
"Ayah!! Ibu rasa ada teman ayah yang bekerja sebagai dokter jiwa yang sangat terkenal dan hebat, kalau tidak salah dia teman kuliah Ayah waktu di London Inggris?" Tanyanya Ibu Anna yang sedikit berteriak di hadapan suaminya saking bahagianya.
Pak Handoko berpikir sejenak mengingat siapa teman yang dimaksud oleh istrinya itu. Hingga wajahnya berbinar seketika itu saat Sudah bisa mengingat siapa orang yang dimaksudkan oleh istrinya itu.
"Ada Ayah ingat namanya Dokter Bertrand Lie," jawabnya yang sumringah karena menemukan solusi untuk menangani masalah kesehatan jiwa anaknya.
"Ayo ayah cepat hubungi nomor hpnya, jangan tunggu lebih lama lagi," cecar Ibu Anna di depan suaminya lalu menggoyang lengan suaminya.
"Sabar Bu, Ayah akan segera menelponnya, bantu doa agar kita bisa bertemu dengan beliau," harap Bu Anna sangat berharap agar mereka bisa berkonsultasi dengan Dokter Psikolog Betrand.
Pak Handoko segera menelpon nomor hpnya Betrand sahabat baiknya selama dulu dia kuliah di London Inggris.
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di dalam luar jangkauan silahkan tinggalkan pesan setelah nada bet berikut ini," ucap Tante Operator seluler yang menjawab panggilannya.
"Bagaimana Ayah hasilnya, apa Pak Dokter mengangkat telponnya?" Tanyanya Ibu Anna yang sudah tidak sabaran ingin mengetahui hasilnya bisa atau tidak.
Pak Handoko menatap ibu Anna terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Istrinya tersebut," nomornya tidak aktif," jawabnya lesu dengan wajah yang sendu.
"Jadi apa lagi yang harus kita lakukan Ayah?" Pekiknya yang sudah putus asa sekaligus prustasi menghadapi penyakit putranya yang tidak kunjung ada perubahan da kesembuhannya.
Ibu Anna mendudukkan tubuhnya di samping putranya yang sedari tadi hanya duduk terdiam membisu seribu bahasa tanpa ada niat untuk berbicara sedikit pun itu.
"Bagaimana kalau kita langsung datang ke rumahnya atau ke tempat prakteknya terlebih dahulu?" Tanyanya Pak Handoko kepada Istrinya tercinta.
Pak Handoko mendekati istrinya,lalu memeluknya dari samping berusaha untuk menenangkan pikirannya sendiri dan juga dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Jangan tunggu lama lagi Ayah, kita sebaiknya berangkat ke sana bersama Andra dan semoga sahabatnya Ayah masih adaedu Indonesia," tuturnya yang langsung berjalan ke arah lemari untuk mengambil tasnya lalu membantu putranya untuk mengganti pakaiannya tersebut.
"Ayah akan telpon supir untuk mengantar kita ke sana," ujar Pak Handoko lalu secepatnya menelpon nomor hpnya supir pribadinya.
Beberapa saat kemudian, pak supir sudah berada di dalam kamar tersebut. Mereka membawa Andra ke dalam mobil untuk membawanya ke rumah Sakit tempat praktek dokter Bertrand Lee.
"Ya Allah… semoga saja Bertrand ada di tempat kerjanya? Aku sudah tidak sanggup melihat putraku terus-menerus seperti mayat hidup saja," batinnya menjerit hingga air matanya menetes membasahi pipinya.
Pak Handoko merangkul erat istrinya agar lebih tenang dan sabar menghadapi segala cobaan hidup yang dialami oleh anaknya.
Tidak ada sebab tanpa akibat. Apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai. Cinta dan obsesi yang membutakan mata hatinya Andra hingga harus menanggung beban dan penderitaan dari pilihannya sendiri hidupnya sendiri.
Mobil mereka menyusuri jalan yang cukup padat siang hari itu. Pak Handoko dan Ibu Anna sangat berharap agar apa yang dilakukannya kali ini membuahkan hasil yang maksimal dan anaknya segera sembuh dan terbebas dari penyakitnya.
"Ayah apa ini Rumahnya?" Tanya Ibu Anna yang melihat serta mengamati bangunan rumah yang ada di depannya yang nampak sangat sepi itu.
"Ayah apa jangan-jangan temannya Ayah tidak ada? Kok sangat sepi yah?" Tanyanya ibu Anna yang masih mengederkan padangan matanya yang mampu dia lihat kedalam halaman rumah mewah yang bercat serba putih tulang itu.
"Ayah akan turun untuk memeriksanya,agar kita tahu apa ada orang atau tidak," terang Pak Handoko yang kemudian membuka pintu mobilnya.
"Hati-hati Ayah," ujar Ibu Anna.
Baru sekitar tiga langkah, tubuh seseorang muncul tiba-tiba dari arah balik pintu gerbang yang menjulang tinggi itu.
"Assalamualaikum, maaf Pak cari siapa yah?" Tanyanya pada Pak Handoko.
__ADS_1
Sedangkan Pak Handoko yang mendengar seruan dari Security tersebut tersentak terkejut saking kagetnya dengan suara bapak tersebut. Pak Handoko mengatur nafasnya yang memburu akibat dari responnya yang cepat tadi.
"Waalaikum salam Pak, maaf mau tanya, pemilik rumah ini dokter Bertrand kan?" Tanyanya yang melihat kedalam rumah bak istana itu.
"Maaf anda siapa dan kenapa mencari Tuan Besar?" Tanyanya yang bertanya balik kehadapan Pak Handoko.
"Saya teman kuliahnya dulu di Inggris dan kebetulan saya sangat butuh bantuannya Tuan Besar sekarang juga kalau beliau ada di dalam," jelas Pak Handoko.
"Maaf pak Tuan besar sudah lama tinggal di Berlin Jerman sekitar satu tahun yang lalu dan beliau belum pernah kembali lagi ke Jakarta," tutur Pak Security.
"Ya Allah… kenapa kami sulit sekali untuk bertemu dengannya ?" Batinnya yang sangat sedih dengan kegagalan mereka yang kedua kalinya.
...Mampir dong dinovelku yang lain dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
__ADS_1
...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......