
Ketika sampai di Mansionilik keluarga Dirgantara , mereka telah di sambut oleh tuan Mahesa dan nyonya Rani dengan wajah cerah.
"Kalian ini ya, kalau bukan Mama yang menyuruh kalian datang, kalian tidak datang kemari...." kata nyonya Rani dengan wajah kesal.
"Maaf Kania Ma....?" kata Kania sambil mencium tangan dan pipi sang mertua, Kania juga mencium tangan tuan Mahesa.
"Bukan kau yang salah Nia...tapi ini suamimu..." kata nyonya Rani sambil menjewer telinga Bara.
"Aauu sakit Mama,...." teriak Bara sambil memegang telinganya.
"Dasar anak nakal...." kata sang Mama.
"Omaa...." seru Kinan ikut menyalami Oma dan Opanya.
"Sayang....ya ampun..cucu Oma sudah pintar ya....kok sekarang Kinan sudah pintar menyalami Oma dam Opa, siapa yang mengajari sayang...?" kata sang Oma ketika melihat Kinan mencium tangannya .
"Mama Oma....'kata Kinan sambil mencium pipi san Oma.
"Aduh..cucu Oma kok sekarang jadi menggemaskan..." seru nyonya Rani.
Dia senang melihat tingkah cucu tersayangnya. setelah itu dia menatap kembali pada Kania.
"Ayo Nia...istirahatlah dulu di kamar suamimu, Bara..bawa istrimu kekamarmu biar dia bisa membersihkan badannya dulu ,lalu kita solat berjamaah di musolah setelah itu kita bisa makan malam bersama , Mama tahu pasti kalian sudah gerah...." kata sang Mama.
"Baik Ma...." jawab Bara, dia segera membawa sang istri dan anaknya kedalam kamarnya. Setelah sampai di kamar Kania segera membongkar isi koper untuk di taruh di dalam almari yang ada di kamar Bara. Kamar saat Bara masih remaja. Ternyata di dalam almari masih banyak baju yang tersimpan dengan rapi.
"Sayang...kau membawa baju buat Papa juga...?" tanya Bara saat melihat sang istri mengeluarkan baju.
"Hanya baju kerja saja Pa...bukankah di sini pasti masih banyak baju Papa..." jawab Kania. Bara tersenyum mendengar perkataan sang istri. Kania kembali membereskan baju mereka, setelah itu dia menyiapkan baju ganti buat Bara dan Kinan.
Dia mengambilkan baju kaos lengan pendek dan celana pendek buat Bara. Sedang untyk Kinan dia mengambilkan baju berbahan kaos yang terasa hangat kalau di pakai . Setelah itu dia memandikan Kinan dengan air hangat. Setelah memandikan Kinan , Kania membawa Kinan keluar dari kamar mandi dengan handuk menutupi badannya. Saat keluar terlihat Bara sedang memegang ponselnya.
"Pa...Papa mandi dulu gih.... Agar badan Papa segar..." kata Kania sambil menaruh Kinan di atas pembaringan.
"Baik sayang...." jawab Bara sambil berdiri dan menaruh ponselnya di atas meja. Dia segera berjalan kearah kamar mandi. Tak berapa lama Bara sudah selesai dengan ritual mandinya. Dia keluar hanya memakai handuk yang di lilit di pinggangnya. Walau mereka sudah menjadi suami istri hampir satu minggu , namun Kania masih belum biasa melihat Bara bertelanjang dada. Ketika tanpa sengaja dia menoleh kearah Bara, terlihat wajah Kania yang memerah.
"Kenapa Ma....kok wajah Mama memerah...Kau masih malu menatap tubuh Papa...?" goda Bara sambil mendekati sang istri.
"Ck...Papa, apaan sich....ingat ada Kinan Pa...." kata Kania takut Bara berbuat sesuatu padanya , karena ada Kinan di antara mereka.
"Kenapa...? orang Papa mau ambil baju kok...emang Mama pingin Papa melakukan sesuatu ya....?" goda Bara sambil mendekatkan wajahnya di tengkuk Kania. Dan mencium pelan leher putih sang istri, Tentu saja Kania Kaget dengan perbuatan Bara.
