
Teriakan bik Siti menggema di dalam ruangan yang kotor itu. Namun bersamaan dengan teriakan bik Siti terlihat beberapa orang mendobrak pintu yang terkunci masuk kedalam ruangan.
Sedang di tengah ruangan terlihat wanita yang tadi menyandera Kinan terjatuh dengan tangan yang patah. Sedang di depan Kinan terlihat Kania yang terkapar bermandikan darah.
"Mamaaa....." teriak Kinan sambil memeluk Kania yang telah roboh di lantai.
"Nyonya..." seru bik Siti terkejut. Teryata peluru bukan mengenai Kinan tetapi mengenai Kania. Saat pistol hampir merenggut nyawa Kinan, Kania berlari sekuat tenaga dan menendang dengan keras tangan yang memegang pistol bersamaan pelatuk pistol di tekan, tendangan Kania membuat arah pestol melenceng dan mengenai Kania yang sudah memeluk Kinan. sedang tangan wanita itu patah karena tendangan Kania.
"Ma....." terdengar serian seseorang yang baru masuk kedalam ruangan. Teryata dia Bara. Bara masuk kedalam ruangan bersama beberapa anak buahnya dan juga dua pengawal Kania. Melihat sang istri jatuh bersiba darah , Bara berlari dan memeluk Kania.
"Papa....Kinan....." kata Kania lemah .
"Kinan selamat sayang...sekarang kita kerumah sakit dulu ya....." jawab Bara dengan wajah cemas.
"Ma...mama....hiks...hiks...hiks..." tangis Kinan yang melihat Kania terbaring lemah.
"Syukurlah k..ka..u..se.lamat ...Nak..." ucap Kania terbatah- batah dan tiba- tiba Kania jatuh pingsan.
"Dikaaaa....cepat siapkan mobilnya...!" teriak Bara panik.
Dia segera mengangkat Kania dan berlari keluar sambil menggendon Kania. Dika yang baru masuk kedalam ruangan segera kembali berlari masuk kedalam mobil ketika melihat sang Kakak sedang berjalan dengan cepat sambil membawa Kania yang bersiba darah, Setelah melihat Bara dan Kania masuk kedalam mobil ,dengan segera Dika membawa mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit .
Kinan berteriak dan menangis keras ingin menyusul Kania.
"Mama....Mama Kania....hiks...hiks... hiks ...Mama jangan tinggalkan Kinan " seru Kinan sambil menangis keras.
"Den..Ayo ikut tante...kita pergi kerumah sakit menyusul Mama..." kata Arum membujuk.
Kinan pun segera mengangguk dan berjalan mengikuti Arum dan Keti serta bik Siti menuju mobil Kania yang terparkir di halaman gudang tua itu. Sedang tadi Arum dan Keti ikut rombongan para pengawal Bara. Ketika sampai di mobil Arum berkata.
"Tunggu sebentar gue mau pamit sama tuan Anton..." kata Arum sambil memasukkan Kinan dan memberikan pada bik Siti yang sudah berada di dalam mobil. Arum segera berjalan masuk kedalam gudang kembali.
Di sana dia melihat Anton dan para bodyguard yang sudah membekuk para penjahat termasuk Emilda dan wanita itu. Namun terlihat tangan wanita itu terluka parah.
"Tuan...saya membawa mobil Bos Kania dan Kinan pulang lebih dulu..." pamit Arum pada Anton.
"Pulanglah ...kalau bisa Kinan langsung kau bawa pulang lebih dahulu. Biar nanti atau besok saja dia kalian bawa kerumah sakit..." kata Anton dengan wajah sedih.
"Baik tuan, kalau begitu kami pulang dulu, Asalamualaikum..." pamit Arum .
"Waalaikum salam..." jawab Anton.
Anton kembali menangani para oenculik itu. Sedang Arum segera berjalan kembali ke mobil untuk segera membawa Kinan kembali kerumah.
Sedang Bara yang terlihat sangat cemas membawa Kania yang penuh darah di tubuhnya menuju kerumah sakit . terlihat wajah Bara yang sedih meneteskan air mata.
