
Setelah pergi meninggal kan orang tua itu dengan perasaan cemas, Kania segera menyuruh Keti segera membawa mobil mereka kearah tempat pemotretan .
Kania masih terlihat cemas memikirkan kakek yang baru mereka tolong itu. mereka diam dalam kesunyian.
"Bos...kalung yang di beri kakek tadi bagus banget lo...." kata Arum memecah keheningan sambil memandang Kania lewat sepion .
"Apa bener Rom...?" tanya Kania tak percaya. Sebab saat kakek tadi memberikan kalung dengan memaksa , dan akhirnya Kania menerima kalung itu dengan keterpaksaan . Kania tidak memperhatikan bentuk bandul ataupun kalung tersebut. Perlahan Kania mengambil dan memperhatikan kalung itu. Terlihat kalung yang terbuat dari perak putih itu memiliki bandul yang terbuat dari batu permata yang berwarna merah darah dan memiliki lapisan emas di atas yang tersambung dengan kaitan bandul yang terhubung dengan kalung. Memang kalung itu terlihat indah dan unik bentuknya. saat lebih di perhatikan batu merah itu seperti mengeluarkan cahaya yang membuat hati tenang.
"Ternyata yang elo katakan benar Rum... kalung ini sangat indah. Dan lihatlah batu merah ini seperti mempunyai cahaya sendiri..." kata Kania sambil menatap dan membelai batu merah itu perlahan .
"Nach...benarkan perkataan Arum Bos.." jawab Arum.
"Seharusnya gue nggak menerima kalung ini , Kalung ini terlihat sangat berharga.. apa kakek itu nggak rugi memberikan kalung yang bagus ini padaku...?" kata Kania sambil masih menatap dan membelai batu itu denga. wajah kagum.
"Bos.. elo nggak boleh ngomong kayak gitu..kalau.elo berkata seperti itu, elo seperti nggak menghargai kakek tua itu ..." kata Arum kembali menatap Ka ia lewat spion..
"Iya Bos... bukankah kakek itu berkata kalu kalung itu emang kakek berikan pada elo, dan dia berkata kalau kalung itu memang punya elo, emang harus elo miliki....." kata Keti menimpali.
"Punya gue dari mana...? Bukankah kita baru bertemu dengan kakek itu hari ini, .." kata Kania sambil cemberut.
"Benar kata elo Bos...tapi gue ngomong gitu niruin perkataannya si Kakek tadi... Dia berkata kalau kalung itu memang milik elo...lagian mungkin ini rejeki dari Tuhan untuk elo...dan kalau nggak salah dengar, kakek tadi bilang kalau kalung itu bisa menjaga elo dari kejahatan yang akan menyerang elo..." kata Keti sambil tersenyum.
"Ya udah dech biar gue pakai kalung ini sebagai amanah dari kakek itu... amanah ini akan gue jaga, benar kata elo mungkin ini rejeki dari Tuhan buat gue, tapi kita harus ingat Ket...kita nggak boleh musrik,dengan mempercayai kesehatan dan keselamatan kita pada kalung ini, karena kakayaan , jodoh ,rizki, hidup dan Mati kita hanya Allah yang menentukan..." kata Kania bijak.
"Benar kata elo Bos..." kata Keti dan Arum hampir bersamaan.
"Ya sudah...Nanti pulangnya kita coba lihat lagi di sana Ket...kalik aja kita masih bisa ketemu sama kakek tadi... gue bisa ngucapin Terimakasih sekali lagi padanya..." kata Kania pada Keti.
"Baik Bos...." jawab Keti sambil fokus menatap kearah depan.
Dua puluh menit kemudian merekapun sampai di lokasi pemotretan, terlihat mereka sudah di tunggu para kru pemotretan.
"Maaf Kami terlambat, ada sedikit masalah di jalan tadi...." kata Kania meminta maaf.
"Nggak Masalah Nona Kania... " jawab sang foto grafer.
Kania pun segera menuju kamar ganti untuk mempersiapkan pwnampulannya.Setelah berganti baju dan berhias , Kania segera melakukan pemotretan.
