
Nafeesa segera memenuhi perintah dari Suaminya. Mereka berjalan ke tempat acara pelaksanaan aqiqah Baby twins D.
"Ya Allah… aku merasa perempuan yang paling bahagia di dunia ini, aku sudah jadi perempuan seutuhnya bisa melahirkan dan memiliki suami yang sangat baik dan perhatian," batin Nafeesa yang mengumbar senyumannya.
Hahahaha,"istriku memang pintar, tanpa harus repot-repot bekerja dan banting tulang aku sudah menikmati segala kemewahan yang diberikan oleh Dea istriku, keputusanku waktu itu untuk mengijinkan menikah dengan si tua Bangka itu berhasil."
Tawanya membahana mengisi seluruh pojok ruangan mewah tersebut sembari menikmati minuman berwarna yang beralkohol di dalam gelasnya. Ia lalu memutar gelasnya itu yang sudah tandas isinya.
Acara aqiqah yang dilaksanakan oleh Sakti beserta keluarganya di Washington DC berjalan sukses dan lancar. Banyak tamu yang berdatangan memenuhi undangan Sakti.
Mulai dari kalangan keluarga besar mereka sendiri, rekan bisnisnya, pejabat setempat bahkan ada beberapa artis yang menyempatkan waktunya untuk datang memenuhi undangan mereka. Ada yang rela datang dari dalam negeri hanya untuk melihat kemegahan acara tersebut.
Andra juga melaksanakan Aqiqahan putri semata wayangnya dengan cukup sederhana berbanding terbalik dengan yang dilakukan oleh Nyonya Dea.
Andra hanya melakukan syukuran, pengajian lalu mengundang beberapa ibu-ibu pengajian dan anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan.
Waktu terus berlalu, sudah enam tahun berlalu. Kondisi kesehatan Daffin juga sudah semakin membaik. Mereka masih menetap di Negeri Paman Sam.
Sehingga Sakti meminta ijin kepada Neneknya untuk kembali ke tanah air tercinta Indonesia.
Malam sebelum kepulangannya, Sakti tiba-tiba merasakan ada keanehan pada tubuhnya. Tapi, dia tidak memberitahukan kepada istrinya.
"Aaahhhh!!!" Pekiknya saat baru bangkit dari duduknya setelah menyelesaikan pekerjaannya sebelum kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Sakti memegang bagian dadanya yang terasa sesak.
"Ya Allah… setelah sekian lama kenapa baru kali setelah lima tahun lebih muncul lagi, aku pikir penyakitku sudah sembuh total," gumamnya yang kembali terduduk di kursi kebesarannya.
Sakti segera mencari botol obatnya yang selalu dia simpan di dalam laci meja kerjanya selama ini. Sebagai persiapan dan untuk jaga-jaga saja.
Daffa yang ingin bertemu dengan Papinya sebelum tidur, dia berlari ke arah ruang kerja Sakti. Dafa tidak akan bisa tertidur pulas jika Sakti tidak membacakan buku cerita dongeng untuknya.
Jika Sakti bepergian maka dia akan segera menelpon nomor hpnya Nafeesa. Seperti itu kebiasaan mereka setiap harinya. Sakti sama sekali tidak keberatan melakukan hal itu, walaupun Nyonya Dea sering komplen dan marah kalau beliau mengetahui hal tersebut. Tapi, berulang kali juga Sakti menentang dan melawan Neneknya itu.
Hanya satu yang dikatakan oleh Sakti biasanya," Sakti melakukan apa pun itu yang penting anak-anakku bahagia aku akan melakukan dan memenuhi permintaan mereka."
Dafa segera berlari ke arah dalam ruangan Papinya bersamaan dengan Sakti ingin meraih gelas yang berisi air putih. Ia kebetulan melihat hal tersebut, Dafa segera mengambil gelas tersebut lalu mengarahkan ke tangan Papinya.
Dafa mengelus punggung Sakti dengan pelan dan lembut. Dia melakukan hal itu seperti yang biasa dilakukan oleh Nafeesa jika, dia terbatuk dan setelah minum obat.
"Bagaimana apa Papi sudah baikan?" Tanyanya yang mulai kepo dan berdiri di depan Papinya.
"Alhamdulillah Papi sudah baik berkat Dafa yang mengelus punggung Papi," jawabnya yang berusaha menutupi rasa sakitnya di depan anak sambungnya itu.
Dafa spontan mengecup pipinya Sakti bagian kiri," Dafa sangat sayang Papi sampai kapan pun."
Sakti yang diperlakukan seperti itu sangat bahagia dan refleks meneteskan air matanya. Dafa menghapus jejak air mata Papinya dengan menggunakan jari mungilnya.
__ADS_1
"Hatinya Dafa memang sangat baik, Papi bangga padamu Nak, makasih banyak kalian sudah hadir di dalam hidupnya Papi," ujarnya sembari menarik tubuh putra sulungnya itu kedalam pelukannya.
Nafeesa tanpa sengaja mendengar perkataan terakhirnya Suami dan putranya. Dia bangga pada putranya yang sangat simpatik dan baik kepada siapa pun sedangkan Daffin dia lebih bersifat cuek dan pendiam di mana pun berada.
Tapi sifat Daffin lebih dewasa, tegas dan tetap perhatian pada keluarga intinya. Sifat Daffin sering kali mengingatkannya pada Andra mantan suaminya yang sangat mirip karakter mereka berdua.
...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
__ADS_1
...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......