Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
26. Melamar Pekerjaan


__ADS_3

Keesokan harinya, Nafeesa berangkat untuk mencari pekerjaan sesuai yang diutarakan oleh Ibu Laila. Ibu Laila yang sudah dianggapnya sebagai Ibu kandungnya sendiri.


"Ibu entar Nafeesa saja ke Pasar untuk belanja beberapa kebutuhan untuk pesanan katering ibu Lindaweni," usul Nafeesa saat mereka menghadapi makanan pagi hari itu.


Ibu Laila menatap ke arah Nafeesa sebelum membalas perkataan dari Nafeesa sembari menghabiskan makanan yang kebetulan sudah berada di dalam rongga mulutnya.


"Kamu fokus nyari kerjaan saja nak, kebetulan Ibu mau singgah di rumahnya Ibu Linda untuk ambil uang dp tanda jadi sebelum belanja," ungkapnya yang menolak permintaan dari Nafeesa secara halus.


"Ohh gitu, Ibu kalau boleh tahu Ibu Linda buat acara apa di rumahnya, kok mesennya banyak banget, tidak seperti biasanya?" Tanyanya dengan menatap penuh selidik Ibu Laila.


"Kalau sesuai yang Ibu Linda katakan, katanya di Perusahaan tempat suami dan anaknya bekerja akan ada acara besar-besaran untuk merayakan ulang tahun Perusahaan tersebut," jelasnya yang sudah berdiri dari duduknya.


"Kalau gitu kita perlu bantuan tenaga Bu, gimana kalau kita manggil Anjani sama Lita saja, karena menurutnya Naf sepertinya kita akan kesulitan kalau hanya berdua saja Bu," tuturnya dengan menghabiskan minuman yang khusus dibuat untuknya dari tangan Ibu Laila.


"Sepertinya bukan hanya mereka yang kita panggil, karena mereka ternyata minta dibuatkan kue sebagai menu penutupnya, tapi menurut kamu nak, apa Wina dan Adria juga kita panggil saja? Kasihan mereka tidak punya kerjaan?" Tanyanya yang meminta masukan dan persetujuan dari Nafeesa.


Nafeesa terdiam sambil mengingat tentang gadis yang dimaksudkan oleh ibunya. Selama kedatangan Nafeesa di rumahnya, ibu Laila bersyukur setiap hari mereka mendapatkan pesanan dari berbagai penjuru Kota. Berkat kegigihan dan keuletan Nafeesa memperkenalkan dan mempromosikan usaha katering Ibu angkatnya. Pundi-pundi bisa mereka rauf dengan mudahnya.


"Kalau menurut Naf sih Bu, itu ide yang bagus kasihan juga mereka yang katanya sudah mencari pekerjaan kemana-mana tapi selalu ditolak karena tersandung masalah ijasah mereka yang hanya tamatan SMP saja," terangnya yang teringat perkataan keduanya saat mereka bertemu beberapa hari yang lalu.


"Kamu saja yang hubungin mereka Nak, kebetulan Ibu tidak punya nomor hp satu pun dari mereka," jawabnya dengan merapikan beberapa perlengkapan makan mereka.


"Bu bagaimana dengan toko kue yang akan kita bangun? Menurut Bad, kita harus menambah satu ruangan khusus untuk tempat masak jika ada pesanan yang berskala besar seperti ini, kalau kita masak masih dalam rumah sepertinya terlalu sempit Bu," ujarnya.


"Itu ide yang bagus juga, lagian lahan depan rumah masih cukup luas untuk membuat ruangan itu, kamu saja yang ngatur itu semua, karena menurut ibu kamu selalu tahu apa yang terbaik untuk urusan usaha kita," balasnya.

__ADS_1


Nefeesa melihat jam tangannya, tersisa beberapa menit saja waktu yang tersisa untuknya, sehingga dia harus terburu-buru untuk ke perusahaan tersebut.


"Bu Naf, pamit yah, gara-gara keasyikan bicara, Naf hampir terlambat, assalamu alaikum," ucapnya lalu mencium punggung tangan Ibu Laila dengan menyambar helm serta tas selempangnya.


"Waalaikum salam nak, Ibu doakan semoga apa yang kamu lakukan berjalan sesuai dengan harapanmu," sedikit berteriak karena Nafeesa sudah berada di atas punggung motornya.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya sebelum menyalakan mesin mobilnya.