"Sayang ....tahan dulu ya...sebentar lagi kita akan sampai...." kata Bara yang memangku Kania di dalam mobil.
"Dika...apakah kau tidak bisa lebih cepat lagi...?" kata Bara dengan kesal.
"Kak...ini sudah kecepatan penuh Kak..." seru Dika , dia juga merasa cemas melihat keadaan Kania.
" Sebentar lagi kita sampai kak..." kata Dika menghibur. Namun memang benar. Karena Dika membawa mobil dengan kencang maka tak berapa lama mereka telah sampai di parkiran rumah sakit . Ketika melihat mobil Bara datang para medis yang telah mendapat kabar telah bersiap dengan segala peralatannya. Dan mereka segera membawa Kania keruangan ICU. Kania segera menerima pertolongan dengan cepat. Dan dokter Sandy pun juga sudah berada di antara para dokter yang menangani Kania. Setelah melihat luka Kania yang teryata cukup parah. Para dokter memutuskan harus mengoperasi Kania. Ternyata peluru bersarang di dekat jantung Kania. Peluru itu hampir mengenai jantung Kania. Untuk itu Kania harus melakukan pengangkatan Bayi yang dia Kandung lebih dahulu. Sandy segera keluar menemui Bara. dan ketika melihat Sandy, Bara segera menghampiri.
"Gimana istriku Sand....?" tanya Bara penuh kecemasan.
"Bara...Kania kritis, dia harus di operasi..." kata Sandy yang keluar dari ruang IGD. Bara yang mendengar itu menjadi lemas. Tak terasa air matanya mengalir.
"Sand...tolong istri dan anakku..." kata Bara pada Sandy.
"Baik... Tapi kalau kami harus memilih siapa yang harus kami selamatkan lebih dahulu...." tanya Anton dengan wajah sedih.
"Istriku..." jwab Bara cepat.
"Baiklah.... tapi aku berjanji akan berusaha menyelamatkan mereka berdua.." janji Sandy pada sang sahabat . Dia segera melangkah kedalam ruang IGD untuk menyiapkan Kania masuk kedalam ruang operasi.
Ketika sampai di dalam dia segera menyiapkan Kania masuk keruang operasi. Dengan cepat tim Dokter segera membawa Kania kedalam ruang operasi. Saat operasi akan di mulai Tiba- tiba Kania tersadar .
"Dokter apakah saya akan di operasi...?" tanya Kania lemah.
"Benar Nia...." jawab Sandy..
"Andai harus memilih...tolong selamatkan putraku..." kata Kania dengan wajah lemah.
__ADS_1
"Tapi Nia...." kata Sandy bingung.
"Please dokter....aku menginginkan putraku yang harus kau tolong, aku mohon.. ini permintaan pasien..." kata Kania memohon.
"Baiklah....semoga aku bisa menyelamatkan kalian berdua..." jawab Sandy menghibur.
"Trimakasih dokter....." jawab Kania sambil tersenyum manis. Dan dia kembali jatuh pingsan.
Sedang Bara terlihat penuh kecemasan menantikan operasi itu. Dia mondar- mandir di depan ruang operasi.
Saat mendengar kecelakaan yang terjadi pada Kania , kehebohanpun kembali melanda keluarga Herlambang dan keluarga Dirgantara. Dengan hati cemas tuan Mahesa dan nyonya Rani mendatangi rumah sakit. Begitu juga dengan kedua orang tua Kania, mereka dengan wajah cemas juga datang ke rumah sakit, sampai- sampai nyonya Sinta menangis di dalam perjalanan.
Ketika tuan Mahesa dan nyonya Rani sampai di rumah sakit , mereka melihat Bara sedang berada di depan ruang operasi , terlihat wajah Bara yang sudah merah karena terlalu banyak menangis. Tuan Mahesa dan nyonya Rani terkejut melihat keadaan Bara. Pria yang tak pernah mengeluarkan air mata kini terlihat luyuh dengan mata merah dan bengkak. Saat tuan Mahesa mendekat ,Bara segera berlari dalam pelukan sang Papa.
"Papa... Jangan biarkan Kania pergi meninggalkan Bara Pa....Bara tidak sanggup kehilangan Kania Pa..." kata Bara yang kembali menangis dalam pelukan sang Papa.
