Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
101. Perasaan Aneh


__ADS_3

Setelah menempuh kurang lebih 20 menit lebih yang ditempuh oleh Nafeesa dengan mengendarai motornya. Dia sudah sampai di depan pagar sekolah dasar Pertiwi sekolahnya Daffa dan juga Dilara Aysila Aireen bertepatan dengan terbukanya pintu gerbang sekolah.


Daffa semakin mempercepat langkah kakinya saat melihat Maminya turun dari motornya, tapi langkahnya terhenti saat dia tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang yang sangat tinggi, tegap dan atletis yang ada dy depannya.


"Aahhh Mami!!" Pekiknya saat tubuhnya melayang dan terjatuh ke atas rumput.


Daffa meringis kesakitan saat pantatnya berhasil mendarat bebas di atas rumput hijau yang ada di sekitar area taman sekolah.


"Auh sakit!" Keluhnya saat berusaha mencoba untuk bangkit dari posisinya yang berselonjor kakinya di atas lantai.


Tapi, usahanya tidak membuahkan hasil yang maksimal karena dia kembali terjatuh lagi. Dia kembali merasakan perih dan sakit dibagian pahanya karena celananya sedikit robek saat terkena dengan kerikil.


Daffa terkejut saat ada seseorang yang jongkok di depannya dengan menyodorkan sebuah plaster obat. Daffa mengangkat wajahnya tepat di wajahnya orang itu.


"Ambillah! agar lukamu tidak bertambah parah dan untuk menghindari infeksi," tuturnya yang spontan membantu Daffa untuk memeriksa dan mengobati lukanya Daffa.


"Makasih banyak Pak," ucapnya dengan setulus hati.


"Kalau di dalam area sekolah jangan berlarian, kalau gitu kamu bisa terjatuh," pesannya orang itu.


"Makasih banyak Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi," balas Daffa dengan wajahnya yang malu karena sudah melakukan kesalahan.


"Ya Allah.. kenapa wajahnya dan matanya mengingatkan aku dengan seseorng, tapi siapa dan dimana aku sering melihat hal tersebut?" Batinnya Andra.


Andra datang ke sekolah putrinya karena Ara tidak mau pulang sekolah jika, bukan Papanya sendiri yang datang menjemputnya.


"Andai saja, papi masih hidup pasti aku sangat bahagia jika setiap hari diantar jemput," Daffa membatin.


"Bagaimana apa kamu bisa berdiri sendiri?" Tanyanya Andra yang melihat Daffa berupaya untuk berdiri.


Daffa menganggukkan kepalanya tanda dia sanggup untuk melakukannya.

__ADS_1


"Papa!!" Teriak Ara saat melihat Papanya yang berdiri di samping pintu ruangan kelasnya.


Ara keluar paling belakang karena dia yang paling lama menulis. Dia sangat pelan dan lambat jika menulis. Andra menolehkan kepalanya ke arah kedatangan putri tunggalnya. Dia tersenyum menyambut anaknya itu yang tersenyum penuh bahagia.


Nafasnya Ara ngos-ngosan saking kencangnya dia berlari. Ara melihat siapa orang yang berdiri di samping kiri papanya.


"Daffa!" cicitnya Ara yang baru menyadari jika anak kecil yang bersama dengan papanya adalah Daffa sahabat barunya yang selalu menemaninya ke manapun seharian ini perginya.


"Sayang, apa kamu mengenalnya?" Tanyanya Andra yang menatap ke arah anaknya.


"Iya Papa, kakak Daffa ini teman kelasnya Ara kebetulan Daffa teman satu mejanya dengan Ara," jelasnya Ara dengan panjang lebar.


Nafeesa sudah ingin masuk ke dalam untuk mencari putranya, tetapi hpnya tiba-tiba berdering sehingga langkahnya terpaksa terhenti. Dia kemudian mencari tempat yang sedikit aman dan tidak bising dari suara anak-anak sekolahan yang saling berlomba untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


"Kak Daffa kok celana sama bajunya kotor sekali? Apa yang terjadi padamu kakak?" Tanyanya Ara yang mulai dalam mode keponya.


Daffa segera membersihkan pakaian dan celana pendek merahnya itu yang terkena noda tanah dan debu.


"Ohh tidak apa-apa kok Ara, aku tidak sengaja tadi terjatuh mungkin karena tidak terlalu berhati-hati jadi jatuh deh," jelasnya Daffa dengan senyum tipisnya.


"Senyuman itu mirip sekali dengan senyumannya Papa, tapi kok bisa sangat mirip padahal kami tidak ada hubungan apa pun dengan bocah itu," Andra termenung dengan keheranan melihat senyum milik Daffa.


"Daffa jalan duluan yah Uncle, kebetulan Maminya Daffa sudah nungguin kepulangannya Daffa di depan," terangnya Daffa disertai dengan seulas senyumannya.


"Hati-hati dan maaf yah tadi Uncle tidak sengaja menabrak kamu," tuturnya Andra yang meminta maaf kepada Daffa.


Karena kesalahannya lah Daffa harus terjatuh dan mengalami luka kecil. Daffa berjalan meninggalkan mereka yang masih berdiri mematung menatap kepergian Daffa dari depan mereka. Andra dan Ara berjalan ke arah parkiran mobil untuk segera pulang ke rumahnya.


Andra berjalan tetapi pikirannya masih tertuju pada sosok anak laki-laki yang baru saja ditemuinya itu.


"Kenapa hati ini merasakan ada getaran yang aneh jika melihat senyuman dan wajahnya, aku merasa bentuk wajahnya mengingatkan aku dengan seseorng yang sangat aku rindukan, tapi masalahnya siapa orangnya," batin Andra yang penuh dengan pertanyaan yang muncul dari dalam kepalanya itu.

__ADS_1


Ara berjalan dengan sumringah yang selalu memperlihatkan senyuman termanisnya kepada semua orang yang berpapasan dengannya.


"Menurutnya papa, kakak Daffa itu anak yang baik enggak?" Tanyanya Ara yang berjalan sembari memegangi tangan kanan Papanya itu.


Andra sedikit tersentak terkejut saat Ara menegurnya dan mengajaknya berbicara. Dia melirik sekilas ke arah putrinya sebelum menjawab pertanyaan dari Ara.


"Seperti yang Papa lihat, ia teman yang baik dan sopan kalau menurut Papa sih kamu gak rugi berteman dengan dia," ujarnya Andra lalu menekan kunci otomatis mobilnya itu.


Andra membuka pintu yang berada di dekat tempat duduknya Ara lalu segera menggendong tubuh putrinya ke dalam mobilnya. Setelah memasang setbelt barulah dia menutup pintu lalu berlari kecil ke arah pintu mobil yang ada di sebelah kanan.


Mobil mereka sudah meninggalkan halaman sekolah Pertiwi menuju rumahnya. Andra terlebih dahulu sebelum kembali ke perusahaannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah hampir tiga jam tertunda.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Cinta dan Dendam...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...


...8. Hanya Sekedar Pengasuh...


...9. Ceo Pesakitan...

__ADS_1


...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....


__ADS_2