
"Tooolongggg!!!"
Tapi, langka kakinya terhenti sesaat ketika dia melihat kondisi dari Lidya. Ardi terperangah dan terdiam mematung. Ardi membelalakkan matanya saking tidak percayanya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya itu.
Lidya ternyata dalam keadaan yang baik-baik saja. Ardi masih tidak bisa berbuat apa-apa, lidahnya keluh dan seperti ada beban berat yang terikat di betisnya membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.
Lidya tersenyum sambil berjalan mendekati Ardi yang berdiri seperti patung. Lidya yang tidak memakai pakaian selembar pun membuat Ardi tidak berdaya. Kucing mana yang akan lari jika diberikan seekor ikan yang segar.
Lidya semakin mendekat ke arah Ardi,dia melenggak-lenggok dengan seksinya di hadapan Ardi. Sedangkan Ardi dengan susah payah menelan ludahnya.
Jakungnnya naik turun, keringat bercucuran membasahi pipinya. Tubuhnya sedikit gemetaran. Seumur-umur hidupnya ini yang pertama kalinya melihat seorang perempuan tidak memakai pakaian apa pun yang menutupi tubuhnya.
"Ardi," ucap Lidya dengan penuh sensual.
Lidya berjalan mengitari tubuhnya Ardi yang cukup tinggi dan tegap. Lidya berani menggoda Ardi karena dia tahu tiga hari kemudian baru Andra dan Nafeesa pulang dari Denpasar, Bali.
"Ardi sayang Mbak butuh kehangatan, Mbak tidak tahan dingin," ujarnya sembari mengelus jakungnya Ardi.
Ardi yang diperlakukan seperti itu terus beristigfar dalam dadanya. Lidya yang melihat Ardi masih tetap pada pendiriannya terus melancarkan aksinya untuk menggoda Ardi yang sama sekali buta dengan dunia yang sering ditekuni oleh Lidya.
__ADS_1
"Apa Ardi tidak kasihan sama Mbak?" Tanya Lidya yang semakin melancarkan aksinya lalu mengelus dengan sangat lembut dada bidang Ardi yang cukup lebar itu.
"Ya Allah ampunilah diriku yang harus terjebak dalam situasi yang seharusnya tidak boleh terjadi."
Ardi berperang dengan pikirannya dan akal sehat dengan nafsunya yang semakin memberontak ingin tersalurkan.
"Ardi tolong Mbak, aku tidak tahan lagi dinginnya."
Perkataan Lidya yang sangat mesra itu membuat pertahanan Ardi akhirnya runtuh juga. Ardi segera menggendong tubuhnya Lidya dengan cara bridal style. Lidya tersenyum penuh arti lalu mengalungkan tangannya ke leher Ardi.
"Kamu makan umpan aku juga, Mas Andra bersiaplah untuk menjadi calon Ayah dari anakku bersama Ardi."
Perlahan Ardi menidurkan tubuhnya Lidya di atas ranjang king size-nya. Kemudian dia mengikuti instingnya nalurinya sebagai seorang pria dewasa. Dengan bantuan dan tuntunan dari Lidya mereka pun sama-sama menyalurkan hasrat satu sama lain.
Mereka melakukannya hingga berulang kali tanpa jeda sedikit pun. Lidya dibuat menjerit kecil kegirangan dengan pelayanan yang diberikan oleh Ardi.
Ini yang pertama kalinya Lidya merasakan kepuasan yang nyata. Sedangkan bersama dengan Alex, Andra dan yang lainnya sekalipun Lidya tidak pernah dibuat bertekuk lutut.
Hantaman demi hantaman yang dilakukan oleh Ardi membuatnya terbang melayang hingga ke langit tingkat tujuh.
__ADS_1
"Heemmhhh sayang punyamu membuatku puas dan sangat bahagia," racau Lidya.
Dengan berbagai gaya, mereka sama-sama memberikan kepuasan yang tidak terkira.
Lidya mengacungi jempol atas pelayanan super yang diberikan oleh Ardi di atas ranjang.
Senyuman terus mengembang di wajah cantiknya Lidya. Dia benar-benar dibuat tak berdaya oleh hujaman dari benda tumpul milik Ardi.
Ardi dan Lidya menikmati malam pertamanya di dalam kamar pribadinya Andra.
Sedangkan Nafeesa di dalam kamar Hotel Nusa Dua Bali harus kembali menangis tersedu-sedu.
Dia tidak menyangka jika Andra akan berkata seperti itu padanya. Dia yang sedang duduk bersantai di kursi yang ada di balkon kamarnya tersentak kaget setelah mendengar teriakan dari suaminya yang baru saja terbangun.
"Nafeesa!!!" Teriaknya.
Nafeesa langsung berjalan dengan cepat ke arah Andra walaupun bagian intinya masih sering perih dan sakit tapi dia tidak menghiraukannya sama sekali.
Dia berjalan cepat agar dia tidak membuat Andra semakin marah.
__ADS_1
"Nafeesa!!! katakan padaku siapa pria yang pertama merenggut kesucianmu haaaa?"
Pertanyaan yang terlontar dari bibirnya Andra membuatnya langsung terdiam dan keheranan karena tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan itu.