
"Lalu gimana kelanjutan hubungan kalian...?" tanya sang Papa sambil memandang mereka berdua yang sudah duduk di hadapan mereka.
"Kalau Bara sich pingin cepat- cepat menikah Ma...tapi Bundanya Kinan tidak mau, malah dia tak ingin hubungan kami di ketahui orang banyak..." keluh Bara sambil menatap gadis yang sangat dia cintai itu. Nyonya Rani kaget mendengar perkataan Bara kalau Kania tak ingin orang pada tahu kalau dia mempunyai hubungan dengan Bara dan dia calon istri Bara. Baru kali ini nyonya Rani mendengar itu, karena setahu dia banyak gadis- gadis cantik dan kaya berusaha memikat hati Bara. mereka akan bangga jika menjadi wanita yang amat Bara cintai. Tapi gadis ini dia malah nggak ingin orang lain tahu hubungan mereka.
"Apa benar nak kau tak ingin mereka mengetahui hubungan kalian...? Apa kau malu orang mengetahui hubungan kalian karena Bara seorang duda...?"tanya Nyonya Rani dengan mengerutkan dahinya.
"Bukan Ma, Pa... Kania melakukan itu karena Kania takut mereka mencemooh Papa Kinan yang mau menikahi gadis biasa, lagian Kania juga takut mereka mengira Kania mau memanfaatkan Kekayaan keluarga Dirgantara saja. Seperti tadi bukankah mama sempat berfikir begitu kan... Kania hanya ingin sedikit meminta waktu agar Kania bisa sedikit lebih sepadan berdiri di sebelah Papa Kinan Ma..." kata Kania langsung .
"Benar juga kata Kania Bar... jika mereka tahu hubungan kalian saat ini di fikiran mereka pasti seperti itu. Contohnya tadi pada mamamu, bukankah mamamu sempat meragukan ketulusan Kania...?" kata sang Papa membenarkan fikiran Kania.
"Benar juga katamu nak.... Maafkan Mama yang sempat meragukan ketulusanmu...." kata sang Mama .
"Nggak masalah Ma... Kania menyadari itu jadi Mama nggak perlu minta maaf pada Kania, sebab Kania sudah memaafkan Mama sejak tadi..." jawab Kania sambil tersenyum tulus. Senyum itu membuat kedua orang tua Bara sampai terpesona melihatnya.
"Tapi Pa , Ma Bara tak ingin jauh dari Kania Pa.. Bara nggak sanggup berjauhan dari dia Pa ...karena Bara tak ingin kehilangan dia lagi..." seru Bara cemas.
"Ya ampun kak.... Sekalinya kakak jatuh cinta kenapa jadi bucin begini sich..." seru Dika gemas.
"Diam Kau....!" hardik Bara pada Dika sambil matanya melotot garang.
Dikapun terdiam takut melihat kemarahan sang Kakak. Walau di dalam hati Dika mentertawaka sang kakak. kedua orang tua Bara hanya bisa geleng- geleng kepala melihat tingkah sang putra yang terlihat sangat ketakutan gadisnya pergi dari dia lagi.
"Trus mau kamu gimana Bar...?" tanya sang Papa sambil menahan geli melihat sang anak yang sedang jatuh cinta dan tak ingin berpisah dengan sang gadis.
"Maunya Bara , Kania dan Bara menikah secara diam- diam aja Pa... Setelah Kania sudah mewujudkan keinginannya baru kita menggelas pestanya Pa, Ma.." kata Bara menjelaskan . Bara ingin segera mengikat Kania dalam suatu hubungan yang membuat Kania seutuhnya menjadi miliknya
"Bagus juga ide kamu, tapi Kania mau nggak melaksanakan keinginanmu itu...?" tanya tuan Mahesa menatap pada Kania.
"Sayang..bukankah kau sudah melihat Papa dan Mama metestui kita, jadi please mau ya kita melaksanakan pernikahan secepatnya....?" bujuk Bara sambil berjongkok di depan Kania. Kedua orang tuanya dan Dika sampai melongo melihat tingkah si kutub utara jadi bucin seperti itu.
