Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
22. Kesedihan


__ADS_3

Mobil itu berhenti tepat di depannya lalu pintu mobil itu pun terbuka dan turunlah seorang pria dengan setelan jas lengkapnya yang berwarna abu-abu. Pria itu memakai kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Nafeesa masih berusaha untuk bangkit dari duduknya, tapi dia kembali hampir terduduk karena tiba-tiba rasa ngilu dan sakit dibagian mata kakinya. Dia berusaha untuk memegang sesuatu agar tidak terjatuh dan terduduk untuk kedua kalinya.


"Aaaaaaaaahhhhhh!!!!


Dia kembali berteriak saat tubuhnya hampir limbung ke atas aspal untuk kedua kalinya.


Suara cemprengnya kembali terdengar karena saking takutnya dia kembali terjatuh. Belum reda sakitnya di bagian bokongnya, jika kembali terjatuh pasti akan bertambah sakitnya.


Untung saja sebelum mendarat bebas, dia mendapat menjangkau suatu benda yang dijadikan sebagai pegangan tangannya, hingga tubuhnya terselamatkan.


Nafeesa menarik kuat ujung pakaian dari orang tersebut. Sehingga mau tidak mau orang itu memeluk pinggang ramping Nafeesa agar tidak terjatuh. Mereka saling berpelukan dan berpandangan satu sama lainnya.


Hingga klakson mobil mampu memecah keheningan yang terjadi di antara mereka. Nafeesa buru-buru melepas pegangan tangannya dari pria itu.


Nafeesa salah tingkah hingga dia refleks membersihkan seluruh pakaiannya. Sedangkan pria yang menolongnya sudah berjalan kembali ke dalam mobilnya tanpa menghiraukan Nafeesa lagi.


Mobil yang sedari tadi membunyikan klaksonnya, Supirnya sudah berdiri di hadapan Nafeesa dan tak bosan-bosannya meminta maaf.


"Maafkan saya Bu, saya sudah terlambat menjemput Ibu," ujarnya.


"Tidak apa-apa, ayo cepat aku hampir terlambat Pak," balasnya.


Nafeesa berjalan tertatih karena kakinya yang terkilir tadi belum sempat dia obati dan periksa bagian apanya yang lecet.


Mobilnya sudah meninggalkan Hotel Nusa Dua Bali yang penuh dengan kenangan. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya saat dia menatap ke arah bangunan Hotel itu.


Sesampainya di Airport Ngurah Rai, Nafeesa kembali berjalan tergesa-gesa karena lima menit lagi kapalnya sudah berangkat menuju ke Jakarta Bandara Soekarno Hatta.


Saking tergesa-gesanya hingga dompetnya terjatuh ke atas lantai Bandara karena dia lupa menarik resleting tas selempangnya sewaktu dia memberikan ongkos mobilnya ke pak supir ojek online itu.

__ADS_1


Nafasnya ngos-ngosan saking lelahnya berlarian dan untungnya dia masih punya waktu sehingga tidak terlambat masuk ke dalam pesawat.


"Syukur alhamdulillah, makasih banyak ya Allah aku tidak terlambat," ucapnya saat sudah duduk di dalam kursi pesawat.


Nafeesa duduk di dekat jendela pesawat jadi dia bebas untuk memandang ke arah awan. Pesawat sudah take off menuju Bandara internasional Soekarno Hatta.


Sebagian penumpang ada yang sudah terlelap dalam tidurnya, tetapi bagi Nafeesa sedikit pun tidak ada rasa kantuknya tergantikan dengan pikirannya yang tertuju pada perdebatannya dengan mantan suaminya yang berakhir dengan tamparan yang dilayangkan oleh tangannya ke pipi suaminya sendiri.


Dia sangat menyesali perbuatannya itu,dia sudah merasa sangat berdosa karena telah berlaku kasar pada suaminya sendiri. Ia tidak menyangka kalau dia dengan berani dan lancangnya menyakiti pria yang sangat dia cintai walaupun cintanya hingga mereka bercerai tidak terbalas sedikit pun.


"Ya Allah maafkanlah kesalahanku itu, aku tidak bermaksud sedikitpun untuk menampar Mas Andra, aku hanya reflek karena tidak terima dengan semua tuduhannya padaku."


