Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
80. Ketakutan Nafeesa


__ADS_3

"Nyonya seharusnya memanggil kami saja, kenapa harus repot-repot mengambilnya," ucap Aida yang sangat kasihan melihat Nafeesa yang tampak seperti orang linglung kebingungan terdiam saja tanpa ada kata yang terucap dari bibirnya.


"Emily!! tolong bersihkan pecahan kaca ini hingga tidak tersisa aku akan membawa Nyonya ke dalam kamarnya," perintahnya Aida yang sedih melihat keadaan Nafeesa.


"Ya Allah… apa yang terjadi padaku kenapa perasaanku sangat tidak tenang, gelisah dan ada perasaan was-was," gumaman Naf yang mulai ada keanehan lagi yang dia rasakan.


Nafeesa berjalan dengan mata yang gamang dengan tatapan yang kosong. Dia berjalan lunglai ke dalam kamarnya.


"Kalau Nyonya perlu sesuatu seharusnya Nyonya panggil kami saja, kami selalu ada 24 jam untuk membantu dan melayani Nyonya," tuturnya Aida.


"Makasih banyak, Aida," ucapnya Nafeesa yang naik ke atas ranjangnya lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


Baru sepersekian detik saja Nafeesa beristirahat, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar. Orang itu berlari cepat ke dalam kamarnya Naf tanpa permisi dan meminta ijin sedikit pun.


Melati yang melihat rekan kerjanya itu segera menegurnya," Aimah!! Apa yang terjadi padamu? Kalau masuk kamar orang itu harus pakai ijin ketuk pintu dulu gitu," sarkas Melati sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya itu.


Aimah yang ditegur seperti itu hanya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Dia masih belum mampu untuk berbicara normal seperti biasanya.


Aida segera berdiri dari duduknya di samping Nyonya Naf. Dia segera mengulurkan segelas air putih untuk diminum oleh Aimah. Tanpa banyak pikir dan bicara, Aimah langsung meraih gelas itu lalu meneguk air itu dengan tergesa-gesa.


"Nyo-nya Na-feesa," ucapnya yang masih kesulitan untuk berbicara hingga tergagap.


"Aimah! Tolong bicara yang jujur dan jelas jangan seperti ini," imbuhnya Aida.


Nafeesa hanya menjadi pendengar setianya saja tanpa ada niatan untuk ikut menimpali pembicaraan mereka. Pikirannya masih tertuju pada sosok Suaminya.


"Tuan Muda Sakti kecelakaan!!" Ujarnya Aimah dengan suara yang lantang.


Bagaikan petir di siang bolong, Nafeesa tersentak kaget dan shock seketika itu juga. Dia langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Aimah.

__ADS_1


"Tolong!! Katakan padaku apa maksud dari perkataanmu itu?" Tanyanya Naf sambil menggoyang tubuhnya Aimah yang menatapnya dengan tatapan yang tajam dan menuntut kejelasan.


"Itu Tuan Muda Sakti kecelakaan maut dan sekarang ada di rumah sakit Nyonya," jawabnya Aimah dengan satu kali tarikan nafas.


Nafeesa terkejut mendengar perkataan dari Aimah dengan pekikan yang sungguh berdengung di telinga.


"Tidak!!!! Itu tidak mungkin!!!" Pekik Nafeesa yang langsung jatuh terduduk di atas lantai keramik.


Aida dan Aimah bergerak cepat untuk menolong Nafeesa.


"Nyonya sadarlah, jangan seperti ini, Nyonya harus kuat demi si kembar Nyonya," bujuk Aimah yang sedih melihat kondisi dari Nafeesa.


"Iya Nyonya, harus sabar dan perbanyak doa agar Tuan tidak apa-apa," sahut Aida yang merasa iba melihat kondisi dari Nyonyanya.


Nafeesa segera berdiri lalu berlari menuju pintu keluar, dia segera ke tempat parkiran mobil.


"Pak supir!" Teriaknya Nafeesa saat sudah berada di depan garasi rumahnya yang terparkir beberapa mobil dengan berbagai merek dan model serta warna.


"Nyonya aku mohon bersabarlah jangan sampai Nyonya terluka," ujar Aida yang khawatir melihat kondisi dari Nafeesa yang sudah dianggap saudaranya sendiri.


"Bagaimana mungkin aku bisa bersabar sedangkan suamiku ada di rumah sakit dan tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, apa dia…." Ucapannya Nafeesa terpotong karena tidak mampu melanjutkan ucapannya.


Air matanya semakin mengalir deras membasahi pipinya. Air matanya berlinang menetes hingga wajahnya basah dan air matanya sudah memerah dan membengkak.


Pak Supir yang dipanggil segera berlari terbirit-birit ke arah Nafeesa. Dia ketakutan setelah mendengar teriakannya Nyonya besarnya.


"Tolong siapkan mobil satu, kami akan segera ke rumah sakit, sekarang juga!!" Perintahnya Nafeesa dengan sedikit tegas dan bernada tidak ingin dibantah sedikit pun.


"Baik Nyonya," sahut Supir dengan mulai masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mereka sudah berada di jalan raya menuju rumah Sakit.


"Ya Allah.mm jaga dan lindungilah suamiku jangan biarkan terjadi sesuatu yang tidak baik padanya," batinnya Nafeesa yang tak henti-hentinya berdoa.


Seseorang dibalik tembok tersenyum penuh kelicikan dan kemenangan, dia kali segera berjalan terburu-buru dan mengambil hpnya yang ada di dalam saku celana panjangnya.


"Nyonya pasti sangat bahagia jika mendengar kabar tersebut," tuturnya dengan tersenyum bahagia.


...Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:...


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Cinta dan Dendam...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...


...8. Hanya Sekedar Pengasuh...


...9. Ceo Pesakitan...


...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...

__ADS_1


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


__ADS_2