Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
73. Fakta is Real


__ADS_3

"Jangan bicara dengan suara yang besar nanti ada yang mendengar dan melaporkan kepada Nyonya Dea apa yang kalian lakukan selama ini.


"Betul sekali apa yang dikatakan olehmu, tapi menurut aku yah Nyonya Nafeesa itu sangat baik iya kan?" Tanyanya yang ikut menimpali pembicaraan mereka di belakang Tuan rumah.


"Hus.. hus sudah hentikan gosipnya lanjutkan untuk mengangkat barang-barang Nyonya dan Tuan nanti kita kena marah dan yang lebih parah dipecat dari sini," sahut Ibu Dharma selaku kepala pembantu di rumah itu.


"Enak yah sore-sore gini asyiknya bersantai sambil bergosip bukannya kerja malah duduk enteng di sini, apa kalian mau dipecat haaa!!" Pekik Bu Nita selaku kepala pelayan yang ada di rumah barunya Sakti.


Mereka semua segera bubar dan meninggalkan lokasi tempat santai mereka.


"Pantesan jadi perawan tua, sukanya marah-marah dan ngomel-ngomel gak jelas gitu," umpat Ibu Lia Istrinya bapak yang berkerja dibagian keamanan Security.


"Betul apa yang dikatakan Bu Lia, kalau anak gadis sering marah-marah, terlalu sensitif ujungnya bisa gak laku," timpal Bu Siti.


Mereka semua tertawa sambil berjalan ke tempat kerja masing-masing ada yang mengurus pakaian bersih, pakaian kotor, tukang kebun dan juga bagian dapur.


Mereka baru dua minggu bekerja di sana sesuai arahan dan perintah dari Nyonya Dea. Tapi, ada juga yang berkerja sesuai dengan arahan dan petunjuk dari Nafeesa sendiri.


Nafeesa kemudian masuk ke dalam kamar anak kembarnya. Dia ingin melihat apa mereka masih tertidur pulas atau sudah bangun.


Nafeesa perlahan berjalan ke arah kamarnya Daffa dan Daffin. Dia baru ingin Ingin memutar kenop pintu kamarnya, tapi langkahnya terhenti karena tiba-tiba terhenti gara-gara seruan dari Nyonya Dea.


"Nafeesa!!" Panggilnya dengan sedikit mengeraskan suaranya sehingga seperti seseorang yang sedang berteriak.


"Iya Nek, ada yang bisa Nafeesa bantu?" Tanyanya dengan seulas senyuman diwajahnya.


"Kamu harus ikut saya, ada yang penting ingin aku katakan padaku," tuturnya Nyonya Dea.


"Baik Nek," jawabnya lalu segera melepaskan tangannya pada handle pintu itu.

__ADS_1


Nafeesa berjalan dibelakang Neneknya Sakti. Dengan perasaan yang was-was Nafeesa tetap berjalan ke arah langkah kakinya Bu Dea.


"Ya Allah… kenapa perasaanku tidak enak, sepertinya ada sesuatu yang besar akan terjadi," batinnya Nafeesa.


Nyonya Dea menatap ke arah Prita, sedangkan Prita yang ditatap seperti itu langsung cepat tanggap dan mengerti maksud dari kode yang diberikan oleh Nyonya Dea.


Mereka masuk ke dalam suatu ruangan khusus yang nantinya akan dipakai oleh Sakti sebagai tempat kerjanya selama ada di rumahmu.


"Duduklah," perintahnya pada Naf yang berdiri tegak di depan Nyonya Dea seperti orang yang mau upacara 17an saja.


"Makasih banyak Nek," balasnya Nafeesa.


"Mulai detik ini jika Sakti tidak ada diantara kita, aku berharap sama kamu tolong jangan panggil aku dengan sebutan Nenek lagi, kamu cukup memanggil saya Nyonya Dea seperti orang lain yang memanggilku," terangnya Nyonya Dea.


Nyonya Dea berbicara seperti itu dengan raut wajahnya yang tegas,tak ingin dibantah. Nyonya Dea dalam mode kembali seperti dulu lagi. Arogan, congkak, egois dan penuh dengan tipu muslihatnya.


Nyonya Dea menatap intens ke arah Nafeesa yang terdiam mematung dan membisu di tempatnya. Dia hanya mendengar dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Nyonya Dea.


"Baik Nyonya," ucapnya Nafeesa dengan sedikit kecewa dan sendu.


Dia tidak menyangka jika Nyonya Dea yang sudah dianggap sebagai neneknya sendiri berubah drastis setelah dia melahirkan.


"Ya Allah… apakah aku dinikahkan dan direstui untuk menikah dengan Mas Sakti oleh Nyonya Dea hanya karena bertujuan untuk mendapatkan penerus tahta kerajaan bisnisnya saja," Nafeesa terdiam lalu membatin.


"Aku tahu kalau kamu sedang memikirkan apa sebenarnya tujuanku untuk menyuruh kamu menikahi Sakti yang impoten itu, tujuanku hanya untuk mengamankan harta dari almarhum suamiku agar tidak beralih dan berpindah tangan jika Sakti kelak meninggal dunia," ungkap Nyonya Dea.


Perkataan dari Nyonya Dea spontan membuat Nafeesa terkejut dan shock mendengarnya.


"Kamu pasti terkejut dengan apa yang aku katakan padamu, kalau nyawa Sakti tidak bakalan lama lagi di dunia ini karena itulah saya memanfaatkan kesempatan dan keadaan kamu yang sedang hamil anak kembar," tutur Bu Dea dengan seulas senyuman liciknya yang tersirat di wajahnya yang masih muda di usianya.

__ADS_1


"Ini tidak mungkin," lirihnya Nafeesa yang meneteskan air matanya tanpa aba-aba.


Nafeesa menutup mulutnya saking tidak percayanya mendengar satu rahasia besar yang disembunyikan oleh suaminya.


"Aku berharap sama kamu jangan sekali-kali katakan pada siapa pun termasuk Sakti, jika kamu membocorkan rahasia besar ini maka kamu tidak akan pernah melihat kedua anak kembarmu lagi untuk selamanya, jadi pilihan aku serahkan padamu, nasib dan masa depan anak-anakmu berada di dalam genggamanku sekarang," ujarnya Nyonya Dea dengan wajahnya yang sangat serius.


"Ya Allah… apa yang terjadi sebenarnya di sini? apa yang harus aku sekarang Yah Allah," Nafeesa membatin memikirkan bagaimana nasib suami dan anaknya.


"Tidak lama lagi,aku akan mendepak kamu dari sini dan nantinya aku lah yang menjadi pewaris tunggal dari harta yang tak habis ini."


...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Cinta dan Dendam...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...


...8. Hanya Sekedar Pengasuh...


...9. Ceo Pesakitan...

__ADS_1


...Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all......


__ADS_2