sich yang kami bunuh jika mereka kelewatan dalam menganiaya orang miskin.." jawab Kania cengengesan dengan wajah imutnya.


"Dasar kau ini...jadi Paman pingin tahu sampai di mana kekuatan keponakan paman ini..." kata tuan Rehan sambil berjalan kearah Kania dan mengacak rambutnya setelah berada di dekat Kania.


"Dek kamu pandai bela diri dong....?" tanya Hardika.


"Dikiiit kak..." jawab Kania sambil menunjukkan pucuk jari telunjuknya.


"Benarkah...? Gimana kalau kita coba bermain...?" kata Hardika dengan yakin.


"Benar Kak...aku juga mau coba nich..." seru Viktor gembira.


"Kakak...mana mungkin aku mampu melawan kalian..." kata Kania merendah.


"Jangan suka merendah...wanita yang di takuti para penjahat mana mungkin kemampuannya rendah ,paman juga ingin melihat kemampuanmu..." jawab tuan Rehan.


"Ya Ampuun kalian ini...jangan paksa Kania,dia itu wanita, kasihan dia ..." seru istri tuan Rehan.


"Ma...jangan kawatir, Kania tidak selemah yang Mama bayangkan, dia wanita kuat...." kata Hardika dengan yakin.


"He he benar kata kak Hardika tante,... Baiklah kak ayo kita coba..." jawab Kania sambil berdiri.


"Pa..Nia latihan dulu ya...?" pamit Kania pada Bara sambil tersenyum manis.


"Iya hati- hati...."jawab Bara sambil tersenyum lembut.


"Maaf Ma , Pa.. Kania main- main dulu dengan kakak Kania yang baru Kania miliki ya...?" kata Kania pada Papa dan Mama Bara.


"Silahkan Nia, Papa juga pingin tahu keahlianmu..." jawab tuan Mahesa. Merekapun segera berjalan kearah belakang rumah. Setelah sampai di belakang rumah mereka memasuki sebuah ruangan. Saat berada di dalam ruangan itu terlihat alat- alat olah raga berjejer dengan rapi di dalam ruangan yang luas . di tengah ruangan terlihat tempat ruang yang agak luas sepertinya ruangan untuk latihan bela diri.


"Kak..luas sekali ruamgannya...?" tanya Kania yang berdiri di dekat Hardika.


"Kenapa kau suka...?" tanya Hardika sambil tersenyum.


"Iya kak... Enak untuk latihan..." jawab Kania.


"Kalau begitu mulai sekarang kau bisa memakainya untuk latihan..." jawab Hardika.


"Apa boleh Kania latihan di sini..?" tanya Kania dengan lugu.


"Tentu saja dek...Bukankah kau juga anggota keluarga Herlambang...?" jawab Hardika.


"Kak...kalau putri tuan Setyo Hadi tahu kalau aku ada di sini, pasti Dia akan marah sekali...." kata Kania lagi.


"Masa bodoh Nia...dia bukan keluarga kita, kaulah satu- satunya putri paman Setyo Hadi.." kata Hardika dengan nada marah.

__ADS_1


"Benar Itu Nia...kaulah keluarga asli kami, bukan wanita penipu itu..." seru Viktor dengan marah juga.


"Udah dech jangan bahas wanita palsu itu, sekarang ayo kita mulai latihannya.." seru Viktor yang sudah menyingsingkan lengan bajunya. Dia sudah berdiri di tengah ruangan. Sedang para orang tua serta Bara dan Dika juga Anton sudah duduk di pinggir ruangan menunggu pertarungan Kania dan kedua saudaranya. Bik Minah dan pak Asep juga tak ketinggalan berada di sana.


"Gimana kak apa kalian sudah siap...?" tanya Kania.


"Beres Non.. Kamu pilih mau melawan siapa dulu...?" tanya Viktor.


"Maaf...apakah kalian bisa maju bersama...?" tanya Kania.