"Papa, ...apa- apaan ini, ayo bangun jangan seperti ini Pa..." seru Kania bingung, dia malu melihat Bara yang seperti itu di depan kedua orang tuanya.
"Tidak, Papa nggak akan bangun kalau Bunda belum menjawab..." ancam Bara.
'Ist ..dasar si tukang ngancem, jadi gue kan yang serbah salah..kalau gue nolak nggak enak ake nyak dan babenya, dasar...( teriak kania dalam hati)
"Baiklah Kania setuju ide Papa Kinan. Tapi janji Papa harus di tepati..." kata Kania menyerah.
"Beneran Bun..." teriak Bara.
"Iya..." jawab Kania pasrah.
"Trimakasih sayang....kau memang yang terbaik..." seru Bara sambil memeluk Kania. Namun dia segera di dorong Kinan.
"Papa... Jangan peluk- peluk Bunda... Ini Bunda Kinan, Papa nggak boleh peluk- peluk Bunda...." teriak Kinan sambil mendorong Bara. Kontan Saja kedua orang tua Bara dan Dika tertawa melihat tingkah Bara dan Kinan yang saling berebut Kania.
"Ya ampun...kenapa kalian berdua berebut Kania, ...." seru sang Mama.
"Ma...siapa yang nggak akan sayang sama Kania Ma, andai Kania Dika temukan lebih dahulu pasti tak akan pernah Dika berikan pada kakak..." seru Dika pada sang Mama.
"Dasar adik nggak sopan jangan kau katakan kalau kau juga jatuh cinta pada kakak iparmu...?" tanya sang Papa.
"Siapa yang tak akan jatuh cinta dengan Kania Pa, sebenarnya Kania sudah kerja di perusahaan Dika setahun yang lalu tapi Dika nggak pernah bertemu dengannya. Memang sich Dika sering mendengar kalau ada karyawan yang jadi incaran dan rebutan banyak pria yang bekerja di kantor Dika, tapi pikir Dika itu cuma rumor aja, sampai saat terjadi tragedi penculikan Kinan hingga membuat Kania tertembak barulah Dika tahu kalau di kantor Dika emang ada gadis yang secantik dan selembut Kania tapi juga sangat ganas ketika melawan penjahat. Tapi Dika sudah telat karena dia adalah gadis yang di cari dan sangat di cintai oleh Kakak tersayangku. dengan terpaksa Dika mengalah karena siapa yang akan berani bersaing dengan macan gurun yang ganas ini..." kata Dika panjang kali lebar.
"Ha ha ha...jadi kau kalah set dengan kak Bara mu, kenapa nggak kau rebut aja Kania dari tangan kakakmu, nggak berani...." olok sang Papa.
"Yee siapa yang berani Pa..Dika nggak mati mudah Pa.. apalagi Dika belum menikah ...." jawab Dika sekenanya.
"Jadi kau jatuh cinta juga sama Kakak iparmu...?" tanya Bara sambil mendekati Dika, kontan saja Dika segera berdiri dan berlari menjauh.
"Itu dulu kak...kan sekarang udah enggak lagi..." teriak Dika sambil berlari ke arah sang Papa mencari perlindungan. Kania melihat tingkah mereka tak bisa menahan tawa. Begitu juga dengan kedua orang tua mereka. Tak lama bik Siti memberitahukan makanan yang di siapkan oleh chef Gio Sudah siap, akhirnya mereka melangkah menuju ruang makan. Saat makan bersama Kania dengan telaten mengambilkan makanan buat Kinan, tak lupa Bara pun meminta di ladeni. Nyonya Rani melihat itu semua menjadi gembira.ternyata pilihan sang putra tidak mengecewakan. Walau gadis itu sangatlah cantik dan anggun tapi dia terlihat sopan dan berbudi luhur. Merekapun menikmati masakan yang dibuat chef Gio dengan tenang .
Di tengah- tengah mereka menikmati makan yang tersedia tiba- tiba terdengar seseorang berteriak memanggil Bara dengan nada manja.
"Kak Bara.." teriak seorang gadis berlari kearah Bara sambil ingin memeluknya.
Namun dengan sigap Bara menepis tangan yang terulur itu. Terlihat kemarahan di wajah putihnya.
