
Sakti kemudian meninggalkan kamar twins D. Dengan perasaan haru bercampur sedih, bahagia dalam hatinya.
Sakti berulang kali beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT karena telah berdosa.
Tapi,Sakti selalu menanamkan pada dirinya sendiri agar tidak kufur nikmat. Dia berpikir jika dibandingkan dengan nasib dan rezeki yang diberikan oleh orang lain untuknya pasti, kehidupannya lebih baik dan beruntung dibandingkan dengan orang lain di luar sana.
Beberapa jam kemudian, pesawat yang ditumpangi mereka berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno Hatta.
"Alhamdulillah, kita sampai juga dengan selamat, setelah sekian lama akhirnya aku bisa kembali menghirup udara segar tanah kelahiranku," gumam Nafeesa yang lalu merentangkan kedua tangannya sambil perlahan menghirup udara kota metropolitan Jakarta.
"Apa kamu bahagia setelah kita pulang?" Tanyanya Sakti yang memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Alhamdulillah aku sangat bahagia, kalau boleh jujur dari dulu aku sudah menunggu hari ini Mas," jawabnya yang tidak memungkiri jika dirinya terlalu bahagia.
Raut wajahnya Nafeesa tidak bisa dibohongi, semua orang yang melihatnya pasti akan mengambil kesimpulan jika, apa yang dia rasakan adalah kebahagiaan yang membuncah di dadanya.
Walau pun awalnya Nafeesa kurang setuju dengan pilihan Sakti. Naf yang lebih menyukai berpakaian casual, santai dan lebih tertutup. Tetapi, hari ini sangat berbeda dari biasanya yang membungkus dibutuhnya.
"Hari ini kamu semakin cantik saja sayang, Mas semakin mencintaimu bahkan jatuh cinta berulang kali pada dirimu Nafeesa Afreen," tutur Sakti yang mengendus bau parfum dari tubuhnya serta rambutnya yang terurai yang masih sangat jelas tercium aroma wangi shampo.
"Geli Mas," cicitnya Nafeesa yang tertawa kegelian.
__ADS_1
Sakti membalik tubuhnya Nafeesa agar mereka berhadapan langsung.
"Naf, maafkan Mas sayang yang hingga sekarang belum bisa memenuhi tanggung jawab dan kewajiban Mas untuk memberikan nafkah batin, aku merasa sangat bersalah dan berdosa padamu, aku pria yang sangat tidak beruntung di dunia ini," ucapnya yang menyesal dan sedih atas ketidak berdayaaannya itu.
Nafeesa menyimpan jari telunjuknya di depan bibirnya Sakti, "jangan sekali-kali lagi mengulangi perkataan Mas itu, jika Mas masih ingin melihat Nafeesa dan sikembar berada di dalam hidupnya Mas," terang Nafeesa yang tidak menyukai penjelasan dari mulutnya Sakti.
"Alhamdulillah Mas sangat bahagia kalau kenyatannya seperti itu, Mas akan selalu berusaha memberikan dan membawa kebahagiaan ke dalam pangkuanmu, dan tidak akan pernah meneteskan air mata kesedihan, ingat!! Itu Janji Mas padamu sayang," terangnya Sakti yang menyandarkan kepalanya di pundak polos Nafeesa.
Kebetulan hari itu Nafeesa hanya memakai pakaian yang bagian pundaknya cukup terekspos dengan jelas. Gaun itu pilihan dan permintaan dari Sakti yang ingin melihat istrinya tampil cantik dan sedikit terkesan seksi.
Sakti sekilas mengecup bibirnya Nafeesa dan sedikit ******* bagian luarnya saja. Nafeesa membalas perlakuan dari suaminya tapi,dia tidak ingin terbawa suasana yang hanya akan berakhir dengan kegagalan dan rasa kecewa yang menghimpit dadanya.
"Mungkin aku lah pria di dunia ini yang paling beruntung karena mendapatkan wanita dan sekaligus istri yang sholeha,baik hati, penyayang, cantik tapi sayangnya kurang pintar masak," ucapnya Sakti yang mengakhiri perkataanya dengan gurauan.
di depan suaminya yang pura-pura sedih.
"Gak kok, istriku ini segala-galanya pintar, bahkan aku tidak tahu harus berkata apa lagi saking bahagianya aku mendapatkan dan menemukan perempuan yang paling terbaik di dunia ini," puji Sakti yang memang mengakui kalau apa yang dikatakannya benar adanya.
"Mantan suami kamu memang sangat bego sampai-sampai membuang dan mencampakkan istri sebaik kamu sayang," batinnya Sakti dengan senyum smirknya.
"Aku yang seharusnya berkata seperti itu padamu Mas, karena berkat kamu kedua anak kembar ku mendapatkan seorang Papi yang sangat baik dan penuh perhatian dan kasih sayang yang sangat besar selalu Mas curahkan dan berikan tanpa pamrih untuk di kembar bahkan kamu adalah Papi dan suaminya yang paling terbaik sedunia," Nafeesa memuji sifat suaminya dengan bumbu-bumbu sedikit gombalan dan rayuan.
__ADS_1
"Jika aku telah pergi dari hidupmu untuk selamanya Naf, tolong jangan pernah sekalipun untuk melupakan aku sayang hingga kamu tua nanti," pungkas Sakti yang sorot matanya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam.
Nafeesa langsung membungkam mulutnya Sakti dengan ciuman yang hangat dan penuh kasih sayang. Nafeesa kembali mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya sedikit berjinjit karena tinggi badannya Sakti yang jauh berbeda walaupun Naf juga bodynya cukup tinggi.
...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...
...3. Aku Diantara Kalian...
...4. Cinta dan Dendam...
...5. Cinta yang tulus...
...6. Bertahan Dalam Penantian...
...7. Pelakor Pilihan...
...8. Hanya Sekedar Pengasuh...
__ADS_1
...9. Ceo Pesakitan...
...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......