Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
34. Yes or No


__ADS_3

"Tuan Muda pandangan matanya jangan kebelakang mulu dong, nyetirnya yang konsentrasi ke jalan saja, Nafeesa gak pergi ke mana-mana kok, eeehh maksudnya Nyonya Dea gitu," gurau Prita yang mengetahui jika Sakti sudah tertarik pada Nafeesa.


"Maksudnya Mbak?"sahut Nafeesa yang tidak mengerti dengan candaan dari Prita.


"Tidak apa-apa kok, ini Nyonya Dea entah kenapa pingsannya awet banget, sudah tiga jam lebih gak sadarkan diri," kilah Prita yang tersenyum licik ke arah Nyonya Dea.


"Awas loh Prita,kalau aku berhasil menikahkan mereka, aku akan potong gajimu." Nyonya Dea misruh-misruh yang jengah mendengar perkataan dari Prita.


"Semoga Nyonya Dea baik-baik saja, aku takut Nyonya Dea kenapa-kenapa gara-gara tadi…" ucapannya terpotong karena Sakti kembali memotong pembicaraannya.


"Maksud kamu apa? Apa jangan-jangan Nenek jatuh pingsan gara-gara kamu?" tanyanya Sakti yang menatap wajah Nafeesa dengan tatapan tajamnya.


"Bu-kan… bu-kan aku Tuan, tadi Nyonya Dea langsung pingsan saat aku ingin membuka pintu," jelasnya dengan raut wajahnya yang mulai panik hingga sedikit gagap saat berbicara.


Sakti tersenyum tipis melihat reaksi Nafeesa yang gugup gara-gara dia serang dengan pertanyaan yang seakan menyudutkannya.


"Terus kalau bukan kamu, apa dan kenapa nenekku pingsan di dalam kamarku?" Tanyanya yang kembali berpura-pura menginterogasi Nafeesa.


"Itu.. itu karena," ucapan Nafeesa terpotong dan tergagap kembali lalu terdiam sejenak.


"Apa aku berterus terang kepada Tuan Muda, tapi kalau gara-gara itu Nyonya Dea tambah sakit, sebaiknya aku diam saja." Nafeesa menatap dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.


"Kenapa kau diam saja? Kalau kamu diam itu sama saja kamu tidak secara langsung mengakui Kalau kamu lah alasan dibalik pingsannya nenekku," balas Sakti yang ingin kembali melihat reaksinya Nafeesa.


"Nyonya Dea menginginkan aku me-ni-kah dengan Tuan Muda," jawabnya dengan sedikit terbata.


"Terus apa yang kamu katakan pada Nenek?" Tanyanya Sakti yang ingin mengorek informasi langsung dari mulutnya Naf.

__ADS_1


Sakti masih fokus dengan jalan yang dilaluinya dengan kecepatan yang sangat rendah sehingga memudahkannya untuk berbincang-bincang dengan Nafeesa. Sedangkan Prita dan Nyonya Dea hanya terdiam menjadi pendengar dan sesekali Prita ikut menimpali pembicaraan mereka.


Nafeesa memandang ke arah Sakti sebelum berbicara,"aku belum bisa menjawabnya karena aku masih berstatus istri orang secara hukum," jawabnya yang langsung menundukkan kepalanya.


"Maksudnya secara hukum?"tanyanya Sakti yang semakin kepo dengan kehidupan pribadinya Naf.


"Aku belum mengurus ataupun menandatangani surat cerai kami," katanya yang masih memberikan minyak angin aromatherapy ke keningnya Nyonya Dea.


"Sudah dong diolesi minyak kayu putihnya, kulitku sudah panas." Tapi sayangnya perkataan itu hanya dia yang mendengarnya saja.


"Kenapa, kamu belum mengurusnya? Apa kamu masih ingin kembali dengan suamimu itu?" Tanya Sakti yang sedikit tidak suka melihat reaksi mimik wajahnya dari Nafeesa.


"Karena….," Lagi-lagi perkataannya terpotong karena mereka sudah sampai tepat di depan lobi Rumah Sakit.


Suster!!!" Teriak Sakti ke arah beberapa suster yang sedang berjaga di sekitar Lobby RS.


Beberapa perawat muncul dan berlari ke arah mereka dan sigap serta Lincah menaikan tubuhnya Nyonya Dea ke atas Ranjang rumah sakit IGD.


"Dokter, bagaimana dengan nenek, apa yang terjadi padanya?" Tanya Sakti yang sangat khawatir dengan kondisi neneknya.