"Papa..." geram Kania, dia takut Kinan melihat perbuatan Papanya. Kania bernafas lega ketika anak kecil itu sedang menbongkar tas kecilnya. Pasti dia sedang mencari ponselnya. Sedang Bara tertawa sambil mengambil baju gantinya. Dia segera memakai baju yang sudah di siapkan Kania tersebut. Sedang Kania segera pergi kekamar mandi dengan kesal , dia segera pergi dari Bara agar Bara tidak tahu kalau wajahnya kembali memanas, mungkin kalau dia lihat di cermin wajahnya sudah memerah.Setelah selesai dengan ritual mandinya, Kania segera keluar dari kamar mandi, dia tak lupa mengambil air wudu karena akan menunaika solat magrib.Saat Kania keluar dari kamar mandi , terdengar adzan magrib berkumandang, Kania segera bersiap- siap untuk solat berjamaah dengan keluarga Dirgantara di musolah. Bara segera mengajak sang istri turun kebawah menuju musolah keluarga. Sesampainya di sana Kania melihat kedua mertuanya dan Dika sudah berada di dalam musolah bersama dengan para pembantu dan satpam serta kedua pengawalnya. Mereka segera melaksanakan solat magrib dengan tuan Mahesa sebagai imamnya. Setelah solat berjamaah mereka melanjutkan dengan makan bersama . Saat makan bersama terlihat suasananya sangat menggembirakan. Apalagi nyonya Rani ketika melihat sang menantu begitu pandai meladeni Bara dan Kinan. Dia sangat terharu melihat Kania yang begitu sabar dan lebut saat merawat Kinan. walaupun wanita itu masih belum pernah merawat seorang anak. Kania merawat Kinan seperti merawat putra nya sendiri.
Setelah selesai makan , mereka duduk bersama di ruang keluarga.
"Bara...seringlah kau ajak istrimu menginap di sini.. sebenarnya Mama pingin kalian menetap di sini beberapa bulan saja, Mama pingin merasakan memiliki menantu seutuhnya..." kata sang Mama. Perkataan nyonya Rani membuat Kania dan Bara saling pandang. Lalu Bara berucap pada sang Mama.
"Akhir- akhir ini Bara dan Kania sibuk sekali Ma... Mamanya Kinam masih sibuk dengan film nya Ma..." kata Bara.
"Ma...Kania janji setelah menyelesaikan penggarapan film Putri Fang Yun kania akan menginap di sini lama Ma...jadi maafkan Kania yang belum bisa menuruti keinginan Mama sekarang..." kata Kania menyesal.
"Mama mengerti nak...tapi kau harus janji untuk tinggal di sini beberapa waktu setelah urusanmu selesai..." kata nyonya Rani.
"Pasti Ma...Kania janji..." Kata Kania sambil tersenyum . begitupun dengan nyonya Rani , yang memandang Kania yang sedang memangku Kinan dengan wajah sayang dan bahagia.
"Oh ya Dika, apa kalian pernah bertemu dengan Amelia akhir- akhir ini...?" tanya nyonya Rani.
"Maksud Mama kalian, siapa Ma...?" tanya Dika tak mengerti.
"Kau dan Kania serta Kinan...?" tanya nyonya Rani.
"Aku dan kakak ipar...?Ketemu Amelia..?" tanya Dika heran
"Amelia Ma...?" tanya Kania juga heran.
__ADS_1
"Iya...kata Amelia, kalian bertemu dia di Mall.." kata nyonya Rani menjelaskan .
"Oo...pernah Ma...pasti masalah di Butik itu Dik...." kata Kania teringat saat kejadian di Butik.
"Oo itu..benar Ma , kami pernah bertemu dengan dia di butik, itupun aku di suruh kak Bara untuk menjemput kakak ipar.. emang kenapa Ma...?" tanya Dika sambil mengeryitkan dahinya.
"Menjemput...?" kata nyonya Rani penuh tanya.