"Bara...tabahlah nak....kita doakan agar istrimu mampu melewati ujian ini..." kata sang Papa sambil mengusap punggung Bara dengan penuh sayang. Tuan Mahesa tidak pernah melihat Bara seterpuruk seperti sekarang ini. Sekeras apapun masalah yang di hadapi, Bara tak pernah terlihat seputus asa seperti sekarang ini.
"Papa yakin menantu Papa akan kuat nak...." hibur sang Papa. Walau dalam hati tuan Mahesa merasa cemas . Sang Mama yang melihat keadaan Bara ikut menangis sambil memeluk Bara dari belakang.
"Sayang...kau harus kuat demi istrimu nak...." kata sang Mama.
Setelah agak lama dalam pelukan Mama dan Papanya Bara segera melepas pelukannya.
"Semua ini ulah si Emilda kembali Pa... Dia menculik Kinan agar Kania terpancing dalam jebakan mereka...." kata Bawa marah.
"Apaa Emilda...? Dia tega menculik putranya sendiri demi keinginannya membunuh Kania...?" tanya tuan Mahesa tak percaya.
"Iya...dan demi menolong Kinan istriku kembali terkena peluru di dadanya..." kata Bara dengan wajah terluka .
"Keterlaluan wanita itu... Sekarang Papa nggak bisa lagi memaafkan dia Bara, Papa ingin dia menerima akibat dari segala tindakannya, di mana dia sekarang...?" kata tuan Mahesa dengan wajah sangat marah.
"Dia ada di dalam markas Bara Pa..." kata Bara datar.
"Dasar wanita tak bermoral...biar Papa akan kerumah si Malik Handoko , Papa akan memberitahukan perbuatan putri gilanya itu... Mana bisa seorang ibu tega membiarkan putranya jadi umpan demi keinginannya membunuh wanita yang dia benci... dasar wanita gila..." umpat tuan Mahesa dengan marah.
"Kapan hari Bara sudah memberitahukan semua itu pada Papa Malik Pa... Tapi untuk yang sekarang beliau belum tahu Pa..." kata Bara menjelaskan.
"Ma...Pa..." kata Bara menyambut kedua orang tua Kania. Dia segera memeluk tuan Setyo Hadi dan nyonya Sinta bergantian.
"Nak....gimana istrimu..." tanya nyonya Sinta lagi.
" Maafkan Bara Pa , Ma.. Bara tidak bisa menjaga Kania dengan baik , kini Dia masih di tangani di dalam Ma..." jawab Bara sedih. Nyonya Sinta kembali menangis .
"Ya Allah...selamatkan putri hamba..." seru nyonya Sinta sambil menangis dalam pelukan sang suami.
"Ma...sabarlah ma...kita berdoa agar Kania bisa sembuh...." kata tuan Setyo Hadi dengan memeluk sang istri.
Nyonya Sinta hanya bisa menangis sedih . Tak berapa lama lampu ruang operasi mati. Tak berapa lama terlihat dokter Sandy keluar dari ruang operasi. Bara yang melihat sang sahabat keluar segera berlari mendekat .
"Sandy gimana....?" serunya tak sabar.
"Alhamdulilah gue bisa menolong mereka berdua.... Dan Kini kau memiliki seorang putra lagi... "kata Sandy dengan wajah seperti masih ada beban di dalam hatinya.
"Alhamdulillah...." seru mereka bersama.
"Lalu kenapa wajahmu seperti itu...?" tanya Bara curiga.
"Kania masih dalam bahaya, Kania masih koma... Jika malam ini dia mampuh bertahan, maka dia akan selamat, jika tidak...." Sandy terdiam menatap sang sahaba. Bara mendengar perkataan Sandy terkejut. Bukan hanya Bara, kedua orang tuanya dan orang tua Kania tertegun mendengar perkataan Sandy.
"Apa maksudmu Sand....?" seru Bara panik.
"Berdoa lah sahabatku...semoga Kania bisa bertahan malam ini..." kata Bara dengan wajah sedih.