"Kamis berdua...?" tanya Viktor tak yakin


"Iya...kita coba langsung kalian berdua dulu.Okey...." jawab Kania.


"Baiklah ini permintaan mu sendiri lo.." jawab Viktor.


"Iya Kak jangan khawatir...?" jawab Kania. Nerekapun segera memasang kuda- kuda. Kania tak bisa meremehkan mereka berdua karena keduanya adalah aparat negara yang pasti sudah mendapat latihan yang keras.


"Kak Maaf, aku minta kalian jangan meremehkanku ya... Lawanlah aku dengan sungguh- sungguh..." kata Kania lagi.


"Baik..." merekapun terlihat mulai serius. Tak lama terlihat Viktor mulai membuka serangan . terlihat tangan kekarnya melayang kearah muka Kania, namun dengan mudah Kania menghindar. Akhirnya terjadi perkelahian satu lawan dua. Terlihat Kania dengan mudah menghindar setiap serangan dari kedua kakak sepupunya. Namun tak satupun mereka bisa menyentuh tubuh Kania malah mereka beberapa kali terkena tendangan kaki Kania. Tuan Rehan dan Kakek Herlambang menatap perkelahian itu dengan wajah kagum. Tak terkecuali tuan Mahesa. Terlihat ada senyuman di wajahnya. Begitupun dengan Dika dan Anton, mereka sampai melongo melihat perkelahian itu.


"Gila...makanya keenam penjahat itu dengan mudahnya mereka di kalahkan oleh Kania dan para pengawalnya.."seru Dika ketika melihat Kania yang sedang melawan dua pria kekar sepupunya itu.


"Gue nggak menyangka Nona Kania sekuat itu..." kata si Anton.Dua jam pun berlalu, terlihat wajah kedua pria yang melawan Kania sudah terlihat lelah. Namun mereka masih terus berusaha memukul tubuh Kania.


"Kak...apa kalian belum puas ...?" teriak Kania ketika melihat kedua wajah sang kakak kelelahan. Akhirnya mereka menyerah ketika hampir tiga jam tak satupun pukukan mereka melukai tubuh Kania.


"Okey kita sudahi Nia...." teriak mereka. Akhirnya mereka berhenti menyerang Kania. Dan terduduk di tengah lapangan


"Gila..kau tidak merasa kelelahan Nia..?" tanya Viktor heran ketika melihat Kania masih terlihat segar.


"Lelah juga sich kak, tapi cuman sedikit nggak kayak kalian berdua..." goda Kania.


"Kalian ini...nggak malu kalah sama adik perempuan kalian...." kata tuan Rehan yang sudah berada di antara mereka bersama kakek Herlambang dan tuan Mahesa. Sedang Bara sudah mendekati Kania dan mengusap peluh di wajah Kania dengan sayang.


"Trimakasih Pa..." kata Kania pelan.


"Kau lelah...?" tanya Bara.


"Nggak terlalu Pa..." jawab Kania sambil tersenyum. Bara mengecup kening Kania dengan sayang.


"Bunda...Kinan juga pingin seperti Bunda.." kata Kinan sambil memeluk leher sang Bunda.


"Seperti Bunda...?" beo Kania tak mengerti.


"Pandai bela diri seperti Bunda...." jawab Kinan.


"Ooo...iya sayang, nanti Bunda ajari..." jawab Kania


"Nia..dari mana kau pelajari ilmu beladiri hingga kau begitu kuat melawan kedua kakak mu..." tanya tuan Rehan sambil mendekati Kania.


"Banyak Paman...yang pertama Kania belajar pada paman Herman sahabat Paman Asep, lalu belajar pada bang Jonet seorang preman yang sudah menganggap Kania seperti putrinya sendiri. Lalu pada kedua guru taekwondo Kania di kota B. Pokoknya banyak Paman...karena Kania senang kesenian bela diri...?" jawab Kania polos.