Hingga hampir jam empat sore, Kania baru bisa menyelesaikan pekerjaannya. Tadi makan siang pun mereka lakukan di lokasi potretan, Bara yang selalu tidak tenang kalau sang istri jauh darinya sudah beberapa kali menelfon menanyakan keadaan Kania. Apalagi sekarang Kania sedang mengandung anak mereka. Seperti saat ini, saat Kania sedang mengganti baju, tiba- tiba terdengar dering telfon dari dalam tas yang sekarang sedang di bawa oleh Arum. Setelah di lihat , terlihat nama sang suami yang tertera di layar ponsel. Ini sudah kelima kalinya Bara menelfon.
"Assalamualaikum Pa...." sapa Kania.
"Waalaikum salam Ma...Mama masih lama pulangnya...." tanya Bara.
"Sebentar lagi Pa...ini Mama masih berbenah, sebentar lagi kami pulang..." jawab Kania lembut .
"Ya sudah nanti hati- hati di jalan... Mama langsung kekantor Papa ya... Karena Papa ada meeting dengan klien , jadi Mama ikut Papa aja...?" kata Bara lagi.
"Baik Pa...sekarang Mama sudah mau pulang kok..." jawab Kania lagi.
"Iya sayang...hati- hati di jalan , oh ya mana Keti...?" tanya Bara.
"Ada Pa...Ket...Bos mau ngomong sama kamu..." kata Kania sambil menyodorkan ponselnya kepada Keti yang berjalan cepat kearah Kania. Keti segera mengambil ponsel dari tangan Kania. Setelah itu Kania segera berbenah untuk pulang, sedang Keti terlihat sedang berbicara dengan Bara. Tak lama dia memberikan ponsel Kania pada sang pemilik.
"Sudah selesai.....?" tanya Kania.
"Sudah Bos... Bos Bara menyuruh kita langsung kekantor..." jawab Keti.
"Ya sudah, ayo kita pamit dulu pada Kak Royat dan kak Dio...." kata Kania. Kak Royat yang di maksud Kania adalah si foto grafer, sedang Dio adalah Bos yang memakai jasa Kania.
Setelah berpamitan pada kedua orang tadi, mereka segera pergi dari area pemotretan.
Saat mereka pulang, mereka Melewati kembali tempat si kakek yang mereka tolong tadi, namun Kakek itu sudah tidak ada di sana. Untuk memastikannya Kania sempat menyuruh Keti untuk berhenti di daerah itu.
__ADS_1
"Yaa...ternyata si kakek sudah nggak ada..." kata Kania kecewa. dia turun dari mobilnya dan berdiri di sebelah mobil sambil mencari orang tua tadi.
"Terang aja Bos...bukankah kita hampir seharian berada di lokasi pemotretan.. mungkin dia sudah bertemu dengan teman yang sudah dia tunggu...." kata Arum menghibur.
"Iya sich...." kata Kania masih dengan wajah kecewa. Entah mengapa Kania merasa sangat akrab dengan kakek tua itu.
"Ya sudah yu kita pulang...." ajak Kania pada kedua pengawalnya. Dia segera masuk kembali kedalam mobil mewahnya.
"Baik Bos...." jawab mereka berdua.
Merekapun segera meninggalkan area tepat si kakek tadi.
Sesampainya di kantor, Kania segera berjalan kearah ruang kantor sang suami. Saat ini Kania sudah tidak memakai masker dan topi lagi . semenjak Bara mengumumkan siapa Kania, para karyawan perusahaan Dirgantara sudah tahu siapa Kania. dan apa setatus Kania di perusahaan itu. Ketika bertemu dengan para Karyawan mereka menyapa dan menunduk hormat pada Kania.
Kaniapun hanya bisa tersenyum ramah membalas sapaan mereka.
*****
Sedang di Villa milik keluarga Malik Handoko terlihat Emilda sedang menunggu dengan cemas kedatangan Jamaludin yang akan membawa penjahat yang akan menghabisi Kania. Dengan hati tak sabar Emilda berdiri di teras Villa sang Papa.
"Ck...kenapa mereka lama banget sich.. Katanya sudah dalam perjalanan kemari, kok sampai sekarang belum datang juga.. apa mereka salahb alan...? tapi nggak mungkin dech, kan ada si Jamaludin bersama mereka..." gumamnya tak sabar. Dia mondar- mandir di teras Villanya. Hampir satu jam kemudian sebuah mobil kijang memasuki pekarangan Villa milik tuan Malik itu . Setelah berhenti di bawa pohon mangga yang ada di depan Villa, terlihat lima orang turun dari dalam mobil. Empat orang pria dengan bentuk tubuh besar dan kekar. Sedang seorang pria tinggi agak kurus berjalan bersama mereka.