"Tidak....tidak Sand....itu tidak mungkin...!"seru Bara dengan cemas. Terlihat ketakutan dan kesedihan di mata Bara.
"Bersabarlah sobat.... Kita harus banyak- banyak berdoa agar Kania mampu bertahan...." jawab Sandy dengan wajah sedih . dia memeluk Bara yang terlihat kembali sedih .
Bara tak kuasa membendung kesedihannya, tanpa terasa air matanya jatuh dengan deras di pipinya. bukan hanya Bara, Mama dan Mama Kania menangis pula.
"Sand...boleh aku melihatnya...?" kata Bara dengan air mata masih jatuh berderai.
"Boleh...tapi tolong kau harus menahan kesedihanmu saat berada di dekatnya.." kata Sandy menasehati.
__ADS_1
"Iya aku tahu...." jawab Bara menahan kesedihan .
"Pergilah... Tapi ganti dulu bajumu dengan baju stiril...dan kalau tante dan Om mau melihat Kania, Tunggu saja sampai keadaannya stabil..." kata Sandy menasehati.
Bara segera berjalan keruang ganti baju bersama Sandy. Lalu dia masuk perlahan kedalam kamar ICU.
Dia melihat Kania yang sedang berbaring dengan wajah pucat.
Perlahan Bara mendekat, dia duduk di dekat brangka tempat Kania tidur .
"Ma.... Tolong bertahanlah Ma... Papa
Mohon Ma... Kami masih membutuhkan kehadiranmu di hidup kami Ma... Papa mohon....Papa nggak mungkin sanggup hidup tanpa kehadiran Mama di sisi Papa.." kata Bara sambil memegang tangan Kania.
"Papa tahu Mama pasti kuat, apakah kau tak ingin melihat putra kita...? Adik dari putramu Kinan...?" kata Bara sambil menciumi tangan Kania.
Dia menatap wajah cantik yang terlihat seperti sedang tidur nyenyak .
Sedang Kania yang berada di alam bawa sadarnya seperti berjalan di dalam kegelapan... dia tak menemukan secerca cahaya .
"Di mana ini....? apakah aku sudaj mati...? kenapa semuanya gelap.." batin Kania. Dia berjalan semampu yang dia bisa. Kania merasa dia berjalan sudah terlalu lama namun kegelapan masih dia rasakan, Kania tak perduli dia ingat Kinan, hingga akhirnya dia melihat seberkas cahaya ada di ujung sana. Kania segera berjalan cepat menuju cahaya tersebut. tak lama cahaya itu semakin besar . dan akhirnya Kania sampai di sebuah taman yang sangat luas, taman yang penuh dengan bunga- bunga nan indah.
"Di mana ini..." kata Kania sambil memandang hamparan bunga beraneka macam yang terlihat sangat indah.
"Apakah aku sudah mati....dan apakah ini di surga..." kata Kania berucap sendiri.
"Apa kabar cucuku...." sebuah suara mengejutkan Kania.
Kania segera mencari sumber suara tadi. Ketika dia membalikkan badannya terlihat seorang Kakek tua berjanggut berada beberapa langkah darinya.
"Kakek....apakah ini kakek buyut...?" tanya Kania pada sang kakek tua itu.
"Lo kamu kok sudah tahu ***..?".kata kakek tua itu.
"Jadi ini beneran Kakek buyut....?" kata Kania gembira.
"Benar ***....akulah kakek buyutmu..." kata sang kakek sambil tersenyum.
"Kek...apakah Kania sudah meninggal kek...?" tanya Kania lagi.
"Belum ***...Kau belum saatnya meninggalkan orang- orang yang kau cintai....kau masih dalam keadaan koma di dunia nak....?" kata Kakek dengan lembut.
"Kenapa Kania sampai di sini kek..." tanya Kania heran.
"Kakek yang sengaja membawamu kesini nak... Karena Kakek ingin mengajarimu sesuatu agar kamu tidak mudah di tindas mereka yang berniat jahat padamu, dan kamu kakek Harapkan bisa membantu mereka yang sangat membutuhkan perolongan ***..." jawab sang kakek.
"Lalu apa yang harus Kania lakukan kek...?" tanya Kania sambil memandang kakek tua yang berada di depannya .
