
Tuju bulan kemudian.
Keadaan Kania sekarang sudah hamil besar. Perutnya yang semakin membesar , namun Kania masih bisa dengan aktif melakukan gerakan-
gerakan Untuk meregangkan otot- otot tubuhnya. Setiap hari dia masih melakukan latihan- latihan kecil atau berlari keliling taman. Kini hari persalinan yang di prediksi oleh dokter yang hanya tinggal dua minggu lagi membuat Bara semakin posesif menjaga Kania. Dia pergi kekantor hanya kalau ada rapat atau temu klien yang tidak bisa di wakilkan Dika atau Anton. Hari- hari dia isi selaku dekat dengan sang istri. Seperti sat ini kalau bukan karena klien dari Amerika yang mesti dia temui, Bara tak ingin meninggalkan Kania.
"Ma...jangan kemana- mana, Papa hanya sebentar keluar...." kata Bara sambil memeluk tubuh gendut itu.
"Iya iya...mama akan di rumah... Lagian mana mungkin Mama keluar, perut Mama aja segede ini, pasti mama kesulitan berjalan...." jawab Kania bercanda.
"Baguslah....Papa senang mendengarnya..." kata Bara dengan tersenyum cerah.
"Papa berangkat ya....Assalamualaikum" kata Bara sambil mencium lembut bibir dan kening Kania.
"Waalaikum salam hati- hati di jalan Pa.." jawab Kania. Barapun segera masuk kedalam mobil mewahmya .
Tak lama terlihat mobil Bara berjalan meninggalkan rumah indah miliknya .
Setelah melihat mobil sang suami tidak terlihat lagi ,Kania segera masuk kedalam rumahnya. Dia berjalan kearah lift yang akan membawanya ke kamarnya. Setelah sapai di dalan kamar Kania segera merebahkan badannya . namun baru saja tubuh gendutnya mencium pembaringan tiba- tiba terdengar dering ponselnya.
Dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Terlihat sebuah nomer tak di kenal tertera di layar ponselnya.
Perlahan dia menerima panggilan itu dengan penuh tanda tanya.
"Asalamualaikum siapa ini....?" tanya Kania perlahan.
"Selamat pagi Nyonya Bara....?" jawaban seorang wanita dari sebrang.
"Selamat pagi siapa ini.....?" jawab Kania.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, apakah kau belum melihat sms dari ku..?" tanya wanita itu dengan dingin.
"Apa maksudmu....?" tanya Kania tenang walaupun di dalam hatinya sudah mulai cemas.
"Kau lihat saja dulu...setelah itu datanglah ke alamat ini, datanglah sendiri, dan jangan bersama siapapun , atau kau akan tahu akibatnya...." kata wanita itu , lalu dia menutup pembicaraan secara sepihak.
"Halo...halo..." seru Kania panik. Dia segera melihat SMS yang di sebutkan wanitatadi.
Saat dia membuka SMS itu mata Kania terbeliak kaget.
"Ya Tuhan...." seru Kania panik. Kania melihat sebuah foto yang berisi foto Kinan yang sedang pingsan di aatas lantai di sebuah ruangan yang terlihat kotor dan kumuh. Dan di sebelahnya terlihat bik Siti terduduk dengan tangan dan kaki terikat.
"Sialan....siapa yang telah mencelakai anakku ...."Kania segera berdiri dan berjalan dengan cepat keluar kamar dengan membawa tas tangan yang berisi sebuah pestol kecil yang Kania miliki.
Kania segera melangkah menuju lantai bawah , ketika melihat keadaan Kinan yang terlihat sangat menderita, membuat Kania merasakan ketakutan. Kania segera menyambar kunci mobil miliknya. Sambil berjalan keluar rumah dia menelfon Arum dan Keti yang tadi mengantar Kinan dan bik Siti kesekolah.
"Assalamualaikum Bos..." seru Keti sambil terengah- engah.
"Waalaikum salam kalian di mana...?" tanya Kania cepat.
"Kami baru di serang oleh beberapa orang Bos ada apa...?" tanya Keti dan Arum . Kania terkejut mendengar perkataam mereka.
"Apaa...di serang...? Jadi kalian tidak tahu tentang Kinan....?" tanya Kania kaget .
