Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
27. Hasil Tes


__ADS_3

"Heran dengan perintah orang nomor satu di Perusahaan, dia mau cari koki atau pelayan kantin sih?" mendumel dalam hatinya saat mendengar perintah dari atasannya yang memerintahkan untuk mengetes semua calon karyawan yang khusus ditempatkan di bagian kantin Perusahaan.


Nafeesa yang mendapatkan giliran segera maju ke meja dapur untuk melaksanakan tes yang diberikan untuknya. Nafeesa melihat bahan-bahan makanan yang ada di atas meja dapur yaitu ada nasi putih, ayam, telur, udang, cumi-cumi, bakso, sosis, tomat, timun, margarin,kecap,saus tomat dan teman-temannya.


"Hanya 5 menit waktunya dan harus masak makanan yang simple, enak lezat dan praktis," Nafeesa dengan seksama memperhatikan bahan-bahan tersebut.


Tangannya langsung segera memilih lalu mencuci semua bahan-bahan yang sudah dipilihnya. Dia dengan santai dan cekatan mengolah semua bahan tersebut.


Sedangkan di loby Perusahaan, bagian keamanan segera berjalan ke arah Pintu saat melihat siapa yang datang mengunjungi Perusahaan.


"Selamat siang Nyonya Besar," sapanya sembari menundukkan kepalanya dan membungkuk sedikit.


"Apa cucuku ada di ruangannya?" Tanyanya sambil melepaskan kacamata hitamnya yang terpasang di atas hidung mancung nan bangirnya.


"Tuan Muda ada Nyonya, sepertinya sedang memimpin rapat," jawabnya yang masih tidak berani menatap langsung junjungannya.


"Makasih banyak atas informasinya, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian," sembari mengibaskan tangannya ke arah dua Security itu.


"Makasih banyak Nyonya Besar," kedua Security mengangkat kepalanya saat dirasa Nenek pemilik perusahaan sudah berada jauh dari mereka.


Suara hentakan kakinya seirama dengan hentakan pentopel sepatunya. Wajahnya yang sedikit lebih muda dibandingkan dengan usianya. Kecantikannya malah tidak termakan usia. Dia adalah Nyonya Dea Larasati Perkasa. Istri kedua dari pemilik Perusahaan Perkasa tbk. Istri pertama dari Tuan Besar Perkasa tidak memiliki keturunan hingga memutuskan dan menganjurkan suaminya untuk menikahi perempuan yang dipilihnya untuk sang suami tercinta.


Dea Larasati Perkasa adalah seorang pegawai yang kebetulan bekerja di Perusahaan Perkasa. Karena Nyonya Maulida sudah mengetahui sifat dan karakter perangai calon istri kedua suaminya sehingga Dea lah yang memilihnya langsung. Hubungan mereka bahkan sampai sekarang seperti Kakak adik saja tidak ada pelakor diantara mereka.


"Menurut Nyonya apa rencana kali ini bakal berhasil?" Tanya perempuan yang berdiri sedari tadi dibelakangnya.


"Aku yakin cucuku itu pasti akan mendengarkan semua keinginanku," jawabnya dengan seulas senyuman yang manis.


"Semoga saja, Tuan Sakti orangnya keras kepala dan ini perjodohan yang kesekian kalinya direncanakan oleh Neneknya tetapi selalu gagal total." Prita mengingat kejadian beberapa minggu lalu saat seorang gadis pulang dalam keadaan menangis histeris karena ulah dari Sakti.

__ADS_1


Dia cekikikan ketika teringat kejadian itu, Nyonya Dea melirik ke arah Prita saat mendengar suara tertawa dari mulutnya Prita walaupun dia sudah menutup mulutnya, tetapi masih kedengaran hingga ke telinganya.


Mereka kembali berjalan ke arah ruangannya Sakti. Dengan langkah yang pasti hingga ke depan ruangan mewah itu. Bertepatan dengan seorang karyawan yang bekerja dibagian HRD membawa sebuah nampang yang berisi satu porsi makanan yang siap disantap.


Nyonya Dea yang melihatnya dan mencium wangi lezat dari makanan tersebut tak mampu mencegah bibirnya untuk bertanya tentang hal itu.


"Maaf ini apa dan mau dibawa kemana?" Tanyanya yang kebingungan sekaligus tertarik dengan benda yang berada di atas nampan.


"Ini makanan yang berhasil dimasak oleh beberapa calon karyawan yang akan bekerja di kantin," jawabnya.


"Ohh gitu, bawa masuk aku yang akan jadi orang yang akan memberikan nilai tes mereka," jelasnya lalu berjalan ke arah dalam ruangan cucunya.


