Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
14. Terpesona


__ADS_3

Menikah adalah separuh perjalanan ketaqwaan kepada Allah SWT dan bagian dari sunnah Rasulullah.


Burung-burung yang bertengger di atas pohon saling sahut-sahutan meramaikan pagi hari itu. Ayam berkokok pertanda pagi sudah datang.


Sang Raja Siang telah menampakkan cakrawalanya menyinari seluruh isi jagad raya menggantikan posisi dan kecantikannya Sang Dewi Malam.


Nafeesa terbangun dari tidurnya saat dia merasakan ada sesuatu benda berat yang menimpa perutnya yang hanya tertutupi selimut dan bedcover saja.


Nafeesa tersenyum melihat wajah polos suaminya. Diam-diam dia mengagumi pria yang sudah hampir setahun ini menjadi suaminya.


"Kamu sangat tampan pantas saja Mbak Lidya tergoda dan tergila-gila padamu Mas apalagi Kamu seorang CEO di Perusahaan yang cukup disegani di dalam negeri maupun hingga ke luar negeri."


Nafesa mengelus dengan lembut wajah Andra dengan penuh kasih sayang. Dia mengagumi hasil mahakarya Sang Maha Pencipta yang sungguh luar biasa semua ciptaannya.


"Andai di dalam sini namaku yang terukir akan bahagia hati ini, sangat bahagia bahkan hatiku akan melebihi kebahagiaan dari wanita lain."


Air matanya menetes saat mengatakan hal tersebut. Dia mengelus dada suaminya dengan diiringi deraian air matanya.


Sekuat apapun yang namanya hati seorang perempuan pasti juga akan merasakan jatuh sedalamnya dalam kesedihan.


"Ya Allah Engkau Maha Kuasa dari segalanya yang bisa mengatur dan merubah hati dan perasaannya suamiku, engkau maha pembolak balik perasaan umatMu."


Nafesa sudah mulai mencintai suaminya dengan setulus hatinya dan sudah bertekad untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk menjadi pendamping hidupnya Andra.


"Ya Allah semoga saja setelah ini tanggapannya Mas Andra berubah dan mulai bersikap lembut sama saya," senyumnya terpancar dari wajahnya yang semakin cantik saja.


Nafesa bangkit dari tidurnya lalu berjalan tertatih ke arah Toilet.


"Aaahhhh!!" Teriaknya saat dia mulai bergerak turun dari ranjang.

__ADS_1


"Kenapa belum reda juga sakitnya, aku pikir setelah tidur sakitnya sudah berangsur berkurang dan membaik," keluhnya yang memegang bagian sensitifnya.


Nafeesa berjalan dengan berpegangan pada tembok dan meja yang berdekatan dengan jalan ke Toilet.


Dia berendam di dalam bathtub dengan mengisi air hangat terlebih dahulu. Lalu dia masuk ke dalamnya untuk berendam agar sakitnya dirasakan bisa reda dan membuatnya sedikit lega dan bahagia.


Dia berendam beberapa menit lalu mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya. Dia keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar dan fresh. Rambutnya yang masih basah dan beberapa anak rambutnya meneteskan membasahi wajahnya yang ayu tanpa polesan make up sedikit pun.


Andra yang sudah terbangun sedari tadi diam-diam memperhatikan istrinya dengan sesekali melirik ke arah Nafeesa yang duduk di depan meja riasnya.


"Cantik." Cicitnya.


Kata itu yang mampu meluncur dari mulutnya. Nafesa menolehkan kepalanya ke arah tempat tidur karena tadi samar-samar mendengar suara seseorang yang berbicara.


Andra segera menutup matanya agar tidak ketahuan dengan apa yang dilakukannya. Dia kadang membuka matanya sedikit agar aktifitas yang dilakukan oleh Nafesa bisa terekam dengan jelas dimatanya.


Nafesa memakai pakaiannya sehingga seluruh tubuhnya dari atas hingga ke bawah terekspos dengan jelas di kedua matanya


Andra sampai tidak berkedip sedikit pun bahkan mulutnya menganga saking terpesonanya melihat body bak gitar Spanyol itu. Tubuhnya Nafesa yang kesehariannya tertutupi dengan pakaian yang besar dan longgar sehingga tidak nampak jelas bentuk tubuhnya dari orang lain.


Bahkan Andra sudah mulai membandingkan tubuhnya Istrinya dengan Lidya istri sirinya.


"Ternyata tubuhnya lebih molek dan bagus dibandingkan dengan tubuh Lidya yang entah kenapa aku mulai bosan melihatnya yang tidak seperti dulu lagi, akhir-akhir ini malah sering becek."


Nafesa melanjutkan untuk memoles wajahnya dengan sedikit make up minimalis yang membuat penampilannya berubah drastis.


Andra kembali dibuat tercengang dengan apa yang dilakukan oleh Nafeesa barusan.


"Kenapa wajahnya sangat cantik hanya memakai make up yang tidak setebal Lidya tapi sangat cantik dan menarik dipandang mata."

__ADS_1


Andra tanpa dia sadari sudah mulai memuji kecantikan dari Istrinya. Yang dulunya hanya hinaan dan caci maki yang dia dapatkan.


Andra sebenarnya pria yang baik tetapi sudah terlanjur terkontaminasi dengan sikap dan kepribadian jeleknya Lidya.


Sedangkan di Ibu Kota Jakarta, seorang baru terbangun dari tidurnya saat pagi harinya setelah Andra sudah melewati malam pertamanya di Denpasar. Dia bahkan melupakan saat dirinya tidak ikut bersama Andra dan Nafesa ke Pulau Dewata Bali.


"Baru kali ini tidurku terasa nyenyak, apa karena aku sangat lelah setelah membersihkan dapur yah?" Tanyanya yang kebingungan dengan apa yang dia rasakan.


Lidya meraih hpnya dan memeriksa dan betapa terkejutnya saat telah menyadari jika dia melewatkan keberangkatannya ke Bali bersama Andra.


"Tidakkkkk!!!!!"


Teriak Lidya yang sudah berfikiran negatif tentang keberangkatan Andra dengan Nafesah.


"Ini tidak boleh terjadi, aku harus segera menyusul mereka ke Bali, mereka tidak boleh tidur bareng jika hal itu terjadi pasti wanita kampungan itu bisa akan hamil."


Dia segera berlari ke arah dalam kamar mandi. Untuk segera membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap untuk segera menyusul mereka ke Bali.


Sedangkan Ibu Anna dan Pak Handoko sudah meninggalkan rumah milik Andra sesaat Lidya berteriak kencang.


Ibu Anna dan Pak Handoko tersenyum penuh kelicikan karena mengingat kejahilan istrinya tadi sebelum meninggalkan rumah pribadi anaknya.


Sebelum pergi, ibu Anna mematikan dan memutuskan sambungan air ke dalam kamar mandi Andra. Dan tidak lupa menguncinya rapat pintu kamar pribadinya Andra lalu membuang semua kunci tersebut ke jalan.


"Kunci ini cocoknya berada di atas jalan raya," terangnya saat melempar beberapa kunci rumah dan kamar putranya.


Pak Handoko hanya geleng-geleng kepala mengingat perbuatan istrinya yang cukup ekstrim itu.


Aku menyukai senja, karena ia seperti kamu, meski sebentar datang, namun hangatnya mampu memeluk hingga ke tulang.

__ADS_1


__ADS_2