"Emang ada apa dengan Bos kecil Bos...bukankah mereka ada di sekolah...?" tanya Keti khawatir .
"Kinan di culik seseorang, dan aku sekarang sedang menuju kesana..." jawab Kania sambil masuk kedalam mobil.
"Apaa....di culik....? Bos tunggu Kami , kami akan ikut denganmu..." seru Arum kaget.
"Nggak usah....mereka menginginkan diriku, kau laporkan saja semua pada suami gue. Suruh mereka lacak ponsel gue. Gue nggak bisa ngelaporin ini takutnya mereka melakukan sesuatu pada Kinan...." kata Kania sambil mulai menjalankan mobil keluar dari rumahnya .
"Tap....Bos...bos..." seruan Arum tak berarti karena Kania sudah menutup telfonnya.
"Rum ada apa....!" seru Keti yang masih tergeletak lelah karena habis memukul beberapa orang tadi.
Arum dan Keti yang sedang menunggu Kinan di taman sekolahan tiba- tiba di datangi Beberapa orang pria yang cukup kekar. Mereka tambah basah basi menyerang Arum dan Keti. Terjadinya perkelahian antara Arum, Keti dengan beberapa orang itu. Namun setelah salah satu menerima telfon akhirnya mereka mundur dengan membawa temannya tang terluka karena hajaran mereka berdua.
"Rum ada apa....!" seru Keti nyaring sambil berdiri menghadap ke Arum.
"Gawat Ket, ternyata kita tadi di serang untuk mengalihkan perhatian kita pada den Kinan..." jawab Arum khawatir.
"Maksud elo....?" tanya Keti tak mengerti
"Den Kinan di culik dan sekarang Bos Nia sedang menuju kesana..." kata Arum menjelaskan.
__ADS_1
"Apaaa...di culik...?" seru Keti terkejut.
"Iya..dan gue harus mengabari ini ketuan Bara..." seru Arum khawatir sekaligus takut. takut akan amarah Bara pada mereka berdua . Arum segera mengambil ponselnya dan menelfon Bara.
Namun saat Bara di telfon beberapa kali tidak di angkat. terpaksa Arum menelfon Dika. Dika yang sedang mengikuti rapat bersama Anton dan Bara . Dika merasakan getaran ponselnya , dia segera keluar ruangan untuk menerima telfon itu.
"Asalamualaikum..." sapa Dika pelan .
""Waalaikum salam tuan, tuan ini Arum tuan...." seru Arum .
"Ada apa Rum kenapa kau menelfon aku..?" tanya Dika kesal.
"Maaf soalnya telfon tuan Bara tidak di angkat..." kata Arum meminta maaf.
"Ada apa...?" tanya Dika lagi.
"Gawat tuan..den Kinan di culik dan nyonya Kania sekarang menuju ketempat penculiknya...." kata Arum dengan nada panik.
"Apaaa....di culik ..?dan kakak ipar pergi kesana...? dengan siapa...?" tanya Dika ikut panik.
"Sendirian tuan...katanya demi keselamatan tuan muda Kinan, nyonya harus datang kesana sendirian..Bos Nia hanya bilang agar tuan Bara melacak ponsel milik nyonya Kania , ..." mata Arum meniru omongan Kania.
"Gawat...kalau begitu Gue akan bilang sama kak Bara dulu. kau langsung kemarkas kumpulkan semua anggota, nanti gue kasih tahu langkah selanjutnya gue mau ngomong sama kak Bara..." kata Dika panik.
"Baik tuan..." Dika langsung menghampiri Bara yabg sedang berbicara dengan klien dari Amerika.
Dika membisikka. keadaan Kinan dan Kania yang membuat Bara terlonjak kaget.
"Apaaa....! mereka di culik...?" seru Bara kaget .
"Yang di culik Kinan Kak ...dan kakak ipar pergi kesana sendirian... sepertinya mereka mengincar Kakak ipar...?" lapor Dika.
"Maaf..." tanpa banyak bicara Bara segera berlari keluar menuju mobilnya dan di ikuti Dika yang berlari mengejar. sedang Anton meminta maaf pada klien mereka dam segera menyusul Bara dan Dika yang sudah pergi lebih dahulu. untunglah klien mereka memakluminya.
"Kak...kata kakak ipar kita bisa melacak ponsel kak ipar..." kata Dika mengingatkan.
