Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
36. Akad Nikah Yang Kedua


__ADS_3

Kehidupan Andra berbanding terbalik setelah ditinggal oleh dua istrinya, seolah-olah terombang-ambing dan terseok-seok setelah menceraikan Nafeesa. Perusahaannya sekarang di ujung tanduk, kehidupan rumah tangganya pun semakin berantakan saat ditinggal pergi oleh Lidya bersama dengan selingkuhannya.


Sudah seminggu ini, Andra tidak pernah keluar dari rumahnya. Bahkan sudah tidak pernah datang lagi ke kantornya untuk bekerja sehingga semakin memperparah kondisi Perusahaannya. Kejadian ini terdengar hingga ke telinga Ibu dan Ayahnya. Pak Handoko dan ibu Anna.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi pada hidup putraku Pa?, Ibu sangat menyesal telah menunda untuk mengusir dan menyuruh Andra untuk menceraikan Lidya Istri sirinya itu," ujarnya dengan terduduk di sofanya dengan tetesan air matanya.


"Sabar Bu, mau diapa lagi, ini sudah menjadi pilihan hidup Andra, sebagai orang tuanya kita harus terus memotivasi dan memberikan semangat kepada Andra untuk bangkit dari keterpurukan dan kesalahannya," balas Pak Handoko dengan memeluk tubuh istrinya dari samping.


"Bagaimana kalau hari ini kita berangkat ke Jakarta Pa, aku yakin Andra sangat sedih dan butuh perhatian dari kita," ucap Ibu Anna yang mengusulkan mereka untuk segera berangkat ke Ibu Kota Jakarta.


"Jangan menunda lagi, kita harus segera menemui putra kita, Ayah tidak mau terjadi sesuatu padanya," ujarnya Pak Handoko yang langsung menghubungi aplikasi tempat pemesanan tiket pesawat online.


Andra menghabiskan waktunya di dalam rumahnya terus, hanya terus merenungi dan hidup dalam penyesalannya. Dia ingin mencari Nafeesa dan membawanya pulang tapi, dirinya terlalu malu dan tidak tahu harus mencarinya di mana.


"Apa aku datang saja ke rumahnya, aku yakin pasti dia ada di sana," tuturnya lalu bangkit dari duduknya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah dua hari tidak mandi semenjak kepergian Lidya dari hidupnya.


Berbeda dengan yang terjadi di tempat lain, tepatnya di rumah Ibu Panti Asuhan yang beberapa bulan ini dia tempati. Nafeesa dan ibu Laila. Semua sibuk mengurus pernikahan keduanya Nafeesa yang rencananya hari ini akan berlangsung. Mereka hanya mengadakan akad nikah dengan sederhana tanpa mengundang tamu undangan dan akan dihadiri oleh beberapa orang keluarga inti saja.


"Naf, Ibu hanya ingin tahu apa semua keputusan ini sudah kamu pikirkan baik-baik nak? Ibu tidak ingin mereka hanya mempermainkan perasaanmu, dimana mereka adalah orang kaya dan berada," ucap Ibu Laila sembari menggenggam tangannya Nafeesa.


Nafeesa yang sudah berpakaian lengkap dengan gaun pengantin yang sudah menempel di tubuhnya dengan sangat indah dan pas di tubuhnya yang sudah berisi karena sudah hamil. Membalas perkataan dengan senyuman dihadapan Ibu Laila.

__ADS_1


"Insya Allah Mas Sakti pria yang baik Bu, keluarganya juga Naf yakin mereka juga baik, Naf minta tolong doakan saja yang terbaik untuk pernikahan Nafeesa, Bu," ujarnya yang tidak menjelaskan secara rinci maksud dari pernikahannya yang sebenarnya.


"Ibu harap dan berdoa semoga apa yang kamu katakan sesuai dengan apa yang kamu katakan Nak," ucapnya lalu memeluk tubuh Nafeesa ke dalam pelukannya.


Mereka meneteskan air matanya, antara bahagia dan sedih. Nafeesa pasti berharap jika Sakti dan Nyonya Dea nantinya akan memperlakukan mereka dengan baik. Ibu Laila ragu dan khawatir jika masa lalunya Nafeesa terulang kembali.