Ketika melihat kedatangan mereka wajah Emilda sangat bahagia. Setelah sampai di depan Emilda mereka memberi hormat dengan menundukkan kepala pelan. Emilda segera membawa mereka masuk kedalam Villa.
Setelah duduk si pria kurus yang bernama Jamaludin itu segera memperkenalkan keempat pria tadi.
"Nona Emilda ini para pria yang akan membantu pekerjaan Nona... mereka ahli dalam ilmu beladiri...." kata Jamaludin pada Emilda .
"Bagus....kalian sudah tahu kan tugas yang aku harapkan....?" tanya Emilda pada keempat pria yang ada di depannya.
"Sudah Nona...jangan khawatir , kami akan menyelesaikan tugas anda kurang dari satu minggu..." jawab salah satu dari mereka.
"Okey...aku akan mempercayai ucapan kalian, aky percaya kalian akan mampir melaksanakan tugas itu, ini uang muka dari aku, nanti sisahnya aku berikan setelah tugas kalian selesai.." kata Emilda sambil memberikan sebuah amplop kuning pada salah satu dari mereka.
"Terimakasih Nona...kami akan segera melaksanakan tugas dari anda, kalau begitu kami mohon pamit Nona..." pamit mereka pada Emilda.
"Trimakasih Nona Emilda...?" kata Jamaludin sambil menerima amplop dari Emilda . Mereka semua segera beranjak keluar dari Villa milik tuan Malik Handoko.
Setelah kepergian lima orang tersebut, terlihat wajah Emilda sangat bahagia.
"Rasakan kau wanita ja***g.. dasar pe****r murahan...lihatlah sekarang hidupmu akan segera berakhir.. Nikmati hari - hari bahagiamu untuk yang terakhir kalian ja***g ha ha ha..." kata Emikda sambil tertawa bahagia. Dia yakin kalau rencananya untuk menyingkirkan Kania dari hidup Bara dan Kinan akan segera terwujut. Dia terlihat begitu gembira.
Sedang di kantor Bara terlihat Bara yang sedang mengerjakan pekerjaannya dengan kepala Kania yang tidur di pangkuannya. Saat sang istri datang kekantornya dengan wajah kelelahan Bara segera membawa sang istri duduk di sofa.
"Kau lelah sayang...?" tanya Bara sambil mengusap kening Kania.
"Sedikit Pa...entah kenapa, hari- hari belakangan ini Mama merasa cepat kelelahan, apa mungkin karena hamil ya Pa....?" tanya Kania menatap sang suami.
"Mungkin juga sayang...."jawab Bara . dia mencium lembut bibir sang istri.
"Kalau gitu kau tidurlah sebentar di sini, sini kepala Mama di taruh di pangkuan Papa..." kata Bara sambil mengusap rambut Kania dengan lembut.
"Apa nggak lebih baik Mama tidur di dalam Pa...?" tanya Kania.
"Jangan...Papa masih kangen Mama..." kata Bara lembut. Akhirnya Kania merebahkan dirinya di atas sofa dengan berbantal paha milik Bara . Bara tersenyum melihat sang istri mulai menutup matanya. Dia mengusap lembut kepala Kania. Dan dengan perlahan Kania tertidur di atas pangkuan Bara. Akhirnya Bara meneruskan pekerjaannya di meja dekat sofa. Walaupun terlihat Bara agak kesulitan bekerja dengan kepala Kania di pangkuannya, namun dia melakukannya dengan wajah bahagia. Tak berapa lama terdengar ketukan di pintu ruangannya .
Tok tok tok...
"Masuk...." kata Bara perlahan. Terlihat wajahnya yang agak kesal. dia melihat sang istri masih asyik dalam tidurnya, membuat dia tersenyum lega.
Perlahan pintu ruangan terbuka. Terlihat wajah Dika dan Anton terlihat di depan pintu.
"Sore Bos..." sapa Anton.
__ADS_1
"Sore Kak...." sapa Dika hampir bersamaan dengan Anton.