"Tidak ada nak.... Sekarang duduklah kau di atas batu besar itu, pejamkan matamu dan rasakan apa yang akan terjadi nanti, dan kau harus bertahan..." jawab sang Kakek.
"Baik kek......" jawab Kania sambil berjalan kearah batu di tengah- tengah taman itu. Kania melakukan apa yang kakek buyut katakan. Dia mulai memejamkan matanya saat sudah duduk bersila di atas batu.
Sedang sang kakek buyut setelah melihat Kania duduk dia segera mendekat dan berdiri di depan Kania. Dia menaruh telunjuknya di kening Kania di antara kedua alis matanya. Perlahan terlihat cahaya keluar dari telunjuk sang kakek dan masuk kedalam kepala Kania. sedang Kania merasakan hawa yang panas menyerang kepalanya dan berjalan keseluruh tubuhnya . Kania bertahan dengan segala kekuatannya.
Sedang tubuh Kania yang ada di rumah sakit kini masih dalam keadaan koma, walau denyut nadi dan detak jantung berjalan dengan normal , namun Kania masih belum juga sadar dari komanya.
Bara dengan setia selalu berada di sisi Kania.
"Maa...sadarlah Ma...apa kau nggak merasa Rindu pada Papa Ma... kau tega ya menyiksa Papa...?" kata Bara dengan perasaan sedih. sudah hampir dua minggu Kania belum juga sadar. bukan hanya Bara yang sedih. namun seluruh keluarga , sahabat , dan orang- orang yang mencintai Kania . Setiap hari mereka datang melihat perkembangan kesehatan Kania walaupun hanya melihat dari luar ruang ICU. hanya Bara yang bisa masuk kedalam ruang Kania.
Sedang keadaan Emilda sangat mengenaskan, dia mendapatkan Siksaan dari Bara dan tuan Mahesa sebelum dia di serahkan pada pihak kepolusian. begitu juga dengan wanita itu, dia malah yang lebih para menerima siksaan dari Bara. diapun akhirnya menyesal ketika dia tahu kalau kesalahan yang sebenarnya ada pada Avanya. dua hari setelah Emilda di serahkan pada kepolisian, Emilda bertemu dengan sang Papa yang datang menjenguk bersama sang Mama .
"Papa, Mama...tolong Emil Pa...." seru Emilda yang bertemu dengan sang Papa dan Mama di sebuah ruangan khusus yang di jaga .
"Papa tidak bisa, dan tidak ingin menolongmu Mil... ini sudah menjadi resiko yang kau buat sendiri. bukankah Papa susah menasehatimu dan berbicara padamu...? tapi kau malah menantang peringatan Papa, kau tega membuat anakmu menderita, kau tega membuat dia menjadi umpan demi ingin membalas dendam pada orang yang sudah begitu sayang dan peduli pada putramu. itukah sifat seorang ibu Mil...? kau jahat, kau egois Mil, Papa fikir dulu itu karena kau masih mudah, tapi ternyata kau memang memiliki sifat tang sangat jelek Mil.. "kata tuan Malik dengan wajah duka dan kecewa.
"Cukup Pa...kalau Papa tidak mau menolongku, lebih baik Papa tinggalkan Emilda...!" teriak Emilda marah.
"Benar...Papa memang tidak ingin membantumu, Papa kemari hanya ingin melihat seorang ibu yang tega melihat kematian sang putra di depannya. Papa kecewa padamu Emilda... semoga kejadian ini dapat membuatmu menyadari kesalahanku..." kata tuan Malik sambil berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu, dan di ikuti oleh sang istri. nyonya Malik berhenti sejenak dan memandang sang anak dengan wajah kecewa dan sedih.
"Benar kata Papamu Mil...kau ternyata wanita egois, hingga mampu membuat seorang anak akan kau jadikan korban keegoisanmu..." kata sang Mama dingin dan berjalan meninggalkan Emilda sendiri. Sedang Emilda berteriak Marah menerima perlakuan kedua orang tuanya.
Bersambung dulu yan sobat... jangan lupa like , vote dan komennya gue tunggu.
__ADS_1