Beberapa saat kemudian rombongan Sakti dan keluarganya datang dengan iringan pengantin yang hanya tiga mobil saja. Hal ini permintaan dari Nafeesa yang hanya menginginkan pernikahan ini terbilang sederhana dan sakral. Nyonya Dea tidak hentinya mengucap syukur dan bahagia karena Nafeesa bersedia menikah dengan cucunya Sakti.


Pak penghulu sudah saling berhadapan dengan Sakti yang siap untuk mengucapkan kata ijab kabul.


"Saya nikahkan dan kawinkan Sakti Niel Perdana dengan Nafeesa Bazilah Afreen dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 24 Karat seberat 31 gram, 7juta uang dibayar tunai," ucap Pak penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nafeesa Bazilah Afreen dengan Mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Sakti dengan satu kali tarikan nafas dengan lantangnya yang membuat Nyonya Dea bisa bernafas lega.


"Alhamdulillah, kamu memang bukan putriku, tapi aku sangat menyayangiku dari sejak kecil hingga kamu dewasa walaupun kita tidak satu atap." Ibu Laila tak segan-segan meneteskan air matanya.


Berbagai ucapan doa restu dihaturkan oleh semua orang yang hadir di sana. Mereka sangat bahagia walaupun pernikahan terkesan tertutup dan terburu-buru, tapi suasana sakral dan kekeluargaan sangat lah kental.


Nafeesa segera mencium punggung tangan suaminya yang baru beberapa menit yang lalu mengucap ikrar sumpah janji suci pernikahan di depan orang-orang tersebut.


Setelah selesai akad nikah mereka menghabiskan waktunya berbincang-bincang sambil menikmati beberapa hidangan yang tersedia di atas meja. Semua masakan itu adalah hasil masakan dari tangannya Ibu Laila sendiri yang memang memiliki usaha katering.

__ADS_1


"Silahkan dicicipi makanannya, maaf cuma masakan rumahan Nyonya," ucap Ibu Laila yang merendah.


"Ibu, terlalu merendah, padahal semua cita rasa makanan yang ibu masak sangatlah enak dan lezat," balasnya dengan menikmati makanan yang sudah berada di atas piringnya.


"Syukur Alhamdulillah kalau Ibu suka, saya sangat bahagia dan tersanjung atas pujiannya Nyonya Dea," ujarnya dengan seulas senyumannya.


Beberapa saat kemudian, Nyonya Dea meminta ijin kepada Ibu Laila untuk membawa pulang Nafeesa," Ibu Laila mungkin ini hari terakhirnya Naf ada di sini, tapi tidak menutup kemungkinan jika sewaktu-waktu Nafeesa ingin berkunjung kerumahnya Ibu, tolong sambut mereka dengan baik yah Bu," pinta Nyonya Dea.


"Silahkan Nyonya, lagian itu pasti Nafeesa lakukan, karena seorang anak perempuan pasti akan hidup dan mengabdi pada suaminya kelak bukan lagi sama kami lagi," balas Ibu Laila.


"Syukurlah kalau gitu, aku sangat bahagia mendengarnya dan kalau seperti itu, kami harus pamit dan bersiap-siap ke kembali karena mereka akan melakukan bulan madu ke Jerman," terang Nyonya Dea.


"Naf, sebaiknya kamu pamitan dulu dengan Ibu Laila, karena kita akan segera berangkat ke Jerman setelah dari sini," Sakti menimpali perkataan dari Neneknya.


"Aku harus berbicara pada Sakti agar mereka beberapa bulan tinggal di Jerman dan nanti anak mereka besar baru balik ke Indonesia." Nyonya Dea menatap ke arah Ibu Laila dengan penuh senyuman yang tidak bisa terbaca makna dari senyumannya itu.


Suasana haru tercipta dari mereka, saat detik-detik perpisahan dari Bu Laila dengan Nafeesa.


"Maafkan Nafeesa yah Bu, jika selama ini banyak salah," ucap Nafeesa saat memeluk tubuh ibu Laila.


"Kamu sedikitpun tidak ada salah nak, Ibu yang seharusnya meminta maaf karena sudah merepotkanmu," ujar Ibu Laila.

__ADS_1


Setelah mereka pamitan, Nafeesa bersama suaminya segera berangkat ke Bandara karena akan berangkat ke Kota Berlin Jerman. Tempat tujuan bulan madu mereka.


__ADS_2