"Bodoh...kenapa baru kau ingatkan aku.." kata Bara marah.
"Habis kakak langsung lari tadi..." kata Dika lagi. Bara segera membuka ponselnya dan melacak keberadaan Kania.
Ketika dia masuk kedalam ternyata keadaan di dalam terlihat sepi.
"Hey...di mana kalian...?" seru Kania dengan nada marah. dia melihat keadaan di sana sangat sepi. insting keahliannya bekerja. dia merasakan ada beberapa pasang mata menatap kepadanya. perlahan Kania berbicara dalam hati.
"Kek...apa kakek mendengar panggilan Kania...?" kata Kania dalam hati.
"Kek..." panggil Kania lagi.
"Tenang ***...kakek bersamamu..." sebuah suara bergema di hati Kania. dan Kaniapun merasa tenang.
"Waspadalah ***... ada beberapa orang berada di sini...." kata suara itu lagi.
Kaniapun semakin waspada.
"Keluarlah...aku tahu kalian ada di sini... atau apa aku harus memaksa kalian. untuk keluar...? dan Kau yang berbaju coklat yang berada di balik pintu keluarlah....!"teriak Kania dengan keras .
Ternyata gertakan dari Kania membuat orang yang berada di sana terkejut.
"Gila...wanita itu ternyata mengetahui keberadaan kita..." seru salah satu orang yang sedang mengepung Kania.
"Waah...ternyata orang yang kita hadapi bukan sembarang orang.... baguslah kalau memang seperti itu..." seru seseorang yang tadi berada di balik pintu.
dan tak lama mereka yang mengepung Kania pada bermunculan.
"Di mana anakku...?" tanya Kania sambil menatap mereka satu persatu .
"Ha ha ha...jangan terburu- buru nyonya... gimana kalau kita main- main dahulu...?" kata pria itu sambil tersenyum licik.
"Aku tidak ingin main- main...cepat kembalikan anakku atau kalian akan merasakan akibatnya...." Kata Kania dingin.
"Nak...jangan khawatir, kakek buyut akan selalu bersamamu, namun kau tetap harus berhati- hati Kakek takut terjadi sesuatu pada cicit yang ada di dalam perutmu...." kata sang kakek buyut.
"Baik kek..." jawab Kania.
"Kalian masih tidak memberikan putraku...?" tanya Kania marah.
__ADS_1
"Ha ha ha...dasar wanita sombong, nyawa sudah di ujung tanduk masih saja terlihat sombong dan angkuh..." seru salah satu dari mereka.
"Hmm....dasar manusia serakah... kalian fikir aku takut dengan kalian yang begitu banyak...? dan apakah ini yang di katakan sikap seorang pria perkasa...? bisanya hanya melawan wanita yang sedang hamil..." ejek Kania sambil tersenyum sinis.
"Ha ha ha...sombong... kalau hanya menghadapimu saja , cukup hanya diriku yang akan menghadapimu..." kata pria tadi.
"Boleh...majulah...." tantang Kania dingin
"Wanita sombong terimalah kematianmu...!" seru pria berbaju hitam yang sejak tadi berbicara. dia segera menyerang Kania dengan sebuah pisau di tangannya. untunglah saat ini Kania memakai baju dan celana leging yang membuat gerakannya tidak terbatasi. tadi sebenarnya Kania akan melakukan. senam yoga, setelah itu akan sedikit melatih ilmu silatnya. namun teryata baju itu membuat dia lebih bebas bergerak.
Ketika serangan datang. Kania seberapa menghindar dengan mudahnya. dan beberapa gerakan pria tadi sudah terkapar di lantai .
"Brengsek...ternyata wanita ini bukan sembarangan. kita harus secepatnya meringkus atau membunuh dia secepatnya. ayo kita maju bersama- sama..." kata pria berbaju coklat .
"Baik......" teriak mereka bersamaan.
Akhirnya ada enam orang maju bersama menghadapi Kania. seorang ibu hamil. mereka sudah tidak merasakan malu mengetahui kalau mereka mengeroyok ibu- ibu yang sedang hamil besar.
"Dasar pria - pria tak tahu diri..
majulah Kalian bersama- sama..." seru Kania sambil memasang kuda- kuda.