Sakti yang mendengar pintu berdecit segera menghentikan sesaat aktifitasnya lalu melirik ke arah orang yang masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.


"Tolong letakkan semuanya di atas meja itu," perintahnya tanpa perduli dengan pemilik ruangan yang sedari tadi menatapnya.


"Makasih banyak," ucapnya singkat lalu melirik ke arah Prita agar pintu segera ditutup.


Prita yang mengerti arti dari tatapan matanya Nyonya Dea. Segera melaksanakan titah yang tidak terucapkan itu dengan penuh hati-hati agar tidak melakukan kesalahan sedikit pun.


Nyonya Dea melihat semua makanan itu dan pandangannya tertuju pada satu porsi nasi goreng yang masih mengepul asapnya dengan aroma wangi yang sangat lezat.


"Prita tolong ambilkan nasi goreng kecap itu," perintahnya sambil menunjuk ke arah nasi goreng tersebut.


Prita segera mengambil seporsi nasi goreng lengkap dengan krupuk serta peralatan makannya. Dengan pelan makanan itu diletakkan di depannya Nyonya Dea.


"Sakti apa kamu yang akan langsung memberikan penilaian atau Nenek saja yang menggantikanmu?" Tanyanya tanpa menoleh sedikit pun kearah Sakti yang memegang pulpennya.


Nyonya Dea mulai mencicipi satu persatu tapi semua makanan itu tidak ada satu pun yang membuatnya tersentuh dan tersenyum. Tidak lupa menuliskan nilai untuk beberapa masakan yang sudah dicicipinya itu.

__ADS_1


"Kenapa semuanya masak tidak karuan bagaimana caranya mereka bisa mengenyangkan perut para pekerja kalau gini," ujarnya.


Nyonya Dea sudah ingin berdiri, tetapi suara intrupsi dari Prita membuat berhenti, "Nyonya masih ada sepiring yang belum Nyonya coba," sembari mengulurkan piring ke depan Nyonya Dea.


Baru sekilas melihatnya tapi, Nyonya Dea sudah tertarik tanpa aba-aba dia langsung mencicipi makanan tersebut. Baru satu suapan pertama yang masuk ke dalam mulutnya tapi, raut wajahnya sudah nampak berubah tapi satupun dari yang hadir di dalam sana tidak ada yang mampu membacanya.


"Tolong panggil nomor 13, orang yang telah memasak makanan ini," perintahnya lalu kembali menikmati makanan tersebut.


Prita yang melihat tingkah laku Nyonya besar terkesan tidak mengerti dan keheranan karena tidak tahu dan tidak mengerti dengan jalan pikirannya Nyonya Dea. Apa dia menyukai makanan itu atau tidak suka.


"Prita apa kamu tidak mendengar perkataanku atau ucapan aku kurang jelas?" Tanyanya sembari menghentikan kunyahan makanannya lalu menatap ke arah Prita yang tersenyum cengengesan.


Prita segera berjalan ke arah ruangan tempat tes tersebut, "semoga saja Nyonya Dea tidak marah-marah kasihan sama orang itu kalau sampai kena marah."


"Kalau perempuan yang memasak ini aku akan jadikan sebagai calon istri dari cucuku dan kalau pria aku akan berikan bonus yang sangat besar," gumamnya.


Langkahnya semakin lebar karena takut jika dirinya kembali melakukan kesalahan lagi. Dia membuka pintu tersebut dengan hati-hati dan segera berjalan ke bagian HRD.


"Maaf menggangu, siapa diantara kalian yang bernomor tes 13? Harap ikut saya," terangnya lalu kembali meninggalkan ruangan tersebut.


Nafeesa yang melupakan nomor tesnya hanya terdiam bengong hingga dia tersadar saat bagian panitia menegurnya, "Kamu yang bernomor 13 kan, ikut dengan Nona Prita dan tolong cepatlah jalan nanti tidak keburu jalannya."


"Saya, baik pak," balasnya lalu melangkahkan kakinya mengikuti arah langkahnya menuju ruangan CEO Perusahaan Perkasa tbk.


Pintu itu kembali berdecit dan masuklah Prita disusul oleh Nafeesa dibelakangnya. Pria tersenyum kearah Nyonya Dea, "maaf Nyonya ini orangnya yang memasak nasi goreng itu," tuturnya.


Nyonya Dea melihat ke arah Nafeesa yang berdiri. Nafeesa yang hanya mengepang dua rambutnya dengan pakaian yang cukup longgar dan besar dari ukuran tubuhnya. Dari ujung kaki hingga ujung rambutnya Nyonya Dea yang perhatikan hingga tidak ada yang terlewatkan.


"Cantik walaupun penampilannya sedikit kampungan."

__ADS_1


__ADS_2