"Sstt...jangan keras - keras...." kata Bara pada Dika dan Anton. dia segera menghentikan pekerjaannya dan menutup leptopnya.
Dika dan Anton terkejut ketika melihat Kania tidur di sofa berbantal paha milik Bara.
"Uuff maaf...gue nggak tahu kalau kakak ipar berada di sini..." kata Dika dengan perlahan.
"Ada apa kalian kesini...Bukankah metingnya masih satu jam lagi...?" kata Bara dengan wajah kesal.
"Ada sesuatu yang penting yang akan kami bicarakan denganmu kak...?" kata Dika dengan pelan.
"Apa itu...?" tanya Bara sambil bersandar di sofa.
"Ini soal Emilda kak.. "jawab Dika.
" Apa yang di lakukan wanita sialan itu..?" tanya Bara geram.
"Kata anak buah yang aku tugaskan mengawasi dia, hari ini dia kedatangan lima orang pria kuat di Villa milik keluarga Malik...." kata Anton .
"Lima orang ....? siapa dia...apa kau sudah menyelidikinya....?" tanya Bara dengan menatap Anton.
"Sudah Bos... mereka orang- orang kuat yang di cari Jamaludin atas suruhan Emilda, Emilda berencana ingin membunuh kakak ipar Bos..." lanjut Anton.
"Hmm...apa mereka bisa...?dari mana asal mereka...?" tanya Bara lagi.
"Mereka dari pulau K. mereka terkenal dengan kekehaman dan kejahatannya. mereka sangat di takuti oleh para penduduk di daerah pulau K..." kata Anton menjelaskan.
"Berapa orang mereka...?" tanya Bara.
"Yang terlihat selain Jamaludin hanya empat orang Bos..." jawab Anton.
"Ha ha...mereka terlalu meremehkan istriku...?" kata Bara sambil membelai kepala Kania yang ada di pangkuannya dengan lembut.
"Mereka nggak tahu siapa yang akan mereka hadapi Kak...?" kata Dika dengan tersenyum.
"Benar katamu Dik... mereka belum tahu siapa gadis yang akan mereka hadapi, jadi biarkan saja mereka mencobanya, dan kau Ton... tolong lebih di perketat penjagaan pada istriku, tapi bilang pada mereka jangan mengganggu kesenangan istriku yang memberi pelajaran pada mereka. mereka boleh menolong kalau istriku butuh pertolongan...." kata Bara dengan wajah dinginnya.
"Dan besok kita akan keperusahaan tuan Malik, kita akan mengatakan perbuatan sang putri padanya, jadi jika terjadi sesuatu pada Emilda kita tidak bertanggung jawab..." kata Bara datar.
"Baik Bos kita akan kesana besok...." kata Anton dengan tegas.
"Kak boleh aku ikut...?" tanya Dika dengan wajah berharap.
"Lalu siapa yang akan ada di sini...?" kata Bara datar.
"Bukankah kita cuma sebentar kak...?" kata Dika lagi.
"Baiklah kalau itu maumu..." kata Bara. tiba- tiba Kania bergerak dan terjaga.
"Sayang...sudah bangun...?" tanya Bara sambil mengusap kepala Kania.
"Maaf Pa Kania tertidur..." kata Kania sambil bangun dan duduk di sofa, saat itulah dia melihat Dika dan Anton yang duduk tak jauh dari tempat duduknya .
"Lo...kalian ada di sini...?" tanya Kania kaget.
"He he he...iya kak....ada sesuatu yang harus kami bicarakan pada kak Bara...?" jawab Dika.
"Kok Mama nggak di bangunin sich Pa, Kalau ada mereka...." sungut Kania. karena Kania samgat malu ketika tidur ada mereka .
"Nggak usah malu Ma... anggap aja mereka nggak ada..." kata Bara datar sambil membelai rambut Kania.
Sedang Dika dan Anton hanya bisa menghembuskan nafas kesal melihat keromantisan Bara pada Kania. mereka yang biasanya melihat kedinginan Bara kini seriap hari di suguhi keromantisan Bara pada Kania. mereka tak pernah berfikir kalau suatu saat nanti mereka akan melihat kebucinan Bara seperti saat ini.
__ADS_1
udahan dulu ya...gue sambung pada episode selanjutnya . jangan lupa vote , like dan komennya author tunggu.
Bersambung.