Tak berapa lama terlihat pertarungan Kania dengan mereka. dan satu persatu mereka pun dapat di kalahkan, dan saat Kania hampir menjatuhkan pria berbaju coklat tiba- tiba ada suara yang membuat gerakan Kania terhenti .
"Berhenti....jangan kau teruskan gerakanmu....!" teriak seorang wanita dari arah belakang Kania. Kaniapun akhirnya menahan tangannya yang akan meninju kepala pria tadi. Ketika Kania menatap kearah suara itu , terlihat dua wanita dengan membawa Kinan dan bik Siti.
"Kinan.....!" seru Kania dengan wajah cemas.
"Mama....hiks..hiks...hiks.." Seru Kinan dengan wajah sedih dan menangis .
"Dasar anak bodoh...dia itu bukan Mamamu, akulah mamamu bodoh...." seru Emilda marah. yach...dia Emilda bersama seorang wanita mudah yang terlihat cantik dan berperawakan bagai seorang model.
"Tidak...kau bukan Mama ku...aku tidak mempunyai Mama sepertimu... Mama Kanialah Mamaku....!" seru Kunan dengan marah.
Pkaaak....
"Dasar anak tolol...tak berguna...." seru Emilda marah sambil menampar Kinan.
"Aaaach...." seru Kinan kesakitan.
"Kinaaan...." teriak Kania kaget. dia melihat wajah Kinan yang memerah . dia ingin berlari mendekati Kinan ,
"Jangan mendekat...apa kau ingin peluruku bersarang di kepalanya...?" seru wanita yang bersama Emilda.
"Emildaaa...kau gila ya...Kinan itu putramu dan dia masih anak kecil kau tega memukulnya..." seru Kania marah. Kania tak bisa berkutik melihat ancaman wanita itu.
"Anak....? dia tidak mengakuiku ibu, itulah balasannya..., dan kau...wanita ja***g yang telah membuat anakku berlaku seperti itu..." kata Emilda dengan marah. sedang wanita di sebelah Emilda tersenyum sinis sambil menodongkan senjata di kepala Kinan dan itu membuat Kania tidak bisa berkutik lagi.
"Biadab...kalian hanya menginginkan gue kan...? lepaskan Kinan dan bik Siti..." kata Kania dengan datar .
"Ha ha ha... kamu tahu siapa aku,...? kuberitahu ya kenapa aku membencimu, kamu yang membuat saudara sepupuku Avanya masuk rumah sakit jiwa...." kata wanita itu dengan wajah sinis.
"Avanya....? apakah wanita yang ingin membunuh Kinan satu tahun yang lalu itu..?" tanya Kania heran .
"Mungkin.... tapi karena kalian sepupuku masuk rumah sakit..." kata wanita itu lagi.
"Lo...itu kan salah dia sendiri... kenapa kau lampiaskan pada kami...?" tanya Kania heran.
"Gara- gara kalian lah perusahaan paman bangkrut dan Avanya jadi gila..." jawab wanita itu dengan marah.
"Waah...itu kebodohan dia bukan masalah kami.... " jawab Kania cuek. dia berusaha mengulur waktu sampai pertolongan Bara datang.
"Persetan denganmu, sekarang aku ingin lihat kau juga menderita seperti Avanya kalau lihat anak kecil ini mati di depanmu.." serunya sambil mengarahkan pistol kembali kekepala Kinan.
"Tunggu... dia masih anak kecil belum tahu kehidupan ini, tolong kalau kau mau balas dendam kau langsung aja padaku bukan padanya, tolong lepaskan dia..." seru Kania ketakutan. dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Kinan jika pistol itu meledak di kepala Kinan.
"Ha ha ha... kau fikir aku bodoh.. aku ingin kau gila karena akan kehilangan dia. nach sekarang lihatlah ini..." wanita itu mengarahkan pistol kekeoala Kinan.
Door.....
"Aaahc....." tiba- tiba terdengar suara pistol berbunyi dan teriakan kesakitan. bik Siti yang melihat itu berteriak histeris.
"Den Kinaaan....." seru bik Siti sambil menangis histeris..
Maaf bersabung dulu ya... dan maaf author agak telat habis ada sesuatu yang harus author kerjakan.
__ADS_1
jangan lupa like dan komen serta votenya author tunggu.