"Kau gila ya...." teriak Bara keras. Kania ingat kalau Bara nggak bisa di sentuh wanita lain selain sang Mama dan Kania. Begitupun dengan sang Mama dan Papa yang kaget mendengar teriakan Bara.
"Cih...kaka Bara... Berta Kangen tahu.." teriak gadis itu ketika Bara menepis tangannya dam berteriak padanya.
"Siapa yang suruh kamu mau memelukku, lancang...." seru Bara dingin seketika hawa dingin menyebar diruang makan. Terlihat tubuh Bara bergetar.
"Berta...kau itu ya... Kenapa kau tinggalin Mama di luar..." seorang wanita paruhbaya masuk kedalam ruang makan dengan memakai makeup tebal seperti sang putri.
"Untuk apa kalian di sini cepat pergi..." teriak Bara yang Wajahnya memerah
"Ada apa ini...?" tanya Mama sang gadis yang tak tahu apa yang sedang terjadi.
Kania yang sudah cemas melihat keadaan Bara segera ber pamitan pada nyonya Rani. Begitupun dengan Dika dia segera mendekati Bara dan Kania. Kania segera berpamitan pada kedua orang tua Bara untuk membawa Bara kekamarnya
__ADS_1
"Tuan , nyonya saya akan membawa Tuan Bara kekamarnya..." pamit Kania.
"Bawalah nak... Dika bantu Kania membawa Bara..." kata pak Mahesa. Dika segera memapah Bara yang terlihat masih bergetar. Sedang Kania membawa Kinan dalam gendongannya. Mereka berjalan kearah kamar Bara.
"Ketika sampai di sana Kania membuka pintu kamar Bara. Mereka membawa masuk Bara dam menidurkannya. Namun Bara malah memeluk Kania yang membantu merebahkan tubuhnya.
"Bun jangan pergi..." bisik Bara dengan gemetar.
"Iya Bunda nggak kemana - mana..." jawab Kania lembut.
.
Sedang di lantai bawah terlihat nyonya Rani sedang menahan marah berkata pada Berta dan mamanya.
"Apa kalian ada kepentingan denganku..?" tanya Nyonya Rani dengan wajah penuh kemarahan.
"Tante, kenapa dengan kak Bara....?" tanya Berta dengan nada takut.
"Bukankah sudah kubilang jangan pernah menyentuh Bara..." seru Nyonya Rani marah.
"Tapi kenapa pelayan tadi bisa dan boleh menyentuh kak Bara...?" tanya Berta kembali. Dia merasa tak rela kenapa gadis yang hanya seorang pembantu boleh memegang Bara, sedang dia yang seorang gadis kaya dan calon istri Bara kenapa tidak di perbolehkan menyentuhnya.
"Karena Bara sudah terbiasa dengan gadis itu..." kata pak Mahesa dengan wajah sinis.
"Bukankah seharusnya diriku yang lebih berhak merawat dan berada di sisih kaka Bara..." protes Berta dengan nada kesal .
"Daru mana kau beranggapan kalau kau lebih berhak berada di sisih anakku dari pada gadis itu..." kata tuan Mahesa kesal.
"Karena Berta calon istri kak Bara..." jawab Berta dengan angkuhnya.
"Siapa yang bilang kau calon istri Bara...?" kata nyonya Rani kesal.
"Tante... Papa dan Mama bilang kau telah menyetujui perjodohanku dengan kak Bara..." kata Berta dengan nada ragu.
"Siapa yang menyetujui perjodohanmu denganku, dasar wanita tak tahu malu.." tiba- tiba suara bariton terdengar dari arah tangga. keempat orang itu melihat kearah suara yang terdengar. terlihat Bara dan Kania sedang menuruni tangga ,
"Kak Bara..." seru Berta bahagia, dia ingin berlari kearah Bara, namun suara Bara mencegah perbuatannya.
"Stop..jangan kau teruskan langkahmu.." teriak Bara.
"Kenapa Kak...? seharusnya aku yang berada di sisihmu bukan gadis j***ng itu..." seru Berta marah.
"Karena kau calon suamiku..." seru Berta angkuh.