"Iya , menjemput kakak ipar dan Kinan dari Mall, malah aku bersama Anton...emang kenapa Ma....?" tanya Dika heran.
"Kok kamu yang harus menjemput kakak iparmu...? Lalu kemana kakakmu Bara..?" tanya sang Mama .
"Kak Bara sedang menemui klien dari luar Negri. Kami saat itu sedang berada di hotel menemui klien dari Negara Jerman, tapi tiba- tiba kak Bara menerima pesan WA dari Seto Aji, Mama ingat Seto Aji sahabat kami kan..?" tanya Dika pada sang Mama.
"Dia temanmu yang sekarang jadi Sutradara sekaligus Produser itu kan..?".kata sang Mama.
"Bener Ma...si Seto Aji Sutradara itu Ma... Dia mengirim pesan dan Vidio tentang Kakak ipar yang sedang di permalukan oleh Amelia dan dua temannya di dalam butik itu ...". lalu Dika menceritakan masalah tempo hari saat terjadi keributan di dalam Butik. Dika juga meminta Bara meunjukkan Vidio di mana Kania ingin di permalukan oleh Amelia di muka umum.
"Begitu ceritanya Ma...." kata Dika mengakhiri cerita itu.
"Dasar wanita pembuat onar dan licik..." kata nyonya Rika dengan geram.
"Siapa yang di maksud Mama...?" tanya Bara.
"Itu si Amel...." kata nyonya Rani kesal.
"Memang kenapa dengan Dia Ma...?" tanya Dika .
"Tadi pagi dia datang kemari bersama Mamanya, dia menjelekkan menantu Mama, tunggu dulu Dik...apa dia tidak tahu kalau Bara sudah memiliki Kinan..?" tanya nyonya Rani .
"Mana Dika tahu Ma, dia tahu atau tidak...tapi semua karyawan di perusahaan sudah pada tahu kalau kak Bara sudah memiliki seorang anak....lalu apa hubungannya dengan Amelia Ma...?" tanya Dika heran.
"Bukankah saat kalian bertemu Amelia , Kania bersama Kinan kan...?" tanya nyonya Rani.
"Dia mengira Kinan anak kandung Kania, tepatnya Kania itu seorang janda. Saat itu Mama sudah tahu kalau itu pasti Kinan, Mama hampir tertawa saat dia mengatakan itu. namun Mama menahan tawa Mama karena mama pingin tahu fitnah apalagi yang akan dia katakan.... Sebenarnya dia punya masalah apa denganmu Nia...?" tanya nyonya Rani pada Kania.
Akhirnya Kania menceritakan saat pertamakali dia bertemu dengan Amelia yang sedang membuly Nona Berta.
"Ya ampuun...jahat banget sich wanita itu... Dan kau sayang ... Selalu mengutamakan keselamatan orang lain dari pada dirimu sendiri..." puji sang mertua.
"Begitulah sifat Kania Ma.... Dia lebih mengutamakan keselamatan orang lain dari pada dirinya, Bukankah dia berani mengorbankan nyawanya demi Kinan yang bukan siapa- siapa dia, dan saat menolong Barapun dia tak segan menolong Bara yang bukan siapa- siapa dia...tapi kalau dia tak bersifat seperti itu, aku tak kan pernah bertemu dengannya Ma... Karena sifatnya itu membuatku memiliki istri seperti dia...?" kata Bara sambil memeluk bahu sang istri yang sedang memangku Kinan yang sudah tertidur dengan penuh cinta.
"Ck..kakak...jangan mengumbar kemesraan didepan gue dong... Kasihan gue yang masih jomblo ini..." seru Dika protes ketika melihat sang kakak memperlihatkan cintanya pada sang istri.
"Makanya...kau cepat cari seorang istri... Jangan hanya pacaran saja.." kata sang Papa yang sejak tadi membaca majalah bisnis .
"Yee..Papa ..emang siapa yang pacaran Pa..." seru Dika sambil menatap tuan Mahesa.
"Nach si Maya anaknya Om Fauzi...?" goda tuan Mahesa.