Air matanya kembali menetes membasahi pipinya untuk kesekian kalinya.


"Maafkan dosa-dosaku ya Allah, aku sedikit pun tidak pernah berniat bahkan berfikiran untuk membalas semua perlakuan kasar suamiku."


Nafeesa sudah sesegukan, dia berusaha untuk menekan suaranya agar tidak kedengaran di telinga orang lain.


"Sabarkan hati ini dan kuatkan hatiku untuk menerima dan menjalani hidupku, dan maafkan atas segala kesalahan dan khilaf."


Sedangkan Lidya lagi bahagianya menjalin hubungan dengan kekasih barunya. Lidya sama sekali tidak peduli lagi dengan kepulangan Nafeesa dan Andra. Dia hanya fokus melakukan apapun agar dirinya segera hamil untuk mengikat Andra dan segera meminta untuk menceraikan istri pertamanya yaitu adik sepupu angkatnya sendiri.


Hari ini mereka kembali melakukan hubungan intim di dalam kamar pribadinya Andra bersama kekasih brondongnya Ardi. Mereka melakukan berulang kali dengan berbagai penetrasi hingga mereka mencapai puncak kenikmatan indahnya surga dunia.


Baru saja dia ingin mengistirahatkan tubuhnya, tetapi hpnya berdering. Lidya pun enggan untuk mengangkatnya.


"Huuu!! Siapa sih yang nelpon? ganggu saja!"


Lidya meraih hpnya yang tergeletak di atas meja nakas ranjangnya. Ke dua matanya melotot sedangkan mulutnya menganga saking terkejutnya melihat siapa orang yang menelponnya.


Ardi yang melihat reaksi dari kekasihnya itu langsung bertanya. Lidya segera memberikan isyarat kepada Ardi untuk segera diam dengan meletakkan jari telunjuk ke atas bibirnya.

__ADS_1


Ardi yang diperintahkan untuk diam segera tidak bersuara tapi tangannya kembali bergerilya di atas puncak bukit Himalaya.


Lidya sama sekali tidak mencegah apa yang dilakukan oleh Ardi.


"Iya Mas ada apa?" Tanyanya saat teleponnya sudah tersambung.


"Apa sih yang Kamu lakukan? Sedari tadi aku sudah hubungi nomor kamu tapi baru diangkat," ucap kesal Andra dibalik telponnya.


"Maaf Mas, mesin air di dalam kamar mandi macet jadi aku cek dan sekarang sudah ditangani oleh tukang servis yang baru saja aku telpon," kilahnya Lidya yang jago bersilat lidah.


Sedikit pun tidak ada rasa gugup yang dia rasakan di saat dia berbicara. Ardi tersenyum mendengar perkataan dari kekasihnya itu.


Lidya memberikan arahan kepada Ardi untuk segera memakai pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi berpura-pura sedang memperbaiki mesin air shower.


"Tunggu Lidya yah Mas, Lidya akan turun ke lantai bawah untuk bukain pintunya," terangnya.


"Jangan lama, aku ingin segera beristirahat capek soalnya," tuturnya sebelum menutup telponnya.


Lidya segera memakai pakaiannya dan merapikan keadaan kamarnya yang sedikit kacau gara-gara perbuatan mereka berdua yang melakukannya di atas lantai dimanapun mereka lakukan hingga di dapur pun tidak terlewatkan.


Lidya segera berjalan menuruni tangga dan sebelumnya mewanti-wanti Ardi untuk berakting agar hubungan mereka tidak ketahuan. Ardi hanya mengacungkan jempolnya ke arah Lidya.


Pintu pun terbuka, Andra sama sekali tidak menegur Lidya seperti biasanya yang selalu bermesraan tanpa kenal tempat. Lidya yang diperlakukan seperti hanya heran tetapi tidak mau ambil pusing. Dia sudah cukup bahagia bersama Ardi.


Lidya berjalan ke arah luar dan mencari keberadaan adik sepupunya sekaligus istri sah dari suaminya itu.


"Perempuan kampungan itu dimana, kok tidak ada, apa jangan-jangan sudah dicampakkan oleh Mas Andra? kalau gitu jalanku semakin terbuka lebar."


Lidya semakin sumringah jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan.


"Aku akan merayakan hal ini dengan Ardi brondong manisku."

__ADS_1


__ADS_2