"Dasar wanita tak tahu malu, aku nggak pernah menginginkan kamu jadi istriku.." kata Bara sinis.
"Tapi aku mencintaimu kak... akulah yang lebih berhak di sisihmu dari pada pembantumu itu ..." teriak Berta
"Siapa yang kau maksud pembantuku.?" teriak Bara semakin marah .
"Sayang sabar kau harus menahan diriku ingat kita akan menikah kan..." kata Kania pada Bara perlahan. dia berharap dengan mengucapkan itu akan membuat Bara tenang ,
"Tentu saja dia...gadis yang ada di sebelahmu itu..." kata Berta marah.
"Dasar gadis tak tahu malu, (umpat Bara) Ma... tolong suruh keluar mereka.." kata Bara pada sang Mama , karena Bara tahu kalau wanita yang bersama gadis itu adalah teman sang Mama. dia tak ingin bertindak terlalu arogan padanya. Bara segera melangkahkan kakinya kearah taman bersama Kania.
"Tunggu dulu kak Bara..." seru Berta ingin mengejar Bara.
"Jangan sok akrab, aku tidak suka berdekatan dengan wanita..." kata Bara sinis sambil berlalu dari hadapan mereka.
"Nyonya ,Tuan..saya undur diri..." kata Kania pada Mama dan Papa Bara.
"Pergilah..." jawab Tuan Mahesa datar. Ada kemarahan dalam suaranya karena gangguan Berta dan nyonya Rosi. Begitupun dengan nyonya Rani.
"Hey kau...tidak semudah itu kau pergi dari sini..." teriak Berta mencegah Kania yang akan keluar mengikuti Bara.
"Cukup Berta...jangan kau ganggu lagi mereka..." seru nyonya Rani mencegah Berta mendekati Kania yang sedang berjalan di belakang Bara.
"Tapi Tante..." seru Berta tak terima .
"Jeng Rosi tolong kau bawa putri mu pulang , aku tak ingin putraku Bara semakin marah. Dan maaf Berta, tolong jangan ikut campur urusan kami.." kata nyonya Rani.
"Tapi tante, bukankah Berta calon istri kak Bara..." kata Berta dengan manja.
"Siapa yang bilang kau calon istri Bara..." tanya nyonya Rani datar.
"Berta mencintai kak Bara Tan.. Dan kata papa sebentar lagi Berta akan jadi istri kak Bara." kata Berta dengan yakin.
"Kalian salah, Bara sudah memiliki calon istri..jadi jangan berharap lagi bakal jadi istri Bara..." kata nyonya Rani dengan tegas.
"Tapi jeng bukankah kami sudah mengatakan pada jeng Rani dan tuan Mahesa kalau kami menginginkan nak Bara jadi suami Berta.." kata nyonya Rosi membantah.
__ADS_1
"Apakah kalian mendengar Kami mengatakan iya pada kalian , bukankah saat itu aku menegaska. kalau urusan ini adalah mutlak urusan anakku Bara.." kata tuan Mahesa sinis .
nyonya Rosi terlihat tak terima mendengar perkataan tuan Mahesa. karena dia sudah membayangkan menjadi besan orang nomer satu di negara ini.
"Aku minta segera kalian tinggalkan tempat ini, aku tak ingin Bara semakin mara jika kalian masih berada di tempat ini.." kata nyonya Rani mengusir nyonya Rosi dan Berta dengan tegas
"Baiklah jeng Rani kami pergi, maaf kami telah membuat keributan..." kata nyonya Rosi sedih.
"Nggak masalah jeng...dan tolong Berta hilangkan perasaanmu ingin menjadi istri Bara...karena Bara sudah memiliki calon istri..." kata nyonya Rani menegaskan
"Tapi Ma Berta mencintai kak Bara....." kata Berta dengan kesal. Karena dia tak ingin keluar dari rumah ini. Rumah yang dia pikir akan menjadi miliknya kelak.
"Sudahlah Berta kita pulang, kau bukan calon istri tuan Bara ....'kata nyonya Rosi sambil menarik keluar putrinya dari rumah Bara.
"Mama aku nggak mau pulang..." kata Berta memberontak.
