Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
15. Kemarahan Lidya


__ADS_3

Kunci ini cocoknya berada di atas jalan raya," terangnya saat melempar beberapa kunci rumah dan kamar putranya.


Pak Handoko hanya geleng-geleng kepala mengingat perbuatan istrinya yang cukup ekstrim itu.


"Apa tidak keterlaluan dengan apa yang Mama lakukan kepada Lidya? Walau bagaimanapun dia juga adalah menantu kita Ma," terangnya.


Ibu Anna tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari suaminya itu.


"Sampai kapan pun aku tidak akan mengakuinya sebagai menantuku, wanita kotor seperti dia tidak layak menjadi anggota keluarga Maheswara Handoko hingga kiamat pun aku tidak sudi, amit-amit lah."


Ibu Anna andai saja bisa memisahkan Andra dan Lidya pasti dari dulu dia sudah memisahkan dan menghancurkan hubungan mereka.


"Mama akan melakukan apapun yang penting mereka bisa pisah dan hidup menantu kesayangan aku jadi bahagia," jelasnya dengan wajah yang berbinar bahagia walaupun baru membayangkan dan menghayalkan hal tersebut.


"Papa juga sangat berharap seperti itu, Nafesa adalah gadis yang baik dia layak untuk diperlakukan dengan baik pula, Papa sangat berharap agar Andra sepulang dari Bali dapat berubah jadi pria yang baik dan bertanggung jawab."


Harap Pak Handoko sambil memandang ke arah luar jendela mobilnya.


Hari ini mereka memutuskan untuk kembali ke Kota Surabaya setelah hampir dua minggu berada di Ibu Kota Jakarta. Mereka memutuskan pulang karena beranggapan jika anak dan menantunya akan bahagia.


Lidya sudah membuka seluruh pakaian yang membungkus seluruh tubuhnya. Dia mulai memutar kerang airnya awalnya masih ada dan cukup untuk membasahi seluruh tubuhnya. Kemudian dia mengoleskan shampoo dan sabun secara bergantian.


Lidya menyanyi sembari mengusap dengan lembut seluruh permukaan kulitnya. Setelah merasa cukup dia kembali memutar krang airnya, tetapi apa yang terjadi. Air dari shower nya sedikit pun tidak menetes.


"Apa yang terjadi dengan airnya? Kok gak ada yang menetes walaupun setetes," ucapnya yang kebingungan dengan apa yang terjadi pada mesin airnya.

__ADS_1


Hingga beberapa menit hal tersebut masih seperti tadi. Dia mencoba berulang kali memutarnya hingga tidak ada perubahan sedikit pun.


"Aku harus segera memeriksa kondisi mesin tersebut tapi sepertinya kalau itu yang diperiksa pasti harus menunggu seseorang untuk memperbaikinya, bagaimana kalau aku ke lantai dua saja dan memeriksa ke seluruh ruangan yang ada kamar mandinya," Lidya menarik baju kimono mandinya untuk segera keluar dari kamar mandi tersebut dan bergegas berjalan ke arah pintu.


Tapi, langkahnya kembali terhenti ketika dia memegang gagang pintu. Dia berusaha untuk memutar kenop pintu,tapi pintu itu tidak bisa berputar.


"Ini juga kenapa tiba-tiba macet? Apa ikutan dengan mesin shower yang tidak bisa mengeluarkan air?" Tanyanya yang keheranan dengan berbagai hal yang menimpanya selama dua hari ini.


"Sial!!! Aku harus gimana lagi? pintunya tidak mau terbuka, airnya juga gak keluar, tidak mungkin aku terus terjebak dalam keadaan yang menjenkelkan dan mengesalkan ini!!"


Lidya memukul pintu itu agar orang lain yang berada di dalam rumah itu menyadari jika dirinya terjebak dalam kamar seorang diri.


"Tolong!!!!!! Tolong!!!"


Teriak Lidya yang berharap ada orang yang mendengar teriakannya. Bagaimana caranya ada orang lain yang mengajarnya sedangkan hanya dia yang tersisa seorang diri di dalam kamarnya.


Lidya mencoba menghubungkan berbagai alasan dan kemungkinan yang bisa terjadi, dan mampu membuat Lidya memutar otaknya untuk memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.


"Tapi yang tersisa di rumah ini sisa mereka berdua yang patut aku curigai, apa mereka sudah mengetahui tentang perihal pernikahanku dengan putranya?" Dia kembali terdiam mengingat beberapa hal kemungkinan besar yang bisa terjadi.


Sudah berulang kali Lidia mencoba untuk meminta tolong kepada siapa pun yang berada di sekitar kamarnya Andra. Hingga suaranya sudah serak dan sulit untuk berteriak kencang seperti sebelumnya.


"Apa aku telpon Alex saja yah, kalau seperti ini terus bisa-bisa tubuhku kotor dan bau setelah mereka kembali dan mereka akan menjadikan aku bahan tertawa untuk mereka."


Lidya merangkak ke arah atas ranjangnya, dan meraih hpnya untuk menelpon kekasih gelapnya itu.

__ADS_1


"Semoga Alex secepatnya mengangkat telponku," Lidya membasuhnya sedikit air ke dalam matanya tapi sedikit pun tidak mendapatkan air.


Dia mencoba meraba-raba tapi tetap hasilnya kering kerontang.


"Ahhh!!!! Perih!!" Teriak Lidya.


Dia berusaha meraih kain baju kimono mandinya untuk melap perlahan ujung matanya yang perih itu.


"Aku akan balas semua ini kepada orang yang telah melakukan padaku!!"


Setelah merasa baikan Lidya kemudian mengambil hpnya untuk segera menelpon Alex. Tetapi nomor hp yang dia tuju belum diangkat sama sekali oleh sang pemilik nomor telepon.


Lidya kemudian duduk di tepi ranjangnya dan kembali mencoba untuk menghubungi nomor hp Alex kekasihnya tersebut.


Sedangkan di tempat lain, seseorang yang awalnya berusaha untuk menahan godaan yang muncul dari dalam dirinya ternyata runtuh dan goyah juga.


Andra berdiri dari ranjang dan hanya melilitkan bedcover kedalam pinggangnya. Dia segera berjalan ke arah istrinya yang sedang memperbaiki riasan di wajahnya.


Andra berdiri di belakang tubuhnya Nafeesa lalu berbisik di telinganya, " Aku menginginkan dirimu."


Nafeesa yang diperlakukan seperti itu sedikit geli dan merinding saat nafas suaminya mengenai tengkuk lehernya.


Nafeesa hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari Andra. Andra menyebikkan seringai liciknya. Dia tidak menyangka jika keinginannya itu tidak mendapatkan penolakan sama sekali dari istri bodohnya.


Dengan perlahan tapi pasti mereka akhirnya melakukan untuk yang kedua kalinya, tetapi dalam keadaan suka sama suka. Andra yang sudah berkabut gairah sedangkan Nafeesa yang ingin menjalankan ibadah sebagai bentuk kepatuhannya memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.

__ADS_1


Mencintai diam-diam, berjuang sendirian dan menyakitkan.


__ADS_2