"Jadi bukan satu macam ilmu yang kau pelajari..." tanya tuan Mahesa .


"Banyak Pa...Karate, pencak silat, taekwondo, juga ada Wushu dari negri china..." jawab Kania enteng.


"Dasar maniak...makanya Kami sulit menyentuh tubuhnya..." gumam Viktor .


"Makanya Vik kalau belajar jangan setengah- setengah, tu kayak Kania jadinya hebat kan....? " kata Kristal menggoda.


"Iya, iya ..aku akan belajar dengan benar.." jawab Viktor sebal.


"Itu pelajaran bagi kalian berdua, jangan kau remehkan seorang wanita..." kata tuan Rehan menasehati.


"Nia..Boleh kami belajar darimu...?" tanya Hardika dengan menatap Kania.


"Bokeh Kak...kapan- kapan kalau kita liburan di sini bersama kita bisa belajar bersama..." jawab Kania.


"Nach gitu dong...itu baru saudara gue.." seru Viktor gembira.


"Emang kalau kania nggak bisa beladiri bukan saudara elo..." seru Kristal jengkel.


"Ya tetep saudara gue, tapi kalau pintar seperti Kania nggak ada yang nggak mau jadi saudara dia..." goda Viktor konyol.


"Dasar polisi lebay...." sungut Kristal yang membuat semua orang tertawa.

__ADS_1


Merekapun kembali masuk kedalam rumah untuk makan siang. Setelah makan siang tuan Mahesa berpamitan. Dengan janji akan selekasnya datang untuk meminta Kania.mulanya kakek Herlambang tidak mengijinkan Kania untuk pulang, tapi karena Kinan menangis ketika sang Bunda tidak ikut akhirnya Kania ikut pulang juga , apalagi keesokan harinya Kania ada jadwal syuting .Akhirnya mereka kembali bersama kekota J.begitupun dengan bik Monah dan pak Asep, mereka pulang di antar Anton sampai di Restoran miliknya.


*****


Keesokan harinya Kania berangkat ke lokasi syuting langsung dari rumah Bara. saat kembali kemaren dari mension Kakek Herlambang hari sudah sore. jadi Kania dan tuan Mahesa memutuskan untuk bermalam di rumah Bara.


Setelah sarapan Kania berpamitan pada tuan dan Nyonya Mahesa. Kania pun tak lupa mengantar Kinan ke Sekolahannya.


"Bos...kita ke lokasi syuting aoa mampir kekantor kak Rika..?" tanya Keti pada Kania.


"Kita kekantor kak Rika dulu Ket, sekalian menjemput Amanda..." jawab Kania.


"Baik Bos , Keti siap laksanakan...?" kata Keti kembali fokus pada jalanan.


"Bos...emang kemarin Bos kemana dengan tuan besar Mahesa...?" tanya Arum mandang Kania dari sepion mobil yang ada di dalam.


"Kerumah kakek Herlambang..." jawab Kania , terlihat wajah Kania yang cerah.


"Haa..." teriak dua pengawal Kania itu kaget.


"Maksud Bos Nia , kakek Bos Nia gitu...?"tanya Arum tak percaya.


"Iya Kakekku..." jawab Kania ringan.


"Lalu..." tanya Merek antusias.


"Mereka mulanya rak yakin, tapi Kakek Herlambang sejak bertemu dengan Nia sudah curiga. saat dia mendengar Kania cucunya dia langsung percaya ..." kata Kania menjelaskan.


"Kok Bisa Bos...?" tanya Arum.


"Karena Wajah Kania mirip sekali dengan nenek yang susah meninggal, apalagi dengan kalung yang Nia miliki ini seta cerita dari paman Asep dan bik Monah. ternyata bik Monah adalah pembantu mereka sejak bik Monah muda..." jawab Kania.


"Lo kalau bik Monah pembantu mereka kok bisa ikut tuan Setyo..?" tanya Arum lagi.