"Bodoh...kita bicarakan lagi di rumah bersama Papamu..." kata nyonya Rosi perlahan. merekapun keluar dari rumah Bara.
Sedang di taman terlihat Kania , Bara dam Dika sedang berbincang- bincang.
"Pa... Ini Bunda bukan cemburu ya, cuman Bunda pingin tahu aja, sebenarnya cewek tadi siapa sich Pa..?" tanya Kania penasaran. Sifat keponya keluar.
"Dia putri rekan Bisnis Papa. Papanya pingin menjodohkan putrinya denganku. Tapi aku sudah sejak pertama kali bertemu dengannya aku sudah menolak dia, tapi dianya aja yang kepedean merasa kalau dia calon istriku.." jawab Bara.
"Emang Papa ngasih harapan atau bersikap terlalu baik padanya...?" tanya Kania.
"Nggak pernah, Jangankan bersikap baik aku malah sering ilfil kalau dia mendekatiku. Kau tahu kan kalau aku di dekati seorang cewek seperti kejadian tadi, bisa- bisanya dia meau memeluk tubuhku...." Kata Bara dengan nada marah.
"Tapi kenapa Papa kalau dengan Kania sejak kita ketemu dulu itu nggak terjadi apapun...?' tanya Kania heran.
"Entahlah sayang... Aku juga merasa heran, saat kau menolongku dulu , aku tak merasa ketakutan ,jijik atau apapun , malah aku merasakan kedamaian dan ketentraman bilah dekat dengan Bunda..." jawab Bara.
"Benar juga apa katamu kak, ketika kau bertemu dengan Kakak ipar aku tak melihat wajah takut maupun jijik malah yang kulihat kau terlalu bucin pada kakak ipar..." goda Dika.
"Biar saja kau bilang bucin atau apapun, memang aku sangat mencintai kakak iparmu. Seandainya aku tidak mencintai kakak iparmu mungkin kamu yang bucin padanya...." ejek Bara.
"He he he..mungkin juga sich..." kata Dika sambil tertawa masam.
"Oh ya kakak ipar bukankah besok hari senin sesi foto untuk pembuatan Poster..?"" tanya Dika.
"Iya Bos..." jawab Kania.
"Jangan panggil dia Bos kalau lagi bersama keluarga. Panggil saja dia Dika. Kau itu kakak iparnya..." tegur Bara sambil mengusap lembut rambut Kania.
"Baiklah..." jawab Kania.
"Kak janganlah kau umbar kemesraan di depanku kasihanilah aku yang masih jomblo ini..." kata Dika memelas .
"Makanya cari juga seorang kekasih.." kata Bara datar.
"Yee..emang gampang...?" sungut Dika.
"Ya udah.. Gimana kabar apartemen kakak iparmu...?" tanya Bara.
"Sudah selesai kak, kakak ipar sudah bisa menempatinya..." jawab Dika.
"Sayang kapan kau akan menempati apartemen mu...?" tanya Bara.
"Besok sesi foto, tidak sampai dua minggu akan dimulai syuting adegan film nya. Gimana kalau tiga hari lagi aku mulai pindah kesana...?" tanya Kania pada kedua Bos itu.
"Sayang kok cepat banget...?" tanya Bara.
"Bukankah minggu depan aku mulai sibuk pa...?" jawab Kania.
"Trus pernikahan kita...?" tanya Bara lagi.
"Ingat Pa.. Papa belum melamar Kania kerumah Paman Asep lo..." kata Kania mengingatkan.
"Ya Tuhan...aku hampir melupakan. acara itu, baiklah nanti aku rundingkan dengan Mama dan Papa.." jawab Bara.
"Kak...tugas apa yang mesti ku lakukan..?" tanya Dika.
"Tugasmu selesaikan dulu mengisi perabotan di aparteman kakak iparmu.." jawab Bara.
"Baiklah tugas itu pasti aku selesaikan dengan baik..." jawab Dika.
Karena hari sudah menjelang siang Kania mengajak Kinan untuk kembali kedalam rumah.
Bersambung lagi ya...besok aku lanjutin jangan lupa like dan komentarnya ya...
Kutunggu selalu
__ADS_1