"Eeh maaf ya Pa... Gadis itu sendiri yang ngejar Dika, Dika nggak suka sama gadis yang kegenitan, lagian kata teman Dika dia gadis yang nggak bener, kak Bara juga bilang begitu...."kata Dika dengan wajah cemberut.
"Hus...kau ini...jangan suka menuduh orang sembarangan...?" kata sang Mama.
"Bener Kata Dika Ma... Gadis itu memang agak nggak bener, dia pernah beberapa kali datang ke kantor Bara, dan berusaha merayu Bara. Dan setelah Bara mengusir dia dari kantor Bara, Bara mendengar dia mendekati Dika..." kata Bara datar.
"Ya ampuun ...yang benet Bar...?" kata sang Mama kaget.
"Mama sayang berita dari kak Bara itu memang beneran Ma.... karena Dika sudah di kasih tahu Kak Bara. karena itu Dika nggak mungkin menjalin hubungan dengan wanita seperti itu..." kata Dika sambil memeluk sang Mama dari samping.
"Dasar kalian ini...kenapa nggak bilang sama Mama tentang gadis itu sejak awal....?" seru sang Mama.
"Memang kenapa...? apa Mama sudah berharap gadis itu jadi menantu Mama..?" kata Dika menggoda.
"Bukan begitu....kalau Mama tahu sejak awal, Mama nggak akan membiarkan wanita itu mendekati putra Mama, dan kalian tahu , setiap dia datang pasti dia membawa makanan atau kue. dan setiap Mama makan makanan atau kue dari dia, pasti mama akan merasa kasihan dan sayang padanya, mama fikir mungkin Mama mulai suka dia jadi menantu Mama, tapi kalau dengar perkataan kalian, Mama kok jadi curiga ya pada Makanan yang dia bawa...?" kata sang Mama jadi paranoit.
__ADS_1
"Apa maksud Mama...?" tanya Dika.
"Dia sering datang kemari terkadang bersama Mamanya terkadang juga sendiri. dan tiap kali dia datang kemari dia selalu membawa kue atau Makanan. dan setiap selesai makan makanan yang dia bawa, mama serasa sangat sayang padanya. hingga Mama ingin menjadikan dia menantu Mama, Mama ingin salah satu dari kalian menjadi suami dia..." kata nyonya Rani bercerita.
"Apa Papa juga makan makanan itu Ma...?" tanya Dika antusias.
"Nggak pernah....bukankah Papa tidak suka makanan pemberian orang, lagian Papa pulangnya kan selalu sore atau malam hari...." kata sang Mama.
"Lo tapi kok Papa menjodohkan Dika dengan gadis itu...?" tanya Dika pada sang Papa.
"Mama yang mengatakan kau dekat dengan putra Om Fauzi , dan Papa juga melihat kau ketika pergi bersama dia ketika pulang dari kantor Papa...." jawab tuan Mahesa cuek.
"Ya ampun Pa... dia itu cuma numpang aja...dia ikut Dika karena dia mau ketempat temannya..." kata Dika menjelaskan.
"Mana Papa tahu...." kata sang Papa menggoda.
"Tunggu dulu...sebenarnya dia juga sering menanyakan kamu Bara, Terkadang dia menanyakan tempat kediaman kalian berdua..." kata sang Mama.
"Mama memberitahukan tempat kami Ma...?" tanya Dika cemas.
"Nggak lah...bukankah Mama dan Papa sudah janji pada kalian untuk merahasiakan rumah kalian, mama tahu kalian nggak ingin di ganggu...?" kata sang Mama.
"Trimakasih Ma...Mama memang yang terbaik..." kata Dika sambil memeluk dan mencium pipi sang Mama. Kania yang melihat tingkah Dika tersenyum senang. dia senang melihat keharmonisan keluarga Dirgantara.
"Bara...kau harus berhati- hati terhadap Amelia, dia sudah berani memfitnah istrimu di depan Mamamu, andai Mama belum tahu sifat Kania, pasti Mamamu akan percaya pada perkataannya...kau harus hati- hati terhadap gadis itu... sepertinya dia masih ingin mengejarmu.." kata tuan Mahesa.
