
Pak Ruslan jongkok di hadapan pusara itu lalu menyentuh batu nisan itu sambil membaca do'a untuk kebaikan dan keselamatan Sakti dengan deraian air matanya.
Beliau sudah menganggap Sakti sebagai putranya sendiri. Sehingga kehilangan itu sangat dia rasakan.
"Maafkan Paman yang tidak bisa menjagamu dengan baik dan terlambat mengatakan Kejujuran dan kebenaran itu agar kamu selalu senantiasa untuk berjaga dari kejahatannya," lirih Pak Ruslan yang menyeka air matanya yang sedari tadi menetes membasahi pipinya.
Sedangkan suasana nampak masih seperti sebelumnya dan biasanya yang terjadi di dalam rumah sakit. Lalu lalang dokter, suster dan beberapa perawat membawa beberapa pasien yang membutuhkan bantuan penanganan dan proses tindakan pengobatan.
Aida dan Aimah betapa terkejutnya saat salah satu temannya mengabarkan bahwa jenazah Tuan Muda Sakti sudah dikebumikan di makam di tempat pemakaman umum.
"Ini tidak mungkin!! Apa yang terjadi sebenarnya kenapa mereka tidak ada yang menunggu Nyonya Muda sadar terlebih dahulu?" Tanyanya Aida yang sedikit shock dengan informasi yang baru didengarnya itu.
Aimah yang menjadi pendengar setia sedari tadi ikut esmosi mendengar hal tersebut. Kenyataan yang barusan terjadi membuat mereka tidak menyangka jika Nyonya Dea tega berbuat seperti itu.
"Apa kamu bilang!? Jadi ada otak dalang dibalik semua tragedi kecelakaan maut yang menimpa Tuan Muda?" Tanyanya yang sudah berdiri dan berjalan menjauh dari tempatnya Nafeesa tertidur pulas dalam pingsannya.
Aida kaget dan tidak menyangka jika ada seseorang yang sengaja melakukan semua ini.
"Oke makasih banyak informasinya," ucap Aida lalu segera mematikan telponnya itu.
Aimah melihat perubahan dari raut wajahnya Aida. Dan ikut penasaran dengan hal tersebut.
"Jadi mulai detik ini kita harus berhati-hati dengan banyak kemungkinan besar yang mungkin akan terjadi kedepannya," terangnya Aida setelah mematikan sambungan teleponnya.
"Apa kamu tahu siapa pelaku kejahatan ini semu" tanyanya Aimah yang penasaran.
"Kecilkan suaramu jangan sampai ada yang mendengar perkataan kita dan dampaknya akan berbahaya tentunya untuk kita juga," ujarnya Aida lalu celingak-celinguk melihat ke sekelilingnya.
__ADS_1
"Betul sekali apa yang kamu katakan tembok saja punya telinga, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya Nyonya Muda setelah kematian Sakti?" Tanyanya Aimah yang membuat Nafeesa kembali berteriak histeris.
"Itu tidak mungkin!!! Pasti kalian telah keliru dan salah dengar?!" Teriak histeris Nafeesa dibarengi dengan raungannya serta sedikit mulai mengamuk.
Aida dan Aimah segera berjalan tergesa-gesa ke arah Nafeesa untuk mencoba menenangkan Nafeesa.
"Nyonya kami mohon sabarlah, ini semua sudah takdir dari Tuhan Yang Maha Pencipta, aku yakin ini yang terbaik untuk Tuan Muda Sakti," bujuk Aida yang berusaha menenangkan Nafeesa dengan bujukannya.
"Iya Nyonya,kami mohon jangan seperti ini kami sangat sedih dan juga terpukul atas musibah yang merenggut nyawa Tuan Muda Sakti," sahut Aida yang memegang tangannya Nafeesa yang ingin melukai dirinya sendiri.
"Aida kamu pergi panggil dokter kalau seperti ini terus kasihan dengan Nyonya Muda," ucap Aimah yang meminta tolong kepada Aida untuk memanggil perawat agar segera memeriksa kondisi kesehatan jiwa dan psikisnya Nafeesa.
Masih di sekitar area tempat pemakaman umum, Daffa dan Daffin histeris meraung-raung menangisi kepergian Papinya.
"Papi jangan tinggalin Daffa, siapa lagi yang akan membacakan buku cerita untukku sebelum tidur?" Tanyanya Daffa dengan lelehan air matanya yang mengalir deras.
Pak Ruslan semakin terenyuh hatinya dan tersentuh melihat kondisi kedua anak sambungnya Sakti.
"Daffa!! Daffin kalian harus sabar dan banyak berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan Papi Sakti di alam kubur, jangan menangis seperti ini nak kasihan Papi kalau kalian terus menerus meratapi kepergian papi kalian," terang Pak Ruslan yang berusaha memberikan nasehat kepada dua bocah itu.
Nyonya Dea yang melihat hal itu segera bertindak. Dia tidak menyukai saat Daffin memaksa mereka untuk ikut serta ke tempat pemakaman.
"Daffin!! Ayo kita pulang kamu tidak boleh terus-menerus berada di sini," sarkas Nyonya Dea lalu menarik tangan kecilnya Daffin dengan paksa.
Daffa yang melihat hal tersebut segera menarik tangan adiknya.
"Nenek!! Lepaskan tangannya adikku kalau seperti ini Nenek sama saja menyakiti adikku," tutur Daffa.
__ADS_1
Nyonya Dea menatap jengah ke arah Daffa," kamu masih kecil kamu tidak tahu apa-apa dan diamlah karena kamu tidak ada hubungannya dengan Daffin dan aku lagi, kamu bukanlah cucuku tapi hanya Daffin seorang!" Ujar Nyonya Dea dengan tega berkata seperti itu.
Beberapa orang yang masih kebetulan ada di sana terkejut setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Nyonya Dea. Mereka saling berbisik dan bertatapan dengan keheranan.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
...9. Ceo Pesakitan...
...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
__ADS_1