Dokter menatap ke arah Nafeesa sebelum menjawab pertanyaan dari Sakti," Nenekmu hanya butuh istirahat yang cukup, dia sepertinya banyak mengalami tekanan batin dan terlalu banyak pikiran, jika dibiarkan seperti itu terus hingga berlarut-larut akibatnya bisa fatal untuk kesehatan nenekmu, Paman hanya minta tolong sama kalian untuk penuhi permintaannya.'


Nafeesa tidak menyangka jika gara-gara penolakannya hingga membuat seorang nenek yang menderita sakit karenanya. Sakti mengusap wajahnya gusar, dia tidak menduga kalau penolakannya untuk menikah dengan Nafeesa berujung dengan terbaringnya neneknya di rumah sakit.


"Makasih banyak Dok," ujarnya dengan wajahnya yang kebingungan bercampur dengan khawatir.


"Makasih banyak Paman, maaf sudah merepotkan," tutur Sakti.

__ADS_1


"Tante Dea ada-ada saja, demi melancarkan rencananya dia rela melakukan hal seperti ini." Dokter Aldi tersenyum tipis lalu meninggalkan Sakti dan Nafeesa yang terdiam mematung, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sakti dan Nafeesa segera masuk ke dalam ruangan IGD. Dia ingin melihat kondisi terakhir neneknya. Nafeesa semakin merasa bersalah atas keputusannya yang membuat Nyonya Dea jatuh sakit.


"Mungkin yang terbaik aku penuhi permintaan Nenek saja, aku tidak ingin melihat nenekku menderita hanya karena keegoisanku, dan kalau masalah itu aku yakin Nafeesa bisa menerima kekuranganku."


"Aku akan menyetujui permintaan dari Nyonya Dea, kasihan dengan Nyonya Dea, pasti hatinya sedih dan kecewa gara-gara ulahku."


Nyonya Dea yang baru saja sadar menolehkan kepalanya ke arah Sakti dan Nafeesa yang berjalan ke arahnya dia langsung tersenyum ke arah mereka.


"Semoga saja mereka bersedia menikah, jadi usahaku tidak sia-sia, tubuhku yang sudah dipenuhi dengan bau minyak kayu putih dengan segala macam merek akan membawa hikmah."


Sakti duduk di kursi yang berada di depannya Nyonya Dea lalu memegang tangan neneknya,"Nenek, Sakti akan memenuhi permintaan dari nenek apa pun itu, jadi Sakti mohon cepatlah sembuh,"ucapnya dengan mencium punggung tangan neneknya dengan penuh kasih sayang dan penyesalan.


Nyonya Dea tersenyum bahagia mendengar perkataan dari cucu tunggalnya itu," apa benar kamu setuju dengan semua yang Nenek inginkan?" Tanyanya yang melihat ke arah kedua bola matanya Sakti.


"Iya Nek, Sakti siap apa pun yang Nenek inginkan, insya Allah Sakti akan penuhi," balasnya dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Alhamdulillah, cucu Nenek memang yang terbaik, Nenek sangat bahagia mendengarnya sayang, kalau gitu persiapkanlah dirimu untuk menjadi suaminya Nafeesa sekaligus Papa dari calon anaknya Nafeesa," tutur Nyonya Dea yang kegirangan bukan main lalu menarik tangannya Naf bersama dengan tangannya Sakti.


"Tapi Nek, sepertinya Nenek terlalu cepat mengambil keputusan tanpa terlebih dahulu bertanya sebelumnya sama Naf, jangan sampai Naf keberatan dan menolak semua keinginan Nenek," terang Sakti sembari menatap ke arah Nafeesa dengan penuh harap.


Nafeesa masih ragu dan bimbang harus berbuat apa, dia masih takut jika pernikahannya kali ini masih seperti dulu lagi. Naf juga takut jika Sakti kelak tidak menerima kenyataan jika dirinya memiliki anak dari pria lain.


"Ayolah Naf, terima dan setuju untuk menikah denganku, aku juga ingin membalas budi baikmu dahulu yang menolongku dari gigitan anjing gila." Sakti menatap tak jemu ke arah Nafeesa.


"Nyonya Dea pasti sangat bahagia jika Nafeesa setuju menikah dengan Sakti,"gumam Prita yang langsung mendapat pelototan dari Nyonya Dea.

__ADS_1


Prita langsung menggelengkan kepalanya ke arah Nyonya Dea dengan mengangkat jarinya ke atas.


"Ya Allah… semoga pilihanku kali ini membawa kebahagiaan dan berkah untuk hidupku dan calon bayiku kelak." Nafeesa mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit itu di usianya yang baru empat bulan lebih itu.


__ADS_2