Dilema Diantara Dua Pilihan

Dilema Diantara Dua Pilihan
81. Kesedihan dan Harapan


__ADS_3

Tidak lama kemudian mereka sudah berada di jalan raya menuju rumah Sakit.


"Ya Allah… jaga dan lindungilah suamiku jangan biarkan terjadi sesuatu yang tidak baik padanya," batinnya Nafeesa yang tak henti-hentinya berdoa.


Seseorang dibalik tembok tersenyum penuh kelicikan dan kemenangan, dia lalu segera berjalan terburu-buru dan mengambil hpnya yang ada di dalam saku celana panjangnya.


"Nyonya pasti sangat bahagia jika mendengar kabar tersebut," tuturnya dengan tersenyum bahagia.


Orang itu segera melangkah pergi dan segera berjalan ke arah luar pagar rumahnya Nafeesa.


Beberapa saat kemudian, Nafeesa dan rombongannya sudah sampai di lobby rumah sakit. Mereka berjalan terburu-buru agar lebih cepat sampai. Wajahnya Nafeesa nampak sangat tegang dengan mata yang sembab.


Dia sama sekali tidak peduli lagi dengan penampilannya itu. Yang paling penting dalam saat itu juga dia bisa melihat suaminya dalam keadaan yang baik-baik saja.


Banyaknya dokter dan suster serta beberapa orang-orang yang berlalu lalang di dalam sekitar area rumah sakit yang membuat suasana semakin menjadi ramai.


Raut cemas jelas terlihat di wajahnya, saking sedihnya hingga dia tidak menyadari jalan yang dilaluinya.


Nafeesa menabrak tubuh seseorang hingga Nafeesa hampir saja terjatuh, tapi karena dia yang sangat tergesa-gesa sampai-sampai dia tidak menggubris ataupun meminta maaf kepada orang tersebut.


Nafeesa hanya menolehkan kepalanya ke arah belakang dengan sepintas. Lalu melanjutkan perjalanannya kembali.


"Mama Nafeesa," gumamnya dalam pegangan tangan baby sitternya itu.


Anak kecil itu berbinar binar bahagia karena untuk pertama kalinya melihat mamanya, karena untuk pertama kalinya dia melihat mamanya langsung bukan lewat beberapa foto yang ada di dalam album figura yang tersimpan di atas rak lemari neneknya.

__ADS_1


"Ara ada apa, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Azizah ya sudah seperti kakaknya sendiri.


Azizah membungkukkan sedikit badannya agar tinggi badannya dan posisinya sama tinggi dengan Ara.


"Ara yang cantik mungkin kamu tadi salah lihat, mungkin itu tadi perempuan yang hanya mirip dengan Mamanya Ara, kalau Mamanya Ara tidak mungkin dia tidak menggendong Ara," ucapnya Azizah yang berusaha untuk membujuk Ara agar segera mengerti dengan maksud dari perkataannya.


"Tapi, kakak Azizah itu pasti Mama Ara yakin sekali dengan apa yang Ara lihat," tutur Ara yang bersikukuh pada pendiriannya dan ucapannya.


Tiba-tiba Wajahnya Ara berubah sendu, tetesan air bening mampu lolos dari pelupuk matanya. Dia sesegukan dalam diamnya. Ara segera didudukkan oleh Azizah Kakak angkatnya Ara sekaligus menjadi baby sitternya.


Azizah adalah gadis remaja yang diangkat sebagai adiknya oleh Andra dari panti asuhan. Tempat dimana dia yang selalu menjadi donatur tetap di panti itu.


"Ara yang cantik, kalau itu Mama kamu harus banyak berdo'a agar Mama bisa kembali dan berkumpul lagi dengan Ara di rumah, ara juga harus yakin dengan hal itu agar Allah SWT mendengar dan mengijabah doa-doa dan harapan Ara," jelas panjang lebar Azizah.


"Ya Allah… kabulkan lah doa-doa nya Ara, cukup aku yang tidak pernah merasakan hal dimanja dan dibesarkan dengan kasih sayang kedua orang tua, tapi aku sangat bersyukur untung Abang Andra mengangkat aku sebagai adiknya sehingga aku punya keluarga lengkap walaupun hanya sekedar saudara dan keluarga angkat saja," batinnya Azizah.


Nafeesa semakin dibuat tidak tenang. Dirinya semakin was-was saja. Ketakutan semakin menghantuinya jiwa dan raganya.


"Jika terjadi sesuatu kepada mas Sakti aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku sudah tidak punya sandaran dalam hidup ini, tanpanya hati, perasaan dan hidupku terasa tidak ada artinya lagi," cicitnya.


Naf dengan langkah kakinya yang terus melangkah melewati beberapa koridor rumah Sakit dan berpapasan dengan beberapa orang yang juga berlalu lalang di sekitar area RS.


"Kamu ambil dengan baik kan Foto dari mobil sedan hitam itu yang kebetulan ada di tempat kejadian?" tanyanya seseorng dari balik telponnya.


"semuanya sesuai dengan permintaan dan petunjuk dari Bos, Anda tenang saja tidak akan ada yang mencurigai bahwa kita lah yang melakukannya semua ini," timpalnya lagi.

__ADS_1


"Hahahaha!! bidak caturku satu lagi sudah menuju alam baka, dan tidak ada lagi penghalang bagiku untuk menjadi penguasa harta kekayaan yang sangat banyak hingga delapan turunan tidak akan pernah habis," pekiknya dengan tertawa terbahak-bahak mendengar keberhasilannya.


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:


...1. Pesona Perawan...


...2. Hasrat Daddy Anak Sambungku...


...3. Aku Diantara Kalian...


...4. Cinta dan Dendam...


...5. Cinta yang tulus...


...6. Bertahan Dalam Penantian...


...7. Pelakor Pilihan...


...8. Hanya Sekedar Pengasuh...


...9. Ceo Pesakitan...


...10. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


__ADS_2