Nafeesa menjalankan motornya lebih cepat dari biasanya. Karena waktu semakin mendekati perdaftaran ditutup.


Beberapa saat kemudian, Nafeesa mematikan motornya tidak jauh dari pintu masuk Perusahaan. Dia tidak memperhatikan lokasi tersebut yang ternyata ada tanda dilarang parkir. Saking terburu-burunya, dia pun melupakan kunci motornya.


"Ya Allah semoga aku tidak terlambat?" Tanyanya sambil berlari ke arah dalam Loby Perusahaan.


Apa yang dilakukan olehnya mendapatkan perhatian khusus dari orang-orang yang kebetulan lewat dan berpapasan dengan mereka. Kebanyakan dari mereka menertawainya. Dan tidak sedikit juga yang sudah berkomentar julid.


"Ya Allah andai saja aku punya ijazah pasti aku akan berada di dalam antrian, tapi tidak mungkin aku pulang ke rumahnya mas Andra untuk mengambil berkasku, itu sama saja dengan mengungkit dan mengingatkan aku dengan kedukaan hati ini."


Dia melangkahkan kakinya dan hingga detik itu dia belum menyadari jika helm masih terpasang dengan cantik di atas kepalanya yang menutupi mahkota rambutnya.


Dengan nafas yang ngos-ngosan, dia pun sampai di depan ruangan khusus untuk menerima karyawan dibagian ob dan kantin. Dia dengan ikhlas melamar pekerjaan di bagian itu karena tidak memiliki ijazah apa pun.


"Maafkan saya Pak harus terlambat," ucapnya saat sudah berada di depan pegawai khusus yang menerima karyawan.


"Minta maafnya diterima, tetapi tolong helmnya dibuka dulu Mbak, pasti berat rasanya sedari tadi terpasang di kepala Mbak," ucap pegawai perempuan yang cekikan melihat Nafeesa.

__ADS_1


Nafeesa spontan memegang dan memeriksa kepalanya dan betapa terkejutnya dan malunya setelah menyadari hal tersebut. Nafeesa tersenyum malu-malu dengan kejadian yang dialaminya akibat dari keteledorannya sendiri.


"Eehhh maaf Bu, tidak sengaja," ujarnya dengan tersenyum malu-malu.


"Tidak apa-apa, itu sudah biasa terjadi, kalau gitu silahkan duduk Mbak," ujar pegawai itu.


"Makasih banyak Bu," ucapnya lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang berhadapan langsung dengan pegawai yang akan menginterviewnya itu.


Ibu itu baru ingin membuka mulutnya lebar-lebar, tindakannya terhenti saat hpnya berdering di atas meja. Dia melihat siapa yang menelponnya disaat penting seperti sekarang.


"Maaf yah Mbak, aku angkat dulu telponnya," tuturnya lalu berdiri dari duduknya agar tidak menggangu orang lain saat bertelepon.


Setelah beberapa saat, pegawai itu sudah kembali duduk di tempatnya semula.


"Maaf, kita mulai sekarang yah, apa alasan Mbak untuk melamar pekerjaan di perusahaan sebesar ini dibagian katering?" Tanyanya sembari membaca cv nya Nafeesa.


"Kenapa? Karena hanya itu yang mampu saya lakukan saat ini dan kebetulan saya suka memasak," jawabnya dengan santai.


"Kalau gitu saya ingin melihat kamu memasak makanan yang simple, tapi enak dan kebetulan bahannya ada di dapur," jelasnya lalu berjalan ke arah Pantry yang ada di dalam ruangan itu.


Nafeesa memperhatikan dengan seksama petunjuk dan arahan dari pegawai tersebut. Yang terlintas dalam pikirannya hanya nasi goreng yang bisa dibuatnya yang butuh waktu singkat saja.


"Baiklah, karena semua sudah tersedia di depannya Mbak, baiklah aku hitung waktu 15 menit dari sekarang, kalau berhasil masak dalam waktu yang sudah ditentukan berarti Anda lulus disesi pertama," terangnya.


"Apa seperti ini tes yang harus dilalui untuk menjadi karyawan di bagian kantin yah," dia membating dalam hatinya.

__ADS_1


"Bos kutub itu mau cari karyawan kantin atau calon istri sih sampai-sampai membuat peraturan baru dengan tiba-tiba," karyawan itu ngedumel tidak jelas saking tidak percayanya dengan CEO mereka.


__ADS_2