"Bukankah Bara sudah menolaknya Pa..." kata Bara lagi.
"Kayaknya dia nggak perduli Bara, buktinya setelah kejadian di pesta perusahaan itu dia datang bersama Mama dan Papanya untuk menjodohkan dia denganmu...saat itu Papa dam Mama sudah menolak dia, tapi kenyataannya dia masih berani datang kemari dam menjelekkan istrimu..." kata sang Papa lagi.
"Ya ampuun...apa dia nggak punya malu..? bukankah kak Bara sudah mempermalukan dia..." seru Dika heran.
"Karena itulah, Papa memperingatkan pada kalian berdua, kalau perlu biarkan dia keluar dari menejemen perusahaan kalian..."kata tuan Mahesa .
"Baik Pa...Bara akan berhati - hati dengannya, ...." jawab Bara .
"Ya sudah, hari sudah Malam kalian istirahat, dan itu si Kinan biar tidur dengan Mama dan Papa, Papa rindu tidur dengan cucu Papa..."Kata tuan Mahesa . Dia menyadari sang putra baru menjadi pengantin. Walau Bara pernah memiliki keluarga hingga hadirnya si Kinan , tapi mereka tahu kalau Bara hanya sekali tidur bersama istrinya dulu.
" Baik Pa... Ma..mana Kinan, biar Papa bawa Kinan kekamar Opanya.." kata Bara sambil mengambil Kinan dari Pangkuan Kania. Kemudian Kania dan Bara pamit untuk kembali kekamar mereka. Sesampainya di kamat, Bara tak kan pernah tinggal diam, seperti biasa tiada hari tanpa Bara lewati untuk menyentuh tubuh istri cantiknya, tubuh yang membuat dia selalu tak ingin jauh dari sang istri . maklum pengantin Baru, kan masih baru satu minggu mereka menikmati sebagai pengantin Baru 🤣🤣
****
Sedang ditempat Amelia, terlihat Dia sedang duduk bersama Papa dan Mamanya. Saat ini dia sedang membahas tentang Bara dengan keluarganya.
"Mel...gimana perkembangan hubunganmu dengan si Bara...?" tanya sang Papa.
"Belum ada kemajuan Pa... habis agak sulit Amel menemui kak Bara..." jawab Amelia.
"Bukankah kau bisa mendekati si Dika dulu... dia bisa jadi batu loncatan untuk mendekati Bara..." kata tuan Sony sambil meminum kopi yang di sajikan oleh sang istri .
"Dika sedang dekat dengan seorang artis yang sudah memiliki anak Pa... kapan hari , saat Amel berselisih dengan gadis itu, Dika malah membela gadis itu di saat kami bertemu dengan dia di sebuah Butik.." kata Amelia dengan sedih.
"Lagian Amel sudah memberitahukan soal gadis itu pada mbakyu Rani Pa...agar mbakyu Rani tidak menyukai gadis itu..?" kata nyonya Gita menambahi.
"Nach kalau gitu langsung aja kamu ketemu dengan Bara... kamu cari alasan untuk ketemu dia...?" kata tuan Sony menasehati.
"Baik Pa...coba besok Amel akan menemui kak Bara, Amel akan mencari Alasan untuk bertemu kak Bara..." kata Amelia denga yakinnya.
"Nah gitu baru anak Papa... kau harus semangat mendekati Bara, karena itu merupakan tambang emas buat keluarga kita..." nasehat tuan Sony Subiantoro pada sang putri.
"Baik Pa...trimakasih atas Dukungan Mama dan Papa, Amel pasti bisa mendapatkan kak Bara..." ucap Amelia dengan yakin. tuan Sony dan nyonya Gita memberi semangat pada Amelia untuk mendapatkan Bara Aris Dirgantara . mereka yakin sang putri pasti bisa mendapatkan hati CEO mudah dan kaya itu.
Udahan dulu...jangan lupa like dan komennya .
Bersambung.
__ADS_1