Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
72. Sikap dan Perlakuan Yang Berbeda


__ADS_3

"Daffa, Daffin kita sudah sampai di rumah sayang, ayo bangun Nak apa kalian tidak ingin melihat Mami bahagia?" Tanyanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang saat membangunkan kedua anaknya.


Nafeesa menepuk pelan pipi chubby mereka yang masih terlelap dalam tidurnya padahal baru beberapa detik lalu mata keduanya terpejam. Daffa memilih tidur saat selesai main game, Daffin pun ikut menyusul kakaknya tertidur di dalam mobil.


Tapi berulang kali Nafeesa berusaha mencoba untuk membangunkan kedua putranya, tetapi tidak untuk bangun dari tidurnya dan sama sekali mereka tidak terusik dengan keributan dan kesibukan dari beberapa orang yang berlalu lalang mengangkat barang bawaannya.


"Mas ke dalam dulu untuk panggil maid untuk mengangkat barang-barang, kamu terus bangunin mereka yah," pinta Sakti lalu berjalan ke arah dalam rumahnya yang sudah terbuka dibantu oleh tukang kebunnya dan Security rumahnya.


"Maafkan kami Tuan Besar yang tidak tahu kalau kalian akan sampai hari ini dari luar negeri," sesal Pak Anwari selaku penjaga keamanan kediamannya sambil membantu mengangkat beberapa barang bawaannya Sakti.


"Tidak apa-apa kok Pak, ini juga kesalahan kami yang tidak memberikan kabar sebelumnya," ucap Sakti yang mengerti jika hal tersebut terjadi karena kesalahannya mereka yang memang merahasiakan kepulangan mereka.


"Pak bisa minta tolong digendong Anak saya?" Tanyanya Nafeesa yang meminta bantuannya pada tukang kebun dan security.


"Iya Nyonya kami bisa kok melakukannya," jawab mereka serentak.


Daffa segera digendong masuk kedalam rumah itu tapi tiba gilirannya Daffin yang mau digendong oleh Pak Anwar, tiba-tiba ada teriakan dari seseorang dengan suara yang cukup melengking tinggi hingga pandangan mereka spontan teralihkan ke sumber suara.


"Berhenti!!! Jangan sentuh cucu kesayangan ku," pekik Nyonya Dea.


Nyonya Dea, Prita dan beberapa pengawalan dari beberapa orang membuat perhatian mereka teralihkan. Mereka melihat Nyonya Dea.


"Jodi!! Angkat ke dalam cucuku dan kamu harus berhati-hati menggendongnya jangan sampai cucuku terjatuh atau lecet sedikit pun karena ulahmu," perintah Nyonya Dea yang jumawa dengan wajah sangarnya.


Wajah yang diperlihatkan oleh Nyonya Dea membuat mereka ketakutan jika nantinya mendapatkan hukuman dari Nyonya Besar mereka.

__ADS_1


"Baik Nyonya, perintah siap saya laksanakan," jawabnya sambil mengangkat dengan sangat pelan dan ekstrak berhati-hati.


Nafeesa yang berjalan ke arah depan mobilnya yang melihat kedatangan Neneknya segera menghampiri Nyonya Dea lalu meraih punggung tangannya Nyonya Dea.


Tapi, apa yang disangka oleh Nafeesa ternyata bakal akan jadi kenyataan. Nyonya Dea memperhatikan Sakti berada di mana. Setelah merasa aman Nyonya Dea segera menepis dengan kasar tangannya Nafeesa.


"Minggir?? jangan halangi jalanku di depan pintu," ucap Nyonya Dea dengan penuh amarahnya.


Wajahnya Nyonya Dea memancarkan kilatan kemarahan yang sedari tadi sejak kedatangannya. Dia ingin memarahi Nafeesa tapi, takut jika Sakti melihat apa yang dia lakukan.


Prita hanya melirik sekilas ke arah Nafeesa yang sedikit kecewa dengan perlakuan dari Nyonya Dea.


"Kasihan juga, orang yang tidak punya salah apa-apa diperlakukan seperti itu dan seharusnya dia lebih bersyukur dan berterima kasih kepada Nafeesa karena rela dan ikhlas menikahi pria impoten seperti cucunya itu," batin Prita yang memandang Nafeesa dengan iba dan kasihan.


Nyonya Dea meninggalkan Nafeesa yang berdiri kebingungan dan tidak menduga jika, dirinya mendapatkan perlakuan kasar dari nenek suaminya.


"Ya Allah… sabarkan aku dan kuatkan aku selalu yah Allah.,"


Ada setitik embun yang menetes dari sudut ekor pelupuk matanya itu. Dia secepatnya dia menghalau air matanya dengan cara mengusapnya agar tidak ada yang melihat dan mengetahui jika dia menangis tersedu-sedu.


"Kasihan yah Nyonya muda diperlakukan seperti itu?" Tanyanya Pak Anwar yang kebetulan melihat hal kejadian tersebut dengan kedua matanya.


"Iya Pak kasihan sekali, tapi ibu berharap Tuan Muda Sakti menyanyangi setulus hatinya untuk Nafeesa seorang.


"Jangan bicara dengan suara yang besar nanti ada yang mendengar dan melaporkan kepada Nyonya Dea apa yang kalian lakukan selama ini.

__ADS_1


"Betul sekali apa yang dikatakan olehmu, tapi menurut aku yah Nyonya Nafeesa itu sangat baik iya kan?" Tanyanya yang ikut menimpali pembicaraan mereka di belakang Tuan rumah.


"Hus.. hus sudah hentikan gosipnya lanjutkan untuk mengangkat barang-barang Nyonya dan Tuan nanti kita kena marah dan yang lebih parah dipecat dari sini," sahut Ibu Darma selaku kepala pembantu di rumah itu.


...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Cinta dan Dendam...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...


...8. Hanya Sekedar Pengasuh...


...9. Ceo Pesakitan...


...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......

__ADS_1


__ADS_2