"Tuan Setyo meminta pada Kakek agar menjadi pembantu mereka, mungkin sudah jalan dari Tuhan, andai bik Monah dan paman Asep nggak ikut tuan Setyo entah apa yang terjadi denganku sekarang...?" kata Kania sambil menatap keluar mobil.


" Benar apa katamu Bos, bila paman Dan bibik tak ikut mereka, gue nggak bisa bayangin apa yang akan terjadi dengan dirimu, mungkin sampai sekarang kau masih di dalam penyiksaan mereka.." kata Arum dengan nada marah.


"Benar Rum... untunglah Tuhan masih menyayangiku hingga Tuhan menggerakkan hati Tuan Setyo untuk membawa Bik Monah dan Paman Asep untuk menjadi pembantu mereka. tak terasa mobil mereka telah sampai di perusahaan Dirgantara Group. setelah memarkirkan kendaraannya mereka segera berjalan kekantor Rika. Ketika sampai di sana mereka bertemu dengan Amanda yang sudah datang.


"Pagi kak Rika, pagi Amanda..." sapa Kania sambil berjalan masuk di ikuti dua pengawalnya.


"Pagi juga Nia....Kemaren tuan Dika memberitahukan kalau kau ijin nggak masuk ya...?" tanya Rika .


"Iya kak...kemaren ada menyelesaikan sedikit masalah keluarga kak..." jawab Kania sambil duduk di depan Rika.


"Sekarang sudah selesai..." tanya Rika kembut.


"Alhamdulillah kak semuanya udah kelar...." jawab Kania.


"Ya udah kalau gitu, kakak takut jika masalahnya belum selesai akan mengganggu kosentrasimu dalam berakting nanti..." kata Rika lembut.


'trimakasih kak...?" jawab Kania.


"Ya udah mari kita berangkat sekarang, takutnya kita terhalang kemacetan di jalan..." seru Rika sambil berdiri. merekapun segera keluar dari ruangan Rika. ketika sampai di parkiran Mobil mereka bertemu dengan Bara ,Dika dan Anton , sepertinya mereka akan pergi keluar. ketika melihat kehadiran Kania dan Rika serta para pengikutnya , Bara terdiam dan melihat mereka. Dika yang menyadari kehadiran sang Kakak ipar segera menyapa Kania mewakili Bara.


"Hay Kania , Rika kalian mau kemana..?" tanya Dika.


"Pergi Kepuncak tuan..." jawab Rika mendahului Kania. sedang Bara menatap lembut Kania. Kania membalasnya dengan senyum sekilas.


"Hati- hati di perjalanan, aku dengar kemaren Kania di hadang oleh para penjahat, apa benar Nia...?" tanya Dika kembali.


"Di hadang penjahat....?" tanya Rika heran.


"Apakah kau tidak mendengar kabar itu..?" tanya Duka heran.


"Tidak tuan, saya belum mendengar kabar itu sama sekali..." seru Ruja heran.


dia merasa heran mengapa dia tidak mendengar berita itu sama sekali..


"Kau bisa menanyakan itu pada Asisten Kania atau pada dia sendiri...." jawab Dika.


"Baiklah lanjutkan perjalanan kalian , hati- hati di halan. kalau nanti ada apa- apa segera beritahu kami.." kata Dika mengisaratkan kalau ada apapun segera hubungi Bara.


"Baik tuan..." jawab Rika. sedang mereka yang ada di belakang Rika hanya menganggukkan kepala. Sedang Kania hanya bisa menganggukkan kepala ketika melihat Bara memberi kode pada Kania untuk menelfonnya nanti sebelum masuk kedalam mobilnya.


Sampai di sini dulu ya...maaf jika ada sedikit tipo , jangan lupa like dan komennya agar author selalu semangat membuat cerita. hanya dukungan dari kalian yang membuat author memiliki ide untuk bercerita. tunggu lanjutannya ya...

__ADS_1


😍😍😍


__ADS_2